IMG-LOGO
Nasional

IPNU Sumenep Kunjungan Pers ke Radar Madura

Jumat 4 Mei 2012 18:25 WIB
Bagikan:
IPNU Sumenep Kunjungan Pers ke Radar Madura

Sumenep, NU Online
Pengurus Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PC IPNU) Sumenep melakukan kunjungan pers ke Radar Madura biro Pamekasan, Rabu (2/5). <>

Rombongan dari PC IPNU terdiri dari Ketua PCNU Sumenep Syaiful Harir, Sekretaris PC IPNU Sumenep Ubaidillah, Pengurus Departemen Pengembangan Minat dan Bakat Fawaidassyarif H, Pengurus Departemen Pembinaan dan Pengembangan Organisasi Abbadi, Pengurus Departemen Pendidikan dan Pengembangan Kaderisasi Rafi’ie, Lembaga Pembinaan Pengembangan Kewirausahaan Remaja Rudi Hartono.

Di kantor Radar Madura PC IPNU ditemui Wakil Kepala Biro Radar Madura Pamekasan Moh. Amirullah dan wartawan Radar Madura Abd. Muksidyanto.

Kunjungan bersamaan dengan Hari Pendidikan Nasional Syaiful Harir meminta media massa sebagai kontrol sosial untuk menjalankan tugasnya dengan baik, lebih-lebih terkait dengan pendidikan. Menurut Harir, saat ini pendidikan sudah dikomersialisasikan. 

Pihaknya meminta Radar Madura untuk tidak segan-segan memberitakan penyimpangan-penyimpangan.Selain itu, kedatangan rombongan pelajar NU Sumenep bermaksud untuk belajar lebih jauh tentang proses pengelolan media. 
“PC IPNU Sumenep juga mempunyai salah satu majalah yang selalu mengalami stagnasi, sehingga perlu belajar lebih jauh tentang bagaimana mengelola media,” katanya.

Menanggapi hal itu, Amirullah mengungkapkan, keberhasilan dalam megelola media kemauan dan ketekunan. “Kunci suksesnya adalah ketekunan dan kemauan wartawan,” paparnya. 


Redaktur      : Syaifullah Amin
Kontributor : M. Kamil Ahyari

Bagikan:
Jumat 4 Mei 2012 20:1 WIB
Ribuan Jamaah Hadiri Demak Bersholawat Bersama Habib Syech
Ribuan Jamaah Hadiri Demak Bersholawat Bersama Habib Syech

Demak, NU Online
Menjelang puncak haul Agung Ke-509 Kanjeng Sultan Raden Abdul Fattah Al-Akbar Sayyidin Panotogomo, Kamis (3/4) telah melanjutkan rangkaian acara dengan menggelar Maulidurrasul Muhammad SAW bertempat diserambi Masjid Agung Demak bersama Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf dari Solo. <>

Acara tersebut ihadiri wakil bupati Demak H Dachirin sa’id beserta muspida, ketua MUI Demak KH Moh. Asyiq , pimpinan ormas Islam serta panitia dan Ahbabul Musthofa.

Sebelum Maulidurrasul dimulai Habib berpesan dan meminta kepeda jamaah yang hadir agar mempunyai dan mewarisi sifat perjuangan para wali terutama Kanjeng Sultan Raden Abdul Fattah Al-Akbar Sayyidin Panotogomo selaku raja Islam pertama dipulau Jawa

“Mari kita berdo’a bersama dengan wasilah kanjeng sultan fattah semoga kita sebagai umat bisa kuat untuk melanjutkan perjuangan beliu dalam menegakkan Islam dimuka bumi ini, dan kita semua hasil maksud,” pintanya 

Setelah berpesan pada jamaah habib memulai Maulidurrasul dengan syi’ir tanpo wathon dan syiiran wali eling eling yang dikarang oleh mantan Ro’is Am PBNU KH Ali Ma’shum Krapyak Bantul Jogjakarta. 

Tanpa dikomando Syiir tanpo wathon dan eling eling seperti kebiasaan seakan mempunyai daya magnet tersendiri pada jamaah dengan mengikuti habib syech secara serempak.

Ssetelah usai dua syiiran dan sholawan tersebut sejenak Habib Syech memberikan keterangan kepada jamaah bahwa sholawatan eling eling yang dibawakan merupakan sholawatan dan syiiran yang sering digunakan para wali dalam menyampaikan pesan dakwahnya, dan sampai sekarang ditiru oleh ahlussunnah wal jamaah

“Syi'iran ini karangan KH Ali ma’shum krapyak, beliu dalam mengarang sholawat dan menyebarkannya dengan misi ahlussunnah wal jamaah seperti para wali songo termasuk raja Islam pertama Kanjeng sultan fattah” paparnya.

Acara yang sedianya ditempatkan di serambi Masjid Agung Demak namun sejak sore jamaah sudah memadati serambi sehingga meluber sampai Alun Alun Demak.


Redaktur     : Syaifullah Amin
Kontributor : A. Shiddiq Sugiarto

Jumat 4 Mei 2012 17:19 WIB
Mahasiswa IAIN Belajar Kerukunan Agama dari Museum Ranggawarsito
Mahasiswa IAIN Belajar Kerukunan Agama dari Museum Ranggawarsito

Semarang, NU Online
Mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang melakukan kunjungan ke Museum Jawa Tengah Ranggawarsita Semarang (4/5/2012). Kunjungan dalam rangka tugas perkuliahan Islam dan Budaya Jawa ini difokuskan pada kajian kebudayaan dan keagamaan. <>

“Mahasiswa sengaja kami wajibkan untuk melihat peninggalan Jawa di Museum Ranggawarsita agar memahami kerukunan agama” kata Dosen Islam dan Budaya Jawa, M Rikza Chamami saat mendampingi mahasiswa.

Lebih lanjut Rikza menjelaskan, selama ini hampir saja, agama dijadikan alat untuk berbeda pendapat hingga memunculkan konflik. Dengan menyaksikan secara langsung peninggalan nenek moyang yang tersimpan rapi di museum, akan diketahui bahwa toleransi beragama sudah ada sejak dulu.  Bangunan masjid kuno yang mempunyai latar bangunan mirip Hindhu dan Budha juga menjadi bukti bahwa Islam Jawa mengajarkan kerukunan.

"Mahasiswa IAIN yang mempunyai basis ilmu keislaman harus dipahamkan dengan budaya Jawa. Sebab budaya Jawa tidak lepas dari unggah-ungguh dan tradisi yang adiluhung. Museum Ranggawarsita menjadi bukti nyata kekayaan budaya Jawa yang menghormati perbedaan agama” imbuh Rikza yang juga aktivis Pusat Pengkajian Islam dan Budaya Jawa (PPIBJ) ini.

Museum Ranggawarsita yang dirintis sejak tahun 1975 ini menjadi kunjungan wajib bagi mahasiswa yang mengambil mata kuliah Islam dan Budaya Jawa. Kecintaan terhadap museum sangat diharapkan untuk nguri-nguri budaya Jawa yang hampir ditinggalkan di zaman sekarang. 

“Dengan mengunjungi museum ini mahasiswa akan mendapatkan dua manfaat. Yakni sadar akan budaya dan terbuka dalam beragama” tegas Rikza.

 


Redaktur : Syaifullah Amin

Jumat 4 Mei 2012 15:2 WIB
'Beragama Berarti Tidak Melakukan Kekerasan'
'Beragama Berarti Tidak Melakukan Kekerasan'

Jakarta, NU Online

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Said Aqil Siroj, untuk ke sekian kalinya menyampaikan tidak ada agama di muka bumi yang mengajarkan kekerasan. Pemeluk suatu agam sudah menjadi semestinya untuk meninggalkan kekerasan dalam bentuk apapun. <>


"Ayat la ikhraha fiddin maknanya tidak ada paksaan, tidak ada kekerasan dalam beragama. Dibalik maknanya juga bisa, yaitu orang yang melakukan kekerasan tidak sedang menjalankan ajaran agama," ungkap Kiai Said di Jakarta, Jumat (4/5). 


Pernyataan yang sama juga disampaikan Kiai Said saat menjadi penceramah utama dalam perayaan hari jadi Kota Tual ke 81, Senin (30/4) lalu. Dalam kegiatan tersebut hadir jajaran Muspida, tokoh masyarakat dan perwakilan seluruh agama yang ada. 

"Saya lihat di sana toleransi bisa berjalan dengan baik. Itu yang harus dipertahankan dan harus dikembangkan agar semakin baik," tambah Kiai Said. 


Dalam ceramahnya Kiai Said menekankan pentingnya menjalankan toleransi dengan baik antar umat beragama. Setiap orang yang beragama, apapun agama yang dipeluknya, sudah menjadi kewajibannya untuk menghormati keberagaman yang ada di sekitarnya, serta bersama-sama menjalankan prinsip anti kekerasan dan anti radikalisme. 


Di kesempatan yang sama Kiai Said juga diangkat menjadi anggota keluarga istimewa Kerajaan Tanhir, kerajaan Islam tertua di Kota Tual. Kiai Said juga didaulat melakukan peletakan batu pertama pada pembangunan masjid di lokasi yang sama. 

"Islam Ahlussunnah wal Jamaah berjalan dengan sangat baik di Tual," tuntas Kiai Said. 



Penulis: Emha Nabil Haroen 

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG