IMG-LOGO
Warta

Pekan Depan Komisi VIII Bahas Pengelolaan Dana Haji

Jumat 10 Desember 2010 14:0 WIB
Bagikan:
Pekan Depan Komisi VIII Bahas Pengelolaan Dana Haji
Jakarta, NU Online
Komisi VIII DPR RI akan mulai membahas pengelolaan dana optimalisasi setoran haji, sehingga dana-dana tersebut bisa dikelola secara baik. Pengelolaan dana haji ini memang menjadi salah satu fokus pembahasan Komisi VIII pada masa persidangan II tahun 2010-2011.

"Kita akan mengundang Bank Mandiri dan BNI, Senin (13/12) depan RDP untuk melihat sistem pengelolaan dana haji di perbankan. Kemudian kita akan mengundang RDP Sekjen Kemenag dan Dirjen Haji pada hari Kamis (16/12)," kata Wakil Ketua Komisi VIII Ahmad Zainuddin di Jakarta, Kamis (9/12).
/>
Potensi dana setoran haji ini, menurut politisi PKS tersebut, cukup besar. Jika diasumsikan antrean pendaftaran jamaah haji sampai delapan tahun, jumlahnya bisa mencapai Rp 32 triliun. Sementara, untuk asumsi antrean lima tahun, jumlahnya Rp 22 triliun.

"Asumsi 22 triliun itu hanya beberapa daerah, padahal masih banyak lagi daerah yang antreannya lebih dari 5 tahun, bahkan seperti Jawa Timur, Jawa Barat itu ada yang sampai 8 tahun," ujarnya.

Lebih lanjut Zainuddin mengatakan, sebenarnya dana yang terkumpul dari setoran awal itu bisa digunakan mengoptimalkan pelayanan bagi jamaah haji, misalnya untuk menyewa pemondokan selama 5 tahun di Mekkah sekitar ring I. "Bisa digunakan untuk booking pemondokan dan hotel atau menyewa fasilitas lain, atau bisa kita kembangkan untuk kepentingan jamaah," pungkas anggota DPR RI Dapil DKI Jakarta I. (ful)
Bagikan:
Jumat 10 Desember 2010 19:17 WIB
Direktur Centre for Islamic Studies Oxford Kunjungi PBNU
Direktur Centre for Islamic Studies Oxford Kunjungi PBNU
Jakarta, NU Online   
Direktur Centre for Islamic Studies Oxford Dr Farhan Ahmad Nizami  CBE, MA melakukan kunjungan ke PBNU, Jum’at (10/12) dan ditemui oleh jajaran pengurus PBNU dan lembaga NU terkait dengan pendidikan.

Farhan dalam kunjungannya ke Indonesia kali ini berniat untuk mengenal lebih jauh Indonesia sebagai negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia. “Untuk mengenal Indonesia, tentu harus mengunjungi organisasi Islam terbesarnya,” katanya.<>

Ketua PBNU Dr Marsyudi Syuhud menjelaskan, NU merupakan ormas Islam yang memiliki ribuan lembaga pendidikan mulai dari sekolah, madrasah, pesantren, dan perguruan tinggi.

Pada kesempatan tersebut, kedua belah fihak sepakat untuk menjajaki kemungkinan kerjasama dengan mempertimbangan kebutuhan dan kekuatan dari masing-masing fihak, antara Oxford an PBNU.

Dalam kunjungannya ke Indonesia, Farhan didampingi oleh Dr Afifi Al-Akiti BA, salah satu staff di Centre for Islamic Studies Oxford yang pernah nyantri di pesantren Kencong Jember.  (mkf)
Jumat 10 Desember 2010 18:23 WIB
SERBA-SERBI TANAH SUCI
Tahun Baru, Khotib Nabawi NU Banget (1)
Tahun Baru, Khotib Nabawi NU Banget (1)
Madinah, NU Online
Tidak seperti biasanya yang selalu mengumbar pembahasan mengenai bid'ah dalam hal ibadah dengan kosa kata yang monoton dan terlalu mudah ditebak, kali ini Khotib Jum'at di Masjid Nabawi Madinah al-Munawwaroh, Jum'at (10/12) menghadirkan hal yang berbeda. Khotib menyampaikan Khutbah dengan pembahasan yang aktual mengenai refleksi tahun baru Hijriyah dengan diksi (pilihan kata) yang sangat puitis.

Hebatnya, beberapa rukun khutbah yang diselesaikan di bagian depan khutbah pertama seperti hamdalah, sholawat kepada Nabi SAW, washiyat untuk bertaqwa dan membaca ayat al-Qur'an pun tidak menyinggung-nyinggung tentang pembahasaan bid'ah yang terdengar berulang seperti kaset. Jum'at kali ini benar-benar lain, rukun-rukun tadi disampaikan dalam bahasa yang tidak bisa ditebak seperti biasa.
gt;
Khutbah diawali dengan membincang peredaran waktu yang menempatkan seluruh manusia sebagai hamba-hamba yang sedang berada dalam perjalanan. "Mereka yang selalu menanamkan kebajikan dalam setiap pengalaman perjalanannya di dunia, maka kelak dianugerahkan hasil panen yang diridhoi Allah di tujuan akhirat," tutur sang khotib.

Dengan kata-kata yang puitis seperti para khotib di pesantren-pesantren Indonesia, khotib menjelaskan bahwa, hari-berganti hari menuju kehancuran dunia. Namun para pejalan yang beriman dan beramal sholeh akan menemukan kebahagiaan.

"Kita juga sudah sering kali melihat banyak sekali orang-orang mati, yang sesungguhnya masih hidup. Kam min mayyitin kaana hayya. Mereka menjadi tanda-tanda keagungan Allah yang mempertebal keimanan kita," tandas sang khotib.

Tidak seperti biasanya yang hanya mengutip ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits-hadits saja, khotib kali ini juga mengutip penyataan para salafussholih seperti para ulama Nahdliyin di Indonesia. Bahkan jelas-jelas khotib memilih kata, "wa qoola bha'dhussalaf/berkata sebagian ulama salaf."

Salah seorang pejabat teras Misi Haji Indonesia, Abdul Mutholib menyatakan, isi materi khutbah jum'at ini sangat bagus dan tidak bertele-tela. "Hampir seperti di Indonesia yang disesuaikan dengan isi kitab al-Barzanji, memanjangkan sholat dan memendekkan khutbah Jum'at," tuturnya berseloroh. (min/Liputan langsung Syaifullah Amin dari arab Saudi)
Jumat 10 Desember 2010 16:14 WIB
DISKUSI KAMISAN
Peran Maqashidus Syari’ah dalam Hukum Islam
Peran Maqashidus Syari’ah dalam Hukum Islam
Jakarta, NU Online
Istilah maqashidus syari’ah mungkin masih asing bagi kalangan awam, tapi merupakan aspek yang akrab dan sangat penting bagi kalangan ahli fiqih untuk membantu menetapkan sebuah hukum.

Arti maqashid adalah jamak dari “maqshod”. Menurut bahasa, maqshod berarti tujuan. Sedangkan dalam istilah ilmu fiqih, maqashidus syari’ah adalah tujuan-tujuan yang ingin diwujudkan oleh syariat Isla<>m.

Dalam diskusi Kamisan, 9 Desember di NU Online, tema "Peran Maqashis Syari’ah dalam Penerapan Hukum Islam" ini sengaja dibahas karena masih asing di telinga orang awam. Diskusi KH Arwani Faishal, wakil ketua Lembaga Bahtsul Masail NU, dengan moderator Hamzah Sahal. Turut hadir pula salah satu wakil sekjen PBNU, Abdil Mun'im DZ, dan pemimpin redaksi NU Online, Muhammad Syafi.

Para ulama membagi kategori maslahah yang ada, yaitu mashlahah mu’tabarah, mashlahah mulghah, dan mashlahah mursalah. Yang paling banyak diperbincangkan adalah mashlahah mu’tabarah dengan lima tujuan, yaitu memelihara agama, jiwa, akal, keturunan dan harta.

Sementara itu mashlahah mulghah adalah sesuatu yang dianggap maslahah oleh manusia tetapi syariat secara tegas menolaknya melalui penetapan hukum, seperti berlebihan dalam beragama. Mashlahah mursalah maslahat yang tidak dinafikan oleh syariat dan tidak pula diakui secara tegas (didiamkan).

“Kajian tentang maqashidus syari’ah ini sebenarnya lebih diperuntukkan bagi faqih atau fuqaha, karena kalau orang awam, cukup menerima hukum secara tekstual seperti yang diputuskan oleh mufti atau mujtahid,” katanya.

Keberadaan maqashidus syari’ah ini penting membantu ilmu ushul fiqih dalam menyelesaikan sebuah persoalan. Ia mencontohkan, ada sebuah ayat yang menyatakan “Ambillah diantara harta mereka sebagai zakat..”.

Jika dimaknai secara tekstual, maka zakat yang diambil disesuaikan dengan pekerjaannya. Jika petani, diambil padinya, jika pedagang pasir, diambil zakat pasirnya, pedagang besi, diambil zakat besinya.

Maqashidus syari’ah
dalam hal ini membantu memberi solusi dalam zakat ini, dengan menafsirkan, zakat bisa diambil dalam bentuk nilai uangnya, tidak dalam bentuk barangnya untuk memudahkan pemanfaatan bagi mereka yang mendapat hak.

Tetapi juga ada masalahah yang tidak boleh diubah bentuknya, seperti Qurban, yang harus dalam bentuk penyembelihan hewan, tidak dalam bentuk pembagian uangnya.

Mahbub Muwafi, salah satu pengurus LBMNU, memberi contoh lain tentang pentingnya maqashidus syari’ah dalam dunia sekarang. Suatu ketika rasulullah pernah dimintai sahabat untuk menetapkan harga sebuah barang yang naik tinggi, tetapi rasulullah menolaknya. Jika melihat secara tekstual dari hadits ini, pengendalian harga dilarang, tetapi dalam konteks sekarang, penting dilakukan, khususnya untuk bahan pokok agar tidak merugikan masyarakat banyak dengan alasan adanya maqashidus syari’ah.

Mahbub juga melihat adanya pergeseran pandangan di kalangan NU dengan membandingkan hasil bahtsul masail komisi Maudluiyyah dalam muktamar NU di Makassar 2010 dan Munas NU di Lampung tahun 1992.

“Ada pergeseran dari ushul fiqih yang tekstualis menjadi lebih melihat pada realitas yang ada, hukum ditetapkan berdasarkan apa yang paling memberi masalahah pada masyarakat luas,” katanya.

Kiai Arwani menambahkan, maqashidus syari’ah sangat penting ketika ada berbagai pendapat dalam satu hukum. Keputusan diambil dengan menetapkan yang manfaatnya paling tinggi, dengan lima kriteria yang telah disebutkan. Tetapi disisi lain, maslahah yang sifatnya duniawi tidak boleh bertentangan dengan maslahah ukhrawi.

Satu hasil bahtsul masail NU juga tidak melihat permasalahan secara hitam putih, ketika dikaitkan dengan maqashid asy-syari’ah, akan terlihat berbagai persyaratan untuk memenuhi maslahah bagi semua fihak.

Pada Munas NU di Surabaya 2006 lalu, dibahas masalah suami yang pergi lama tanpa ketahuan statusnya. Akhirnya, si istri menikah lagi, tiba-tiba suami pertamanya kembali. Yang menjadi pertanyaan, yang berhak suami pertama atau kedua, dikalangan ulama NU sendiri terjadi perbedaan pendapat.

Akhirnya disimpulkan, suami pertama tetap berhak, tetapi istrinya harus mengembalikan mahar kepada suami kedua dan suami pertama juga harus memberi kompensasi mantan suami kedua yang telah menafkahi istrinya.

“Ini semua dalam tinjauah maqashidus syari’ah, karena kalau sekedar bahtsul masail, tidak dipertanyakan,” tuturnya.

Penggunaan maqashidus syari’ah sendiri harus hati-hati karena kelompok liberal dan konservatif mengggap maqashidus syari’ah terlepas dari teks, padahal aspek keadilan, berbuat baik dan lainya juga banyak dikutip dalam ayat Al-Qur’an.

Sekretaris Lajnah Ta’lief wan Nasr Ulil Hadrawi, yang juga hadir diskusi, mengkritik kalangan yang belum-belum langsung merujuk pada maqashidus syari’ah tanpa melihat ushul fiqihnya.

“Ada yang belum-belum langsung merujuk pada maqashidus syari’ah. Ini kemungkinannya ada dua, karena keterbatasan manusia dalam memahami teks atau malah mencari teksnya,” tandasnya.

Jika kecenderungan ini semakin meningkat, maka peran teks, baik Al-Qur’an atau hadits akan semakin tersingkir, dan seolah-olah tidak usah pakai usul fiqih.

“Nanti akhirnya yang masuk di sana masuk kepentingan, kekuasaan, dan lainnya. Bukan lagi ada pertimbangan fikih lagi,” tandasnya.

Kiai Arwani menegaskan, kesalahan dalam penggunaan maqashidus syari’ah akan membahayakan banyak orang.

“Orang alim atau mujhahid akan terpeleset jika salah menerapkan maqashidus syari’ah. Intinya, kita harus menggunakannya secara hati-hati,” tandasnya. (mkf)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG