IMG-LOGO
Pustaka

Fikih dan Sastra Ala Imam Syafi’i

Senin 1 Februari 2010 13:0 WIB
Bagikan:
Fikih dan Sastra Ala Imam Syafi’i
Judul : Imam Syafi’i Pelopor Fikih dan Sastra 
Penulis : Dr. Muhammad Ibrahim al-Fayyumi
Penerbit : Erlangga
Cetakan : I, 2009
Tebal : 118 Halaman
Presensi : Marsus Ala Utsman*


Imam Syafi’i adalah sosok penulis, ahli fikih, dan sastrawan yang karya dan pemikirannya orisinil terkenal sangat menonjol di peradaban Arab dan Islam. Imam Syafi’i adalah penggagas pertama kali dalam bidang ilmu Ushul Fikih yang dituangkang dalam kitab monuminnya, Ar-Risalah. Silogisme Imam Syafi’i nyaris sebanding dengan silogisme ciptaan Aristoteles. Jika sologisme Aristoteles bertujuan untuk mengatur dan mensistematiskan sebuah pemikiran, maka silogisme Imam Syafi’i bertujuan untuk mengatur hubungan antara kekuatan akal dan teks. Dengan begitu perpaduan antara akal dan teks, cara pemahamannya tidak dengan cara bebas, tanpa terkontrol, dan tanpa etika. Padahal ilmu Ushul Fikih adalah etika itu sendiri.<>

Adapun ilmu Ushul Fikih adalah sebagai pemandu akal agar tidak terperosok dalam kesalahan etika untuk memahami sebuah teks, lebih-lebih teks ilahiah. Di kalangan  para khalifah, ulama, dan penyair, Imam Syafi’i terkenal dengan marga ‘Muthalibiy’. Bahkan sebagian orang memasyhurkan Imam Syafi’i lebih jelas dibandingkan dengan cahaya di siang hari.

Dalam pengembaraan Imama Syafi’i menimba ilmu Nahwu dan Sastra, dia bertemu dengan Muslim bin Khalid, kemudian Muslim bin Khalid menanyakan berbagai hal tentang Imama Syafi’i, mulai dari asal dan tempat tinggalnya. Hingga pada akhirnya Khalid berkata: Allah telah memuliakan Syafi’i di dunia dan di akhirat, dan alangkah baiknya jika kamu mengkonsentrasikan diri dalam ilmu Fikih.

Imam Syafi’i dilahirkan di Gaza, kemudian dibawa ke Asqalan. Dia lahir pada tahun 150 H. Tahun di mana Abu Hanifah meninggal dunia. Menginjak usianya yang kedua puluh, Imam Syafi’i pergi menjumpai Imam Malik, namun sebelum menemui Imam Malik Ia sudah hafal kitab monumentalnya yang berjudul Al-Muwaththa’. Sehingga ketika Imam Syafi’i membacakan kitab karangan Imam Malik di hadapannya, membuat ia terkagum-kagum mendengar pembacaan Imam Syafi’i. Dan kemudian Imam Syafi’i di jadikan murid kesayangannya. Imam Syafi’i menjadi murid Imam Malik dalam kurun waktu yang cukup lama, kurang lebih 29 tahun.

Setelah beberapa tahun kemudian, Imam Syafi’i pergi ke Yaman. Ketika itu Imam Malik sudah wafat. Berbagai cobaan sering kali dijalani oleh Imam Syafi’i. Sehingga mengharuskan dia untuk pulang ke Baghdad. Di sana Imam Syafi’i kembali bergelut dengan dunia ilmu pengetahuan. Dan di kota inilah Imam Syafi’i melahirkan madzhab barunya setelah sebelumnya dia menjadi murid Imam Malik. Selama Imam Syafi’i menghabiskan waktunya di Baghdad, di sanalah Ia memulai mengarang kitab yang berjudul Ar-Risalah, sebuah kitab yang mengulas tentang dasar-dasar ilmu Ushul Fikih, menjelaskan tentang ayat-ayat Al-Qur’an, Hadits, Ijmak, Qiyas, Sain, dan masalah-masalah lainnya. Pada tahun 199 H dia pergi ke Mesir dan di sana pula Ia melanjutkan penulisan kitab monumintalnya tersebut. Dan di Mesir pulalah Imam Syafi’i mengahiri hayatnya pada tahun 204 H.

Ada dua hal yang sangat menarik pada diri Imam Syafi’i. Sebagaimana yang dikatakan oleh Rabi’ bin Sulaiman, "Sebelum Syafi’i memasuki Mesir, aku melihat ada dua hal yang menarik pada diri Syafi’i, di siang hari aku tidak melihat dia makan, dan di malam hari aku tidak pernah melihat dia tidur (hlm.19). Dalam hal itu Imam Syafi’i lebih banyak meluangkan waktunya untuk menuangkan ide-ide keilmuannya dalam sebuah tulisan."

Realitas yang ada dalam masyarakat muslim dewasa ini sudah banyak mengalami dekadensi. Semua itu banyak di sebabkan karena pengkultusan atas nama agama yang sudah menyebar di tengah-tengah masyarakat. Kejadian seperti itu tidak hanya terjadi saat sekarang, namun sudah pernah terjadi pada masa-masa kehidupan Imam Syafi’i dulu. Dengan demikian kejadian itu menjadi motivasi bagi Syafi’i untuk menulis buku yang isinya adalah kritikan-kritikan terhadap fenomina yang terjadi.

Buku ini juga menjelaskan tentang bagaimana Imam Syafi’i dalam memecahkan sebuah masalah. Ada dua metode Imam Syafi’i yang di gunakan dalam memecahkan sebuah masalah, yaitu metode rasio, dan metode nash. Apa yang dimaksud dua metode tersebut, dan apa hubungannya antara rasio dan nash? Nah, buku ini mengupas habis tentang bagaimana cari berpikir Imam Syafi’i untuk menyelesaikan berbagai persoalan. Baik itu dari persepektif Al-Qur’an dan Hadits, bagitu pula di tinjau dari berfikir ‘rasio’.

Sebagian para ahli hadits mereka memang sangat berpegang tenguh dan menjaga terhadap sunnah-sunnah Rasulullah. Namun ketika mereka di persoalkan dengan banyak pemikiran yang dilontarkan oleh ahli rasio, mereka lemah dalam menjawab permasalahan tersebut. Begitu juga para ahli rasio mereka yang menguasai metode berpikir dan berdebat, ketika mereka di persoalkan dengan pengetahuan Sunnah dan Atsar mereka pun juga lemah menjawabnya.

Namun, beda halnya dengan Imam Syafi’i. Dia mengetahui sunnah-sunnah Rasul dan hukum-hukumnya, dan dia juga mengetahui aturan berpikir serta berdebat. Dia sangat mahir dalam persoalan ini. Ketika ada orang yang melontarkan pertanyaan atau permasalahan apa pun, Imam Syafi’i menjawabnya dengan jawaban yang lengkap. Dengan hadirnya Syafi’i saat itu, ahli hadits selamat dari serangan ahli reasio dan sebaliknya. Oleh karena itu, banyak sekali orang mumuji Imam Syafi’i dan para ulama pun juga menghormatinya.

*Peresensi adalah mahasiswa Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta
Bagikan:
Rabu 27 Januari 2010 10:39 WIB
Gus Dur, Manusia Multideminsi
Gus Dur, Manusia Multideminsi
Judul Novel : Sejuta Hati Untuk Gus Dur, Sebuah Novel dan Memorial
Penulis : Damien Dematra
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, Januari 2010
Tebal : 384 halaman
Harga : Rp. 45. 000
Peresensi : Mashudi Umar*

Pada saat pemakaman almarhum Gus Dur, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (31/12/2009) mengatakan bahwa, Gus Dur sebagai tokoh beragama Islam telah memberikan inspirasi besar bagi bangsa Indonesia. Pemikiran Gus Dur mengenai keadilan keadamaian dan toleransi sangat dihormati oleh bangsa Indonesia, bahkan seluruh dunia. Gus Dur telah mengajarkan kemajemukan. Gus Dur menurut SBY, adalah Bapak Pluralisme dan Multikulturalisme  Gus Dur menyadarkan sekaligus melembagakan penghormatan kepada kemajemukan ide dan identitas yang bersumber dari perbedaan agama, kepercayaan, etnik, dan kedaerahan.<>

Kepergian Gus Dur yang begitu cepat sungguh mengejutkan bukan hanya masyarakat Indonesia, tapi juga dunia internasional. Doa senantiasa menggema di jagat republik ini, termasuk dalam pesta malam Tahun Baru 2010 yang lalu dan klimaksnya saat tahlilan ketujuh hari baik di Tebuireng Jombang Jawa Timur dan Ciganjur Jakarta Selatan, belum lagi 40 harinya. Lautan manusia Muslim dan non-Muslim bersatu berkumpul untuk mendoakan guru bangsa, pembela minoritas dan waliyullah menurut masyarakat NU.

Banyak julukan diberikan kepada Gus Dur, tetapi mayoritas orang menyebutnya adalah guru bangsa. Karena ia mengabdikan dirinya demi bangsa. Bangsa yang tetap menjiwai dan dijiwai keanekaragaman. Itulah integritas yang dipertahankan dengan seutuhnya dalam seluruh kehidupannya. Itu terwujud dalam pikiran dan tindakannya hampir dalam semua dimensi eksistensinya.

Dalam komitmennya yang penuh terhadap Indonesia yang plural, Gus Dur muncul sebagai tokoh yang sarat kontroversi. Dia lahir dan besar di tengah suasana keislaman tradisional yang mewataki NU, tetapi di kepalanya berkobar pikiran modern. Bahkan dia dituduh terlalu liberal dalam pikiran tentang keagamaan.

Karier yang dianggap paling kontroversi -dalam kapasitasnya sebagai seorang tokoh agama sekaligus ketua umum PBNU- dan mengundang cibiran adalah ketika menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada tahunn 1983. Ia juga menjadi ketua juri dalam Festival Film Indonesia (FFI) tahun 1986 dan 1987.

Pada tahun 1984 Gus Dur dipilih secara aklamasi oleh sebuah tim ahl hall wa al-’aqdi yang diketuai KH As’ad Syamsul Arifin untuk menduduki jabatan Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-27 di Situbondo. Jabatan tersebut kembali dikukuhkan pada Muktamar ke-28 di Pesantren Krapyak Yogyakarta (1989), dan muktamar di Cipasung Jawa Barat (1994). Jabatan Ketua Umum PBNU kemudian dilepas ketika Gus Dur menjabat presiden RI ke-4 dalam sebuah drama demokrasi tahun 1999 yang dipilih langsung oleh anggota DPR/MPR RI.

Meskipun sudah menjadi presiden, ke-nyleneh-an Gus Dur tidak hilang, bahkan semakin diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat. Dahulu, mungkin hanya masyarakat tertentu, khususnya kalangan nahdliyin yang merasakan kontroversi gagasannya. Sekarang seluruh bangsa Indonesia ikut memikirkan kontroversi gagasan yang dilontarkan oleh Gus Dur, ”gitu aja koq repot.”

Di sisi yang lain, catatan perjalanan karier Gus Dur adalah membentuk dan menjadi ketua Forum Demokrasi (Fordem) untuk masa bakti 1991-1999, dengan sejumlah anggota yang terdiri dari berbagai kalangan, khususnya kalangan nasionalis dan non-Muslim. Sebagai tokoh agama (NU), Gus Dur justru menolak masuk dalam organisasi Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang dibentuk atas kehendak Presiden Sueharto. Tidak hanya menolak, Gus Dur bahkan menuduh organisai kaum ‘elit Islam’ tersebut dengan organisasi sektarian.

Gus Dur juga memperlakukan kelompok-kelompok minoritas, terutama mereka yang tertindas, sebagai warga negara yang mempunyai hak sama di depan hukum. Tatkala menjadi Presiden ke-4 RI, Gus Dur juga memulihkan hak politik etnis Tionghoa. Gus Dur selalu menegaskan bahwa kelompok minoritas mempunyai hak sipil-politik ataupun hak ekonomi, sosial, dan budaya yang sama dengan hak-hak kelompok ”pribumi”. Eksistensi mereka dilindungi oleh konstitusi. Dalam hal ini, pemikiran tentang pluralisme sejalan dengan spirit demokrasi, bahkan makin memperkukuh. Keduanya tidak bertentangan, bahkan saling menguatkan dan melengkapi.

Gus Dur ingin membangun Indonesia baru yang damai tanpa prasangka dan bebas dari kebencian. Untuk itu, masa lalu yang kejam, kelam, serta tidak toleran harus diputus. Partisipasi masyarakat mesti dibangun, yang lemah tidak ditinggalkan. Dengan kesetiakawanan yang luas dan menyeluruh itu kita baru bisa membangun Indonesia yang kuat. Untuk itu Gus Dur tidak keberatan untuk meminta maaf kepada korban 1965 yang diserang oleh Banser NU. Meskipun Gus Dur mengatakan bahwa ia juga memiliki kerabat yang terbunuh dalam peristiwa Madiun 1948. Namun, balas dendam itu tidak ada gunanya dilanjutkan. Kita tidak akan mampu mewujudkan rekonsiliasi tanpa menghilangkan stigma atau kecurigaan terhadap suatu kelompok.

Novel bertajuk, “Sejuta Hati Untuk Gus Dur” adalah karya kreatif Damien Dematra, seorang novelis, sutradara dan pelukis yang diadapatasi dari skenario film Gus Dur: The More, yang awalnya direncanakan akan diputar di bioskop-bioskop Indonesia untuk menyambut ulang tahun Gus Dur yang ke-70 pada bulan Agustus 2010. Namun berpulangnya sang tokoh pluralisme pada Sang Pencipta sangat mengejutkan semua pihak. Sehingga Damien, penulis novel, langsung banting setir dan spontan untuk menyelesaikan novel ini dalam waktu yang sangat singkat yaitu tiga hari tiga malam.

Dalam novel ini, Damien mengajak pembaca untuk menyelami kehidupan seorang Gus Dur dari sebelum kelahirannya hingga akhir hayatnya. Juga sebuah kisah kehidupan anak manusia yang sungguh besar jasanya bagi bangsa dan kemanusiaan. Sungguh sulit menemukan tokoh seperti Gus Dur di Indonesia dalam 100 tahun mendatang. Menariknya lagi, novel ini dilengkapi dengan wawancara esklusif dengan Ibu Shinta Nuriyah Wahid beserta putri-putri Gus Dur.

Tidaklah berlebihan, Ahmad Syafii Ma’arif (Mantan Ketua Umum PP. Muhammadiyah) mengomentari Gus Dur dalam novel ini, ”Abdurrahman Wahid telah berangkat menghadap penciptanya untuk waktu tak terbatas. Bangsa ini telah kehilangan pahlawan humanis yang tidak mudah dicari penggantinya. Dengan novel ini, kenangan manis terhadap sahabat kita ini akan terus hidup dan segar dalam lipatan kurun yang panjang.”

*Peresensi Adalah Mantan Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam (PMII) Cabang Probolinggo Jawa Timur
Senin 18 Januari 2010 13:33 WIB
Kidung Sastra dari Pesantren
Kidung Sastra dari Pesantren
Judul : Sekutum Nyawa untuk Sahabat; Antologi Cerpen Santri
Penulis : Aleyo Sas Melas, dkk.
Editor : Rijal Mumazziq dan M. Husnaini
Penerbit : Imtiyaz Surabaya
Cetak : I, Desember 2009
Tebal : xv + 148 halaman
Peresensi : Abd. Basid*


Istilah sastra secara harfiah berarti huruf, tulisan, atau karangan. Kata sastra ini kemudian diberi imbuhan su-(dari bahasa Jawa) yang berarti baik atau indah. Artinya baik isinya dan indah bahasanya. Selanjutnya, kata susastra diberi imbuhan gabungan ke-an sehingga menjadi kesusastraan yang berarti nilai hal atau tentang buku-buku yang baik isinya dan indah bahasanya.<>

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti sastra adalah: (1) bahasa (kata-kata/gaya bahasa) yang dipakai dalam kitab-kitab (bukan bahasa sehari-hari); (2) karya tulis, yang jika dibandingkan dengan tulisan lain, memiliki berbagai ciri keunggulan seperti keaslian, keartistikan, keindahan dalam isi dan ungkapannya.

Dari sini, maka tidak semua bentuk karagan termasuk dan bisa dikatakan karya sastra. Yang termasuk dalam kategori sastra seperti novel, cerita (cerpen) (tertulis atau lisan), syair, pantun, sandiwara (drama), lukisan (kaligrafi) dan sejenisnya. Terus, sampai di mana sebuah karya akan dinamakan sastra? Menuru Plato, batasan sastra adalah hasil peniruan atau gambaran dari kenyataan (mimesis).

Sebuah karya sastra harus merupakan peneladanan alam semesta dan sekaligus merupakan model kenyataan. Oleh karena itu, nilai sastra semakin rendah dan jauh dari dunia ide. Aristoteles murid Plato memberi batasan sastra sebagai kegiatan lainnya melalui agama, ilmu pengetahuan dan filsafat. Menurut kaum formalisme Rusia, sastra adalah sebagai gubahan bahasa yang bermaterikan kata-kata dan bersumber dari imajinasi atau emosi pengarang.

Buku antologi cerpen “Sekuntum Nyawa Untuk Sahabat; Antologi Cerpen Santri” termasuk kategori di atas. Buku antologi yang ditulis oleh 12 santri pondok pesantren al-Ishlah Sendangagung Paciran Lamongan ini menyiratkan karya kesusastraan (cerpen) yang berlatar belakang pesantren. Mereka (para penulis) merupakan insan pesantren yang biasa dikenal dengan sebutan kolot dan jauh dari peradaban. Jangankan bicara sastra, mau ngotak-atik benda eletronik pun insan pesantren terkesan tabu.

Namun, semua itu, sekarang sudah tidak pantas lagi untuk dicitrakan pada mereka. Mereka sudah tidak dan bukan yang dulu lagi. Banyak kita temukan santri juga bisa Facebook-an, YM-an, nge-Blog, Twitter-an dan bahkan juga mewarnai dunia tulis menulis termasuk sastra. Salah satu contoh kecilnya buku antologi cerpen ini.

Isi dan pesan buku ini menggambarkan kehidupan yang memang jamak terjadi pada dan di masyarakat. Indahnya di dalamnya berisi banyak pesan moral, hikmah, dan kritik sosial—termasuk pada pejabat dan pemimpin negara—dengan setting religiutas. Jika kita kesulitan untuk menemukan cerpen-cerpen yang settingnya islam(i), maka buku ini hadir untuk mewarnainya. Sebut saja seperti cerpen Ika Nur Ridiawati. Jika kita membacanya kita akan menemukan pesan moral-keagamaan di sana.

Diceritakan bahwa di balik perjuangan sang bapak untuk membiayai Ana untuk tetap bersekolah ternyata sang bapak diam-diam menjadi copet. Mengetahui hal itu, Ana memberanikan diri untuk lebih baik putus sekolah dari pada harus melanjutkan dengan biaya uang haram. Semua itu oleh Ika Nur Ridiawati digambarkan degan penggambaran yang begitu menyentuh apalagi ditambah lagi sang bapak mati dengan meninggalkan senyuman penyesalannya (hal. 37-46).

Aleyo Sas Melas lewat cerpennya yang berjudul “Maafdkan Kakak Dik!” menceritakan fenomena trafficking dalam kehidupan masyarakat miskin yang tidak mampu dilawan karena sudah menjadi sindikat yang kuat yang tak segan melakukan kekerasan dalam melancarkan aksinya. Tidak itu saja, kritik terhadap pemerintah pun juga Aleyo Sas Melas selancarkan.

Di salah satu perjalanan mencari adiknya sang kakak—dalam cerpen itu—melihat anak-anak kecil lagi ngamen di jalanan, yang tentunya mereka putus sekolah (hal. 7). Hal ini, merupakan adegan cerita yang bisa dimaksudkan supaya para pemimpin negara ini memperhatikan anak-anak miskin putus sekolah di jalan sana.

Bertolak pada kekritisan isi seperti yang telah digambarkan di atas, maka tidak salah kalau kiranya saya prediksikan—dari segi pesan—bahwa buku ini sealiran dengan karya tokoh sastra masa kini seperti Emha Ainun Najib, KH. M Dahlan Saleh, Mustofa Bisri (Gus Mus) dan Haiburrahman el-Shirazy (Kang Abik), di mana tokoh-tokoh itulah yang sampai sekarang melanjutkan sastrawan pesantaren terdahulu seperti Buya Hamka, Yoesoef Soe’b, dan Bahrun Rangkuti.

Buku ini cocok untuk dibaca semua kalangan, seperti pelajar, guru, pendidik, tokoh, dan termasuk (juga) mereka para pemimpin daerah/kota maupun pusat. Di dalamnya kita akan menemukan cerita-cerita konstruktif. Bahkan buku ini juga cocok untuk bahan bacaan cerita pengganti dongeng anak sebelum tidur untuk orangtua. Bahasanya datar gampang dicerna dan sekali lagi isinya kaya makna. Inilah nilai plus buku ini.

* Penikmat buku dan pustakawan pesantren IAIN Sunan Ampel Surabaya
Senin 11 Januari 2010 6:8 WIB
Memahami Al-Qur'an dalam Perspektif Sosiolinguistik
Memahami Al-Qur'an dalam Perspektif Sosiolinguistik
Judul : Tafsir Sosiolinguistik
Penulis : M. Faisol Fatawi   
Penerbit : UIN Press
Cetakan : I Juni 2009
Tebal : 170 halaman
Peresensi : M. Kamil Ramma Oensyar*

Salah satu tradisi ilmu pengetahuan yang tidak dapat dipisahkan dari Al-Qur’an adalah tafsir. Tafsir merupakan tradisi keilmuan yang telah dirintis oleh generasi muslim awal untuk memahami dan menjelaskan makna-makna yang terkandung dalam Al-Qur’an. Dalam khazanah pengetahuan Islam, tafsir Al-Qur’an tidaklah seragam. Ada berbagai macam bentuk tafsir diantaranya tafsir bil ma’tsur dan tafsir bir ra’y. Munculnya ragam tafsir tersebut mengantarkan kita pada sebuah kenyataan akan adanya multi pemahaman terhadap ayat-ayat Al-Qu’ran.<>

Bagi umat Islam kegiatan interpretasi terhadap Al-Qur’an adalah menjadi tugas yang tak kenal henti. Karena, ia merupakan usaha untuk memahami pesan ilahi. Namun demikian, sehebat apapun manusia, ia hanya bisa sampai pada derajat pemahaman yang relatif, dan kebenarannya pun tidak dapat mencapai derajat absolut. Tegas M. Nur Kholis Setiawan dalam bukunya “Al-Qur’an Kitab Sastra Terbesar”. Wahyu Tuhan dipahami secara variatif dari satu waktu ke waktu yang lain. Ini berarti kegiatan menafsirkan wahyu Tuhan (exegesis) telah menjadi disiplin keilmuan yang selalu hidup seiring dengan perkembangan teori pengetahuan para pengimannya.

Kemudian, bila disadari bahwa hasil pemahaman seseorang dipengaruhi bukan saja oleh tingkat kecerdasannya, tetapi juga oleh disiplin ilmu yang ditekuninya, oleh pengalaman, penemuan-penemuan ilmiah, oleh kondisi sosial, politik, dan sebagainya, maka tentunya hasil pemikiran seseorang akan berbeda satu dengan lainnya. Oleh karena itu, tafsir sebagai hasil ijtihad pikiran manusia tidak dapat mengklaim dirinya sebagai yang paling benar. Setiap penafsiran memiliki keterbatasannya masing-masing. Sebagaimana Abu Darda pernah menyatakan engkau tidak dapat paham betul, sampai engkau dapat melihat berbagai wajah Al-Qu’ran.

Buku yang berjudul “Tafsir Sosiolingiustik” ini mengajak kita untuk menyelami kandungan Al-Qu’ran dengan perspektif sosiolinguistik untuk memahami huruf muqatha’ah dalam al-Qu’ran. Tidak banyak buku yang menyelami kandungan Al-Qu’ran dengan perspektif sosiolinguistik seperti buku buah karya M. Faisol Fatawi ini. Kerangka filosofis dalam berfikirnya dapat menggugah hati nurani yang sulit ditemukan pada buku-buku lain.

Huruf muqatha’ah merupakan bahasa Al-Qu’ran sebagai fakta kebahasaan telah menjadikan bahasa Arab sebagai sarana komunikasi untuk menyampaikan pesan ilahi melalui seorang nabi kepada umatnya. Secara strukur bahasa, huruf muqatha’ah telah menunjukkan kepada dirinya sendiri akan sauna huruf yang membentuknya. Kata dalam bahasa Arab biasanya disusun dari minimal satu huruf hingga lima huruf. Begitu juga huruf muqatha’ah ada yang terdiri dari satu huruf seperti qof, nun, dan shad. Ada yang dua huruf seperti hamim (dari huruf ha dan mim), thaha (dari huruf tha dan ha) dan yasin ( dari huruf ya dan sin). Ada yang tiga huruf seperti alif lam mim, alif lam ro dan lain-lainnya.

Sosiolinguistik adalah salah satu disiplin ilmu yang terdapat dalam kajian linguistik. Ilmu ini memfokuskan kajiannya pada keterkaitannya antara bahasa dengan kondisi sosial yang melingkupinya; mempelajari budaya melalui bahasa dan mempelajari bahasa melalui budaya. Ada keterkaitan yang erat antara praktik berbahasa dengan budaya, dan sebaliknya ada keterkaitan antara praktik budaya dengan praktik berbahasa.

Sebagai genre bahasa yang unik, huruf muqatha’ah yang dipakai dalam Al-Qu’ran dalam konteks penolakan orang-orang Arab yang tidak mau menerima ajaran yang diwahyukan oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Sudah maklum, bahwa masyarakat Arab pra Islam adalah orang-orang yang ahli di bidang bahasa. Mereka menggunakan bahasa Arab dengan penuh kefasihan dan kejelasan. Mereka adalah para ahli seni bertutur dan berucap (bulaghâ’ wa Ahl al-bayân). Keahlian masyarakat Arab pra Islam dalam hal bahasa tidak dapat ditandingi oleh masyarakat manapun pada zamannya.

Karena itu masyarakat Arab mengklaim bahwa Al-Qur’an bukan merupakan firman Allah, maka tidak mengherankan jika tantangan pertama yang dilontarkan oleh Al-Qur’an kepada mereka yang ragu, adalah menyusun kalimat semacam Al-Qur’an sebagaimana disebutkan “Katakanlah: Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan Dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain" (QS. Al-Isra’: 88). Oleh karena itu dalam konteks komunikasi yang khas. Kekhasan komunikasi seperti ini tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial budaya dan agama masyarakat Arab.

Aisyah Abdurrahman binti syathi dalam sebuah kajian tafsirnya mengenai huruf muqatha’ah menyimpulkan, pertama bahwa huruf muqatha’ah yang terdapat dalam beberapa surat di dalam Al-Qur’an diturunkan berkaitan dengan terjadinya perdebatan sengit mengenai keberadaan Al-Qur’an, kedua seluruh surat diawali dengan huruf muqatha’ah menyinggung masalah kehujjahan Al-Qur’an, ketiga bahwa mayoritas surat yang diturunkan pada saat orang-orang musyrik sedang genjar-gencarnya menyerang dan mengklaim Al-Qur’an sebagai kalam yang penuh dengan kebohongan, omongan tukang dukun, penyair sihir dan sebagainya. (h.126)

Melalui buku ini kita akan memahami bahwa huruf muqatha’ah telah dipakai oleh Al-Qu’ran sebagai komunikasi yang efektif dalam rangka mengubah cara berpikir masyarakat Arab yang tribal-paganistik, supaya mereka mau menerima ajaran yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW sebagaimana yang telah diwahyukan oleh Allah SWT.

* Peresensi adalah Staf Pengajar PKPBA UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Pengurus Lakpesdam NU Cabang Kota Malang
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG