IMG-LOGO
Pustaka

Metode Induksi dalam Qawaid Fiqhiyah

Senin 15 Februari 2010 9:49 WIB
Bagikan:
Metode Induksi dalam Qawaid Fiqhiyah
Judul Buku : Hukum Manusia sebagai Hukum Tuhan
Penulis : Dr. H. Abdul Mun’im Saleh, M.Ag.
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan : Desember, 2009
Tebal : x + 343 halaman
Peresensi : Anwar Nuris*


Secara praktis, fikih biasanya dibahasaindonesiakan dengan hukum Islam yang dalam bahasa Inggris disebut Islamic law atau Islamic jurisprudence. Fikih diartikan oleh Imam Abu Hanifah dengan pengetahuan seseorang tentang hak dan kewajibannya. Cakupan dalam pengertian ini berwilayah amat luas, tetapi filosofinya amat sederhana. Yaitu seseorang yang dalam teksnya dinyatakan al-nafs yang kemudian dinyatakan sebagai pihak yang mempunyai pengetahuan (ma’rifat/knowledge) tentang hak dan kewajibannya.<>

Hak dan kewajiban merupakan fenomena manusia dalam berinteraksi, sebab sesungguhnya interaksi (sosial) manusia dalam masyarakat itu adalah menunaikan kewajiban dan menerima hak. Hak dan kewajiban bagi manusia itu berdimensi sakral (berhubungan dengan Tuhan) dan berdimensi profan (berkenaan dengan sesama dan lingkungannya). Fenomena ini sebenarnya memperlihatkan bahwa manusia adalah makhluk sosial (zoon politicon menurut Aristoteles; madaniyyun bit-thab’i menurut Ibnu Khaldun). Dengan demikian, Fikih dalam kawasan yang abstrak adalah pengetahuan manusia tentang posisinya (hak dan kewajiban) sebagai makhluk sosial. Demikianlah sekilas tentang fikih yang berkenaan dengan perbuatan manusia (mukallaf).

Disisi lain, Noel J. Coulson di tengah kritiknya tentang miskinnya aspek historis dalam literatur kajian hukum Islam, menegaskan bahwa sejarah hukum Islam memang sebenarnya ada, dan syari’ah pun menjadi sistem hukum yang berevolusi. Hukum Islam (klasik) merupakan puncak proses kesejarahan dari usaha untuk menerapkan kehendak Tuhan yang tidak bisa diganggu gugat. Dengan kata lain, ia merupakan usaha untuk menjabarkan kemauan dan ajaran Tuhan dalam istilah-istilah hukum.

Kemauan Tuhanlah yang kita cari, hal itu merupakan cerminan dari sebuah masyarakat yang meyakini hakikat hukum Tuhan adalah hukum Tuhan. Dalam kajian sosiologi hukum, diyakini terdapat korelasi positif antara hakikat hukum bagi masyarakat dengan hakikat sistem sosialnya. Jika orang memahami hukum sebagai fenomena sosial, maka ia akan mengerti lebih banyak tentang masyarakat yang memilikinya.

Ketika para pemikir Islam beramai-ramai menyerukan ditemukannya nilai Islam yang fundamental (maqashidus syari’ah) untuk menghadapi kasus-kasus hukum baru yang dipicu oleh perubahan sosial yang demikian pesat, mereka belum berhasil mendapatkan solusi bagaimana nilai-nilai itu ditemukan beserta aplikasinya untuk menciptakan sosok fiqh yang dianggap situasional dan dapat dipertanggungjawabkan secara epistimologis menurut Islam.

Masdar Farid Mas’udi mengemukakan bahwa nilai-nilai (ajaran Islam) itu sah dengan sendirinya, bersifat prinsipil dan fundamental serta kebenaran dan keabsahannya tidak memerlukan verifikasi dari luar dirinya, sehingga harus dijunjung tinggi sedemikian rupa dan teks sucipun harus tunduk kepadanya.

Sedangkan Munawir Sjadzali dengan isu reaktualisasi menyerukan ditemukannya apa yang disebut dengan ruh Islam yang paling mendasar. Segala hasil pemahaman dan penafsiran terhadap Islam yang tidak sesuai dengan ruh Islam harus dibongkar. Begitu pula dengan isu yang dihembuskan oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan isu pribumisasi Islam dan Nurcholis Madjid dengan argumennya tentang kontekstualisasi ajaran Islam.

Selama masa percaturan pemikiran hukum Islam tersebut, tidak satupun tokoh yang memperhatikan salah satu khazanah keilmuan yang penting bagi umat Islam, yaitu al-qawaidul fiqhiyah. Mereka juga tidak menyodorkan sumbangan kajian aspek metodologis dan hanya berkutat pada perbincangan filosofis.

Al-qawaidul fiqhiyah merupakan kekayaan keilmuan Islam yang bisa disebut sebagai model penemuan maqashidus syari’ah atau nilai-nilai fundamental, karena ilmu ini merupakan aspek prosedural dari pengelolaan maslahah yang telah disepakati sebagai tujuan hukum Islam. Rumusan-rumusan kaidahnya yang bersifat universal-abstrak meniscayakan penggunaan metode induktif, berangkat dari partikular-partikular hasil pemikiran fikih menuju kesimpulan general-universal yang berbasis pada kesamaan atau padanan.

Kaidah-kaidah dari ilmu ini dilukiskan oleh pemikir kontemporer sebagai lukisan yang baik tentang prinsip-prinsip fiqh dan pedoman bagi penyusunan hukum positif (furu’). Para fuqaha’ perintis dan penyusun ilmu ini dengan demikian telah menyediakan fasilitas untuk memandu langkah-langkah penalaran hukum dalam berbagai tingkatannya berikut contoh-contohnya.

Meskipun demikian, diskursus di atas hanya sebatas persepsi orang tentang ijtihad yang selama ini tidak memperhitungkan peranan al-qawaidul fiqhiyah. Berfikir mengembangkan hukum Islam tanpa menyertakan fasilitas yang diberikan ilmu hukum Islam adalah menyalahi logika kemajuan ilmu pengetahuan yang selalu merupakan akumulasi pengetahuan dari masa lalu untuk dijadikan pijakan kemajuan masa kini dan mendatang.

Buku Hukum Manusia sebagai Hukum Tuhan, Berpikir Induktif Menemukan Hakikat Hukum Model Al-Qawaid Al-Fiqhiyah ini bermaksud menjelaskan makna dari segala aktifitas pemikiran hukum di luar apa yang secara konvensional disebut ijtihad yang biasanya dipersepsi sebagai aktifitas nalar deduktif atas sumber tekstual (nash) dan secara tipikal bisa dipahami sebagai bidang peranan ilmu ushul fiqh saja.

Buku setebal 343 halaman ini disamping mengkaji keterlibatan metode induktif dalam pengembangan fiqh juga bisa disimak bagaimana pembacaan kritis penulis terhadap kitab yang dikaji yaitu Al-asbah wan nazhair susunan as-Suyuthi sebagai kitab yang paling popular di dunia Islam. (Hal. 168)

Meskipun berasal dari proses penelitian akademis (desertasi), dengan bahasa lugas yang mudah dipahami oleh kaum awam sekalipun, buku ini menjelaskan secara detail mekanisme-aplikatif metode induksi dalam penyusunan kaidah fiqh serta implementasinya dalam proses pengembangan hukum Islam sehingga hasilnya tetap diyakini sesuai dengan bingkai hukum Tuhan.

* Anwar Nuris, Mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya, dan kontributor Pondok Budaya IKON Surabaya.
Bagikan:
Senin 8 Februari 2010 14:8 WIB
Tahajud Solusi Problem Hidup
Tahajud Solusi Problem Hidup
Judul Buku : Smart Tahajud; Menjadikan Hidup Lebih Bermakna dan Mulia dengan Tahajud
Penulis : Nurrahman Effendi
Penerbit : Grafindo, Jakarta
Cetakan : I, November 2009
Tebal : 139 Halaman
Peresensi : Ach. Syaiful A’la*


Pada sebagian malam, laksanakanlah shalat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat terpuji”. QS. Al-Isra’:79.<>

Sepotong ayat diatas sebenarnya bukan hanya sebagai mutivasi bagi kita (manusia), tetapi juga dijadikan sebagai tantangan untuk membuktikan apakah benar atau seberapa besar janji Allah SWT kepada hambanya yang bisa bangun pada malam hari (qiyamul lail) untuk melaksanakan ibadah shalat sunah malam (tahajud).

Banyak orang yang tidak yakin – sebenarnya bukan tidak yakin dengan janji Allah, hanya saja malas untuk melasakannya karena belum terbukti apa-apa terhadap dirinya, akan tetapi tidak sedikit pula orang yang betul-betul tekun dan istiqamah melaksanakan shalat sunnah tahajud telah mencapai derajat yang tinggi, dalam artian mereka sukses dalam menjalani pernak-pernik kehidupan ini.

Gambaran kecil bahwa janji Tuhan benar-benar diberikan kepada hambanya yang melaksanakan shalat sunnah tahajud seperti Prof. Dr. Muhammad Saleh dalam bukunya yang diberi judul Terapi Shalat Tahajud. Ia sukses menyebuhkan banyak pasiennya hanya dengan terapi shalat sunnah tahajud. Disamping itu masih banyak contoh-contoh lain baik yang tercover dalam buku atau tidak.

Artinya, bahwa yang bisa dipetik dari contoh diatas adalah janji Allah SWT dalam QS. Al-Sira’ ayat 79 yang menyatakan bahwa “…Tuhan akan mengangkat ke tempat terpuji bagi yang melaksanakan shalat tahajud” telah teruji dan bisa dibuktikan. Pada sebuah kesimpulan awal, secara logika kita bahwa apabila Tuhan sudah menempatkan manusia pada tempat yang terpuji (maqamal  mahmudah) secara otomatis derajat dimata manusia juga akan tercapai. Dengan tahajud kesuskesan duniawi juga didapat. Seseorang yang melaksanakan shalat sunnah tahajud mendapat dua derajat sekaligus, pertama ia sudah bisa menikmatinya di dunia dan yang kedua nanti di akhirat akan menghadap Tuhannya dengan wajah yang berseri.

Sebagai orang muslim sebenarnya tidak ada yang tidak berminat melaksanakan shalat sunnah tahajud setelah melakukan shalat wajib (fardu) yang lima waktu. Hampir dipastikan semua orang tahu bahwa keistimewaan shalat sunnah tahajud memang luar biasa besar dan menjadi solusi untuk merubah hidup mencapai sukses. Oleh karena itu, tidak ada alasan – bagi orang muslim – untuk tidak melaksanakan shalat sunnah tahajud. Dari itu, maka saatnya kita untuk membudayakan tahajud. Kesuksesan juga akan diperoleh dari amalan tahajud. Orang yang terbiasa melaksanaka shalat sunnah  tahajud, maka hidupnya akan tenang. Aneka persoalan yang menerpa terhadap dirinya dianggap sebagai angina berlalu. Dan menurut cerita-cerita dari orang yang istiqamah melaksanakan shalat sunnah tahajud, ketika ia melaksanakan shalat sunnah tahajud, segala macam dinamika hidup yang akan terjadi di esok harinya seperti sudah tergambar saat malam harinya, baik datang dalam mimpi atau muncul dalam perasaan.

Buku ini Smart Tahajud; Menjadikan Hidup Lebih Bermakna dan Mulia dengan Tahajud (2009), karya Nurrahman Effendi ini akan membimbing pembaca dalam rangka untuk mentradisikan gerakan massal tahajud di tengah-tengah masyarakat muslim.

Buku yang seperti ini, memang (jujur) telah banyak beredar dipasaran. Tetapi alam penulisannya (Nurrahman effendi) mampu mencari cela-cela yang tidak terungkap oleh para penulis sebelumnya, sehingga buku ini menjadi apik dan tetap segar kehadirannya di ruangan pembaca.

Di dalam penyusunannya, buku ini dibagi menjadi 7 (tujuh) bagian. Bagian pertama, menjelaskan bagaimana konsep yang sesuai dengan panduan Al-Qur’an, hendaknya bagi umat Islam sabar dan shalat dijadikan sebagai penolong. Kedua, di dalam melaksanakan shalat bisa memperbaiki niat. Karena shalat bukan semata-mata bisa menjadi pengaruh dan bisa mengubah nasib seseorang dalam hidupnya, akan tetapi shalat sunnah tahajud bukan semata-semata untuk itu, melainkan untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan mengharap ridha-Nya.

Ketiga, penulis mengupas tentang sejarah shalat sunnah tahajud. Keempat, digambarkanlah janji-janji Allah SWT bagi orang yang dengan istiqamah melaksanakan shalat tahajud. Pembahasan kelima, dituturkan kepada pembaca tentang keajaiban sahalat sunnah tahajud, waktu yang tepat melaksanakan shalat tahajud, cara mendirikan shalat tahajud, shalat tahajudnya Rasulullah SAW dan orang-oranf saleh, sampai kepada bagaimana bisa khusuk dalam melaksanakan shalat sunnah tahajud.

Pembahasan keenam, pembaca akan menjumpai bagaimana resep agar dapat bangun malam (qiyamul lail). Karena sering menjadi alasan oleh seseorang yang tidak melaksanakan shalat sunnah tahajud karena tidak bisa bangun malam. Menjawab problem yang seperti itu dalam buku ini disediakan resep-resepnya secara lengkap. Akhirul kalam, bab ketujuh, akan dikupas tuntas pengaruh shalat sunnah tahajud bagi kesehatan. Seperti mamfaat gerakan-gerakan dalam shalat sunnah tahajud, obat segela penyakit, dan menjadi obat keresahan jiwa yang sedang lara. Selamat membaca!

* Direktur Komunitas Baca Surabaya (Kombas)
Senin 1 Februari 2010 13:0 WIB
Fikih dan Sastra Ala Imam Syafi’i
Fikih dan Sastra Ala Imam Syafi’i
Judul : Imam Syafi’i Pelopor Fikih dan Sastra 
Penulis : Dr. Muhammad Ibrahim al-Fayyumi
Penerbit : Erlangga
Cetakan : I, 2009
Tebal : 118 Halaman
Presensi : Marsus Ala Utsman*


Imam Syafi’i adalah sosok penulis, ahli fikih, dan sastrawan yang karya dan pemikirannya orisinil terkenal sangat menonjol di peradaban Arab dan Islam. Imam Syafi’i adalah penggagas pertama kali dalam bidang ilmu Ushul Fikih yang dituangkang dalam kitab monuminnya, Ar-Risalah. Silogisme Imam Syafi’i nyaris sebanding dengan silogisme ciptaan Aristoteles. Jika sologisme Aristoteles bertujuan untuk mengatur dan mensistematiskan sebuah pemikiran, maka silogisme Imam Syafi’i bertujuan untuk mengatur hubungan antara kekuatan akal dan teks. Dengan begitu perpaduan antara akal dan teks, cara pemahamannya tidak dengan cara bebas, tanpa terkontrol, dan tanpa etika. Padahal ilmu Ushul Fikih adalah etika itu sendiri.<>

Adapun ilmu Ushul Fikih adalah sebagai pemandu akal agar tidak terperosok dalam kesalahan etika untuk memahami sebuah teks, lebih-lebih teks ilahiah. Di kalangan  para khalifah, ulama, dan penyair, Imam Syafi’i terkenal dengan marga ‘Muthalibiy’. Bahkan sebagian orang memasyhurkan Imam Syafi’i lebih jelas dibandingkan dengan cahaya di siang hari.

Dalam pengembaraan Imama Syafi’i menimba ilmu Nahwu dan Sastra, dia bertemu dengan Muslim bin Khalid, kemudian Muslim bin Khalid menanyakan berbagai hal tentang Imama Syafi’i, mulai dari asal dan tempat tinggalnya. Hingga pada akhirnya Khalid berkata: Allah telah memuliakan Syafi’i di dunia dan di akhirat, dan alangkah baiknya jika kamu mengkonsentrasikan diri dalam ilmu Fikih.

Imam Syafi’i dilahirkan di Gaza, kemudian dibawa ke Asqalan. Dia lahir pada tahun 150 H. Tahun di mana Abu Hanifah meninggal dunia. Menginjak usianya yang kedua puluh, Imam Syafi’i pergi menjumpai Imam Malik, namun sebelum menemui Imam Malik Ia sudah hafal kitab monumentalnya yang berjudul Al-Muwaththa’. Sehingga ketika Imam Syafi’i membacakan kitab karangan Imam Malik di hadapannya, membuat ia terkagum-kagum mendengar pembacaan Imam Syafi’i. Dan kemudian Imam Syafi’i di jadikan murid kesayangannya. Imam Syafi’i menjadi murid Imam Malik dalam kurun waktu yang cukup lama, kurang lebih 29 tahun.

Setelah beberapa tahun kemudian, Imam Syafi’i pergi ke Yaman. Ketika itu Imam Malik sudah wafat. Berbagai cobaan sering kali dijalani oleh Imam Syafi’i. Sehingga mengharuskan dia untuk pulang ke Baghdad. Di sana Imam Syafi’i kembali bergelut dengan dunia ilmu pengetahuan. Dan di kota inilah Imam Syafi’i melahirkan madzhab barunya setelah sebelumnya dia menjadi murid Imam Malik. Selama Imam Syafi’i menghabiskan waktunya di Baghdad, di sanalah Ia memulai mengarang kitab yang berjudul Ar-Risalah, sebuah kitab yang mengulas tentang dasar-dasar ilmu Ushul Fikih, menjelaskan tentang ayat-ayat Al-Qur’an, Hadits, Ijmak, Qiyas, Sain, dan masalah-masalah lainnya. Pada tahun 199 H dia pergi ke Mesir dan di sana pula Ia melanjutkan penulisan kitab monumintalnya tersebut. Dan di Mesir pulalah Imam Syafi’i mengahiri hayatnya pada tahun 204 H.

Ada dua hal yang sangat menarik pada diri Imam Syafi’i. Sebagaimana yang dikatakan oleh Rabi’ bin Sulaiman, "Sebelum Syafi’i memasuki Mesir, aku melihat ada dua hal yang menarik pada diri Syafi’i, di siang hari aku tidak melihat dia makan, dan di malam hari aku tidak pernah melihat dia tidur (hlm.19). Dalam hal itu Imam Syafi’i lebih banyak meluangkan waktunya untuk menuangkan ide-ide keilmuannya dalam sebuah tulisan."

Realitas yang ada dalam masyarakat muslim dewasa ini sudah banyak mengalami dekadensi. Semua itu banyak di sebabkan karena pengkultusan atas nama agama yang sudah menyebar di tengah-tengah masyarakat. Kejadian seperti itu tidak hanya terjadi saat sekarang, namun sudah pernah terjadi pada masa-masa kehidupan Imam Syafi’i dulu. Dengan demikian kejadian itu menjadi motivasi bagi Syafi’i untuk menulis buku yang isinya adalah kritikan-kritikan terhadap fenomina yang terjadi.

Buku ini juga menjelaskan tentang bagaimana Imam Syafi’i dalam memecahkan sebuah masalah. Ada dua metode Imam Syafi’i yang di gunakan dalam memecahkan sebuah masalah, yaitu metode rasio, dan metode nash. Apa yang dimaksud dua metode tersebut, dan apa hubungannya antara rasio dan nash? Nah, buku ini mengupas habis tentang bagaimana cari berpikir Imam Syafi’i untuk menyelesaikan berbagai persoalan. Baik itu dari persepektif Al-Qur’an dan Hadits, bagitu pula di tinjau dari berfikir ‘rasio’.

Sebagian para ahli hadits mereka memang sangat berpegang tenguh dan menjaga terhadap sunnah-sunnah Rasulullah. Namun ketika mereka di persoalkan dengan banyak pemikiran yang dilontarkan oleh ahli rasio, mereka lemah dalam menjawab permasalahan tersebut. Begitu juga para ahli rasio mereka yang menguasai metode berpikir dan berdebat, ketika mereka di persoalkan dengan pengetahuan Sunnah dan Atsar mereka pun juga lemah menjawabnya.

Namun, beda halnya dengan Imam Syafi’i. Dia mengetahui sunnah-sunnah Rasul dan hukum-hukumnya, dan dia juga mengetahui aturan berpikir serta berdebat. Dia sangat mahir dalam persoalan ini. Ketika ada orang yang melontarkan pertanyaan atau permasalahan apa pun, Imam Syafi’i menjawabnya dengan jawaban yang lengkap. Dengan hadirnya Syafi’i saat itu, ahli hadits selamat dari serangan ahli reasio dan sebaliknya. Oleh karena itu, banyak sekali orang mumuji Imam Syafi’i dan para ulama pun juga menghormatinya.

*Peresensi adalah mahasiswa Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta
Rabu 27 Januari 2010 10:39 WIB
Gus Dur, Manusia Multideminsi
Gus Dur, Manusia Multideminsi
Judul Novel : Sejuta Hati Untuk Gus Dur, Sebuah Novel dan Memorial
Penulis : Damien Dematra
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, Januari 2010
Tebal : 384 halaman
Harga : Rp. 45. 000
Peresensi : Mashudi Umar*

Pada saat pemakaman almarhum Gus Dur, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (31/12/2009) mengatakan bahwa, Gus Dur sebagai tokoh beragama Islam telah memberikan inspirasi besar bagi bangsa Indonesia. Pemikiran Gus Dur mengenai keadilan keadamaian dan toleransi sangat dihormati oleh bangsa Indonesia, bahkan seluruh dunia. Gus Dur telah mengajarkan kemajemukan. Gus Dur menurut SBY, adalah Bapak Pluralisme dan Multikulturalisme  Gus Dur menyadarkan sekaligus melembagakan penghormatan kepada kemajemukan ide dan identitas yang bersumber dari perbedaan agama, kepercayaan, etnik, dan kedaerahan.<>

Kepergian Gus Dur yang begitu cepat sungguh mengejutkan bukan hanya masyarakat Indonesia, tapi juga dunia internasional. Doa senantiasa menggema di jagat republik ini, termasuk dalam pesta malam Tahun Baru 2010 yang lalu dan klimaksnya saat tahlilan ketujuh hari baik di Tebuireng Jombang Jawa Timur dan Ciganjur Jakarta Selatan, belum lagi 40 harinya. Lautan manusia Muslim dan non-Muslim bersatu berkumpul untuk mendoakan guru bangsa, pembela minoritas dan waliyullah menurut masyarakat NU.

Banyak julukan diberikan kepada Gus Dur, tetapi mayoritas orang menyebutnya adalah guru bangsa. Karena ia mengabdikan dirinya demi bangsa. Bangsa yang tetap menjiwai dan dijiwai keanekaragaman. Itulah integritas yang dipertahankan dengan seutuhnya dalam seluruh kehidupannya. Itu terwujud dalam pikiran dan tindakannya hampir dalam semua dimensi eksistensinya.

Dalam komitmennya yang penuh terhadap Indonesia yang plural, Gus Dur muncul sebagai tokoh yang sarat kontroversi. Dia lahir dan besar di tengah suasana keislaman tradisional yang mewataki NU, tetapi di kepalanya berkobar pikiran modern. Bahkan dia dituduh terlalu liberal dalam pikiran tentang keagamaan.

Karier yang dianggap paling kontroversi -dalam kapasitasnya sebagai seorang tokoh agama sekaligus ketua umum PBNU- dan mengundang cibiran adalah ketika menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada tahunn 1983. Ia juga menjadi ketua juri dalam Festival Film Indonesia (FFI) tahun 1986 dan 1987.

Pada tahun 1984 Gus Dur dipilih secara aklamasi oleh sebuah tim ahl hall wa al-’aqdi yang diketuai KH As’ad Syamsul Arifin untuk menduduki jabatan Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-27 di Situbondo. Jabatan tersebut kembali dikukuhkan pada Muktamar ke-28 di Pesantren Krapyak Yogyakarta (1989), dan muktamar di Cipasung Jawa Barat (1994). Jabatan Ketua Umum PBNU kemudian dilepas ketika Gus Dur menjabat presiden RI ke-4 dalam sebuah drama demokrasi tahun 1999 yang dipilih langsung oleh anggota DPR/MPR RI.

Meskipun sudah menjadi presiden, ke-nyleneh-an Gus Dur tidak hilang, bahkan semakin diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat. Dahulu, mungkin hanya masyarakat tertentu, khususnya kalangan nahdliyin yang merasakan kontroversi gagasannya. Sekarang seluruh bangsa Indonesia ikut memikirkan kontroversi gagasan yang dilontarkan oleh Gus Dur, ”gitu aja koq repot.”

Di sisi yang lain, catatan perjalanan karier Gus Dur adalah membentuk dan menjadi ketua Forum Demokrasi (Fordem) untuk masa bakti 1991-1999, dengan sejumlah anggota yang terdiri dari berbagai kalangan, khususnya kalangan nasionalis dan non-Muslim. Sebagai tokoh agama (NU), Gus Dur justru menolak masuk dalam organisasi Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang dibentuk atas kehendak Presiden Sueharto. Tidak hanya menolak, Gus Dur bahkan menuduh organisai kaum ‘elit Islam’ tersebut dengan organisasi sektarian.

Gus Dur juga memperlakukan kelompok-kelompok minoritas, terutama mereka yang tertindas, sebagai warga negara yang mempunyai hak sama di depan hukum. Tatkala menjadi Presiden ke-4 RI, Gus Dur juga memulihkan hak politik etnis Tionghoa. Gus Dur selalu menegaskan bahwa kelompok minoritas mempunyai hak sipil-politik ataupun hak ekonomi, sosial, dan budaya yang sama dengan hak-hak kelompok ”pribumi”. Eksistensi mereka dilindungi oleh konstitusi. Dalam hal ini, pemikiran tentang pluralisme sejalan dengan spirit demokrasi, bahkan makin memperkukuh. Keduanya tidak bertentangan, bahkan saling menguatkan dan melengkapi.

Gus Dur ingin membangun Indonesia baru yang damai tanpa prasangka dan bebas dari kebencian. Untuk itu, masa lalu yang kejam, kelam, serta tidak toleran harus diputus. Partisipasi masyarakat mesti dibangun, yang lemah tidak ditinggalkan. Dengan kesetiakawanan yang luas dan menyeluruh itu kita baru bisa membangun Indonesia yang kuat. Untuk itu Gus Dur tidak keberatan untuk meminta maaf kepada korban 1965 yang diserang oleh Banser NU. Meskipun Gus Dur mengatakan bahwa ia juga memiliki kerabat yang terbunuh dalam peristiwa Madiun 1948. Namun, balas dendam itu tidak ada gunanya dilanjutkan. Kita tidak akan mampu mewujudkan rekonsiliasi tanpa menghilangkan stigma atau kecurigaan terhadap suatu kelompok.

Novel bertajuk, “Sejuta Hati Untuk Gus Dur” adalah karya kreatif Damien Dematra, seorang novelis, sutradara dan pelukis yang diadapatasi dari skenario film Gus Dur: The More, yang awalnya direncanakan akan diputar di bioskop-bioskop Indonesia untuk menyambut ulang tahun Gus Dur yang ke-70 pada bulan Agustus 2010. Namun berpulangnya sang tokoh pluralisme pada Sang Pencipta sangat mengejutkan semua pihak. Sehingga Damien, penulis novel, langsung banting setir dan spontan untuk menyelesaikan novel ini dalam waktu yang sangat singkat yaitu tiga hari tiga malam.

Dalam novel ini, Damien mengajak pembaca untuk menyelami kehidupan seorang Gus Dur dari sebelum kelahirannya hingga akhir hayatnya. Juga sebuah kisah kehidupan anak manusia yang sungguh besar jasanya bagi bangsa dan kemanusiaan. Sungguh sulit menemukan tokoh seperti Gus Dur di Indonesia dalam 100 tahun mendatang. Menariknya lagi, novel ini dilengkapi dengan wawancara esklusif dengan Ibu Shinta Nuriyah Wahid beserta putri-putri Gus Dur.

Tidaklah berlebihan, Ahmad Syafii Ma’arif (Mantan Ketua Umum PP. Muhammadiyah) mengomentari Gus Dur dalam novel ini, ”Abdurrahman Wahid telah berangkat menghadap penciptanya untuk waktu tak terbatas. Bangsa ini telah kehilangan pahlawan humanis yang tidak mudah dicari penggantinya. Dengan novel ini, kenangan manis terhadap sahabat kita ini akan terus hidup dan segar dalam lipatan kurun yang panjang.”

*Peresensi Adalah Mantan Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam (PMII) Cabang Probolinggo Jawa Timur
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG