IMG-LOGO
Pesantren

Ngaji Kilatan Ramadhan di Pesantren Seblak


Senin 6 Agustus 2012 09:01 WIB
Bagikan:
Ngaji Kilatan Ramadhan di Pesantren Seblak

Jombang, NU Online
Ramadhan adalah bulan suci umat Islam yang harus disambut dengan riang gembira. Termasuk mengisinya dengan kegiatan-kegiatan positif yang bernilai ibadah. Salah satu di antaranya adalah mengikuti pengajian kitab kuning (kutubus salaf) kilatan kepada para ahlinya.<>

Ini yang dilakukan Pesantren dan Madrasah Salafiyah Syafi’iyah Seblak Jombang. Lembaga pendidikan yang terletak di barat makam KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur ini mengisi bulan Ramadhan dengan pengajian secara penuh. 

“Mulai dari setelah Subuh sampai setelah Tarawih para santri di sini sudah terjadwal pengajian khusus selama Ramadhan,” kata pengurus pondok Naelul Muna. 

Kitab yang dikaji, lanjutnya, sudah ditentukan oleh hasil rapat majelis pengasuh bersama dewan ustadz pondok. Di antaranya adalah Riyadhus Sholihin (setelah Subuh), Akhlaq lil Banin (setelah Subuh), Tafsir Jalalain (setelah Dzuhur), Khulashoh Nurul Yaqin (setelah Dzuhur), Isti’dadul Maut walima Ba’dal Mawt (setelah Tarawih), Abi Jamrah (setelah Tarawih) dan Mabadi’ Fiqhiyyah (setelah Tarawih).  

“Santri dibedakan berdasarkan jenjang pendidikannya, baik MTs, MA, SMK ataupun mahasiswa,” tambahnya. 

Sedangkan Arief Wicaksono, pengurus pesantren yang lain, menambahkan bahwa hanya waktu setelah Maghrib yang diisi dengan pengajian membaca al-Qur’an. “Itu untuk menjaga agar kefasihan santri dalam membaca al-Qur’an tetap terjaga, meskipun mereka rata-rata sudah membaca al-Qur’an sendiri setiap ada waktu senggang,” kata pria dari Nganjuk ini. 

Di pondok yang sudah berdiri sejak 1921 ini, kegiatan pembelajaran di sekolah formal selesai pukul 09.40. “Setelah istirahat sebentar, dilanjutkan dengan pengajian kitab kuning sampai sekitar jam 11.30,” kata humas MA Seblak Mukani. Upaya ini sebagai bagian integral dalam mengisi pekan efektif fakultatif selama bulan Ramadhan. 

“Jadi, di samping materi pembelajaran yang tidak ketinggalan, siswa juga memperoleh nilai tambah berupa materi dari pengajian ini,” tambahnya. 

Pria berkopyah ini menambahkan, pengajian di madrasah berbeda dengan pengajian di pondok. Di madrasah dibedakan antara murid putra dengan murid putri. Di jenjang MTs, murid putra dan putri mengaji kitab Mabadi’ al-Fiqhiyyah.

“Murid putra di ruang kelas pararel dengan pembaca KH. Mufti Abdul Hadi dan murid putri di aula pondok dengan pembaca Ustadz Subhan,” ucapnya. 

Sedangkan pada jenjang MA dan SMK, murid putra mengaji kitab Al-Tarbiyyah wa Adab al-Syar’iyyah dan murid putri mengaji kitab Taysirul Khalaq.

Kebijakan pondok dan madrasah yang beberapa tahun menggelar pengajian setelah kegiatan pembelajaran ini direspon positif oleh para murid. Setelah bel berbunyi pukul 09.40, semua murid langsung menuju tempat pengajian yang sudah ditentukan sambil menenteng kitab kuning yang akan dibacakan. 

“Teman-teman mengikuti pengajian secara serius, meskipun harus tidak memakai alas apapun di masjid, karena ini cuma setahun sekali,” kata murid SMK Seblak Toyyibatul Khasanah.

Murid kelas akhir ini menambahkan, penjelasan yang diberikan dari pengajian juga menambah wawasan dia dan teman-temannya. “Tahun ini kitab Taysirul Khalaq yang membaca langsung ibu pengasuh sendiri, yaitu ibu nyai hajjah Mahshunah,” tambahnya. Tidak sekedar membaca cepat, tapi juga disertai dengan penjelasan-penjelasan dari kandungan kitabnya. 

“Ini yang membuat teman-teman betah, tidak jarang sampai melebihi dari jam 11.30,” pungkasnya.

Pengajian kilatan selama bulan Ramadhan di pondok dan madrasah Seblak ini akan berakhir pada Selasa (7/8). “Nanti biasanya ditutup dengan buka puasa bersama antara pengasuh, pimpinan madrasah, dewan guru dan semua santri,” kata Mukani. Agenda rutin ini, lanjutnya, tetap digelar untuk semakin mempererat tali silaturrahim dan ikatan emosional antar undangan yang hadir. 

 

Redaktur: Mukafi Niam

Bagikan:
IMG
IMG