IMG-LOGO
Pustaka

Membuktikan Otentisitas al Qur’an

Senin 6 Desember 2010 10:37 WIB
Bagikan:
Membuktikan Otentisitas al Qur’an
Judul Buku: Sejarah al Qur’an: Verifikasi tentang Otentisitas al Qur’an
Penulis: Prof. Dr. H. A. Athaillah, M.Ag.
Penerbit: Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan: Pertama (1), Juli 2010
Tebal: 382 halaman
Harga : Rp 55.000,-
Peresensi: Otong Suhendar*

Al Qur’an adalah kitab suci umat Islam dan sekaligus sebagai sumber ajaran yang harus diimani dan diaplikasikan dalam setiap sendi kehidupan. Al Qur’an juga merupakan sumber inspirasi bagi setiap orang yang mampu menyelami makna-makna yang terkandung di dalamnya.
<>
Sebelum al Qur’an diturunkan, di bumi ini sudah terdapat beberapa kitab suci yang menjadi pedoman hidup manusia, seperti Taurat, Zabur, dan Injil. Berbeda dengan ketiga kitab suci tersebut yang hanya diperuntukan bagi umat tertentu, al Qur’an diperuntukan untuk seluruh umat manusia. Jadi tidaklah mengherankan, selama lebih dari 14 Abad al Qur’an tetap terjaga otentisitasnya, karena perhatian kaum muslim terhadap al Qur’an ini sungguh luar biasa.

Berbagai upaya telah dan akan terus dilakukan umat Islam untuk memelihara otentisitas al Qur’an, baik dengan hafalan maupun dengan tulisan. Upaya tersebut telah berlangsung sejak Nabi Muhammad saw masih hidup sampai sekarang, sehingga kemurnian al Qur’an tetap sama seperti awalnya.

Prof Dr HA Athaillah, M.Ag. melalui bukunya yang berjudul “Sejarah al Qur’an; Verifikasi tentang Otentisitas al Qur’an” mengajak para pembacanya untuk melihat sisi otentisitas al Qur’an melalui historisnya sekaligus menolak pandangan kaum orientalis dan sebagian umat Islam sendiri yang meragukannya.

Menurut penilaian mereka (seperti Abraham Geiger, Richard Bell), al Qur’an itu bukanlah wahyu Allah, melainkan hasil karya Muhammad saw yang sumbernya berasal dari berbagai pihak. Di antaranya ada yang berasal dari orang-orang Yahudi dan Nasrani. Di samping itu, mereka menggugat keabsahan mushaf ‘Utsmani dan otentisitasnya. Sebagaimana yang dikatakan John Wonsbrough; Teks al Qur’an baru menjadi baku setelah tahun 800 M., dan kitab yang diyakini oleh umat Islam selama ini hanyalah fiksi belaka yang kemudian direkayasa oleh kaum Muslim sendiri (hlm. 1).

Pandangan-pandangan negatif  yang dilontarkan oleh kaum orientalis tersebut dibantah oleh penulis buku tersebut dengan metode analisis dari berbagai argumen dan data yang telah mereka kemukakan dengan menggunakan dalil-dalil dan bukti-bukti yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, baik dalil-dalil yang  dikutip dari al Qur’an sendiri, fakta-fakta sejarah, maupun hasi penemuan-penemuan ilmiah di abad modern ini yang relevan dengan informasi-informasi yang terkandung di dalam al Qur’an.

Senada dengan pernyataan penulis pada bagian pendahuluan buku tersebut; bahwa ada dua masalah pokok yang akan dijawab dalam buku tersebut. Pertama, apakah betul al Qur’an itu firman Allah?. Kedua, apakah al Qur’an masih otentik hingga saat ini?

Dalam menjawab kedua pertanyaan tersebut dan sekaligus membuktikan kebenaran tentang otentisitas al Qur’an, penulis tidak langsung merespons pernyataan-pernyataan kaum orientalis dan sebagian kaum muslim tersebut secara sinis, tetapi ia menyuguhkan sejarah al Qur’an berdasarkan fakta dan data akurat yang telah diseleksi kebenaran dan keabsahannya oleh para pakar di bidangnya (hlm. 9-10).

Otentisitas al Qur’an

Al Qur’an memperkenalkan dirinya dengan berbagai ciri dan sifat. Salah satunya adalah bahwa ia merupakan kitab yang keotentikannya dijamin oleh Allah (QS. 15:9). Mengutip pendapat seorang ulama kontemporer, Muhammad Husain al Thabathaba’iy yang menyatakan bahwa sejarah al Qur’an demikian jelas dan terbuka, sejak turunnya sampai sekarang ia dibaca oleh kaum muslim, sehingga pada hakikatnya al Qur’an tidak membutuhkan sejarah untuk membuktikan keotentikannya. Kitab suci tersebut - lanjut Thabathaba’iy – memperkenalkan dirinya sebagai firman-firman Allah dengan menantang siapapun untuk membuat tandingannya.

Salah satu bukti, bahwa al Qur’an yang berada di tangan kita sekarang adalah al Qur’an yang turun kepada Nabi Muhammad saw. tanpa perubahan dan tetap sebagaimana keadaannya dahulu. Sejalan dengan pendapat Thabathaba’iy diatas, Rasyad Khalifah juga mengemukakan bahwa dalam al Qur’an sendiri terdapat bukti-bukti sekaligus jaminan akan keotentikannya.

Sejarah mencatat bahwa sejak zaman Nabi Muhammad saw, al Qur’an telah dihafal oleh ratusan sahabatnya. Walaupun Nabi saw. dan para sahabat menghafal ayat-ayat al Qur’an, namun untuk menjamin terpeliharanya wahyu-wahyu Ilahi itu, tidaklah cukup hanya mengandalkan hafalan saja, tetapi dalam bentuk tulisan juga. sejarah menginformasikan bahwa ayat-ayat al Qur’an sebelum dikumpulkan dan ditulis dalam satu mushaf (mushaf ‘Utsmani) telah ditulis dalam berbagai benda seperti kulit, tulang, pelepah kurma, dan kepingan batu.

Pada masa sekarang ini pun masih sama, meskipun al Qur’an telah tercetak dalam sebuah mushaf, perhatian kaum Muslim untuk menjaga otentisitas al Qur’an tetap luar biasa, seumpama kita menyurvei dari ujung Timur sampai Barat bumi ini, maka kita pasti akan tercengang, kita akan menemukan jutaan para penghafal al Qur’an. Jadi sangatlah wajar, jika al Qur’an dari periode awal ketika Nabi masih hidup sampai masa kita masih sama tanpa ada perubahan sedikit pun.

Akhirnya, dengan membaca buku “Sejarah al Qur’an; Verifikasi tentang Otentisitas al Qur’an” ini, para pembaca akan menemukan bukti-bukti keotentikan al Qur’an yang disajikan oleh penulisnya dengan menggunakan “sejarah” sebagai pisau analisinya.

* Staf Pembimbing pada Yayasan Ali Maksum, Yogyakarta
Bagikan:
Senin 29 November 2010 9:45 WIB
Jejak Rekam NU dan Negara
Jejak Rekam NU dan Negara
Oleh Ali usman

Judul: NU dan Bangsa 1914-2010: Pergulatan Politik dan Kekuasaan
Penulis: Nur Khalik Ridwan
Penerbit: Ar-Ruzz Media
Cetakan: I, Juni 2010
Tebal: 628 halaman

Nahdlatul Ulama (NU) dan negara sesungguhnya dua entitas yang berbeda, walau eksistensinya kadangkala dianggap jadi satu kesatuan. NU adalah gerakan sosial keagamaan yang berbasis Islam, sementara negara merupakan institusi formal yang memayungi semua kepentingan elemen-elemen masyarakat, termasuk ormas Islam NU. <<>;br />
NU dan negara dianggap jadi kesatuan merujuk pada selain karena ekesistensinya, juga lantaran NU ikut andil dalam perjuangan mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pertanyaannya, bagaimana hubungan NU dan negara di tengah pergulatan politik dan kekuasaan?

Buku ini menyajikan sejumlah jawaban yang sangat memadai dalam menjelaskan pasang-surut pola hubungan NU dan negara sejak masa-masa awal pembentukan NU 1914 oleh KH Abdul Wahab Hasbullah, hingga resmi didirikan pada 31 Januari 1926, bahkan sampai tahun 2010 sewaktu masih dinahkodai KH Hasyim Muzadi. Termasuk pula, di buku ini, Nur Khalik Ridwan, penulisnya, secara detail dan komprehensif menampilkan jejak rekam sejarah pergulatan aktivis NU yang terlibat aktif merebut kemerdekaan RI dari tangan Belanda dan membuahkan deklarasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Hal ini bisa ditengok dalam anggota BPUPKI dan PPKI, yang di dalamnya terdapat nama KH Masykur dan KH Wahid Hasyim sebagai delegasi NU.

Itu sebabnya, tecara internal ke-NU-an, terdapat sejumlah fakta-fakta sejarah yang menarik untuk disimak. Tahun 1914 adalah cikal-bakal kelahiran NU dengan membentuk Tashwirul Afkar, sebuah pertukaran gagasan di kalangan santri (pemuda) atas prakarsa KH Abdul Wahab Hasbullah, yang waktu itu, baru saja pulang dari Mekkah. Dari sana, kemudian di tahun 1916 membentuk Nahdlatul Wathan, yang berarti Kebangkitan Tanah Air. Berikutnya, tahun 1918, KH Abdul Wahab Hasbullah bersama KH Hasyim Asy’ari mendirikan Nahdlatul Tujjar (kebangkitan kaum pedagang), yang difungsikan untuk menyelamatkan perekonomian-perekonomian lokal bumiputera akibat penetrasi yang dilakukan oleh Belanda dan China.

Hal yang menarik dari deklarasi Nahdlatul Tujjar tersebut adalah soal komitmen para ulama atau agamawan untuk menggedor solidaritas kaum bumiputera dan kelompok kaum miskin. Pekik doa keberhasilan terdengar lantang waktu itu: ”Ya Allah, berilah keberhasilan. Amin. Seorang penyair menyatakan, jika ahli ilmu dan hujjah tidak dapat memberikan manfaat, maka keberadaan mereka di tengah-tengah masyarakat sama saja seperti orang bodoh. Demikian juga, jika seseorang tidak memberikan manfaat kepada orang lain, maka keberadaannya bagaikan duri di antara bunga” (hlm. 40).

Dengan semangat berapi-api untuk ikut peduli terhadap nasib rakyat dan bangsa yang ditunjukkan oleh para ulama itulah, yang di kemudian hari, tepatnya tanggal 31 Januari 1926  melahirkan organiasi terbesar di Indonesia bernama NU. Dua tantangan besar menjadi latar belakang berdirinya NU, yaitu gerakan wahhabi dari Timur Tengah yang banyak diadopsi oleh kelompok Islam tertentu, sehingga mengakibatkan kematian ‘tradisi’ masyarakat lokal yang telah tumbuh berkembang di bumi nusantara; dan untuk menyikapi imperialisme alias penjajahan fisik yang dilakukan oleh Belanda, Inggris, dan Jepang terhadap bangsa Indonesia.

Kehadiran NU di kehidupan berbangsa memberikan corak tersendiri dalam mengisi hari-hari keindonesiaan, dari masa kemerdekaan RI hingga detik ini. Yang menarik adalah kekuatan NU tidak dalam keterlibatannya di partai politik praktis—sebagaimana masih terjadi kesalahpahaman di antara banyak kalangan. Jubah kebesaran NU justru pada penguatan civil society yang bergerak liar dalam melakukan advokasi dan pemberdayaan umat.

Keterlibatan NU di kancah dunia politik, yang pernah tergabung dalam Masyumi dan berubah menjadi partai politik pada 7 November 1945, maupun ketika melakukan fusi ke PPP tahun 1973 di masa Orde Baru, mestinya dibaca sebagai bentuk eksperimen NU yang hasilnya kita tahu, mengalami kegagalan total. NU selalu menjadi korban atau tumbal kekuasaan serta seringkali dipecundangi oleh kawan koalisinya di internal partai.

Kehidupan politik NU pada mulanya dirasakan sebagai perluasan wawasan, setidaknya sampai akhir tahun 1950-an, tetapi ternyata perkembangannya memunculkan realitas lain. Sikap dan tindakan NU selalu dikaitkan dengan orientasi untung rugi dari segi kepentingan politik semata. Politik bagi NU bukanlah aspek yang dianggap primer. Sebab, orientasi yang demikian mengakibatkan NU tidak bisa menghindari posisi yang berwatak taktis untuk mendapatkan keuntungan politik belaka. Sedang orientasi utama NU sebagai jam’iyah untuk membina umat, mengembangkan tradisi keagamaan menurut ajaran ahlussunnah waljama’ah yang lebih utuh dan meningkatkan kualitas kehidupan jamaah yang menjadi karakteristik NU, terabaikan (Haidar,1994).

Sejak saat itu, NU mengalami trauma politik, sehingga pada Muktamar 1984 di Situbondo membuat keputusan bersejarah, yaitu kembali ke khittah 1926. Dalam perjalanannya, khittah ini berjalan mulus hingga bertahan kurang lebih 12 tahun, terhitung pascamuktamar 1984. Namun di era reformasi setelah tumbangnya rezim Soeharto, teks khittah kembali “diungkit” dan diinterpretasikan ulang, melahirkan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), yang pada 23 Juli 2010 genap berusia 12 tahun.

Karena itu, kehadiran buku ini, tentu sangat penting untuk mengingatkan kembali masyarakat kita atas prakarsa founding fathers yang telah bersusah payah menegakkan NKRI bersejajar dengan negara-negara lain di seluruh penjuru dunia. Dalam batas-batas tertentu, buku ini seperti kronik yang merekam momen-momen sejarah penting keindonesiaan. Analisis yang di kandung di dalamnya melampaui soal ke-NU-an semata, tapi juga mencakup banyak hal dan kelompok-kelompok lain yang terekam secara apik dalam bingkai keindonesia. Selamat membaca.

*Pustakawan, dan aktivis muda NU di Yogjakarta
Senin 22 November 2010 10:30 WIB
Berdakwah Lewat Syair
Berdakwah Lewat Syair
Judul Buku : Sajak Rindu Bagi Rasul
Editor : Jabrohim, dkk.
Penerbit: Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan: I, 2010
Tebal: 326 halaman
Peresensi : Mutasiudin*)

Manusia dibekali Tuhan dalam mengarungi kehidupan dengan empat kemampuan dasar, yaitu rasio, imajinasi, hati nurani, dan sensus numinis. Rasio diberikan oleh Tuhan kepada manusia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Imajinasi diberikan kepada manusia untuk mengembangkan kemampuan estetika. Hati nurani diberikan kepada manusia untuk mengembangkan kemampuan moralitas. Sensus numinis diberikan kepada manusia untuk mengembangkan kesadaran ilahiah.<>

Keempat kemampuan dasar tersebut, termuat oleh agama sebagai suatu sistem nilai yang dilegitimasi sebagai fitrah manusia. Keempat kompetensi dasar itu secara bersamaan dapat dipakai untuk menemukan kebenaran tertinggi, yaitu kebenaran tentang teologi. Rasa dan seni juga merupakan salah satu fitrah manusia yang dianugerahkan Tuhan yang harus dipelihara dan diimplemantasikan dengan baik, sesuai dengan ketentuan yang disabdakan oleh agama sendiri, bahwa Tuhan Maha Indah dan mencintai keindahan.

Mencipta dan menikmati karya sastra, dalam berbagai agama memiliki kedudukan tinggi. Menurut Islam, mencipta dan menikmati karya sastra ditempatkan sebagai sesuatu yang sangat diperbolehkan (dianjurkan). Hukum mubah bagi kegiatan mencipta dan menikmati karya seni tersebut masih disertai dengan sejumlah persyaratan. Persyaratan itu merupakan rambu-rambu bagi proses penciptaan dan penikmatan karya seni.

Rambu-rambu bagi proses penciptaan dan penikmatan itu meliputi “Menciptakan dan menikmati karya sastra hukumnya mubah selama tidak mengarah mengakibatkan fasad (kerusakan), dharar (bahaya), isyan (kedurhakaan), dan ba’id ‘anillah (menjauh dari Tuhan).

Fasad (merusak) maksudnya mencipta dan menikmati karya sastra yang berakibat merusak, baik merusak orang yang menciptakanya maupun merusak orang lain bahkan lingkunganya (termasuk di dalamnya merusak aqidah, merusak ibadah, dan merusak hubungan sosial). Dharar (bahaya) maksudnya mencipta dan menikmati karya sastra yang menimbulkan bahaya pada diri orang yang menciptakan maupun pada orang yang menikmatinya. Isyan (kedurhakaan) maksudnya mencipta dan menikmati karya sastra yang mengakibatkan atau mendorong pada pelanggaran-pelanggaran, seperti pelanggaran hukum agama, kedurhakaan kepada Allah, kedurhakaan kepada orang tua, kedurhakaan suami bagi keluarganya. Bai’id ‘anillah (jauh dari Allah) maksudnya mencipta dan menikmati karya sastra yang menyebabkan jauh dari
Allah atau menghalangi pelaksanaan ibadah.

Selain memperhatikan rambu-rambu tersebut, menulis sastra akan lebih komperhensif dan sarat nilai, bila dikorelasikan dengan empat kompetensi dasar fitrah manusia. Sajak rindu bagi Rasul yang ditulis Ahmadun Yosi Herfanda (hal. 23) misalnya, ia mengingatkan kita pada sosok Muhammad sebagai pemimpin ideal, transformatif, dan bervisi kemajuan.

* Peresensi adalah Mahasiswa Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta
Senin 15 November 2010 15:2 WIB
Perselisihan dan Taqlid Buta Pangkal Kemunduran Umat
Perselisihan dan Taqlid Buta Pangkal Kemunduran Umat
Judul Buku: Beda Pendapat di Tengah Umat
Judul Asli: Al-Inshaf fi Asbabil Ikhtilaf
Penulis: Syah Waliyullah Ad-Dahlawi
Alih Bahasa: KH A Aziz Masyhuri
Penerbit: Pustaka Pesantren
Cetakan I: Agustus 2010
Tebal: XVIII+ 132 Halaman
Peresensi: Fathul Qodir

Ikhtilaful Ummati Rohmatun, perbedaan ummatku adalah rahmat. Demikian sabda Nabi yang populer digunakan untuk menyikapi fenomena perbedaan umat. Secara implisit hadis ini mengindikasikan bahwa perbedaan adalah sunnatullah yang harus dikelola agar mendatangkan kemaslahatan. Imam Sufyan As-Syauri berpendapat bahwa kata “ikhtilafu” (perbedaan) dalam hadis nabi di atas diartikan dengan usaha memperluas pemahaman hukum Islam kepada umat.<>

Namun, dalam realitasnya umat Islam selama ini belum mampu menangkap dan mengimplementasikan pesan agung itu. Bahkan ironisnya, hanya karena beda madzhab, organisasi, partai maupun kepentingan, antar sesama muslim saling mengkafirkan, mencaci bahkan tidak jarang saling membunuh. Bukan lagi rahmat, tapi laknat yang didapat.

Saat kelompok di luar Islam mengembangkan diri dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, umat Islam masih saja berkubang dalam kebodohan karena perpecahan. Selaras dengan hal tersebut, Suryadarma Ali berpendapat bahwa sikap jumud (beku) dan tafarruq (pecah belah) adalah faktor pelemah kekuatan dan perusak keutuhan umat Islam. Demikian ulas Menteri Agama RI dalam pengantar buku berjudul “Beda Pendapat di Tengah Umat” karya KH A Aziz Masyhuri mantan ketua RMI Pusat (hal. xviii).

Pendapat tersebut cukup beralasan, sebab kejumudan dan perpecahan tidak memberikan ruang kepada umat untuk memberdayakan diri dalam ilmu pengetahuan. Kreatifitas terpasung, taqlid hanya kepada pemimpin atau ulama kelompoknya, namun menegasikan ide-ide besar kelompok lain.

Buku di atas berjudul asli “Al-Inshaf Fi Asbabil Ikhtilaf” karangan ulama pembaharu India, yakni Syeikh Waliyullah Ad-Dahlawi (1114-1176 M.) Dalam buku tersebut diungkap sebab-sebab awal terjadinya perbedaan di kalangan umat Islam, mulai masa sahabat hingga abad keempat Hijriah. Karya besar Ad-Dahlawi ini terinspirasi oleh fenomena perselisihan antar sesama umat Islam yang tiada kunjung usai, pertengkaran yang pada akhirnya melemahkan potensi internal umat Islam. Disinyalir perselisihan itu hanya dilatarbelakangi perbedaan interpretasi al-Qur’an dan al-Hadis, ditambah kefanatikan serta ketidakcerdasan umat Islam menyikapi perbedaan.

Sejarah Beda Pendapat dalam Islam


Pasca Rasulullah wafat, tiada lagi otoritas tunggal yang mampu menjawab segala permasalahan umat yang berkaitan dengan syari’at Islam. Meskipun para sahabat Nabi adalah manusia-manusia pilihan dan memahami tujuan pensyariatan, namun tingkat kemampuan para sahabat menangkap pesan al-Qur’an dan sabda Nabi beragam. Selain itu, tidak semua para sahabat mengetahui segala yang disabdakan Nabi. Faktor semakin luasnya wilayah Islam juga memunculkan problem sosial baru yang tidak ditemui saat Rasulullah masih hidup, padahal semua itu membutuhkan jawaban berdasar syari’at Islam.

Jika jawaban atas permasalahan umat pada masa sahabat itu terdapat dalam al-Qur’an maupun sabda Nabi, tidaklah menjadikan problem. Namun, bila tidak ditemukan jawaban secara eksplisit dalam kedua sumber syariat tersebut, atau terdapat dalam beberapa hadis namun penjelasannya saling bertentangan, ataupun ayat al-Qur’an yang satu dengan yang lain saling bertentangan menyikapi permasalahan tersebut, di sinilah potensi perbedaan pendapat muncul. Semisal perbedaan penalaran hadis Rasulullah yang berbunyi: “Inna ahlaha yabkuna ‘alaiha waiyyaha tu’adzabu fi qabriha” (keluarga menangisinya, padahal ia sedang disiksa dalam kuburnya) (hal.14).

Berkaitan dengan hadis itu Ibnu Umar berpendapat bahwa siksaan atas mayit dikarenakan tangisan keluarganya. Hal itu dibantah oleh Siti Aisyah; dia berpendapat bahwa Nabi bersabda demikian tatkala melewati kuburan orang Yahudi yang sedang diratapi oleh keluarganya. Menurut Istri Nabi Saw tersebut, siksaan itu bukan karena faktor tangisan dari keluarga mayit, namun karena kekafiran si mayit itu. Jika Ibnu Mas’ud memandang keumuman lafadznya (al-ibrah biumumil lafdzi), sehingga memunculkan pemahaman bahwa setiap ratapan atau tangisan keluarga menyebabkan disiksanya seorang mayit. Maka Aisyah melihat dari kekhususan redaksinya (al-ibrah bikhususis sabab), yakni sabda nabi hanya berlaku pada kasus si mayit Yahudi itu, dan tidak ada kaitan dengan ratapan keluarga si mayit. Meskipun kedua sahabat tersebut berbeda pendapat namun tidak menimbulkan saling klaim paling benar sendiri dan perselisihan.

Jika di masa sahabat yang nota bene sempat menyaksikan proses pewahyuan dan berinteraksi langsung terhadap Rasulullah telah terjadi perbedaan penafsiran sumber syariat, maka wajar jika generasi selanjutnya juga demikian, bahkan semakin lebar tingkat perbedaannya. Kurun pasca sahabat, pendapat sahabat Nabi yang beragam itupun dijadikan pegangan hukum oleh para ulama mujtahid di masa tabi’in dan setelahnya. Kemudian para mujtahid berusaha menciptakan metode-metode yang dijadikan acuan untuk memahami sumber syariat.

Di sisi lain setiap mujtahid memiliki pendukung yang berusaha mempertahankan konsep-konsep serta berusaha mengkodifikasikan dan mengembangkan pola pemikiran mujtahidnya. Hal demikian meniscayakan munculnya saling beda pendapat dan perdebatan antar pengikut mujtahid, sehingga tradisi debat dan dialog marak menghiasi forum-forum kajian dan majelis-majelis ilmu. Perbedaan di masa itu menciptakan dialektika keilmuan Islam semakin berkembang.

Manfaat dan Bahaya Taqlid


Jika di masa tabi’in dan para imam mujtahid dialektika keilmuan Islam menjadi spirit, berbeda dengan yang terjadi dalam kurun setelahnya. Pada masa ini tradisi keilmuan Islam menurun jika tidak dikatakan stagnan. Para ulama lebih memilih mentakhrij (seleksi) pendapat imam mujtahid yang layak dan tidak layak diikuti. Budaya ijtihad dan ekplorasi dalil al-Qur’an dan al-Hadis tidak lagi menjadi prioritas ulama dalam dekade ini. Akibatnya dinamika keilmuan Islam tidak berkembang dan taqlid kepada imam mujtahid sebagai alternatif dan harga mati. Kefanatikan merambah hampir seluruh dunia Islam, bibit perselisihan antar madzhab mulai tumbuh. Truth claim, saling counter pendapat seakan melengkapi kemunduran Islam dalam abad-abad ini. Hingga saat inipun budaya taqlid masih dipegang erat oleh sebagian umat Islam.

Polemik ijtihad dan taqlid tidak pernah sepi dalam perdebatan antar cendikiawan Islam. Salah satu ulama yang menentang taqlid adalah Ibnu Hazm, dia mengatakan “Allah melarang seseorang merujuk ucapan seseorang selain al-Qur’an dan as-Sunnah ketika berselisih pendapat. Demikian itu haram”. Menanggapi statemen tersebut, ad-Dahlawi berargumen bahwa pendapat Ibn Hazm itu ditujukan kepada orang yang telah mampu berijtihad, meskipun hanya dalam satu masalah. Atau lebih tepat ditujukan kepada orang bodoh yang bertaqlid kepada pakar fikih tertentu, dengan keyakinan bahwa pakar fikih itu tidak mungkin salah. Apa yang diucapkannya pasti benar, serta tidak akan meninggalkan pendapat si fakih meskipun ada dalil kuat yang jelas-jelas bertentangan (hal 106-108). Bagi Ad-Dahlawi,taqlid adalah sebuah solusi alternatif bagi umat Islam yang tidak mampu mencari dalil langsung dalam al-Qur’an dan al-Hadis.

Taqlid juga berlaku bagi seseorang yang tidak mengetahui Hadis dan tidak tahu cara mengkompromikan Hadis-hadis yang bertentangan atau tidak mengetahui cara menggali hukum dari Hadis tersebut. Maka tidak ada cara lain kecuali harus taqlid kepada pakar yang tepat dan benar ucapan serta fatwanya mengikuti Sunnah Rasulullah (109). Taqlid adalah media penyelamat dari kesembronoan dan pendangkalan syariat bagi umat yang awam dan tidak mampu menggali hukum langsung dari sumber syariat.

Meskipun taqlid adalah sebuah keharusan bagi umat yang masih awam, namun tidak kalah pentingnya tradisi ijtihad para ulama besar di masa-masa awal Islam harus terus digalakkan. Sebab hanya dengan ijtihad ilmu pengetahuan Islam akan terus berkembang, selain akan mampu menjawab problematika umat yang terus berkembang, Islam juga akan mewarnai gelanggang ilmu pengetahuan dunia yang telah lama diambil alih dunia Barat. Ijtihad adalah sebuah keniscayaan ditengah-tengah kejumudan dan keterbelakangan umat Islam, namun dibutuhkan keberanian dan keuletan umat dalam mendalami ajarannya.

Dalam ijtihad dibutuhkan penguasaan disiplin ilmu yang tidak sedikit, seperti menguasai ilmu tafsir, hadis, musthalah hadis, ilmu balaghah, mantiq, sejarah, bahasa dan lain sebagainya. Hal tersebut bukanlah pekerjaan sederhana yang bisa dilakukan oleh sembarang orang. Ijtihad tidak cukup bermodal terjemah al-Qur’an dan al-Hadis saja, sebagaimana yang akhir-akhir ini digembar- gemborkan oleh sekelompok umat yang selalu meneriakkan ijtihad dan kembali kepada al-Qur’an dan al-Hadis, namun mereka minim ilmu dan tidak menguasai persyaratan ijtihad. Hal ini tidak saja konyol namun juga sangat berbahaya bagi keberlangsungan syariat Islam.

Buku ini mengajak pembaca mengetahui sejarah dan akar perbedaan pendapat yang terjadi di dunia Islam pasca Rasulullah saw. Dengan harapan umat Islam mampu mendudukkan perbedaan secara proporsional, sehingga tidak menyebabkan kefanatikan dan perpecahan yang akan menciptakan kemunduran Islam. Selain itu, Ad-Dahlawi mengajak umat Islam agar bangkit dari kubangan fanatik buta dan berusaha menghidupkan tradisi ijtihad. Buku ini penting dibaca oleh seluruh lapisan umat, dengan harapan dapat tercerahkan jiwa dan pikirannya.Sehingga para pembaca menyadari bagaimana mereka menyikapi perbedaan selama ini dan sebatas mana usaha yang dilakukan untuk mengembangkan ajaran Islam. Selamat membaca.....

*Kader NU Cabang Magelang Alumnus Pesantren Lirboyo 2004
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG