IMG-LOGO
Daerah

Santri Tafrijul Ahkam Lebak Dibekali Jurnalistik

Selasa 11 September 2012 18:22 WIB
Bagikan:
Santri Tafrijul Ahkam Lebak Dibekali Jurnalistik

Rangkasbitung, NU Online
Keterampilan jurnalistik telah menjadi kebutuhan yang makin disadari oleh kalangan pesantren. Hal tersebut ditunjukkan Pondok Pesantren Tafrijul Ahkam, Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten. <>

Pihak pesantren menggelar pelatihan jurnalistik pada Ahad (9/9) kemarin yang diikuti 30 orang wartawan santri, yang berasal dari kru redaksi Majalah Vista dan Mading Kresna Pesantren Tafrijul Ahkam, dengan menghadirkan kontributor NU Online, Ahmad Fahir.

Pengasuh Pesantren Tafrijul Ahkam, KH Adang Jazuli kepada NU Online di Rangkasbitung, Selasa mengatakan, pelatihan jurnalistik digagas sebagai upaya memberikan pembekalan kepada santri.

“Keterampilan jurnalistik sangat penting dikuasai oleh santri. Karenanya, kami menggelar pelatihan khusus bagi wartawan-wartawan santri yang selama ini terlibat dalam pengelolaan majalah dan mading pesantren,” kata Adang Jazuli.

Menurut Adang Jazuli yang juga alumnus Fakultas Syariah Institut Keislaman Hasyim Asy’ary (IKAHA) Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, sejauh ini pihaknya mengelola dua penerbitan, yakni majalah dan majalah dinding. Majalah diterbitkan tiga bulan sekali. Sedangkan mading terbit tiap pekan.

Selain itu, lanjut Adang, pihaknya juga sedang menyiapkan pengembangan website pesantren sebagai media komunikasi dan informasi antara civitas pesantren dengan masyarakat luas.

“Kami berharap pelatihan ini dapat membekali kru-kru majalah Vista dan Mading Kresna tentang wawasan jurnalistik dan media. Ke depan kami harapkan mereka dapat menjadi ujung tombak dalam pengembangan media komunikasi pesantren,” paparnya.

Pesantren Tafrijul Ahkam didirikan pada 2003 dengan sistem perpaduan antara model pesantren modern dan pesantren salafiyah, mengadopsi model yang dikembangkan Pesantren Daarul Rahman, Jakarta.

Tafrijul Ahkam mengembangkan unit pendidikan MTs dan MA berasrama selama 6 tahun. Saat ini dihuni sebanyak 310 orang santri, yang berasal dari sekitar Kabupaten Lebak, Serang, Tangerang, Jakarta, Lampung hingga Palembang.

Lokasi pesantren ini hanya berjarak 100 meter dari “jembatan tali” Sungai Ciberang, yang dilalui siswa-siswa SD untuk melintas pergi sekolah, yang beritanya pernah menghebohkan dunia beberapa bulan silam.



Redaktur: A. Khoirul Anam

Bagikan:
Selasa 11 September 2012 17:54 WIB
Keluarga Besar BPPMNU Hasyim Asy'ari Kudus Adakan Halal Bihalal
Keluarga Besar BPPMNU Hasyim Asy'ari Kudus Adakan Halal Bihalal

Kudus, NU Online
Keluarga Besar Badan Pelaksana Pendidikan Madrasah Nahdlatul Ulama (BPPMNU) Hasyim Asy'ari mengadakan halal bihalal, Selasa (11/9). Kegiatan yang bertempat di aula MANU Hasyim  Asy'ari 2 Karamalang Gebog Kudus ini, menghadirkan Ketua PWNU Jawa Tengah KH Moh Adnan guna memberikan pencerahan bagi guru-guru Madrasah Hasyim Asy'ari tersebut.<>

Ketua BPPNU Hasyim Asy'ari  H Asyrofi Masyitho mengatakan lembaga pendidikan dengan nama kebesaran pendiri NU KH Hasyim Asy'ari  ini telah menjadikan seluruh komponen menjadi  keturunan ideologis sehingga  memiliki tanggung jawab untuk meneladani dan meneruskan perjuangannya 

"Halal bi Halal ini bukan kegiatan seremonial belaka  melainkan memiliki makna penting dalam rangka meneruskan perjuangan pendiri NU ini,” katanya sambutan.

Ia mengajak kepada guru-guru madrasah di bawah naungan lembaganya agar semakin  memperkuat dan percaya diri terhadap kebesaran Nahdlatul Ulama. Kebesaran NU, menurutnya, sering dimanfaatkan orang lain.

"Dalam setiap kesempatan, kiita juga harus mampu memberi contoh  dengan selalu mengangkat tokoh dari kalangan NU sendiri  bukan dari yang lain.Ini juga bagian kaderisasi yang diajarkan Mbah Hasyim," tandas Asyrofi seraya menjelaskan lembaganya ini menaungi 11 madrasah di berbagai tingkatan, mulai RA, MTs dan MA maupun SMK .

Ketua PCNU Kudus KH Chusnan Ms yang hadir dalam acara itu berharap di tengah era kompetitif ini madrasah di bawah naungan BPPMNU hasyim Asy'ari ini ke depan mampu meningkatkan kualitasnya sehingga mencetak generasi penerus perjuangan pendiri NU ini.

Kegiatan yang berlangsung hingga siang hari ini  dihadiri pengurus NU dan banomnya serta ratusan guru madrasah Hasyim Asy'ari. 


Redaktur    : Mukafi Niam
Kontributor: Qomarul Adib

Selasa 11 September 2012 8:36 WIB
PAC IPNU-IPPNU Ngombol Resmi Dilantik
PAC IPNU-IPPNU Ngombol Resmi Dilantik

Purworejo, NU Online
Pimpinan Anak Cabang IPNU dan IPPNU Kecamatan Ngombol, Purworejo resmi dilantik pada Ahad (09/09) di Komplek Masjid Baiturrahman Desa Joso, Ngombol. <>

Acara pelantikan dibarengkan dengan Pengajian halal bihalal masyarakat setempat itu dihadiri MWC NU, Muslimat, Fatayat, Ansor dan pejabat pemerintah Ngombol. Hadir untuk melantik adalah Ahmad Naufa dan Aniroh selaku ketua PC IPNU dan IPPNU Kabupaten Purworejo. Acara berjalan dengan tertib dan lancar dengan antusisme ratusan masyarakat.

Dalam sambutannya, Ahmad Naufa mengungkapkan pentingnya organisasi kepemudaan untuk generasi muda untuk menyiapkan kepemimpinan dimasa datang. 

"Pesatnya arus teknologi dan komunikasi dewasa ini cenderung menggerus budaya baik kita. Pemuda dimanjakan dengan teknologi yang membuat mereka menjadi makhluk individualis dan mengabaikan lingkungannya" ungkap Naufa. 

"Dari itu, selain sebagai wahana penggemblengan agama, skill dan potensi pemuda, peran organisasi juga untuk mengembalikan semangat kebersamaan dan kekeluargaan" imbuhnya.

IPNU dan IPNU di Ngombol ini menjadi yang terakhir resmi di lantik. 16 Kecamatan yang ada di Kabupaten Purworejo, sambung Naufa, telah ada kepengurusan IPNU dan IPPNU nya dengan segala kelebihan dan kekurangannya. 

"Selamat bergabung dan berjuang bersama kami dengan rekan dan rekanita dari kecamatan lain untuk membina watak generasi muda. Kami juga memohon agar para ulama, pejabat serta tokoh masyarakat turutserta mendukung kegiatan kepemudaan. Selain itu, tidak usah sungkan bagi Bapak/ Ibu untuk menegur jika kami dan rekan-rekanita ini dianggap salah dalam melangkah" pinta santri 24 tahun tersebut.

Adapun pengajian disampaikan oleh ketua PC GP Ansor Purworejo KH R Machfudz Chamid ata yang lebih dikenal Gus Afud. Dalam ceramahnya, Gud Afud menyapaikan pentingnya maaf memaafkan diantara sesama. 

"Dalam ajaran agama, dosa kita dengan Allah akan selesai ketika ketika kita Istighfar. Namun dosa antar sesama tidak cukup beristighfar namun dengan meminta maaf atau dalam istilah kita Halal Bihalal" ungkapnya. 

Ia juga membandingkan bahwa tipikal orang Timur Tengah itu cepat marah namun cepat baikan. Beda dengan orang Indonesia yang cenderung tidak gampang marah namun ketika marah sulit untuk diredam. Dari itu, masih menurutnya, momentum Syawwal ini pentik untuk memperbaiki tali persaudaraan dan kekeluargaan.

Peta Suciatmoko dan Jeklin Mandhani selaku ketua IPNU-IPPNU yang baru dilantik mengungkapkan keinginannya untuk mengembangkan Banom NU tersebut ke para pelajar di kecamatan Ngombol. 

"Kedepan kita akan membahas program dan format yang terbaik untuk IPNU dan IPPNU disini. Oleh karena, kultur dan sosiologis masyarakat disini berbeda dengan kecamatan lain, termasuk pemudanya. Jadi, perlu ada pembahasan khusus" ungkap Jeklin. 

Dia juga berharap IPNU-IPPNU di Ngombol semakin diterima dengan berbagai program yang unik, menarik dan menghibur. Sebagai program awal, ia berencana up grading sekaligus keliling untuk Wisata Religi ke makam ulama di Purworejo.


Redaktur    : Mukafi Niam
Kontributor: Siti Ma'rufah Hani

Senin 10 September 2012 18:33 WIB
GURU AGAMA
Tanggung Jawab Dunia Akhirat, Tapi Ketinggalan Sertifikat
Tanggung Jawab Dunia Akhirat, Tapi Ketinggalan Sertifikat

Semarang, NU Online
Guru Pendidikan Agama Islam  (PAI) secara teknis memang sama dengan guru mata pelajaran lain. Dijatah sekian jam dan dibayar atas jam mengajarnya. Namun secara sosial memiliki tanggung jawab dunia dan akhirat. Setiap ada murid bermasalah secara moral, meski di luar lingkungan sekolah, guru agamalah yang disebut-sebut. 
<>

“Bocah kok nakal, guru agamanya siapa sih?,” begitu kalimat nyinyir yang sering diucapkan orang yang sedang mengetahui ada anak usia sekolah berbuat yang kurang pantas. 

Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Pendidikan Agama Islam (PAI) tingkat SLTP Kota Semarang, Drs H Multazam Ahmad MA menyampaikan hal itu saat menjadi pembicara dalam halal bihalal MGPM PAI Kota Semarang di Aula kantor perwakilan penerbit Erlangga Semarang, Sabtu (8/9). 

Multazam yang menjadi pengurus MUI Jateng ini menyatakan prihatin atas situasi seperti itu. Guru agama selalu menjadi tumpuan segala-galanya tentang moral anak. Sehingga tanggungjawabnya adalah dunia sampai akhirat. Orang tidak mau tahu faktor lain, semua soal akhlak dianggap tanggungjawab guru agama. 

“Para orang tua dan masyarakat memiliki ekpektasi sangat besar. Guru agama ibaranya harus menyelamatkan para anak didik selamat dunia dan akhirat. Tapi nasibnya sungguh masih berat,” ujar Sekretaris Pimpinan Wilayah Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jawa Tengah ini.  

Ia terangkan, dengan tanggungjawab seberat itu, sampai kini mayoritas guru agama Islam di Kota Semarang belum bersertifikat. Ketika para guru mata pelajaran lain telah menikmati honor dari pemerintah melalui program sertifikasi, para guru penjaga moral dunia akhirat ini hanya mendapat doa dan ajakan untuk bersabar. 

“Para guru agama Islam di Kota Semarang ini mayoritas belum tersertifikasi. Kita selalu diajak terus berdoa dan diajak untuk sabar,” tutur pengamat media ini sambil tertawa. 

Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang Bunyamin dalam sambutannya membenarkan keluhan tersebut. Dia berjanji akan terus memperjuangkan, tetapi tetap meminta agar para guru PAI bersabar atas realisasinya. 

“Saya terus memperjuangkan bersama Kantor Kemenag Kota Semarang. Tapi memang harus tetap bersabar. Jenengan semua ini levelnya sudah sangat ikhlas, jadi tidak mungkin tidak sabar,” tuturnya dengan nada bercanda. 

Bunyamin menyatakan, hidup itu sawang-sinawang (saling melihat orang lain). Guru yang mendapat tunjangan sertifikasi belum tentu lebih bahagia, demikian pula yang belum sejahtera secara materi belum tentu tidak bahagia. Jadi sambil terus berjuang, ia tetap mengajak pasrah kepada Allah Yang Maha Memberi Kecukupan. 

Sementara itu pejabar Kantor Kemenag Semarang H Yazid Jamil Mag dalam sambutannya menyatakan, nasib guru PAI memang tidak terperhatikan. Di struktur lembaga kementrian pusat, ada jabatan direktur Pendidikan Agama Islam yang mengurusi guru PAI di madrasah, sekolah negeri maupun swasta. 

Namun di tingkat propinsi, yakni Kanwil Kemenag maupun tingkat Kabupaten, tidak ada pejabat yang mengurus guru PAI. Unit untuk itu digabung dalam Bagian Madrasan dan Pendidikan Agama (Mapenda). PAI hanya menjadi seksi atau sub unit dari Mapenda. 

“Memang guru PAI tidak mendapat perhatian penuh karena di tingkat kabupaten/kota dan propinsi tidak ada unit yang mengurusnya. Jadi strukturnya terputus dengan direktur PAI di Kemenag RI,” ungkapnya. 

Selanjutnya, Ketua MGMP PAI Tingkat SLTP Jawa Tengah Muhammad Ahsan menambahkan, para guru PAI tidak punya pilihan lain selain terus mendidik para murid sebaik-baiknya dan terus menjadi teladan moral bagi siapa saja. Usaha memperjuangkan nasib tetap jalan terus tanpa perlu memikirkan hasilnya. Sebab menurutnya, Gusti Allah itu melihat usaha hamba-Nya, bukan hasil usaha sang hamba. Sebab soal hasil itu terserah Allah, sebab Allah sendiri yang akan membalasnya dengan cara Tuhan sendiri. 

Sementara perwakilan penerbit Erlangga Hermawan Dwi Cahyo menyampaikan kesediaannya untuk terus mendukung kegiatan MGMP PAI dan bekerjasama untuk penerbitan buku-buku agama Islam. 

Acara yang dihadiri 70-an guru agama Islam itu diakhiri dengan salam-salaman. Kepala Dinas Pendidikan Bunyamin yang datang bersama istrinya mengaku senang sekali dengan halal-bihalal tersebut.


Redaktur     : Mukafi Niam
Kontributor: Ichwan

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG