IMG-LOGO
Warta

STAI Al-Muhamad Gelar Tahlilan Untuk Gus Dur

Kamis 29 Desember 2011 13:25 WIB
Bagikan:
STAI Al-Muhamad Gelar Tahlilan Untuk Gus Dur

Blora, NU Online
Keluarga besar STAI Al-Muhamad Cepu, Blora, Jawa Tengah, menggelar acara tahlilan untuk guru bangsa, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Tahlilan digelar dalam rangka memperingati dua tahun meninggalnya Presiden RI Keempat tersebut. Acara dipusatkan di kampus E, Jalan Alun-Alun Blora.
 
”Insyaallah, acara tahlilan untuk Gus Dur kami laksanakan pada Sabtu (31/12) sekitar jam 15.00 WIB,” ujar salah satu dosen STAI Al-Muhamad, Imron MAg.<>
 
Imron, yang juga kandidat doktor IAIN Walisongo Semarang itu menambahkan, acara tahlilan tersebut akan diikuti seluruh dosen dan karyawan STAI. Tahlilan digelar dalam rangka ikut mendoakan Gus Dur agar semua amalnya diterima Allah dan semua kekhilafannya diampuni.
 
Menurutnya, jasa Gus Gus Dur terhadap bangsa ini cukup besar. Karena itu, sebagai anak bangsa, pihaknya ikut terpanggil untuk meneruskan ide-ide besar beliau. Khususnya ide menggelorakan islam yang rahmatan lilalamin.
 
”Meski beliau sudah wafat, namun ide-ide Gus Dus tetap menginspirasi kami,” ungkapnya.
 
Sementara itu, dosen STAI Al-Muhamad lainnya, Sholihin Hs MPdI mengatakan, selain mendoakan Gus Dur, pada kesempatan itu juga akan dibacakan doa akhir tahun. Karena, pada hari itu (Sabtu) merupakan hari terakhir di tahun 2011.
 
”Akan kita bacakan doa akhir tahun 2011 dan doa awal tahun 2012. Dengan harapan, semoga di tahun-tahun mendatang, STAI Al-Muhamad akan makin mendapat tempat di hati masyarakat,” ujar Sholihin Hs, yang juga mahasiswa pascasarjana Universitas Nahdhatul Ulama (UNU) Surakarta.
 
Pada kesempatan itu, secara khusus akan disiapkan makanan khas orang NU. Yakni, makan tumpengan yang dilengkapi ingkung. Sedangkan tempat makanannya menggunakan daun dari pohon jati.



Redaktur    : Mukafi Niam
Kontributor: Sholihin Hasan

Bagikan:
Kamis 29 Desember 2011 18:52 WIB
Anak Muda pun Berduyun-duyun Ikut Thariqah
Anak Muda pun Berduyun-duyun Ikut Thariqah

Pekalongan, NU Online
Mendengar kata thariqah, bayangan kita pasti akan tertuju kepada sekelompok manusia usia lanjut laki dan perempuan berjalan kaki di tengah terik matahari menuju ke suatu di tempat untuk mengikuti kegiatan thariqah secara rutin mingguan atau bulanan yang digelar oleh guru thariqah atau yang lebih dikenal dengan mursyid thariqah.

Jika pemandangan ini didapatkan, itu pasti terjadi pada dekade tahun 70-an atau 80-an, dimana mayoritas pengikut thariqah ialah rata rata telah berusia lanjut.
<>
Akan tetapi seiring dengan kemajuan zaman, serta thariqah tidak lagimenjadi domain manusia lanjut usia (manula), maka anak anak muda kaum santri yang telah mengenal thariqah lebih mendalam, tidak lagi sekedar tahu. Akan tetapi lebih dari itu, mereka juga mengamalkan ajaran ajaran yang disampaikan oleh sang mursyid untuk lebih dekat dengan sang Khaliq.

Di Thariqah Qadiriyah Wan Naqsabandiyah Al Utsmaniyah misalnya, dalam kegiatan harian, mingguan, bulanan hingga tahunan, selalu akan dijumpai pemandangan yang sangat kontras pada apa yang terjadi di era 70 an. Dimana anak anak muda sudah berbai'at diri kepada sang mursyid yang tidak lain beliau adalah KH Asrori Al Ishaqi.

Dari beliaulah thariqah diperkenalkan kepada anak anak muda, kalangan birokrasi, politisi dan para pengusaha yang tidak saja bermarkas di Jawa Timur, akan tetapi dari berbagai daerah hingga manca negara secara berkala menghadiri majelis dzikir yang digelar oleh Thariqah Qadiriyah Wan Naqsabandiyah Al Ustmaniyah yang bermarkas di Pondok Pesantren Al Fithrah, Kedinding Lor, Surabaya, Jawa Timur.

Pemandangan yang sama juga dapat kita jumpai di Pekalongan, tepatnya di komunitas Kanzus Sholawat Pekalongan. Di tempat ini, mingguan, bulanan maupun tahunan ada kegiatan yang digelar secara rutin yang dihadiri anak anak muda, birokrat, politisi, pengusaha dan masyarakat umum dari segenap lapisan hadir secara khusus mengikuti kegiatan thariqah Sadzaliyah yang digelar oleh mursyid Thariqah, Habib Muhammad Luthfy bin Ali bin Hasyim bin Yahya yang juga Rais Aam Idaroh Aliyah Jam'iyyah Ahlit Thariqah Al Mu'tabarah An Nahdliyyah (Jatman).  

Perkembangan yang cukup pesat ini sungguh sangat menggembirakan, ujar Habib Luthfy suatu ketika bincang-bincang dengan NU Online. Pasalnya hampir seluruh thaoriqah berjalan dengan baik, seperti Sadzaliyah, Kholidiyah, Naqsabandiyah, Syatariyah, Qodiriyah, Tijaniyah dan lain lain.

Indikator lainnya ialah banyaknya kaum muda yang mulai aktif sebagai pengikut thariqah, “Padahal mereka sebelumnya kenal saja tidak apalagi menjadi pengikut, sehingga kesan bahwa thariqah hanya dapat diikuti oleh sekelompok manusia usia lanjut mulai terkikis, bahkan sekarang ini perkembangan thoriqoh di kalangan anak anak muda cukup menggembirakan, seperti yang saya hadapi di Pekalongan ini, justru yang paling banyak masuk thariqah dari anak anak muda”, ujarnya.


Redaktur    : Mukafi Niam
Kontributor: Abdul Muis

Kamis 29 Desember 2011 17:50 WIB
Ribuan Jamaah Hadiri Sholawat di Alun-alun Bangil
Ribuan Jamaah Hadiri Sholawat di Alun-alun Bangil

Pasuruan, NU Online
Puluhan ribu warga dari seluruh penjuru wilayah Kabupaten Pasuruan menghadiri acara 'Pasuruan Bermunajat dan Bersholawat' di Alun-Alun Bangil, Rabu ( 28/12) malam. Konser sholawat yang mendatangkan Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf Solo ini, berlangsung cukup meriah.<>

Tak hanya dari lokal, namun para jamaah 'Pasuruan Bermunajat dan Bersholawat' juga datang dari beberapa daerah seperti Sidoarjo hingga Mojokerto. Mereka pun sangat antusias mengiringi syair-syair sholawat yang dilantunkan oleh Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf, dan bahkansebagian jamaah rela datang sejak sore.

'Pasuruan Bermunajat dan Bersholawat' ini serasa lebih spesial, lantaran selain dihadiri ulama dan habib dari Kabupaten Pasuruan, juga dihadiri dua ulama dari manca negara, yakni Kamboja dan Timor Leste. "Malam ini adalah puncak dari peringatan tahun baru 1 Muharram" kata Habib Zainal Abidin, Ketua Panitia Acara.

Bupati Pasuruan Dade Angga dalam sambutannya berharap, dengan digelarnya kegiatan tersebut semoga masyarakat yang dipimpinnya dijauhkan dari segala musibah. 

"Pada kesempatan yang sangat berbahagia ini, saya berharap agar masyarakat Kabupaten Pasuruan dijauhkan dari marabahaya dan segala bencana" ungkap Dade Angga.

Setelah pembacaan sholawat, Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf kemudian memimpin para jamaah yang hadir untuk bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya. Ini dimaksudkan agar masyarakat lebih mengenal terhadap bangsanya sendiri dari pada bangsa lain. 

 


Redaktur  : Syaifullah Amin

Kamis 29 Desember 2011 16:42 WIB
Menag : 2011 Kerukunan Umat Beragama dalam Kondisi Baik
Menag : 2011 Kerukunan Umat Beragama dalam Kondisi Baik

Serang, NU Online
Menteri Agama Suryadharma Ali menilai kualitas kerukunan umat beragama di Tanah Air sepanjang 2011 baik. Persoalan yang terjadi di kalangan internal agama atau antarumat beragama bersifat dinamis. Faktor pemicunya pun tak bisa diklaim sepenuhnya murni sebagai konflik agama.

Menurut Menag, kecerdasan dan kedewaasan menyikapi ketegangan yang muncul di tengah-tengah umat beragama sangat diperlukan. Pasalnya, peristiwa yang muncul bisa akibat kekerasan murni, kendala izin mendirikan bangunan bagi rumah ibadah, dan terdapat pula insiden yang dipengaruhi oleh faktor politik.<>

 

“Cara pandangnya harus jernih, harus dipilah penyebab hambatan itu,”katanya dalam acara pembinaan kualitas kerukunan umat beragama di Kanwil Kemenag Serang, Banten, Rabu (28/12)

Menag menguraikan sampel masing-masing faktor itu antara lain kasus penghancuran patung Bunda Maria di Malang, Jawa Timur, terjadi lantaran murni anarkisme dan kebrutalan massa, bukan dilatarbelakangi sentimen agama. Permasalahan yang menimpa gereja seperti di Purwakarta, gereja Yasmin di Bogor, dan Ciketing, Bekasi, pemicunya ialah IMB yang bermasalah. 

Wewenang penyelesainnya tak lagi otoritas Kementerian Agama, tetapi merupakan domain dari pemerintah kota ataupun daerah. Semestinya, masalah IMB itu tidak dikatikan dengan kerukunan.” Jangan dihadapkan dengan kerukunan, itu murni IMB,”kilahnya

Belum lagi, fenomena agama yang dipolitisasi, kata Menag. Sebagaimana kasus perusakan patung Budha di Binjai, Sumatara Utara. Perusakan tersebut dilatarbelakangi motif keinginan peserta pemilu kepala daerah untuk menarik simpati dan dukungan umat Islam.

Menag  khawatir berbagai peristiwa di luar agama itu, bila tak disikapi bijak akan menyebabkan kekerasan sikap umat agama tertentu. Apalagi dengan pemberitaan tak berimbang dan kepentingan kelompok-kelompok tertentu. Tidak hanya menyangkut satu umat, tetapi juga umat lain yang mengalami persoalan sama. 

Soal pendirian rumah ibadah, misalnya. Mengingat problematika itu juga menimpa Muslim di daerah mayoritas non Muslim. Karenanya, menag menyerukan agar umat dan tokoh beragama tidak mudah terpancing. “Waspadai agar kerukunan tak bermasalah,” tandasnya


Redaktur : Syaifullah Amin

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG