IMG-LOGO
Trending Now:
Tokoh
SAYYID IBROHIM BIN ‘ALI BA’ABUD

Habib yang menjadi Rais Syuriyah Wonosobo Pertama

Selasa 10 September 2013 12:1 WIB
Bagikan:
Habib yang menjadi Rais Syuriyah Wonosobo Pertama

Sayyid Ibrohim mempunyai nama asli Ibrahim Bin Ali bin Hasyim Ba'abu jika diurut ke atas, maka beliau adalah termasuk dari kalangan ahlul bait (keluarga Rasulullah SAW) yang bermarga Ba'bud Kharbasan sebuah marga dalam keturunan Rasulullah SAW, atau orang sering menyebutnya dengan Sayyid atau Habib yang menunjukkan bahwa beliau mempunyai kedudukan tersendiri di mata umat islam.<>

Beliau dilahirkan pada tahun 1864M dari ayah yang bernama Ali bin Hasyim dan ibunya adalah Syarifah Khotijah di Kauman Wonosobo. Gelar Sayyid diberikan kepada beliau setelah masyarakat mengetahui kealiman dari beliau serta termasuk dalam jajaran ahlul bait.Dilahirkan sebagai anak ketiga dari tiga bersaudara semenjak kecil telah mendapat pendidikan ilmu agama dari orang tuanya dengan belajar mengaji.

Sayyid Ibrohim semenjak kecil sudah mulai dikenalkan dengan Ilmu al Qur'an,Fiqh,Tauhid dan cabang ilmu yang lainnya, termasuk ilmu Tasawuf (thoriqoh). Pada saat itu belum banyak dikenal model pendidikan yang lazim dilaksanakan saat ini. Model pendidikan yang dilaksanakan menggunakan system individual dengan cara sorogan sebagaimana dikenal di lembaga pendidikan Pesantren. Disamping mendapatkan Ilmu agama dari orang tuanya sendiri dan juga Ulama di daerah Wonosobo, berdasarkan suatu riwayat beliau juga belajar kepada guru dan sekaligus sahabatnya yaitu Habib Ahmad bin Abdullah Bin Tholib al Atthos Pekalongan.

Hal ini diketahui bahwa setiap beliau pergi ke daerah Pekalongan senantiasa didereake oleh KH.Hasbullah Bumen dengan berjalan menaiki kuda sambil menuntun kambing atau sapi yang akan dihadiahkan kepada guru dan sekaligus sahabatnya Habib Abdullah Bin Tholib al Atthos Pekalongan juga sayid Hasyim Bin Yahya.

Dengan berbekal ilmu yang telah didapatkan dari para guru gurunya, Sayyid Ibrohim kemudian mengajarkan agama islam dari satu tempat ke tempat yang lain. Aktifitas beliau disamping sebagai Ulama juga sebagai saudagar yang sangat terkenal dan mempunyai banyak sawah dan tanah yang kemudian dijadikannya tempat untuk ,mendirikan Masjid atau bangunan lainnya sebagai tempat pendidikan. Kesempatan berdagang itu pula digunakannya untuk menyampaikan dakwah islamiyah dan mengenalkan NU melalu jalur Thoriqoh yang beliau dapatkan dari ayahnya. Beliau mendapatkan sanad thoriqoh dari orang tuannya berupa Thoriqoh Alawiyah yang dikenal dengan thoriqoh yang tidak menggunakan tata cara yang khusus sebagaimana Thoriqoh yang lainnya.

Pendiri NU Cabang Wonosobo

Semenjak awal berdirinya 31 Januari 1926, NU kemudian melalui para 'Ulama yang  berhaluan Ahlussunnah Wal Jama'ah mendirikan berbagai cabang di daerah daerah sebagai perpanjangan dari HBNO (PBNU) yang berada di Surabaya. Melalui Lajnah Nasihin (Lembaga Propaganda) yang dibentuk oleh HBNO, para Ulama yang tergabung di dalamnya mensosialisasikan berdirinya Nahdlatul 'Ulama (NU) di wilayah Hindia Belanda (baca Indonesia), diantaranya ke Jawa Tengah, Jawa Barat hingga daerah Menes Banten, Lombok, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera hingga daerah Aceh.

