Home Warta Nasional Khutbah Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Obituari Video Nikah/Keluarga Tokoh Hikmah Arsip

Melongok Tradisi Kuliner saat Ramadhan di Arab

Melongok Tradisi Kuliner saat Ramadhan di Arab

Jakarta, NU Online
Sepanjang Ramadhan, umat Muslim menjalani ibadah puasa sejak Matahari terbit hingga  tenggelam. Saat Matahari tenggelam, berbagai kuliner menarik menjadi sajian sepanjang malam. <>

Tradisi ini tidak hanya ada Indonesia, namun juga di berbagai negara Muslim lainnya.

Sebagai pembuka, buka puasa sebaiknya dimulai dengan segelas air putih, diikuti jus buah dan semangkuk kecil sup hangat, kata May S. Bsisu dalam bukunya  'The Arab Table', sebagaimana dikutip Epicurious.com.

Di beberapa negara Muslim, tenggelamnya Matahari ditandai dengan sekelompok anak membawa lampion dan keranjang kosong.

Mereka lalu mengunjungi rumah kerabat atau sanak saudara, yang bersedia memberi mereka permen dan cokelati. 

Usai berbuka dengan jus dan semangkuk sup, hal yang selanjutnya dilakukan adalah kegiatan utama di bulan puasa. Pada saat ini, umat Muslim lalu menjalani ibadah shalat magrib.

Setelah itu, berbagai kuliner jamuan makan malam disajikan. Di Arab, jamuan ini disebut dengan iftar. Berbagai makanan disajikan di atas meja makan seperti daging, salad sayur dan buah, roti tak beragi, serta makanan pendamping lainnya.

Seperti jamuan makan malam yang meriah, hidangan berbuka tidak cukup sampai di situ. Sebagaimana dijelaskan Bsisu, di Arab, berbagai macam hidangan manis disajikan seusai iftar.

"Orang Arab tidak terbiasa memakan kue kering. Gantinya, kami biasanya menikmati berbagai jenis buah. Namun saat Ramadhan, banyak kue manis yang kami panggang," kata Bsisu.

Saat Ramadhan adalah saat yang tepat untuk orang Arab berpesta. "Setiap orang pasti saling bersilaturahmi, sesibuk apa pun Anda," kata Bsisu.

Pada hari pertama Ramadhan, telepon Anda tidak akan berhenti berdering. Hampir setiap malam di bulan ini, akan banyak undangan untuk jamuan makan malam.

"Dan setiap orang akan mengunjungi teman, serta sanak saudara hingga pagi menjelang. Pada saat inilah pesta benar-benar dimulai," kata Bsisu.

Selama berjam-jam orang-orang akan sibuk bermain kartu, menikmati berbagai kudapan manis, minum teh, menghisap argila atau hookah yang diisi dengan tembakau buatan yang terbuat dari buah.

Saat sahur, makanan yang disajikan lebih ringan, namun kaya nutrisi yang membuat orang yang berpuasa dapat melewati hari. Tentu saja kudapan manis tidak lupa disajikan.

Saat Ramadhan usai, pesta besar tersaji. Di sejumlah tempat, jamuan besar dilakukan selama tiga hari tiga malam, pada hari libur Idul Fitri. Setelah sebulan berpuasa, umat Muslim merayakannya dengan jamuan makan tengah yang mewah.

Umat muslim merayakan Idul Fitri bagaikan umat Kristiani merayakan Natal. "Ini adalah masa di mana seluruh dunia merayakan kegembiraan," kata Bsisu.

Segala hadiah dan orang-orang yang saling berbagi ucapan selamat memeriahkan suasana yang penuh dengan kegembiraan. Tentu tidak lupa segala panganan dan berbagai buah disajikan.



Redaktur: Mukafi Niam
Sumber : Antara

Internasional Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya