Home Warta Nasional Khutbah Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Obituari Video Nikah/Keluarga Tokoh Hikmah Arsip

Mbah Mutamakkin, Ulama dari kalangan Bangsawan yang Lebih Cinta Ilmu

Mbah Mutamakkin, Ulama dari kalangan Bangsawan yang Lebih Cinta Ilmu
Makam Mbah Mutamakkin. (Foto: iqra.id)
Makam Mbah Mutamakkin. (Foto: iqra.id)
Pati, NU Online
Syekh Ahmad Mutamakkin (Mbah Mutamakkin) dikenal sebagai ulama yang cinta ilmu dan tidak nyaman dengan kekuasaan. Gambaran sosok Mbah Mutamakkin ini disampaikan Cendekiawan Muslim, Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil) pada acara ngaji sangkan paraning Kajen bareng Gus Ulil abshar Abdalla, Selasa (7/9). 
 
Mbah Mutamakkin bukan orang biasa, tetapi dia lahir dari keluarga bangsawan, keluarga kerajaan dari Tuban, Jawa Timur (Adipati Tuban) punya trah bangsawan cukup tinggi dalam strata sosial. Namun demikian, kata Gus Ulil, Mbah Mutamakkin lebih memilih membangun tradisi Islam yang melahirkan pesantren-pesantren di Kajen dan sekitarnya. 
 
Dikatakan, Mbah Mutamakkin meneruskan tradisi para kiai yang hidup di zaman itu dengan membangun daerah untuk mengembangkan dakwah pesantren karena terinspirasi dari Syekh Siti Jenar. 
 
“Insipirasi tersebut kemungkinan besar dari Syekh Siti Jenar. Kenapa? Karena Syekh Siti Jenar tokoh yang tidak suka kekuasaan dan membangun jaringannya sendiri,” kata kiai asal Pati, Jawa Tengah ini saat mengisi malam puncak Festival Kajen Ke-VII di Kanal Youtube Kanjengan TV.
 
Dikisahkan, Mbah Mutamakkin hidup di antara abad ke-16 dan 17, karena hidup di dua abad penting dalam sejarah Islam di Nusantara itu, Mbah Mutamakkin mengikuti satu tradisi yang dilakukan para ulama dari kawasan Nusantara yakni melakukan haji sekaligus ngaji di tanah Haramain, Hijaz.
 
Abad ke-16 orang yang bisa melakukan ibadah Haji bukan sembarang orang, kalau bukan bangsawan, punya jaringan atau network dengan pelayar yang sering singgah di daerah pelabuhan pesisir seperti Tuban, itu tidak bisa. “Orang yang haji pada abad tersebut pasti orang penting apalagi sampai cari ilmu di sana,” paparnya.
 
Diungkapkan, sejak awal Mbah Mutamakkin termasuk orang yang minatnya di bidang pengetahuan, mencintai ilmu bukan orang yang minat di bidang kekuasaan, karena itulah beliau ngaji di Yaman dan punya guru Syekh Zein bin Muhammad Al-Hijazi seorang ulama di daerah Yaman yang hidup di abad 17.
 
“Mbah Mutamakkin merupakan tokoh yang cinta ilmu dan sifat orang yang cinta ilmu adalah independen dari kekuasaan politik,” imbuh Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta itu.
 
Kontributor: Suci Amaliyah
Editor: Syamsul Arifin

Terkait

Daerah Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya