Dirjen Bimas Islam: Para Dai Perlu Melewati Proses Pembatinan Materi Dakwah

Dirjen Bimas Islam: Para Dai Perlu Melewati Proses Pembatinan Materi Dakwah
Jakarta, NU Online
Para dai perlu melewati proses pembatinan materi dakwah. Hal ini penting agar apa yang disampaikannya kepada umat sudah terlebih dahulu melekat dalam dirinya. Hal ini bisa dilihat dari figur Umar bin Khattab. Pada siang hari ia menjadi khalifah, sementara pada malam hari ia menjadi ‘abid.

Begitu pula dengan para tabi’in, imam mazhab, dan para wali. Mereka ini kurang tidur. Tapi justru dengan inilah kemuliaan itu bisa dicapai. Hal ini disampaikan oleh Dirjen Bimas Islam, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA, pada pembekalan peserta pertemuan dan konsultasi tenaga teknis penerangan agama Islam di Jakarta 19-21 Maret 2009.<>

Jika saat ini ada sebagian umat yang kurang mendengarkan dakwah, maka hal itu salah satunya harus dikembalikan kepada internal dakwah Islam. Dalam hal ini, para dai harus melakukan instropeksi diri, melihat kedalam dan mempertanyakan kembali komitmennya dalam berdakwah.

Komitmen yang dimaksud di sini adalah internalisasi nilai-nilai keislaman dalam dirinya. Para dai harus terlebih dahulu melakukan internalisasi nilai-nilai keislaman sebelum mengajak umat. Dalam bahasa sederhananya, para dai harus terlebih dahulu mengamalkan nilai-nilai dakwah, baru setelah itu bisa mengajak umat.

Dirjen juga menegaskan pentingnya metode dakwah pada beberapa komunitas masyarakat, terutama perkotaan. Tingkat intelektualitas masyarakat perkotaan yang tinggi yang disertai rasionalitas, menjadikan pola dakwah konvensional menjadi kurang mengena. Di sini diperlukan strategi baru agar logika yang sangat dominan dalam setiap pandangan dan keputusan masyarakat perkotaan, dapat diimbangi dengan kekuatan batiniah.

Di sini pola dakwah yang lebih mendekati sentuhan hati menjadi sangat diminati. Beliau mencontohkan komunitas masyarakat masjid Sunda Kelapa di Jakarta. Di sini terdapats ebuah program yang dinamakan dengan wisata ruhani. Wisata Ruhani adalah kegiatan muhasabah dengan mengambil tempat di daerah puncak yang sepi, damai, dan hening.

Di sini logika kita diparkir. Para peserta diajak masuk kedalam sebuah gua spiritual, menutup hati dari kehendak material dna duniawi. Ritual shalat senantiasa dilaksanakn berjamaah. Begitu pual dengan tahajjud, dzikir sampai subuh. Selain kegiatan ritual, ada pula olah raga dan kebersihan.

Metode ini ternyata sangat efektif dalam proses internalisasi nilai-nilai keislaman. Para peserta yang merupakan para pejabat, pengusaha, dan masyarakat menengah ke atas, setelah selesai mengikuti acara mengalami peningkatan kualitas kedermawanan sosial. Begitu pula dengan kegiatan keagamaan di tempatnya masing-masing, menjadi lebih terprogram.

Inilah yang harus segera ditanamkan dalam jiwa para dai. Bahwa semuanya harus dimulai dari diri sendiri, baru kemudian mengajak masyarakat.(bimasislam/mad)
BNI Mobile