IMG-LOGO
Opini

Optimislah Bersholawat!

Senin 16 Januari 2012 14:25 WIB
Bagikan:
Optimislah Bersholawat!

Oleh: H Muhammad Kanzul Firdaus*

 

Setiap orang memiliki asumsi pribadi dalam memandang fenomena sholawat yang belakangan disebut sebagai budaya populer di kalangan santri. Ada yang berasumsi sebagai keberhasilan tarbiyah karena tertanamnya benih-benih kecintaan kepada Baginda Rasulullah SAW. Ada juga yang berasumsi,fenomena ini tak lebih dari gejala dinamis anak baru gede,yang dikaitkan dengan kaidah fiqh:irtikabu akhaffi dlororoin (Mengambil yang paling ringan risikonya-dari pada suka boy band, girl band, dangdut, pop, punk rock, dan sebagainya).
<>
Semua bebas berasumsi dengan hujjahnya masing-masing selama masih dalam batas normal,tidak sampai mengendorkan semangat dan keoptimisan para pelantun sholawat. Jangan sampai orang enggan bersholawat dan tidak optimis meraih keberkahan bacaan sholawat hanya karena tidak tahu maknanya, tidak bisa menghayati artinya, dan berbagai alasan tidak subtansial lainnya. Karena bagaimanapun juga proses menjadikan manusia, dalam hal ini santri, untuk jatuh cinta sedalam-dalamnya kepada Baginda Rasulullah SAW itu lebih penting dan paling subtansial untuk dapat diterima, daripada mengoreksi haliyah para pelantun sholawat tanpa kontribusi aktif memberikan solusi yang membangun.

Keistimewaan Sholawat

Sayyid Hazim bin Zain al’asyiqin menyampaikan sebuah hadits tentang keistimewaan sholawat dalam kitabnya Miftahus Sa’adah,”Sebagian shohabat bertanya kepada Rosuullah SAW,”Yaa Rosuulullah, Allah bersholawat 10 kali kepada orang yang bersholawat kepada paduka 1 kali. Apakah itu khusus bagi orang yang bersholawat dengan kehadiran hati? Rasulullah menjawab,”tidak! bahkan itu bagi setiap orang yang bersholawat kepadaku dalam keadaan lalai (tidak disertai kehadiran hati), dan selain itu Allah akan memberinya pahala sebanyak gunung-gunung, para malaikatpun akan memohonkan ampunan baginya. Adapun bagi orang yang hatinya hadir dalam bersholawat kepadaku, maka tidak ada yang tahu kadar itu selain Allah.” Imam Ahlussunnah Abad 21, Al Muhaddits Sayyid Muhammad bin Alawi al Maliki dalam karyanya Labbaikallahumma Labbaik, menilai hadits tersebut shohih dalam periwayatannya.

Lebih ekstrim lagi tentang keistimewaan sholawat seperti disampaikan Syaikh Yusuf An Nabhani dalam Afdlolush Sholawat ala Sayyidis Saadaat bahwa Imam Asy Syathibi dan As Sanusi memastikan adanya pahala yang diterima si pembaca sholawat meskipun dengan maksud pamer.

Lebih serius mengenai keistimewaan sholawat, Syaikh Ahmad Asrori al Ishaqi dalam risalahnya Al Muntakhobat, mengungkapkan mayoritas imam-imam thoriqah yang menjadi panutan menegaskan bahwa menyibukkan jiwa dengan bersholawat kepada Nabi SAW adalah penyebab terbukanya mata hati hamba yang paling besar dan menduduki tempatnya guru pembimbing sehingga,banyak sekali orang yang berma’rifat billah dengan perantara sholawat, padahal mereka tidak mempunyai guru pebimmbing. Hal ini seperti juga diungkapkan al Fasi dalam syarah ad Dalail. Tentunya ini hanya sebagian kecil dari sekian juta fadhilah sholawat, mengingat sangat istimewanya Rasuulullah SAW di hadapan Allah SWT.

Kontroversi  Seputar Sholawat

Tidak luar biasa dan tidak sangat istimewa jika sholawat dan haliyah-haliyah pengamalannya tidak menimbulkan kontroversi. Mulai dari shighotnya, hingga cara membacanya. Semua laris dikritik, bahkan di ”keluarkan” dari pakem ‘aqidatuna ahlussunnah waljama’ah.

Kontroversi pertama tentang puja-puji kepada Rasuulullah SAW. Banyak shighot sholawat yang terkesan oleh sebagian kalangan sangat kebablasan dalam mengungkap pujian terhadap Nabi SAW. Diantaranya tentang kontroversi kaburnya pemahaman tentang konsep Nur Muhammad sebagai nuqthotitta’yini dan ashlattakwiini.

Dalam dunia kritik, teori yang mengatakan bahwa Nabi SAW adalah “asal” ataupun “alasan penciptaan” dan Nabi SAW sebagai “titik penentuan”, disimpulkan sebagai teori kelewat batas. Bahkan ada pula yang mengkritik hal ini sebagai langkah tasyabbuh pada kaum Nasrani yang melebih-lebihkan dalam memuji hingga pada puncaknya menuhankan Nabi Isa AS. Padahal sangat jelas bahwa antara pengagungan dan penuhanan adalah dua hal yang sangat jauh berbeda (Sayyid Muhammad al Maliki, dalam Mafahim Yajibu An Tushohhaha).

Ada segudang ulama yang menggunakan dan meyakini teori “kelewat batas” ini. Diantaranya al Barzanji pengarang Maulid Barzanji. Habib  Umar bin Hafidz pengarang maulid kontemporer Dliyaul Lami’ dan juga Habib Ali Al Habsyi, shohibul maulid Simtudduror. Dalam Barzanji diungkapkan Huwa akhirul anbiyaa-i bi shirotihi wa awwaluhum bima’nah (Beliau adalah nabi terakhir dalam wujud, namun nabi pertama secara maknawi). Sedangkan Habib Umar dalam Dliyaul Lami’ menyitir hadits tentang dialog Nabi SAW dengan seseorang, ”Sejak kapankah kenabianmu?” Beliau bersabda,”Kenabianku sejak Adam masih berupa air dan tanah.”

Habib Ali al Habsyi dalam Simthudduror mengutip hadits Abdurrozaq dari Jabir bin Abdullah al Anshori bahwasannya ia pernah bertanya,”Demi ayah dan ibuku yaa Rosuulallah,beritahukanlah kepadaku tentang sesuatu yang pertama diciptakan Allah sebelum yang lain. ”Maka jawab Rasuulullah ”Wahai Jabir, sesungguhnya Allah telah menciptakan Nur  nabimu, Muhammad dari Nur-Nya sebelum menciptakan yang lain.” Syaikh Ahmad Asrori al Ishaqi dalam Al Muntakhobat memaparkan hadits Jabir ini dengan lengkap, disertai syarah dari para ulama salaf, mentahqiqnya dan menyimpulkannya.

Beliau Al-Ishaqi, menyimpulkan bahwa Nabi SAW benar-benar makhluk yang pertama kali diciptakan Allah dan dengan perantara dan sababiah Beliau Nabi SAW terciptalah semua makhluk seluruh alam. Jadi jelaslah bukan sebuah kesalahan, kekeliruan, bahkan kesesatan tentang ungkapan nuqthotitta’yini dan ashlattakwini ada di belantika dunia Islam, khususnya jagad persholawatan. Jika masih ditanyakan apakah jika Nabi SAW tidak diciptakan maka alam dan seluruh makhluk tidak akan diciptakan oleh Allah? Ini jelas bukan pertanyaan yang bijak. Sebab dari hadits Abdurrozaq tadi telah jelas tercatat, asal komponen dari seluruh makhluk yang awal dan yang akhir adalah Nur Muhammad SAW.

Kotroversi ketiga mengenai cap Syi’ah pada potongan syair Barzanji, masyariqul amjad yaa Rasuulallah dan syair sholawat: bi Rosuulillahi wal badawi. Jika memang benar dikatakan hal ini syiah dari segi kecondongan syairnya yang cenderung mengarah pada pemujian terhadap ahlul bait dan keturunannya, pertanyaannya sekarang ialah,apakah ahlul bait dan keturunannya hanya milik orang syi’ah? Apakah hanya para Syi’i yang berhak memuji ahlul bait dan keturunannya? Padahal sudah sangat jelaslah antara kita dan syiah berbeda dalam segala hal, dan tidak pernah ada kesepakatan bersama antara kita dan syiah untuk menyamakan ideologi dan amaliyah. Dan kenapa lantas menjadi sebuah keharusan jika nama atau pujian pada ahlul bait atau keturunanya terdengar lalu disimpulkan bahwa itu pasti syiah? Ini jelas sebuah kecerobohan. Bukankah Allah sendiri memuliakan ahlul bait (QS.Al Ahzab:33)?  Nabi SAW juga memuliakan ahlul bait dan keturunannya dengan sabda-Nya,"Khoirukum khoirukum li ahly min ba’dy"' (yang terbaik diantara kalian ialah yang terbaik perlakuannya terhadap ahlul baitku sesudahku). Apalagi kita, hamba-Nya dan ummat-Nya!

Kontroversi keempat adalah jika dikatakan oleh sebagian kalangan bahwa NU merupakan Syiah secara kultur, tentu hal ini keliru, dan sangat ceroboh. Jika dikatakan pembacaan maulid al Barzanji yang menjadi kebiasaan warga NU dicap sebagai dalil pembenar asusmsi terserbut. Tentu ini adalah sebuah sabotase kultural yang ada di tubuh NU. Kepada seluruh warga NU hendaknya berfikir jernih dan jangan mudah terpancing dengan isu ini. Sekalipun ini didengungkan oleh “Pembesar” NU, warga NU harus tetap kukuh memegang teguh aqidah dan syariah aswajanya.

Pertanyaan mendasar yang perlu bersama kita pahami adalah, apakah ada korelasi antara pemahaman orang berpengaruh di NU di tahun 2010 ini dengan kepribadian NU secara hakiki?  Mana yang lebih identik dengan NU, antara qonun asasi, khutbah iftitah Hadlratusysyaikh Hasyim Asy’ari, para pendiri NU, dengan yang selain itu, ya katakanlah para “pembesar” NU kini? Ibaratnya jika di zaman sekarang ada seorang kiai yang terjerat skandal korupsi, apakah lantas sebuah tindakan yang benar jika yang disalahkan adalah agama Islam (agama yang didakwahkan oleh kiai tersebut)? Kiai koruptor adalah oknum, tidak berkorelasi positif dengan Islam.Yang benar, al Qur’an dan Sunnahlah sebagai sumber hukum Islam,adalah satu-satunya yang bisa diidentikan dengan Islam, bukan kiai, ustadz, santri, dan sebagainya. Apakah ada dalam al Quran dan sunnah ajaran tentang korupsi? Demikian halnya dengan NU. Bukan Ketua Umum tanfidziyah PBNU yang identik dengan NU, tetapi Qonun Asasi, khutbah iftitah Hadlratussyaikh Hasyim Asy’ari,dan para pencetus dan pendiri NU lah yang identik dengan NU. Dan perlu digaris bawahi, bahwa Hadlrotusysyaikh sendiri sebagai pilar identitas NU, dalam khutbah iftitahnya dengan tegas melarang warga NU berafiliasi dengan firqah di luar Asy’ariah Maturidiyah, termasuk dalam hal ini syiah zaidiyah (yang pelanggarannya relatif ringan),apalagi syiah-syiah yang lain. Justru orang-orang yang mendengung-dengungkan fitnah ini di kalangan NU perlu dipertanyakan kembali ke NU-annya. Jangan-jangan benar bahwa hal ini didengungkan oleh importir Syiah di tubuh NU?

Kontroversi kelima mengenai ungkapan cinta Rosul para pelantun sholawat, apakah benar-benar implementatif? Jangan-jangan hanya klaim sepihak dan tidak terbukti di kehidupan nyata karena para pelantunnya sendiri jauh dari akhlak dan haliyah Nabi SAW?

Mendifinisikan cinta dalam prespektif keulamaaan,patut kiranya jika kita mengutip pendapat Syaikh Said Romadlon al Buthi, ulama besar Sunni abad ini. Menurut beliau, cinta adalah kebergantungan hati kepada sesuatu sehingga menyebabkan kenyamanan di hati saat berada di dekatnya atau perasaan gelisah saat berada jauh darinya. (Abd Karim Mushthofa: 2010). Dari definisi tersebut pantaslah kiranya kalau saya katakan bahwa  satu diantara dua hal yang paling subtansial dalam bersholawat adalah menggugah rasa cinta yang tulus kepada Nabi SAW. Hal subtansial lain yang paling utama dan yang harus disepakati tiada lain yakni penghambaan diri kepada Allah SWT dalam mengikuti perintah-Nya bersholawat atas Nabi SAW (QS.Al Ahzab:). Jadi,dalam bersholawat yang tanpa tahu artinya pun tentu semua orang dapat menilai bahwa itu sudah merupakan pengejawantahan cinta terhadap-Nya, sebab telah mencakup esensi “kerelaan” untuk bersholawat mengikuti perintah Allah SWT. (Abd Karim Mustofa: 2010). Belum lagi pembacaan sholawat yang sampai membuat ketagihan untuk terus melantunkannya lagi, lagi, dan lagi seperti “budaya populer santri” belakangan ini, bukankah bentuk implementasi dari ungkapan kerinduan untuk terus mendawamkan bacaan sholawat?

Satu lagi soal cinta mencintai, Ibnu Hajar al Asqolani dalam Fathul Bari memaparkan penjelasan dari hadits kisah seorang badui yang menanyakan perihal datangnya kiamat kepada Baginda Nabi SAW. Alkisah,suatu saat seorang lelaki badui mendatangai Nabi SAW dan menanyakan datangnya kiamat.Nabi SAW pun balik bertanya, apa yang sebenarnya telah dipersiapkan untuk mengahadapi kiamat. Mendengar tanggapan Nabi SAW tersebut, si badui menjelaskan bahwa ia tidak mempersiapkan apapun termasuk amalan ibadah sunnah dan sebagainya, namun yang menjadi persiapannya untuk percaya diri menghadapi kiamat hanyalah cinta, cinta kepada Nabi SAW. Mendengar jawaban badui tersebut, Nabi SAW menegaskan kepadanya bahwa kelak ia akan bersama orang yang dicintainya. Dalam mensyarahi hadits shohih ini, al Asqolani menyatakan bahwa hasrat cinta si badui tersebut hanya terbatas pada rasa saja, tidak sampai pada derajat cinta dengan pembuktian nyata berupa pelaksanaan amaliyah fi’liyah. Subhaanalla, begitu mulianya Nabi SAW di hadapan Allah hingga perasaan cinta yang sebatas pekerjaan hati saja merupakan amalan mulia yang insyaaAllah berbalas mulia pula. Bisa disimpulkan disini bahwa rasa cinta kepada Nabi SAW bisa ditunjukkan dengan apapun bentuknya, bahkan tak mengecualikan pembacaan sholawat yang tak mengerti arti dan maksud sekalipun. Bahkan ketidak hadiran hati saat bersholawat pun telah ditegaskan dalam hadits sebelumnya masih bisa dijadikan wasilah mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Maka, Jangan terburu-buru mengklaim para pelantun sholawat yang “tidak implementatif” dengan ungkapan cinta Rasulnya sebagai golongan orang-orang munafiq. Memang benarlah jika ada ulama yang mengatakan ketidaksesuaian ungkapan cinta kepada Nabi SAW dengan haliyah keseharian kita adalah bagian dari kemunafikan. Namun perlu diteliti lebih mendalam, apakah benar maksud ulama tentang fatwa munafik berlaku bagi pelanggar yang tidak bisa secara maksimal melaksanakan sunnah-sunnah-Nya ataukah berlaku umum, bagi semuanya baik pelanggar ringan maupun berat, yang maksimal dan tidak bisa maksimal sekalipun? Lantas, apa bedanya derajat kenabian dengan manusia biasa? Adakah orang yang bisa secara maksimal 100 persen bisa melaksanakan sunnah-sunnah-Nya? Kita perlu juga menyadari bahwa kita adalah manusia yang melekat pada sifat-sifat kebasyariyahan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Ini perlu dicermati agar orang tidak phobia Optimislah Bersholawat!

Muhasabah 

Bukan hal yang aneh jika amaliyah kaum nahdliyin laris kritik.Dari beragamnya amaliyah tersebut memang sangat patut dikritik sedalam-dalamnya karena dilihat dari perkembangannya banyak mengalami penyimpangan syariat dari yang ringan hingga yang mengarah pada kesyirikan. Namun perlu dipahami bahwa kaum nahdliyin sebagian adalah kaum awam yang maish labil dalam soal aqidah dan syari’atnya. Demikian juga dengan para santri pemula yang ada di pondok-pondok pesantren. Merekalah yang menurut saya adalah para mukallaf yang masih berjiwa mu’allaf. Masih kendo, masih dinamis, gampang ceklek, belum bisa dibebani dengan pemikiran-pemikiran berat, apalagi yang berhubungan dengan ranah aqidah dan syari’ah. Belum waktunya para santri pemula itu dibebani dengan hukum-hukum dari kitab-kitab "cap macan". Masih perlu dirangkul dengan pendekatan kejiwaan yang halus untuk berprosesnya menuju subtansi pemahaman dan pengamalan yang terbaik.


*Penulis adalah Santri Asrama Mahasiswa dan Takhashush Ponpes Nurul Ummah Kotagede Yogyakarta

Bagikan:
Senin 16 Januari 2012 10:39 WIB
Smartphone Butuh Smart People
Smartphone Butuh Smart People

Oleh Ardyan Novanto Arnowo*

 

Begitu pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi akhir-akhir ini seolah memaksa manusia untuk terus mengikutinya agar tidak “merasa” ketinggalan jaman, hampir setiap detik selalu ada inovasi baru yang ditemukan.

Pada dasarnya setiap perkembangan dalam dunia teknologi itu bertujuan untuk kemanusiaan, meskipun pada prakteknya seiring dengan berjalannya waktu banyak juga teknologi yang justru memperbudak manusia.
<>
Dalam hal ini saya coba mengulas secara sekilas salah satu bentuk teknologi informasi yang mengalami kemajuan sangat pesat, telepon genggam. Pada awalnya telepon genggam diciptakan untuk mempermudah komunikasi antar manusia dari mana saja dan dimana saja karena mobilitasnya yang bisa dibawa kemana-mana. Seiring dengan kemajuan teknologi, berkembang fungsi SMS (Short Message Service) sehingga pengguna telepon genggam bisa melakukan komunikasi melalui mengiriman teks. Tidak lama kemudian muncul teknologi MMS (Multimedia Message Service), pengguna telepon genggam/seluler tidak lagi hanya dapat melakukan pembicaraan dan berkirim pesan singkat teks, tetapi juga dapat mengirimkan pesan gambar dan suara, namun teknologi MMS ini tidak terlalu mendapat sambutan. Selain biaya yang mahal juga dirasakan tidak terlalu bermanfaat.

Sesuai dengan kodratnya, bahwa manusia adalah mahluk sosial yang berarti selalu ingin mendapat berita/informasi dan juga ingin menyampaikan berita/informasi. Maka perkembangan teknologi komunikasi bergerak tersebut juga mengalami perkembangan seolah mengikuti tuntutan kebutuhan manusia sebagai mahluk sosial, datanglah era mobile internet (internet dalam perangkat bergerak). Dari sinilah fungsi dasar telepon mulai bergeser dan kebanyakan pengguna tidak menyadarinya, cara manusia berkomunikasi tidak lagi hanya sebatas percakapan, pesan singkat maupun gambar seperti tersebut diatas, tetapi mulai merambah kepada sesuatu yang lain dimana teknologi baru tersebut dirasakan dapat menembus segala keterbatasan dari semua teknologi yang ada sebelumnya. Misalnya surat elektronik (email) dan online chat (percakapan online secara tertulis), kemampuan teknologi baru dalam mengakomodir segala keinginan manusia yang sangat tidak terbatas untuk mendapatkan maupun berbagi informasi dirasakan semakin penting.

Saat awal masa telepon genggam mulai dikenal dan digunakan di Indonesia, tidak banyak mengubah cara hidup manusia. Kustomisasi yang dilakukan oleh para pengguna untuk sekedar merasa nyaman dalam penggunaannya maupun ingin tampil beda tidaklah signifikan. Karena dasarnya selalu ada keinginan untuk berkompetisi dalam setiap diri manusia. Namun di era abad 21 ini dikenal istilah smartphone atau telepon pintar. Telepon seluler dapat dikategorikan sebagai smartphone/telepon pintar apabila dapat mengakomodir segala kebutuhan manusia tersebut akan informasi, mulai dari fungsi dasar berkomunikasi dengan suara, teks, gambar, hingga video. Belum lagi fungsi tambahan lain yang tidak dapat disebutkan karena sangat banyak (karena hasrat manusia tidak terbatas). Nah, di era smartphone inilah terjadi suatu keterbalikan. Dimana sebelumnya teknologi diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia, tapi saat ini manusia berlomba-lomba untuk mendapatkan/menggunakan teknologi terbaru tanpa mempertimbangkan konvergensinya, ironis tapi nyata.

Di kancah pertempuran smartphone, ada 4 sistem yang dominan menguasai pasar, Microsoft dengan Windows Mobile, Apple dengan iOS, Blackberry dengn Blackberry OS, dan google dengan Android. Diantara ke empat vendor tersebut hanya 2 yang paling dominan yaitu Android dan Blackberry, sedangkan Apple tidak terlalu dominan karena harganya yang terlalu mahal.

Di Indonesia sebagai negara berkembang, pengguna smartphone Blackberry jumlahnya luar biasa banyak, bahkan mengalahkan jumlah pengguna di negara maju (saya juga bingung Indonesia ini negara berkembang tapi berkembang kearah mana).

Telepon seluler Blackberry pada dasarnya diciptakan untuk pengguna yang lebih mengutamakan komunikasi berupa teks/tertulis, baik itu SMS, surat elektronik, maupun online chat. Dan segala teknologi yang ada tersebut memang dirancang sesuai kebutuhan masyarakat di negara tempat pengembangan Blackberry, Canada dan Amerika. Dimana negara maju dengan kehidupan yang sangat dinamis dan cepat, terutama kebutuhan untuk dapat menjalankan roda bisnis yang tidak boleh mati. Blackberry memiliki sistem online chat (percakapan berbasis teks melalui dunia maya) yang diciptakan oleh RIM (Research In Motion) secara ekslusif bernama Blackberry Messenger, hanya sesama pengguna Blackberry yang sudah bertukar pin saja yang dapat melakukan percakapan tersebut.

Sebenarnya hal ini cukup bermanfaat apabila digunakan misalnya oleh karyawan marketing yang memiliki intensitas komunikasi cukup tinggi demi meraih target yang ditetapkan oleh perusahaan. Namun di negara berkembang seperti Indonesia, fungsi tersebut menjadi sekedar pelengkap saja. Justru penggunaan aplikasi social media semacam twitter dan facebook lebih utama. Sistem yang digunakan oleh Blackberry adalah terpusat, setiap transmisi data email maupun blackberry messenger harus melalui server milik RIM yang ada di Canada, dan pengguna harus mengeluarkan biaya tetap setiap bulan untuk berlangganan paket data agar tetap dapat terkoneksi melalui internet.

Android, sistem operasi berbasis Linux dan berlisensi bebas ini mulai mencuat sejak pertengahan tahun 2011. Berbeda dengan Blackberry OS yang hanya dapat digunakan pada perangkat telepon seluler merk Blackberry saja. Android dapat digunakan pada berbagai merk telepon seluler, dan setiap orang di izinkan untuk membuat aplikasi apapun yang dapat berjalan di sistem operasi Android tersebut. Android seakan melihat segala teknologi yang diberikan oleh Blackberry sebagai sebuah tantangan, maka dari itu segala kemampuan yang dimiliki oelh Blackberry nyaris terdapat pula di Android, kecuali Blackberry Messenger. Banyak sekali keunggulan sistem Android dibandingkan dengan Blackberry, misalnya Flash Player, PDF Reader, ketersediaan aplikasi melalui Android Market yang jumlahnya lebih banyak ketimbang Blackberry Appworld. Dan di sisi harga juga Android lebih terjangkau. Namun bila dilihat dari sudut pandang lain, Blackberry memiliki sesuatu yang lebih bagi penggunanya, meskipun hanya fitur Blackberry Mesenger saja yang menjadi kelebihan dibandingkan Android maupun iOS dan Windows Mobile.

Para pengguna telepon pintar atau smartphone kini semakin memiliki banyak pilihan, masing-masing smartphone memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Namun akan lebih bijak apabila penggunaan smartphone memilih sesuai dengan konvergensinya. Teknologi diciptakan untuk mempermudah kehidupan manusia, bukan untuk memperbudak manusia agar terikat oleh suatu teknologi dengan merk tertentu. Maju terus teknologi informasi dan telekomunikasi Indonesia, maju terus open source Indonesia. Ilmu pengetahuan adalah milik Tuhan, bukan milik vendor tertentu.

Don’t let your smartphone smarter than you are :)


* Manajer Teknologi Informasi NU Online

Senin 9 Januari 2012 14:12 WIB
Revitalisasi Tradisi ‘Mengaji’
Revitalisasi Tradisi ‘Mengaji’

Oleh: Nasukha٭


Sejak kurun waktu yang lama, kegiatan belajar-mengajar al-Quran dilakukan di surau, masjid atau kediaman guru secara bersama-sama. Di daerah-daerah pedesaan di Jawa, kegiatan semacam ini sudah menjadi tradisi yang  mengakar. Selepas salat maghrib biasanya anak-anak  berkumpul di tempat-tempat pengajian untuk belajar al-Qur’an. Secara otomatis, apabila ditemukan anak-anak yang bermain diwaktu tersebut, akan mendapat teguran orang-orang yang melihatnya atau paling tidak dilaporkan kepada orang tuanya.

Hal semacam ini sudah menjadi kesadaran bersama (social awareness) di tengah-tengah masyarakat, Artinya anak-anak yang bermain-main diwaktu tersebut dan tidak mengikuti pengajian al-Quran dianggap sebagai sebuah pelanggaran terhadap norma yang berlaku.
<>
Umumnya, anak-anak dibimbing seorang guru atau ustadz yang secara intensif mengajari mereka balajar membaca al-Quran. Di beberapa tempat , pada sore harinya anak-anak tesebut juga diajari ilmu-ilmu keislaman dasar, seperti fiqih, akhlak dan tauhid. Guru-guru yang mengajar biasanya merupakan alumni pesantren yang secara sukarela mengabdikan dirinya menjadi ‘guru ngaji’. Guru ngaji selanjutnya berfungsi semacam tutor dalam belajar al-Quran.

Pada dasarnya, selain secara formal ‘mengaji’ berisi kegiatan belajar cara membaca al-Quran, tradisi ini juga memiliki banyak aspek positif. Hal ini antara lain dapat diidentifikasi dari beberapa hal. Pola pengajaran yang biasanya melibatkan lebih dari satu murid memungkinkan tumbuhnya rasa kebersamaan dan persaudaraan. Kaitannya dengan ini, rasa kebersamaan dan persaudaraan akan memudahkan penanaman dan bahkan pelaksanaan nilai-nilai kearifan yang selama ini berkembang di masyarakat pedesaan seperti: rasa tolong menolong, tenggang rasa , dan kesederhanaan.

Bahkan, selama ini tempat ngaji (nggon ngaji) mejadi tempat yang baik untuk penanaman ajaran moralitas, seperti hormat pada orang yang lebih tua, hormat kepada guru, menyayangi teman dan sebagainya. Contoh nyatanya, ritual ‘cium tangan’ kepada orang tua dan mengucapkan salam saat pergi dari rumah awalnya biasa dilakukan pada saat akan pergi ke tempat pengajian. Karena dari situlah ritual itu awalnya diajarkan.

Disisi lain pembentukan karakter positif  anak-anak juga dapat dilakukan di tempat pengajian. Proses interaksi yang dilandasi suasana religius secara tidak langsung menjadi kontrol terhadap perilaku destruktif yang biasanya mulai muncul pada usia dini. Pengontrolan ini salah satunya terwujud dari ‘mainstream’ yang dibentuk bahwasanya berbuat hal-hal yang negatif pada tempat yang “disakralkan’’ merupakan perbuatan terlarang.  Dan pendekatan ini, relatif efektif untuk menekan tingkat kenakalan yang biasanya muncul seiring dengan masa pertumbuhan.

Seiring dengan perkembangan zaman, tradisi ‘mengaji’ mulai terkikis. Persoalannya kemudian, tidaklah terbatas pada ancaman bertambahnya buta huruf Arab dan penurunan kemampuan membaca al-Quran akan tetapi juga merambah pada degradasi moral dikalangan muda pedesaan. Sungguh ironis, mengingat kalangan desa lebih dikenal memiliki nilai moral yang lebih baik daripada komunitas masyarakat lainnya.

Hemat penulis, ada dua hal yang menjadi penyebab persoalan ini. Pertama, gencarnya arus globalisasi yang terwujud dalam berbagai bentuk berimplikasi pada semakin ditinggalkannya tradisi lama. Dalam konteks ini, ‘mengaji’ seolah semakin tidak menarik jika dihadapkan pada produk-produk modernitas seperti acara-acara televisi, berbagai macam game ataupun keramaian mall-mall yang mulai merambah ke desa-desa.

Kedua, orientasi hidup yang cenderung hedonis-materialis cenderung membuat orang bersikap pragmatis dengan hanya melihat sesuatu dari sudut keuntungan. Walhasil, hal-hal yang lebih bersifat spiritual seperti ‘mengaji’ menjadi terlupakan karena dipandang tidak memiliki nilai manfaat secara langsung.

Peran Pemerintah dan Ormas Keagamaan

Menimbang urgensi ‘mengaji’, maka selayaknya fenomena berkurangnya tradisi ini harus direspon  baik pemerintah, ormas keagamaan dan masyarakat secara umum. Pemerintah melalui Kementerian Agama baik yang di pusat ataupun di daerah dapat berperan dengan mensosialisasikan pentingnya belajar al-Quran bagi seorang muslim. Gerakan maghrib mengaji yang  akhir-akhir ini didengungkan Kementerian Agama di beberapa tempat  layak diapreasiasi positif. Harapannya tidak hanya itu, akan tetapi pemerintah juga dapat berperan aktif dengan program-program yang menyentuh ke akar persoalan misalnya membantu pendirian madrasah-madrasah tempat pengajian, mengorganisir, melatih dan bahkan jika perlu memberikan intensif kepada guru-guru ngaji. Selain itu, hal lain yang dapat dilakukan adalah mendorong keterlibatan pemerintah daerah dalam upaya menggalakan program gemar mengaji tersebut.

Ormas keagamaan juga selayaknya dapat memberikan peran melihat berkurangnya tradisi mengaji ini. Dalam hal ini, ormas keagamaan dapat melakukannya dengan memberikan perhatian lebih dengan realitas ini. Nahdlatul Ulama yang secara kultural lebih dekat dengan masyarakat desa dapat memobilisasi kader-kadernya di daerah untuk mengaktifkan kembali kegiatan mengaji selepas mangrib. Apalagi sumber daya manusia NU hampir bisa dipastikan memiliki kemampuan untuk melakukan hal ini. Tinggal diperlukan pengaturan manajemen dan pengorganisasian secara baik. 

Mengingat al-Quran adalah kitab suci umat Islam dan ‘mengaji’ adalah sebuah tradisi yang berusaha menjaganya tetap melekat di generasi muda muslim. Apalagi jika mengingat penanaman nilai-nilai moralitas yang terinternalisasi didalamnya, maka upaya untuk melestarikan kembali tradisi ini adalah  hal yang niscaya. Wallahu a’lam.     


*Penulis adalah Mahasiswa Fakultas ushuluddin UIN Sunan Kalijaga dan Sekretaris PC IPNU Kota Yogyakarta

Senin 2 Januari 2012 8:32 WIB
Demokrasi Pemerintahan Islami
Demokrasi Pemerintahan Islami

Rangga Sa’adillah, S.A.P.*


Demokrasi secara etimologis berarti “pemerintahan oleh rakyat” dan ini membedakannya dari pola pemeritahan apapun yang legitimasinya tidak berasal dari pilihan rakyat. Abraham Lincoln mendefiniskan demokrasi “pemerintahan rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.” Dari definisi ini diantara kelompok Islam ada yang mengkontroversikannya bila dipraktekkan dalam kenegaraan atau urusan siyasah. Sahkah sistem demokrasi yang mengadopsi pemikiran dari Barat atau sebut saja mereka mengatakan sistem ini “kafir”. Apalagi penisbatan hukumnya yang dinisbatkan pada manusia. Mereka mengatakan manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan akalnya terbatas mengapa sistem yang jelas-jelas terbatas ini digunakan dalam negara atau bahkan menjadi dasar negara? Demikianlah pertanyaan serta permasalah yang tiada hentinya menyudutkan demokrasi. <>

Karakteristik Demokrasi

Mari kita coba untuk mencari apa sebenarnya demokrasi itu. Sadek Jawel Sulaiman memberikan karakteristik sistem demokrasi. Pertama, kebebasan berbicara. Faktor ini dapat terwujud dengan jalan warga negara dapat menyatakan pendapat-pendapat mereka secara terbuka mengenai persoalan-persoalan publik tanpa dihantui rasa takut, baik pendapat yang berupa kritik maupun dukungan terhadap pemerintah.

Kedua Sistem pemerintahan yang bebas. Faktor ini menurut rakyat secara teratur, menurut prosedur-prosedur konstitusional yang benar, memilih orang-orang yang mereka percayai untk menangani urusan-urusan pemerintahan.

Ketiga Pengakuan terhadap pemerintahan mayoritas dan hak-hak minoritas. Dalam sistem yang demokratis, keputusan-keputusan yang dibuat oleh mayoritas didasarkan pada keyakinan umum bahwa keputusan mayoritas lebih memungkinkan untuk benar daripada keputusan minoritas. Akan tetapi, keputusan mayoritas tidak juga berarti memberikan kebebasan pada mereka untuk bertindak sesuka hati.

Selanjutnya adalah otoritas konstitusional. Merupakan otoritas tertinggi bagi validitas setiap undang-undang dan aturan pelaksanaan apapun. Otoritas konstitusional berarti supremasi aturan hukum, bukan aturan-aturan individual, dalam setiap upaya pemecahan berbagai masalah publik.

Dari karakteristik tersebut kiranya bisa diterima bahwa pada akhirnya demokrasi mengandaikan adanya suatu kesetaraan atau keseimbangan politis. Itu berarti setiap elemen masyarakat memiliki kesempatan dan kemampuan yang relatif seimbang untuk memperjuangkan kepentingan politis berdasarkan garis perjuangannya masing-masing. Sekarang permasalahannya pada Islam, apakah Islam membicarakan demokrasi secara eksplisit dari dua sumber otoritatifnya (Qur’an dan Hadits)?. Tentu saja secara istilah yang eksplisit tidak ada dalam sumber otoritatif Islam yang membicarakan demokrasi. Berkaitan dengan sistem kepemerintahan atau sistem siyasah, dalam bernegara Islam memperjuangkan kesetaraan. Kalau memang Islam memperjuangkan kesetaraan berarti ini dapat ditarik sebuah benang merah yang menghubungkan perjuangan Islam dalam siyasah dengan sistem demokrasi dalam bernegara.

Kaidah-Kaidah Demokrasi dalam Islam

Kaidah-kaidah kepemerintahan dalam Islam mengidealkan prinsip kesetaraan. Bila ditarik dalam Islam prinsip kesetaraan adalah sebuah misi yang tak terelakkan lagi. Misalnya pada QS. Al-Hujurat: 13 “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Kaidah yang kedua adalah bermusyawarah pada QS. Al-Syura: 38 “Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.” 

Sementara prinsip musyawarah ini diperkuat dengan sumber sekunder syariah, yaitu sunnah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad sendiri. Afan Ghaffar mengatakan:

“Adapun Beliau (Nabi) bermusyawarah dengan mereka (para sahabat) dalam suatu perkara yang tidak disebutkan dalam al-Qur’an, dan yang Nabi sendiri tidak mendapat perintah (langsung) dari Allah, maka hak mereka (para sahabat) itu untuk memberi pendapat dan juga untuk mengajukan usul di luar hal yang Nabi sendiri telah pasti akan melakukannnya. Contohnya ketika Nabi menempatkan (pasukan) sahabat Beliau pada suatu posisi sewaktu perang Badr, kemudian al-Hubaib ibn al-Mundir ibn al-Jamuh bertanya, “ini perintah yang diturunkan oleh Allah kepada Engkau ataukah pendapat dan musyawarah?”. Nabi menjawab, “ini hanyalah pendapat dan musyawarah.” Maka dia (al-Hubaib) menyarankan Nabi posisi lain yang lebih cocok untuk kaum Muslim, dan Beliau menerima saran ini.

Kaidah berikutnya adalah ta’awun. Yang dimaksud dengan ta’awun yakni menyatakan adanya tuntutan untuk kerjasama demi kepentingan Tuhan dan kepentingan manusia sendiri. Sama halnya dalam nilai-nilai demokrasi yakni menekankan kerjasama dan saling tolong menolong.

Kaidah demokrasi yang terakhir adalah taghyir (perubahan). Kaidah ini menyatakan bahwa manusia berperan besar dalam menentukan perubahan hidupnya. Demokrasi menuntut suatu perubahan yang memang sejalan dengan perkembangan kesadaran manusia yang selalu ingin mengadakan perbaikan. Seperti halnya yang digariskan dalam al-Qur’an. Dalam artian Allah mendukung peran manusia dalam berproses untuk berubah mulai dari tahap ke tahap, bagaimanapun perubahan itu akan berlangsung.

Tentu saja sekali lagi dari sekian sumber syariah tidak ada satu pun yang menyebutkan demokrasi. Namun dalam batas tertentu sumber otentik dalam islam berkenaan dengan siyasah sungguh compatible dengan demokrasi. Sehingga perlu diakui terdapat pola hubungan sub-ordinatif dalam paradigma Islam. Pola hubungan sub-ordinatif menempatkan Islam sebagai substansi mutlak sedangkan bentuk negara menjadi relatif. Dihadapan negara, Islam bersifat mutlak dalam artian negara dapat menjadi ekspresi nilai-nilai perenial Islam. Dari pola hubungan demikian dimengerti bahwa Islam menjadi sebuah tujuan, sedangkan negara hanyalah sebuah instrumen saja betapapun itu bentuknya.


*Pengamat Islam Radikal, Pengurus Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur.

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG