IMG-LOGO
Warta
GUS DUR WALI (3)

Jasad Gus Dur Sangat Manusiawi

Selasa 22 Februari 2011 12:12 WIB
Bagikan:
Jasad Gus Dur Sangat Manusiawi
Jakarta, NU Online
Setelah empat kali mengalami pengurukan akibat longsor dalam setahun, makam Gus Dur semakin ramai di kunjungi para peziarah. Hiruk pikuk dan kehebohan masyarakat menyikapi fenomena longsornya makam mantan Presiden Republik Indonesia KH Abdurrahman Wahid terus berlanjut.

Setalah berbagai kalangan mengutarakan pendapatnya mengenai pertanda kewalian Gus Dur, kini giliran para santrinya di Pesantren Ciganjur yang angkat bicara. Para santri di Pesantren Ciganjur inilah yang dahulu memandikan jenazahnya, kala Gus Dur sang pengasuh para santri ini dipanggil menghadap Sang Khaliq.
/>
"Waktu para santri memandikan jenazahnya, jasad Gus Dur kelihatan sangat manusiawi. Kulitnya cerah, seperti biasa waktu beliau kami sering mengajar santri-santrinya," tutur Mahbib salah seorang santri yang dulu turut memandikan.

Sementara para santri lain menceritakan kepada NU Online, Selasa (21/2), sewaktu memandikan Gus Dur para santri melihat jasad Gus Dur dalam ekspresi yang wajar. Tidak tampak pucat tidak pula seperti orang mati.

Menurut Mahbib, para santri bergiliran memandikan di samping rumah sebelum jenazah disemayamkan di ruang tengah untuk disholatkan secara bergiliran pula. Sholat Jenazah untuk Gus dur di kediaman Ciganjur sendiri, berlangsung berkali-kali sejak dimandikan hingga sebelum diberangkatkan menuju Bandara Halim Perdana Kusuma. Dari Bandara Halim Perdana Kusuma ini jenazah kemudian diterbangkan ke peristirahatan terakhirnya di Tebuireng Jombang.

"Tidak terhitung berapa kali sholat dilakukan bergantian. Para jamaa terus berduyun-duyun sholat di hadapan jenazah. Sementara mereka yang tidak bisa masuk, lalu melaksanakan sholat jenazah di Masjid al-Munawwaroh," tutur Ahsin, imam Masjid al-Munawwaroh Ciganjur. (min)
Bagikan:
Selasa 22 Februari 2011 23:45 WIB
Hasyim Muzadi Tolak Dicalonkan Sebagai Ketum PPP
Hasyim Muzadi Tolak Dicalonkan Sebagai Ketum PPP
Surabaya, NU Online
Mantan Ketua Umum Pengurus besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi tetap menolak untuk dicalonkan sebagai ketua umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Hasyim merasa bahwa masanya sudah lewat untuk jabatan sekelas ketua partai.

"Teman-teman PPP saja yang cari-cari orang. Saya ini sudah kelewat waktunya," kata Hasyim kepada wartawan di sela-sela Seminar harlah NU ke-88 di Hotel Bumi Surabaya, Jalan Basuki Rahmat, Selasa (22/2).r />
Hasyim mengatakan, sekarang ini adalah waktunya buat orang-orang muda untuk memimpin, bukan yang sudah tua seperti dirinya. Menurut Hasyim, masih banyak orang-orang muda yang bisa dicalonkan sebagai ketua umum PPP.

Hasyim mengaku, saat ini dirinya sedang sibuk dengan kegiatannya. Salah satunya yakni mendirikan pesantren di beberapa perguruan tinggi seperti UI atau IAIN. (ful)
Selasa 22 Februari 2011 21:0 WIB
GP Ansor Gelar Pelatihan Membaca Resiko Bencana
GP Ansor Gelar Pelatihan Membaca Resiko Bencana
Magelang, NU Online
Erupsi Gunung Merapi telah usai, namun secara periodik gunung teraktif di dunia itu akan memasuki masa erupsi lagi. Masyarakat yang tinggal di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III, harus siap ancaman bencana berkala itu.

Untuk menguatkan pengetahuan tanggap bencana, Posko Merapi Bersama GP Ansor bersama Diakonie Katastrophenhilfe Project Office menggelar pelatihan Risk Assessment (Penilaian Resiko) Bencana, di Pondok Pesantren Entrepreneur, Tempuran, Kabupaten Magelang.r />
Mereka yang menjadi peserta pelatihan adalah, perwakilan warga dari Dusun Ngargotronto, Desa Sumber, Kecamatan Dukun dan Dusun Dawung, Desa Ngablak, Srumbung. Selain itu juga relawan dari GP Ansor, PMII, IPNU dan IPPNU Magelang.

Koordinator Posko Merapi Bersama GP Ansor, Ahmad Majidun, mengatakan dilibatkannya masyarakat dan relawan untuk menyatukan visi dalam pendampingan pemulihan paska bencana. Mereka belajar memetakan persoalan, kemudian melakukan survey, apa yang dibutuhkan masyarakat setelah terjadinya bencana itu.

"Sebagian besar bantuan yang diberikan warga lereng Merapi kurang tepat sasaran, dalam artian tak sesuai dengan kebutuhan warga. Karena itu melalu survey akan lebih tepat dan sesuai sasaran," katanya, Selasa (21/2).

Menurutnya, mereka juga dilibatkan dalam pemetaan aksi recovery, di berbagai sektor, mulai pertanian, ekonomi dan infrastruktur. Selama setahun masyarakat diberdayakan agar lebih mandiri dan tak tergantung dengan bantuan.

Untuk sementara ini yang digarap baru, dua dusun di KRB III. Dipilihnya dua dusun itu, lanjut dia, karena selama ini dua dusun itu sejak awal didampingi oleh Posko Bersama GP Ansor. Selain itu partisipasi masyarakat dalam tanggap bencana juga bagus, sehingga pencapaian kemandirian warga tanggap bencana lebih cepat. (sha) 
Selasa 22 Februari 2011 19:17 WIB
Sejarah Pendidikan Indonesia Dimulai di Pesantren
Sejarah Pendidikan Indonesia Dimulai di Pesantren
Jakarta, NU Online
Pengamat pendidikan Darmaningtyas berpendapat sejarah pendidikan Indonesia dimulai dari institusi swasta, di lingkungan pesantren dan padepokan. Baru dengan masuknya penjajahan Belanda muncul sekolah yang dikelola pemerintah dan di bawah Zending.

“Sebagian besar tokoh generasi pertama yang mengisi kemerdekaan dididik dalam sekolah-sekolah swasta yang dikembangkan oleh lembaga keagamaan dan Taman Siswa,” katanya dalam diskusi pendidikan di gedung PBNU, Selasa (22/2).<>

Ia memetakan perkembangan pendidikan Indonesia dalam tiga tahap, pertama sekolah yang tumbuh pra kemerdekaan, yang memiliki idealisme sangat tinggi untuk mendidik masyarakat. Tahap kedua, yang didirikan tahun 50-60-an yang melengkapi generasi pertama untuk mencerdaskan masyarakat mengingat keterbatasan pemerintah dalam pendanaan.

Tahun 70-an, pemerintah sudah punya dana karena berkah dari bom minyak sehingga mulai banyak berdiri sekolah SD inpres sehingga akses pendidikan semakin mudah kepada masyarakat.

Perkembangan selanjutnya, tahun 90-an, mulai muncul generasi ketiga sekolah swasta yang didirikan dengan topangan basis material yang sangat kuat. Mereka didirikan sebagai alternatif sekolah yang sudah ada dengan penonjolan kualitas yang lebih baik sehingga memungut biaya yang sangat tinggi. Sekolah seperti ini mempersiapkan muridnya untuk bekerja di dunia professional.

Sayangnya, kebijakan pemerintah akhir-akhir ini cenderung malah mematikan sekolah swasta, seperti membangun sekolah baru yang berdekatan dengan sekolah swasta atau membangun sekolah satu atap.

“Saya sudah mengusulkan dalam rangka mencapai target partisipasi dasar 100 persen, tak perlu mendirikan sekolah negeri baru, tapi mengoptimalkan sekolah swasta dengan memberikan mereka subsidi sehingga bisa menggratiskan muridnya,” tandasnya.

Ia menduga pembangunan sekolah swasta lebih kuat nuansa proyeknya berupa proyek pembebasan lahan, pembangunan gedung, pengisian mabelair dan lainnya.

“Tatkala pemerintah tidak punya dana untuk pendidikan, swasta yang mengambil peran, ketika pemerintah punya dana, peran swasta dinisbikan,” imbuhnya.

Sementara itu, Masduki Baidlawi dari Maarif NU menjelaskan dalam pembuatan UU, pemerintah selalu ambigu ketika berhadapan dengan beban yang harus ditanggung APBN.

Mantan anggota DPR RI yang membidangi masalah pendidikan ini menjelaskan, RUU yang berasal dari inisiatif pemerintah lebih mudah diputuskan daripada yang inisiatif DPR murni. Tak heran, ideologi liberal yang dianut dalam pendidikan akhirnya juga masuk dalam UU tersebut yang akhirnya membuat banyak orang tak bisa mengakses pendidikan.

Saat ini pemerintah juga sudah meratifikasi aturan WTO yang memasukkan pendidikan dalam sektor jasa sehingga masuk dalam sektor privat, bukan sektor publik. Siapa yang memiliki uang, mendapat jasa, yang tidak dapat, ya tidak. Aturan ini dimotori negara besar, yang memang sudah menyiapkan diri dalam ranah bisnis pendidikan internasional.

“Maarif NU wajib memperjuangkan agar UU kita, yang meletakkan pendidikan di ranah publik harus dipertahankan,” tandasnya. (mkf)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG