NU Tidak Mau Terjebak Kontroversi Konser Lady Gaga

Surabaya, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj, menjawab pertanyaan sejumlah kalangan mengenai sikap NU terkait rencana kedatangan diva pop Lady Gaga ke Indonesia. Kiai Said menegaskan NU tidak menolak dan tidak mendukung rencana kegiatan tersebut. 
<>
"Mereka yang mendatangkan (Lady Gaga) itu ada sponsornya, ada kekuatan politik di belakangnya. Dan mereka yang menolak juga memiliki sponsor dan dukungan politik. Saya mewakili NU menyatakan kami ada di tengah, tidak mendukung salah satunya," tegas Kiai Said di hadapan pengurus PCNU dalam kegiatan Kunjungan Kerja PBNU ke PWNU Jawa Timur di Surabaya, Sabtu (26/5). 

Pertanyaan sejumlah kalangan atas sikap NU tersebut mengemuka setelah Kiai Said sebelumnya menyampaikan pandangan yang dinilai abu-abu di acara Indonesia Lawyer Club TV One beberapa saat lalu. Saat itu Kiai Said mengatakan sekalipun yang datang ke Indonesia seribu Lady Gaga, keimanan warga NU tidak akan goyah. 

"Saya berkata demikian karena tidak ingin terperangkap jebakan politik. Saya ingin NU tetap ada di tengah, tidak terjebak perangkap mereka yang mendatangkan ataupun yang menolak. Mohon itu bisa dipahami dengan benar," tambah Kang Said, demikian Kiai Said disapa. 

Kang Said juga menyampaikan, dirinya secara pribadi maupun  sebagai Ketua Umum PBNU tidak memiliki kepentingan dengan rencana kedatangan dan penolakan Lady Gaga. "Percayalah, saya secara pribadi, dari dalam hati juga tidak suka, juga tidak berkepentingan dengan Lady Gaga. Kalaupun ada tawaran menonton, gratis dan dijemput sekalipun, saya akan menolaknya. Bagaimanapun saya juga lulusan Lirboyo, pernah nyantri di Krapyak yang masih mengerti norma-norma Islam yang benar," tandasnya. 

Dalam keterangannya Kang Said juga mengatakan, makna seni sesungguhnya adalah yang mengangkat harkat dan martabat manusia. Kesenian seperti yang ditampilkan Lady Gaga adalah salah satu yang menjatuhkan martabat manusia dan harus ditolak. 

"Tapi tidak hanya Lady Gaga yang harus ditolak. Tari perut dari Mesir, atau penyanyi dari Arab sekalipun, kalau tampil telanjang kita harus menolaknya. Saya mengatakan ini tidak atas dasar agama, tidak karena mendukung kelompok tertentu, tapi atas dasar makna seni secara umum, yang apabila menjatuhkan martabat manusia itu harus ditolak," pungkas Kang Said. 



Penulis: Nabiel Harun

BNI Mobile