Sejumlah Faktor Sebabkan Hubungan Wayang dan Pesantren Menjauh

Yogyakarta, NU Online
Pesantren zaman dahulu turut melestarikan budaya wayang. Namun pada era sekarang, pesantren seolah-olah jauh dari budaya melestarikan wayang. 
<>
Hal ini menurut budayawan, Jadul Maula ada beberapa faktor yang menyebabkannya. Diantaranya adalah faktor kolonial. pada zaman dahulu antara kraton, pesantren itu satu kesatuan yang mengandung nilai-nilai keislaman.

“Kraton didirikan untuk menyebarkan agama yang berbasis budaya. Namun, ketika kolonial masuk, antara kraton dan pesantren mulai menjauh. Kraton dikendalikan oleh kolonial. Kraton tidak bisa eksplisit dalam menghadapi kolonial,” ungkap M Jadul Maula ketika ditemui di Pesantren Kaliopak, Rabu (17/07).

“Kemudian keduanya tidak menjadi satu kesatuan lagi, dan terciptalah dualisme, contohnya berdirinya NU, ijma’nya ke Arab. Sedangkan pada zaman Ronggo Warsito, ijma’nya ke Walisongo,” imbuhnya.

Faktor kedua yang disampaikan oleh Jadul Maula adalah faktor demoralisasi. Banyak dalang terputus gara-gara spiritual dalang mulai memudar. Dalang menempatkan dirinya sebagai penghibur. “Faktor ketiga adalah politik, nasionalisme dan Islam mengalami perubahan politik,” ungkapnya. “Kalau ini tidak dijembatani akan putus antara budaya Jawa dan khazanah Islam,” tambahnya.


Redaktur    : Mukafi Niam
Kontributor: Sholikhin

BNI Mobile