Fatayat NU Kudus gelar Gebyar Ruwahan

Fatayat NU Kudus gelar Gebyar Ruwahan

Kudus, NU Online
Dalam rangka menyambut  bulan suci Ramadhan 1432 H, Pimpinan Cabang Fatayat NU Kudus mengadakan kegiatan Gebyar Ruwahan yang bertempat di Masjid Agung Kudus, Senin (24/7). 

Ratusan kader fatayat NU memenuhi serambi masjid untuk mengikuti rangkaian kegiatan yakni khotmil Qur’an dengan 6 hafidhoh pukul 09.00,tahlil umum, siangnya kirab kue apem dan diakhiri dengan pengajian umum bersama ulama setempat KH Choiruzyad. 
<>
Ketua PC Fatayat NU Kudus Noor Hidayah mengatakan Gebyat Ruwahan ini sebagai upaya Fatayat NU Kudus untuk mempertahankan tradisi baik sehingga bisa dijalankan secara terus menerus di tengah-tengah masyarakat.

“Masyarakat NU harus selalu nguri-nguri tradisi baik yang selama ini telah berlangsung lama. Jika tidak dipertahankan, pelan-pelan tradisi ruwahan akan hilang ditelan zaman,” kata Hidayah.

Menurutnya, bulan Ruwah menjadi momentum tepat untuk mendo’akan kedua orang tua yang meninggal dunia serta membersihkan diri dari kesalahan dengan meminta maaf kepada Allah maupun sesama ummat manusia.

“Adanya rangkaian Kirab Apem tersebut memberi makna filosofi yakni apem dari kata Afwun (maaf), disini bisa mengingatkan untuk saling memaafkan antar sesama. Inilah sebetulnya nilai-nilai dan tujuan dari kegiatan ruwahan ini,” tegasnya lagi.

Memang, kirab kue apem mini menjadi daya tarik gebyar ruwahan ini. Sekitar 9 tampah berisi ratusan kue dibawa pengurus Fatayat dikirab dari gerbang sampai serambi masjid dan diserahkan kepada Pengurus Muslimat NU Kudus yang hadir dalam acara tersebut.

“Dulu kue apem menjadi menu pokok setiap ritual ruwahan, namun belakangan ini mulai punah. Oleh karenanya melalui acara ini, Fatayat mengingatkan masyarakat untuk menguri-uri kembali,” tambah Hidayah.

Sementara itu, ulama kharismatik KH Choiruzyad mengingatkan setiap kegiatan yang diselenggarakan harus mengedepankan dimensi spiritual dan sosial. Artinya, spritualitas mengarah pada bertambahnya peningkatan kualitas taqwa dan Iman kepada Allah, sementara sosialnya harus memberikan dampak positif yang bisa dirasakan oleh orang lain atau masyarakat.

“Dengan begitu, kita akan menjadi manusia bermanfaat baik untuk diri sendiri maupun orang lain,” tutur putra KH Turaichan Adjuri, ulama ahli falak Kudus ini dalam mauidhoh hasanahnya.

Selain ratusan anggota Fatayat, hadir juga Ketua PCNU Kudus KH Chusnan Ms, Kasi Kemenag Hambali, Pengurus Muslimat Kudus dan tamu undangan lainnya.

Redaktur    : Mukafi Niam
Kontributor: Qomarul Adib

BNI Mobile