IMG-LOGO
Nasional

FPI Wajib Ngaji Syariat Islam dari Kitab Kuning

Kamis 25 Juli 2013 1:0 WIB
Bagikan:
FPI Wajib Ngaji Syariat Islam dari Kitab Kuning

Jakarta, NU Online
Front Pembela Islam (FPI) harus mengajarkan anggotanya kitab-kitab kuning yang mengandung syariat Islam ahlussunnah wal jama‘ah (aswaja). Pelajaran kitab kuning itu wajib bagi FPI sebagai ormas yang mendakwa berpaham aswaja.
<>
Perihal ini dikemukakan Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor (PP GP Ansor) Nusron Wahid terkait kasus FPI di Kendal Jawa Tengah (17/7) lalu, dalam forum Indonesia Lawyers Club (ILC) di stasiun Teve One, Jakarta Pusat, Selasa (23/7) malam.

“Tugas ormas mendidik anggotanya. Sedangkan ormas Islam memiliki tugas lebih. Mereka wajib mengajarkan tradisi syariat Islam,” tegas Nusron Wahid dalam kesempatan itu.

Saya, sambung Nusron, setuju dengan niat FPI dalam mengamalkan amar makruf dan nahi mungkar. Tetapi praktik amar makruf dan nahi mungkar harus dilakukan bil makruf dengan kebaikan. Praktik itu laisa bil munkar, bukan dengan kemungkaran.

Tidak satupun ayat Al-Quran mengatakan amar makruf dilakukan dengan kemungkaran. Nahi mungkar juga tidak boleh dilakukan dengan kemungkaran baru, imbuh Nusron Wahid.

Pengajian syariat Islam dilakukan dengan panduan kitab kuning. Kitab kuning sebagai warisan para ulama yang ditradisikan. Para ulama melalui kitab-kitab itu menjelaskan akhlak dakwah sesuai syariat Islam.

Pengajian dengan panduan kitab kuning bersifat ilmiah. Karena dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan menurut Islam. Sementara pengajian hanya sebatas tablig di panggung atau podium, rentan bermuatan nafsu dan propaganda yang didukung oleh Al-Quran dan hadis.

Kecuali itu, penyampaian agama tanpa panduan kitab sulit dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan susah diverifikasi kebenarannya.


Penulis: Alhafiz Kurniawan

Bagikan:
Kamis 25 Juli 2013 21:0 WIB
Warga Lereng Merapi Harus Waspada
Warga Lereng Merapi Harus Waspada

Boyolali, NU Online
Hujan abu dan pasir disertai gemuruh dari Gunung Merapi saat sahur pada Ahad (21/7) kemarin membuat panik ribuan warga di lereng merapi. Misalnya di Desa Jrakah dan Ngelakah Kecamatan Selo. Begitu juga warga Desa Wonodoyo Kecamatan Cepogo, serta Desa Merian Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali.
<>
Warga desa itu berhamburan keluar rumah mencari tempat yang aman. Kepanikan warga juga terjadi di Desa Tegalmulyo dan desa Sidorejo Kecamatan Kemalang Kabupaten Klaten.   

Ketua PCNU Boyolali, Masruri dan Ketua PCNU Klaten, Bambang Suprobo melalui NU Online mengimbau warga NU di lereng Merapi untuk waspada bahaya keluarnya hembusan asap sulfatara pekat dari puncak Merapi. 

“NU Boyolali beserta Banser, siap berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah, untuk membantu warga,” papar Masruri Selasa (23/7). 

Menurut Bambang Suprobo, sekitar 2.000 warga NU rawan kena hembusan asap Merapi. “NU mengimbau kepada warga untuk siap siaga,” kata Bambang.   

Petugas pos pengamatan Gunung Merapi di Kecamatan Selo Tri Mujianto mengakui dirinya melihat gumpalan asap tebal dari puncak Merapi, tapi dirinya tak dapat melihat secara visual dengan jelas. “Puncak tertutup kabut tebal, yang terlihat hanya hembusan. Saya tidak bisa mengukur ketinggian semburan asap, soalnya titik nol puncak Merapi tidak terlihat,” kata Tri.

Menurut warga desa Sidorejo, Mardiyono (53), kepanikan warga semakin bertambah ketika di luar rumah terjadi turun hujan abu disertai pasir lembut. Tanpa memikirkan ternak, warga terus turun gunung mencari tempat aman. 

Warga desa Tegalmulyo dan Siderejo mengungsi di aula Kecamatan Kemalang dan lapangan desa Keputran serta di desa Dompol radius 15 km  dari puncak Gunung Merapi. Kemudian warga dari Desa Balerante mengungsi di Desa Bawukan, Kemalang.  

Camat Kemalang Bambang Haryoko menjelaskan, ada sekitar 1.000 warga yang mengungsi di kecamatan dan lapangan desa Keputran. Mereka berasal dari Sidorejo, Tegalmulyo. “Para pengungsi didominasi ibu-ibu, anak dan orang tua,” ujar Bambang.        

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten, Joko Roekminto sudah melakukan koordinasi dengan pihak BPTK Yogyakarta, bahwa status Gunung Merapi masih normal. 

Penyakit Ispa
Dampak hujan abu vulkanik Gunung Merapi yang perlu diwaspadai bagi warga adalah infeksi saluran pernapasan (Ispa). 

Kepala Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Klaten, Joko Rukminto mengatakan, penyakit Ispa mengancam warga lereng Gunung Merapi, sebab hingga kemarin Selasa dampak hujan abu masih dirasakan warga. 

“Di lapangan sudah dibagikan langsung ratusan masker kepada warga. Terutama untuk siswa yang berangkan sekolah. Ispa sangat rawan menyerang anak-anak,” katanya. 


Redaktur    : Abdullah Alawi 
Kontributor: Cecep Choirul Sholeh          

Kamis 25 Juli 2013 20:0 WIB
NGAJI RAMADHAN
Nabi itu Ramah, Bahkan kepada Orang Kafir
Nabi itu Ramah, Bahkan kepada Orang Kafir

Kudus, NU Online
Nabi Muhammad mengajarkan sikap ramah kepada setiap orang, termasuk kaum kafir sekalipun. Padahal  Al-Qur’an membolehkan menghabisi orang kafir bila mereka terlebih dahulu mengancam umat Islam, tetapi Nabi tidak melakukannya. 
<>
“Bahkan, beliau mengajak orang kafir yang sudah kalah perang diajak masuk masjid. Dengan ramahnya Nabi memberi maaf kepada mereka,” terang Mustasyar PBNU KH Sya’roni Ahmadi saat menerangkan ayat 21-25 Surat Al-Hadid Juz 27 dalam pengajian Tafsir Al Qur’an di Masjid al Aqsha Menara Kudus, Jawa Tengah, Kamis (25/7) pagi.

KH Sya’roni menerangkan sikap Nabi Muhammad yang tidak menggunakan kekerasan, tetapi memberi maaf kepada kaum kafir ini dibenarkan oleh Allah. Dengan demikian, keramahan Nabi Muhammad ini mendapat rahmat dari Allah.

“Hanya diperbolehkan berbuat kekerasan bila orang kafir mendahului, tetapi jangan ditafsiri wajib dikerasi. Sebab, ada kelompok garis keras yang memahami ayat ini supaya wajib dengan kekerasan kepada mereka, ini keliru,” terangnya lagi.

Pada penjelasan ayat lainnya, kiai yang akrab disapa Mbah sya’roni ini mengajak umat Islam selalu bersyukur atas nikmat (rizki) yang diterima. Manusia dilarang kikir mengeluarkan harta bendanya untuk kebaikan atau berinfak. Di samping itu, tidak perlu bersenang-senang kebablasan atas nikmat yang diterimanya supaya tidak susah di kemudian hari.

“Oleh karenanya, nikmat (rizki) yang kita terima wajib syukur kepada Allah. Begitu juga pada saat menerima musibah. Kita harus bersabar supaya mendapat pahala,” jelasnya.

Saat menjelaskan masalah rizki ini, Mbah Sya’roni menyinggung permasalahan kefakiran manusia. Dengan mengutip sebuah hadits kadal fakru an yakuuna kufron, ulama kharismatik itu menjelaskan kefakiran seseorang bisa mengakibatkan kekufuran.

“Siapapun saja termasuk kiai atau orang alim yang beribadah tekun, tetapi tidak memiliki harta misalnya, sangat bisa menjadi lupa kepada Allah. Sebab perkara yang membingungkan bisa menghabiskan akal, apalagi sudah berdoa siang malam tidak dikabulkan akan bisa menjadi kufur zindik (tidak percaya Allah),” terangnya seraya menyitir sebuah nadhaman ba’dhul fudhola’.

Pengajian Tafsir Al Qur’an bersama KH Sya’roni ini sudah memasuki hari keempat belas sejak 3 Ramadhan lalu. Hingga Kamis padi tadi, ribuan jamaah masih memenuhi ruangan dan halaman parkir Komplek Masjid dan Makam Menara Kudus.


Redaktur     : Abdullah Alawi 
Kontributor : Qomarul Adib

Kamis 25 Juli 2013 11:2 WIB
Di Kudus, Sinta Nuriyah Sahur bersama Anak Yatim
Di Kudus, Sinta Nuriyah Sahur bersama Anak Yatim

Kudus, NU Online
Seperti tahun-tahun sebelumnya, mantan Ibu Negara Hj Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid mengunjungi beberapa daerah untuk sahur bersama dengan kelompok masyarakat terpinggirkan.<>

Di Kudus, Sinta Nuriyah melakukan sahur bersama dengan anak-anak yatim piatu di Yayasan As-Sa’diyah desa Kirig Mejobo Kudus, Senin dini hari (22/7) kemarin.

Selain sahur bersama, istri Gus Dur juga memberikan santunan kepada ratusan anak yatim piatu se kabupaten Kudus. Dalam acara itu, wajah anak yatim yang didampingi  orang tuanya tampak sangat ceria menerima santunan berupa uang tunai, tas dan buku tulis.

Menurutnya, program sahur bersama ini sudah berlangsung selama 13 tahun sejak dirinya mendampingi Gus Dur menjadi presiden. Dalam kegiatan ini, kata dia, pihaknya selalu menemui  orang-orang  pinggiran (marginal) yang tidak pernah tersentuh siapapun untuk diajak sahur bersama.

“Setiap puasa berkeliling di daerah untuk sahur dengan pengamen, kuli bangunan, tukang becak, pedagang pasar dan anak yatim sehingga untuk tempat makan sahurnya menyesuaikan. Kadang di kolong jembatan, di pasar atau di terminal bus atau di Perempatan jalan,” katanya.

Ia memberikan alasan memilih program sahur puasa daripada buka bersama. Disamping karena buka puasa sudah sering dilaksanakan berbagai kelompok masyarakat, jelas bu Sinta, sahur bersama memiliki arti mengajak orang untuk melaksanakan berpuasa.

“Meskipun dianjurkan memberi buka kepada orang berpuasa, namun nilai filosofisnya untuk membatalkan puasa. Sedang sahur untuk mengajak berpuasa dan yang diajak juga jelas akan berpuasa,” terangnya seraya menjelaskan tahun ini melayani permintaan buka bersama juga.

Pada kesempatan itu pula, Sinta Nuriyah mengajak masyarakat selalu hidup rukun dan saling menolong serta saling menghargai sesame warga negara yang berbeda-beda golongan dan agama.  

“Apalagi kita hidup di Indonesia dengan Negara bhinneka Tunggal Ika yang berbeda-beda suku, agama, golongan dan budaya. Namun , kita semua adalah saudara sebangsa setanah air sehingga  harus tetap bersatu rukun dan saling menghormati,”tandasnya.

“Kita harus rukun, saling menghormati dan menghargai karena kita semua adalah saudara sebangsa-setanah air,” tandasnya.

Hadir dalam kegiatan itu, ketua Umum PP GP Ansor H Nusron Wahid, Mantan Pengurus PP IPNU Muhammad Idris, pengurus NU dan badan otonom serta masyarakat desa setempat.



Redaktur     : A. Khoirul Anam
Kontributor :  Qomarul Adib

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG