Home Warta Nasional Khutbah Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Obituari Video Nikah/Keluarga Tokoh Hikmah Arsip

Qurban, Bukti Kepedulian Sosial

Qurban, Bukti Kepedulian Sosial
Brebes, NU Online
Kondisi perekonomian masyarakat Indonesia yang tidak merata, menjadikan beraneka ragamnya tingkat kesejahteraan masyarakatnya. Di satu sisi banyak orang kaya, di sisi lain tidak sedikit orang yang hidup dalam garis kemiskinan. Atas kondisi riil inilah, Hari Raya Qurban sangat berarti bagi Si Kaya maupun Si Miskin. Bisa bermakna simboisis mutualisme.

Orang yang kaya bisa memberikan makanan yang bergizi kepada kaum yang kurang beruntung. Meskipun sekali dalam setahun. Begitupun bagi yang miskin, menerimanya dengan lapang dada tanpa merasa terhina. “Ibadah Qurban bisa menjadi bukti nyata kepedulian sosial kita,” ungkap mantan Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah KH Rosyidi saat bincang-bincang dengan NU Online di rumahnya Jalan KH Kholid Barat Kelurahan Pasarbatang Brebes Kamis (26/11).<>

Pada hakekatnya, ibadah Qurban merubah ketaatan seorang hamba kepada Allah SWT. Sebagaimana digambarkan dalam Al Kisah antara Nabi Ibrohim dan Ismail. Nabi Ibrahim memang mengabaikan perintah Allah SWT lewat mimpi di hari pertama. Di hari kedua, menjadi bahan perenungan meski sedikit ragu
(tarwiyah). Dan pada mimpi hari ketiga, Nabi Ibrahim bena-benar yakin bahwa itu perintah Allah SWT yang harus ditaati, meski lewat media mimpi.

“Di hari ketiga, Nabi Ibrahim mengetahui dan yakin bahwa  mimpi mengorbankan Ismail, putranya, adalah perintah-Nya (Arofah) yang harus ditaati,” terang Kiai Rosyidi yang Ketua Yayasan Islamic Centre Brebes itu.

Pemuda Ismail saat itupun mengiyakan saja permintaan ayahnya, tanpa tawar menawar meskipun harus menanggung resiko yang berat. “Ketaatan seorang hamba untuk memenuhi perintah Allah SWT demi mencapai Ridlo-Nya, tercermin dalam kisah Ibrahim-Ismail ini,” lanjutnya.

Apapun resikonya, sambung Kiai, seorang hamba harus patuh pada perintah-Nya. Berkorban jiwa ragapun harus dipenuhi selagi itu mendapat Ridlo-Nya. Jangan ada keraguan sedikitpun atas perintah-Nya.

Meski kelihatannya bersifat konsumtif, lanjutnya, tapi beribadah Qurban mampu merubah kehidupan sosial. Hukumnyapun Sunah Muakad sehingga hanya dianjurkan bagi yang mampu saja. Nabi Muhammad pun bersabda yang lebih kurang artinya bahwa orang kaya yang tidak qurban dilarang mendekat tempat sholatnya. “Bila punya kemampuan tapi tidak menunaikan qurban, maka janganlah untuk mendekat pada tempat sholatku,” kata Kiai Rosyidi seraya menyitir sebuah hadits.

Menurut Kiai Rosyidi, karena bagi orang kaya berkorban sangat dianjurkan, maka dengan cara hutang pun diperbolehkan. Asalkan ada jaminan untuk mengembalikannya. Tapi bagi yang tidak mampu, itu namanya terlalu memaksakan diri.

Misalnya pada Hari Raya Qurban kebetulan tidak punya uang karena belum gajian. Maka boleh hutang dulu pada juragan ternak. “Sah-sah saja itu,” tutur Ketua Forum Kerukunan Antar Umat Beragama (FKUB) Kab. Brebes itu.

Mantan Kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten Brebes itu, menandaskan, bila ibada puasa outnya agar kita bertakwa. Maka dengan berkurban kita dijanjikan Allah SWT akan mendapatkan tunggangan (kendaraan) menuju Surga-Nya. “Untuk itu, marilah berqurban,” ajaknya menandaskan. (was)

Warta Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya