Pesan Generasi ’28

Pesan Generasi ’28
Oleh Taufiqurrahman SN

Sumpah Pemuda yang menggaung 81 tahun silam. Yakni 28 Oktober 1928 merupakan hari kebangkitan dan entry point para pemuda sebagai ekspresi pemberontakan terhadap ketidakadilan dan penolakan terhadap imperialisme maupun kolonialisme.  Dalam hal ini, pemuda merupakan titik awal kebangkitan bangsa dalam menemukan jati diri sebagai bangsa yang merdeka, bangsa yang mempunyai harkat dan martabat yang selalu mengangkat nilai-nilai kemanusiaan dan bangsa yang selalu mengedepankan akhlak mulia, menuju peradaban baru dan  tercapai kesejahteraan  nasional.

Sumpah pemuda sebagai wujud gebrakan pemuda menuju kemerdekaan yang diharapkan. Pada titik ini, tampak bagaimana para pemuda bertekad mempersatukan segenap penduduk pribumi di Kepulauan Nusantara sebagai satu bangsa (Bangsa Indonesia), yang bertanah air satu (kepulauan Indonesia), dan yang berbahasa satu (Bahasa Indonesia).<>

Dengan tiga gebrakan tersebut, bangsa Indonesia seperti mempunyai kekuatan baru dalam menyusun jiwa penyemangat untuk mengorbankan diri hingga nafas terakhir yang tertampung dalam satu gerakan, satu tujuan-kesejahteraan nasional. Selain itu, nama Sumpah Pemuda di dalam nama Indonesia yang dipakai sebagai perekat atau identitas pemersatu seluruh komponen pemuda dari berbagai etnis, suku dan agama untuk memperjuangkan jiwa nasionalisme, sehingga jiwa nasionalisme mereka serentak bangkit untuk menentukan gaya baru yang lebih mengedepankan keadilan, demokrasi dan jiwa kemanusiaan.

Akan tetapi  para pemuda-pemudi sekarang sibuk dengan berbagai kegiatan dalam menyongsong masa depan,  karir dan status diri mereka. Mereka berlomba melengkapi diri dalam persiapan masuk gerbang persaingan yang semakin ketat, agar mereka mampu menggapai masa depan yang cerah dan mendapatkan status maupun posisi mulia di tengah kalangan masyarakat. Selain belajar di perguruan tinggi atau bangku sekolah, mereka mengambil kursus-kursus yang diharapkan dapat menunjang kemampuan mereka untuk memenuhi tuntutan perusahaan atau lembaga tempat mereka bekerja kelak. Akibatnya, mereka tak ada waktu untuk berbuat sesuatu bagi bangsa dan negara, padahal peran mereka sangat vital untuk kemajuan suatu bangsa.

Munculnya Reformasi dengan diseratai tumbangnya Odre Baru (rezim Suharto), tak lepas dari peran pemuda dalam penolakan keditaktoran sebuah penguasa. Mereka rela menggadaikan nafasnya demi menolak ketidaladilan dan ketidakperimanusian sebuah penguasa. Meskipun begitu, ternyata mereka belum mampu memunculkan lagi semangat yang diharapkan faunding father kita.

Para pemuda kita terjebak perangkap kepentingan elite politik, sehingga pasca tumbanganya Orde Baru (rezim Suharto) mereka hanya sebatas orang suruhan belaka, yang tak punya nyali apa apa. Mereka hanya dapat marah marah jika disulut oleh api kepentingan sebagian oknum. Tak sadar, mereka sebenarnya perlahan ’mati suri’ dari kesempatan menuangkan gagasan kreatifnya. Tak salah jika Rusman Ghazali (2003) mengatakan, Pemuda terjebak dalam kemandulan, dimana perannya semakin tereleminasi dan banyak ditumpangi ide pragmatisme. Dari sini terlihat jelas eksistensi dan peran pemuda sangat rapuh dalam mengimbangi ihwal sistem pilitik kita yang semakin rapuh juga. Organisasi pemuda tidak lebih sebagai jembatan politik belaka. Akhirnya, mereka tidak mampu mengantarkan bangsa ini sebagai bangsa yang kuat, bangsa yang menjadi rujukan bangsa lain dan bangsa yang tidak cengeng seperti yang pernah dilakukan generasi ’28 dahulu.

Bahan Refleksi

Momentum sumpah pemuda sekarang ini, harus menjadi tamparan baru bagi bangsa, terutama bagi pemuda sebab pemuda sekarang sangat jauh tertinggal dari pemuda generasi ’28, mereka mandul dalam moral, mental maupun ide. Selain itu, momentum ini, juga sebagai acuan bagi pemuda yang menginginkan perubahan dan peradaban baru yang lebih kontruktif seperti yang diharapkan. Renungan ini, jangan hanya dijadikan sebagai memori kilas balik yang melupakan asensinya, tetapi mampu menjadi gaung pemuda untuk merebut kembali semangat generasi ’28 dalam mencapai  kemajuan bangsa. Apalagi kita sekarang mempunyai pemimpin baru (new leader) yang telah dinobatkan 20 Oktober kemarin.

Dengan adanya kepemimpinan baru sekarang ini, yakni kepemimpinan yang tak mempunyai oposisi, sudah selayaknya momentum sumpah pemuda kali ini diharapkan mampu menjadi standar oposisi pemerintah yang selalu kritis dan peka terhadap berbagai problem yang melingkupi bangsa ini. Jangan sampai pemerintah sekarang menjadi orde baru jilid dua. Sehingga menurut Muhammadun As (2005), ada dua agenda besar yang diharapkan bangsa kita. Pertama, melakukan pemahaman komprehensif terhadap berbagai wacana sosial-politik, sosial-budaya, sosial-ekonomi dan sosial-kemasyarakatan dalam menerjemahkan fenomena yang masih hangat terjadi di kalangan masyarakat.

Komprehensifitas ini akan menjadikan pribadi pemuda kukuh, gigih dan berani memperjuangkan kebenaran sesuai dengan pemahaman yang diharapkan. Seperti yang tercermin pada ikrar pemuda 1928 dulu dengan santai mereka berani dan percaya akan kekuatan sendiri untuk menghadapi berbagai tekanan politik kolonial saat itu. Dengan pemahaman yang komprehensif  mereka tampil membawa nasionalisme baru untuk mengantarkan masyarakat kita sebagai masyarakat yang independen dan bermartabat.

Kedua, membangun kembali budaya kritisme, ketika teori sosial telah komprehensif maka jiwa kritis harus menjadi kekuatan tersendiri bagi para pemuda. Dengan jiwa kritis mereka akan mampu menjadi agen perubahan (agen of change) dan kontrol sosial kemasyarakan yang akan selalu melakukan pembelaan terhadap rakyat yang lemah dan tertindas. Itulah harapan pemuda generasi ’28 yang ingin ditranformasikan pada generasi sekarang lewat bukti nyata.

Dengansemangat memperingati hari sumpah pemuda, kita bangun spirit nasionalisme untuk sama-sama membangun bangsa yang berkuwlitas dan bangsa yang disegani di Dunia.Untuk itu peran pemuda sangat diharapkan demi terwujudnya pesan generasi ’28. Ada sebuah perkataan yang memotivasi kita yang terlontar dari Mantan Presiden Amerika Serikat, John F. Kennedy, “Jangan bertanya tentang apa yang negara dapat berikan kepada kita, tetapi bertanyalah apa yang dapat kita berikan untuk negara”.

* Penulis adalah peneliti pada The Hasyim Asy`ari Institute Yogyakarta
BNI Mobile