Propaganda itu pada gilirannya sampai ke daerah Wonosobo. Karena ikatan persaudaraan yang telah dijalin oleh para 'Ulama masa dulu. Kehadiran NU di Wonosobo yang diprakarsai oleh para kyai diantaranya Sayid Ibrahim Kauman, KH.Hasbullah Bumen,KH.Abdullah Mawardi Wonosobo, Kyai Abu Jamroh, KH.Asy'ari Kalibeber, Sayyid Muhsin Kauman, dan beberapa tokoh yang lain seperti Atmodimejo, Supadmo, Abu Bakar Assegaf dan yang lainnya disambut dengan mendirikan Jam'iyah Nahdlatul 'Ulama Cabang Wonosobo.

Hal itu ditandai dengan penbentukan kepengurusan NU Cabang Wonosobo dengan Rois Syuriah  Sayyid Ibrohim dengan dibantu Sayyid Muhsin bin Ibrohim sebagai Katibnya. sedangkan dalam jajaran Tanfidziah, ditunjuk Atmodimejo sebagai ketua dan Abu Bakar Assegaf sebagai sekretaris. Belum ditemukan dokumen yang jelas tentang tanggal berdirinya NU di Wonosobo secara pasti, hanya beberapa keterangan yang perlu dikedepankan.

Diantaranya Pertama, menurut Mbah Muntaha (Allahu yarham) memberi keterangan bahwa NU Wonosobo diresmikan setelah Muktamar NU di Cirebon pada tanggal 29 Agustus 1931, keterangan ini didukung oleh H.Salim Mukhtar (almarhum) mantan ketua Tanfidziah NU. Kedua, terdapat arsip kartu tanda Anggota NU (Kartanu) yang diberi nama Rosyidul Udhwiyah atas nama Bapak Saidun Desa Kreo Kejajar, yang ditanda tangani oleh Sayyid Ibrohim dan Sayyid Muhsin sudah bernomer 1526 pada tahun 1353H, sebagai indikasi telah banyaknya warga yang mengikuti Jam'iyah Nahdlatul 'Ulama. Ketiga, terdapat keterangan dari para sesepuh NU bahwa pada saat pelantikan NU Cabang Wonosobo dilaksanakan di rumah Sayyid Ibrohim dan dihadiri oleh KH.Abdul Wahab Hasbullah sebagai HBNO, sedangkan sebagai pembaca al Qur'an pada acara itu adalah KH.Muntaha al Hafidz.

Kepiawaian dari para pendahulu NU Wonosobo terutama Sayyid Ibrohim yang tanpa lelah memperjuangkan NU ditengah tengah masyarakat pada gilirannya membuahkan hasil secara nyata hasil itu bisa dilihat dengan banyaknya masyarakat yang dengan suka rela menjadi anggota jam'iyah ini,serta gerakan gerakan lainya yang mendukung program Jam'iyah.

Dalam proses sosialisasi NU dan dakwah islamiyah, beliau senantiasa ditemani salah seorang putra beliau yaitu Muhsin Bin Ibrohim yang kelak menjadi katib Syuriah. Ketika remaja beliau Sayyid Muhsin setelah mendapatkan ilmu agama dari Abahnya, kemudian dikirim oleh orang tuanya untuk belajar agama islam di Pondok Pesantren Tremas Pacitan, sekembalinya dari Tremas kemudian beliau melanjutkan studinya di Arab Saudi untuk menunaikan ibadah haji dan belajar agama kepada beberapa Ulama di Timur Tengah hingga berkeluarga.

Namun takdir berkata lain, ketika terjadi pengusiran besar-besaran di Arab Saudi terhadap golongan muslim sunny yang dianggap bertentangan dengan kaum Wahabi, atas pesan dari gurunya beliau agar kembali ke Indonesia untuk menyalamatkan agama dan ilmu beliau kembali ke tanah air. Dan akhirnya menetap di Wonosobo berkhidmah kepada Nahdlatul 'Ulama. Sebagai katib Syuriah yang membantu tugas dari abahnya, pada saat awal dibentuknya NU beliau memprakarsai pembuatan gedung NU yang sekarang ditempati NU dan sekaligus dijadikan tempat untuk pembinaan generasi muda NU dengan mendirikan sekolah Arab. Hal ini dimaksudkan untuk ajang kaderiasi dan juga penanaman nilai nilai ahlussunanh wal jama'ah semenjak dini. Sebagai salah seorang yang tertua ke delapan dari putra Sayyid Ibrohim dengan istri pertama, sayyid Muhsin menerima hirarki thoriqoh dari abahnya.

Sebagaimana diketahui bahwa Sayyid Ibrohim mempunyai dua puluh orang anak dari tiga orang istri. dari tiga orang istri tersebut bukan berarti beliau menganut poligami. Namun tetap dengan satu istri, yaitu ketika istri yang pertama meninggal dunia, kemudian beliau beristri lagi. Dari keturunan beliau ini kemudian telah berkembang di berbagai daerah bahkan luar negeri yang senantiasa menyebarkan agama islam juga kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Salah satu dari karomah yang dimiliki oleh sayyid Ibrohim yang hingga saat ini jelas kelihatan dan diketahai masyarakat adalah Jam'iyah Nahdlatul 'Ulama. Organisasi yang telah mengalami berbagai masa, yaitu masa penjajahan Belanda dilanjutkan zaman fasis Jepang, Kemerdekaan dan kemerdekaan serta masa orde lama dan orde baru serta masa reformasi, tetap eksis dalam berkhidmah kepada umat bangsa dan negara. Hal itu tentunya telah diawali oleh Sayyid Ibrohim dan para Ulama lainnya sebagai muassis (peletak dasar pertama) Jam'iyah NU. dengan ketulusan dan kesabaran dibarengi dengan keikhlasan mengeluarkan harta bendanya untuk mewujudkan cita cita NU, telah membuat catatan tersendiri di hati umat Islam di Wonosobo. Disamping itu banyak terdapat Masjid yang dibangun di atas tanah yang diwakafkan oleh sayyid Ibrohim yang tidak hanya di satu tempat, namun diberbagai daerah.

Apa yang dilakukan oleh Sayyid Ibrohim adalah karena kecintaannya kepada para leluhur yang telah mengajarkan agama islam ke daerah Wonosobo (Mubaligh) serta menyelamatkan masyarakat yang jika dibiarkan akan terkena musibah yang lebih dahsyat.

NU dan Tarekat

Dalam kapasitasnya sebagai Rais Syuriyah NU Wonosobo, Sayyid Ibrohim juga didaulat oleh gurunya untuk menjadi Kholifah (pemimpin) Thoriqoh Syathoriyah. Terdapat dua Thoriqoh yang ada pada diri beliau yaitu Alawiyah dan Shatoriyah. Jika Thoriqoh alawiyah merupakan Thoriqoh yang banyak dilakoni oleh kebanyakan para Habaib secara turun temurun. Maka Thoriqoh Shatoriyah yang dikembangkan beliau merupakan gabungan dari Thoriqoh yang sebelumnya dalam hal penerimaan.

Melalui jalur Thoriqoh inilah, beliau mengembangkan agama Islam di daerah Wonosobo dan sekitarnya serta mengenalkan dan mengajak masyarakat untuk bergabung dalam Jam'iyah Nahdlatul 'Ulama dalam perjalanan pengembaraan dakwahnya. Pengembaraan itu pada saatnya telah memunculkan banyak masyarakat yang mengerti dan bergabung dengan NU. Murid beliau kini telah banyak yang meninggal, namun kebanyakan dari para murid itu, telah mempunyai Jama'ah yang banyak pula. Para murid sayyid Ibrohim tersebar  di seluruh Kecamatan di Kabupaten Wonosobo, Temanggung seperti Sukorejo dan Ngadirejo Kabupaten Kendal, sebagian Wilayah Batang dan juga daerah Banjarnegara serta Purworejo

Sadar akan pentingnya kaderisasi dan kepemimpinan, menjelang usia senja pada tahun 1940 beliau meletakkan jabatan Ro'is Syuriah Cabang Wonosobo melalui Musyawarah yang diadakan oleh pengurus Cabang saat itu. Kemudian ditunjuklah Kyai Abu Jamroh untuk dijadikan Rais Syuriah NU Wonosobo menggantikan Sayyid Ibrohim. Dalam kondisi fisik yang tidak seperti waktu muda sebelumnya. Sayyid Ibrohim tetap berjuang mengembangkan agama islam dan NU melalui jaman fasis Jepang. Sekalipun di bawah tekanan penjajah yang sangat kejam baik pada masa Jepang maupun masa kemerdekaan, eksistensi beliau sebagai pejuang tidak pernah surut. walaupun harus bergonta ganti tempat karena pengejaran dari Penjajah, semangat memperjuangkan islam dan memberi dorongan spiritual kepada para pejuang baik yang tergabung dalam barisan Hizbullah, Sabilillah dan kelaskaran yang lain tetap beliau berikan.

Ketika suasana Indonesia telah semakin mereda dengan kekalahan penjajah Belanda dari rakyat Indonesia. Sayyid Ibrohim kemudian kembali ke daerah Kauman Wonosobo dan menetap disana hingga wafatnya pada bulan Sya'ban tahun 1948. Beliau dimakamkan di makam keluarga Maron (belakang kampung Longkrang) Wonosobo. Khaul beliau dilaksanakan setiap tahun pada Minggu awal bulan Sya'ban dengan dihadiri oleh Jama'ah dan keluarganya.

 

Ahmad Muzan

Direktur IHSF dan AP Fatanugraha Wonosobo

Bagikan:
Ahad 1 September 2013 6:16 WIB
Mbah Salman, Mursyid Bersahaja nan Kharismatik
Mbah Salman, Mursyid Bersahaja nan Kharismatik

Duka masih menggelayuti lingkungan Pesantren Al-Manshur Popongan Tegalgondo Wonosari Klaten. Pengasuh pesantren tersebut, KH M Salman Dahlawi wafat, Selasa (27/8) pukul 17.45 WIB, dalam usia 78 tahun. Kepergiannya membawa duka yang mendalam bagi banyak pihak, khususnya bagi kalangan Jam’iyyah Thariqah<>

Mbah Salman, begitu dia biasa dipanggil oleh para santrinya, merupakan mursyid Thariqah Naqsabandiyyah-Khalidiyyah. Saat ini, dia juga tercatat menjadi anggota Majelis Ifta’ (Majelis Fatwa) di Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN). Selama hidup beliau juga pernah menjabat sebagai Mustasyar di Nahdlatul Ulama (NU). 

Yang membuat banyak kalangan nahdliyin semakin hormat kepada sosok ini adalah kesediaannya untuk tetap mengaji kepada kiai, dengan cara antri sebagaimana santri kebanyakan, meskipun beliau sendiri sudah memimpin pesantren dan diangkat sebagai Mursyid Tarekat.  Keaktifannya di NU tidak menghalangi sosok ini untuk akrab kepada semua pihak dari beragam latar belakang.

Figur yang amat bersahaja, ramah serta tawadlu’ adalah kesan yang akan didapati oleh siapapun yang bertamu ke rumah kiai. Ketika berbicara dengan para tamunya Kiai Salman lebih sering menundukkan kepala sebagai wujud sikap rendah hatinya. Bahkan tidak jarang, beliau sendiri yang membawa baki berisi air minum dari dalam rumahnya untuk disuguhkan kepada para tamu.

Menjadi Mursyid Usia 19 tahun

Mbah Salman adalah anak laki-laki tertua dari KH M Mukri bin KH Kafrawi. Dan dia merupakan cucu laki-laki tertua dari KH M Manshur, pendiri pesantren Al Manshur. Kiai Manshur sendiri adalah putra dari Syaikh Muhammad Hadi Girikusumo, salah seorang khalifah Syaikh Sulaiman Zuhdi, guru besar Naqsyabandiyah Khalidiyyah di Jabal Abi Qubais Makkah.

Sebagai cucu laki-laki tertua, Salman muda memang dipersiapkan oleh sang kakek, KH M Manshur yang di kalangan pesantren Jawa Tengah termasyhur sebagai wali, untuk melanjutkan tugas sebagai pengasuh pesantren sekaligus mursyid Thariqah Naqsyabandiyah.

Tahun 1953, ketika Salman berusia 19 tahun, sang kakek, yang wafat dua tahun kemudian, membai’atnya sebagai mursyid, guru pembimbing tarekat. Maka, ketika pemuda-pemuda lain seusianya tengah menikmati puncak masa remajanya, Gus Salman harus memangku jabatan pengasuh pesantren sekaligus mursyid.

Untuk menambah bekal pengetahuannya sebagai pengasuh, Gus Salman nyantri lagi ke pesantrennya K.H. Khozin di Bendo, Pare, Kediri selama kurang lebih empat tahun (1956 – 1960). Sebulan sekali, ia nyambangi pesantren yang diasuhnya di Popongan, yang selama Salman mondok di Kediri, diasuh oleh ayahnya sendiri, KH M Mukri.

Sebelum diangkat menjadi mursyid, Salman mengenyam pendidikan di Madrasah Mamba’ul Ulum, Solo dan beberapa kali nyantri pasan (pengajian bulan Ramadhan) kepada K.H.Ahmad Dalhar, Watu Congol, Magelang,Seiring dengan perkembangan jaman, pesantren yang diasuh oleh Kiai Salman juga mengalami perkembangan. Jika semula santri hanya ngaji dengan sistem sorogan dan bandongan, mulai tahun 1963 didirikan lembaga pendidikan formal mulai Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Diniyah (1964), Madrasah Aliyah (1966) dan yang terakhir TK Al-Manshur (1980).

Popongan Setelah Kepergiannya

Belakangan, seiring dengan kian lanjutnya usia beliau, Kiai Salman tampaknya juga menyiapkan kader pribadinya, baik sebagai pengasuh pesantren maupun mursyid thariqah, yaitu Gus Multazam (35 th). Kondisi fisik Kiai yang sangat tawadhu ini, belakangan, memang agak melemah dan intonasi suaranya tidak lagi sekeras dulu. Maka putra ketujuhnya yang lahir di Makkah inilah yang menjadi badalnya (pengganti) untuk memberikan pengajian-pengajian.

Saat ini pesantren Al-Manshur Popongan terdiri tiga bagian : pesantren putra, pesantren putri dan pesantren sepuh yang diikuti oleh orang-orang tua yang menjalani suluk, lelaku tarekat. Berbagai bentuk kegiatan pesantren juga ditata ulang, sekaligus dengan penunjukkan penanggung jawabnya. Kiai Salman sendiri, selain sebagai sesepuh pesantren, juga mengasuh santri putra dan santri sepuh (santri thariqah) yang datang untuk suluk dan tawajuhhan pada bulan-bulan tertentu.

Sampai hari-hari terakhir menjelang masuk ke rumah sakit beliau tetap mengajar, meskipun santri yang ada di hadapan beliau hanya satu orang. Demikianlah sosok yang di dalam buku Tarekat Naqsyabandiyah karya Martin van Bruinessen, termasuk tokoh tarekat yang disebut dalam mata rantai KH M Manshur dari KH Muhammad Hadi Girikusumo, Mranggen, Demak ini, dia tidak membedakan sedikit banyaknya santri yang belajar.

Santri mukim yang belajar kepada kiai sepuh ini jumlahnya ratusan orang setiap angkatan. Dan jika dihitung sudah mencapai lebih dari 100 ribu orang yang pernah nyantri kepada Almarhum.

Almarhum meninggalkan seorang isteri, Hj Siti Aliyah dan delapan anak, yaitu Musta’anatussaniyah, Umi Muktamirah, Munifatul Barroh, Murtafiah Mubarokah, Muhammad Maftuhun Ni’am, Muhammad Miftahul Hasan, Multazam Al-Makki, dan Marzuqoh Maliya Silmi. Yang tidak menyertai suami di luar Klaten juga membantu mengasuh di pesantren yang Almarhum pimpin. Para menantunya juga mengasuh pesantren di Krapyak Yogyakarta (KHM Najib Abdul Qodir); Al-Ishlah Kediri (KH Zubaduz Zaman), Al-Muayad Windan (KHM Dian Nafi’).

 

(Ajie Najmuddin/ dari berbagai sumber)

Ahad 18 Agustus 2013 9:2 WIB
Mbah Idris, Pengawal Resolusi Jihad dari Wonosobo
Mbah Idris, Pengawal Resolusi Jihad dari Wonosobo

Kiai Idris Kauman Wonosobo atau Mbah Idris lahir bertepatan dengan tanggal dan bulan serta tahun kelahiran Ratu Belanda Yuliana, 30 April 1909 M. Karenanya pada masa kolonial pernah mendapat hadiah dari pemerintah Belanda karena kesamaan dalam tanggal kelahiran Ratu Belanda.<>

Ia adalah seorang kiai yang menonjol dan sekaligus unik. Di samping lugas dalam berbicara, berani melawan yang dianggapnya tidak benar, juga mempunyai rasa yang sangat tresno terhadap umat. Dengan keteguhan jiwa orang yang menemukan dirinya sendiri, Mbah Idris menjadi sangat dihormati semua orang, dicintai santri-santrinya, disegani kawan-kawannya.

Sekalipun demikian kehidupan Mbah Idris adalah sangat sederhana. Kesederhanaan hidupnya menjadi contoh  bagi setiap orang yang kekurangan akibat terpaan dalam cobaan hidup. Dan bagi orang yang berada, Mbah Idris menjadi sosok lembaran yang harus ditiru dalam kezuhudan.

Kesederhanaannya tampak dalam kehidupan yang menempati sedikit ruangan untuk sekedar beristirahat dan menerima tamu. Walaupun secara materi, ekonomi Mbah Idris tergolong berkecukupan, bahkan tergolong kaya, namun lebih memilih hidup sederhana. Pakaian kesehariannya yang tampak dan lebih menyukai pakaian yang berwarna putih, mulai dari sarung, peci, dan serban yang sering dipakai merupakan bukti lain dari kebersahajaan dalam kehidupan.

Agaknya semua manifestasi lahiriah tersebut merupakan penyingkapan dari proses penyerbukan panjang benih-benih ruhaniah religius Mbah Idris. Sebagai hasil didikan dari Pesantren Tremas Pacitan tempat ia menimba Ilmu bertahun tahun di Tremas. Bahkan oleh sebagian kalangan ia dinobatkan sebagi orang yang telah menempati Maqom tertentu dalam kehidupan tasawwuf.

Bagi masyarakat Mbah Idris adalah magnet sekaligus semen perekat yang membuat kohesivitas sosial, dan benar-benar menjadi strum dalam kehidupan sosial. Dalam realitasnya, memang secara gemilang telah malahirkan kehidupan religious, dengan menjadikan Al-Qur`an, Hadits dan ijtihad “ulama sebagai motornya. Dalam etape pengabdiannya ia terlihat ikhlas, tulus, dan tanpa pamrih dalam pengabdiannya.

Karena itu pantas jika banyak kalangan yang berebut mendatangi rumahnya, mulai rakyat biasa hingga para pejabat. Bahkan beberapa Menteri pada tahun 1970an sowan kepadanya untuk mencium jemari tangannya dengan meminta sekedar nasehat atas pemecahan atas berbagai belitan masalah yang melilit. Tatapan matanya yang teduh, raut muka yang teduh serta tutur katanya yang menyejukkan seakan membasuh pekarangan batin umat yang kerontang. Akhlak kekiaiannya untuk menyantuni segenap lapisan masyarakat yang tidak mampu tidak pernah lekang dalam ruas-ruas perjuangannya.

Mbah Idris adalah orang yang corak pemikirannya radikal, menggugat tatanan masyarakat dengan menawarkan perubahan total, memasuki pengembaraan spiritual, sehingga melahirkan paradigma baru untuk merubah kehidupan masyarakat. Aktifatas, ide, dan pemikirannya selalu berorientasi ke masa depan. Sehingga santri-santrinya digembleng sedemikian rupa dengan harapan, di kemudian hari nanti mampu berinteraksi dengan komunitas masyarakat yang heterogen dan berbeda kondisi sosialnya.

Mbah Idris adalah tipe kiai yang tidak terlalu menyukai popularitas. Keengganan berpamer kepandaian dengan cara mengutip dalil dan sejumlah referensi Islam merupakan salah satu karakteristiknya. Bahkan dalam hal tertentu misalnya masalah fiqih ia kadang bertanya kepada kiai yang secara umur lebih muda darinya, atau ketika dimohon untuk memberikan do'a dalam sebuah acara terkadang ia malah menyuruh Kiai lain untuk memimpin do'a. Dalam memdedahkan pemikiran-pemikirannya, ia sangat jarang merujuk secara verbal dalil-dalil agama. Namun melalui proses perjumpaan dengan realitas-realitas sosial yang konkrit dan berangkat dari pemahaman agama.

Syahdan, pada September 1945 ia menghadiri pertemuan para ulama atas prakarsa Hadratussy Syekh KH M. Hasyim Asy’ari di daerah Kawatan Surabaya dan merumuskan “Resolusi Jihad”. Ia lalu masuk dalam barisan Hizbullah dan Laskar Ketentaraan hingga berpangkat Mayor, namun setelah kondisi aman ia meletakkan jabatan itu dan memilih lahan perjuangan memberdayakan masyarakat.

Sebagai konsekuensinya ia terlibat dalam berbagai front seperti pertempuran Ambarawa, 10 November 1945, perebutan Jogjakarta dari kekuasaan Belanda dan sejumlah pertempuran lainnya. Keberaniannya pada tahun 1948 menggalang solidaritas untuk Muslim Palestina dari warga Nahdliyin dengan bentuk dukungan moril dan dana.

Awal tahun 1960-an ia membuka madrasah-madrasah di lingkungan warga nahdliyyin yang saat itu belum lazim dengan pendidikan formal, disebabkan cara pandang terhadap pendidikan formal dan kondisi ekonomi yang sangat tidak memungkinkan. Kontroversi di masyarakat kemudian muncul bahkan nyaris membawa penyudutan dalam dirinya.

Namun semua itu bisa dilalui. Boleh saja kita berpikiran bahwa dalam pemikiran Mbah Idris, biarlah masyarakat yang berasumsi beraneka ragam sekalipun asumsi itu menyudutkannya, dan pada saatnya mereka akan mengetahui. Dengan bahasa agamanya bicaralah kepada manusia dengan kadar kemampuan nalar mereka. Menjadi ikon untuk memaklumkan masyarakat yang tidak sekehendak dengan  beliau.

Dalam hal ijtihad politik, semula ia berafiliasi dengan partai yang berbasis massa Islam, berbalik dengan mendukung partai yang dipimpin oleh negara. Akibat dari sikap politiknya ini pada awalnya mendapat kritikan yang tajam dari berbagai kalangan utamanya justru para Kiai yang tidak sama dalam pandangan politiknya.

Jika dipandang dari sudut politik sekitar awal dicanangkannya Khittah NU 1926 di kalangan Kiai NU, sikap Mbah Idris cukuplah unik namun dalam pengamatan yang lebih jauh, mungkin adalah sebagai suatu strategi yang ampuh dan jitu untuk membangun umat Islam tidak hanya dengan ukuran politik secara praktis namun justru dengan high politik untuk mencapai hasil yang maksimal. Alhasil apa yang dilakukan Mbah Idris pada gilirannya justru menjadi batu loncatan untuk berpolitik yang sesuai dengan tujuan Islam yaitu untuk kesejahteraan untuk umat manusia.

Mbah Idris merintis Pengajian Seton. Penyelenggaran pengajian ini, erat dengan syiar Islam di kota Wonosobo. Keberadaan Masjid sebagai salah satu elemen utama masyarakat juga menjadi bagian dari pengajian yang selanjutnya kegiatan ini berlangsung.

Pada tahun 1961 Kiai Idris bersam KH.Masykur dan KH.Muntaha merintas pengajian Setiap hari Sabtu yang dikenal dengan pengajian Seton. Awalnya adalah untuk membendung gerakan partai Komunis yang melalui memprofokasi masyarakat dengan propagandanya. Pengajian ini terbukti efektif hingga saat ini masih tetap dihadiri ribuan masyarakat setiap hari sabtu.

Disamping sebagai sarana komunikasi, pengajian ini juga dimaksudkan sebagai sarana penguat ajaran Islam ‘ala ahlussunah wal jama’ah, semakin tahun pengaian ini samakin banyak jamaahnya. Karena sistem yang digunakan sangat menarik minat masyarakat, yaitu  dengan menggabungkan sistem pesantren dan pengahian umum.

Mbah Idris memasuki kawasan substansi dari ajaran Islam, sebagai model untuk mengaktualisasikan Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari. Secara paradigmatik cara pandang sebagaimana di atas mungkin salah, bahkan tidak melalui genre yang benar. Namun catatan itu setidaknya patut diberikan sebagai bentuk apresiasi terhadap beliau, Kiai Idris. (Ahmad Muzan*/Red:Anam)

 

*Direktur AP Fatanugraha dan Islamic Homeshooling Fatanugraha, Wonosobo

Senin 12 Agustus 2013 10:1 WIB
Belajar dari KH Muntaha Al-Hafizh
Belajar dari KH Muntaha Al-Hafizh

Di antara deretan ulama di tanah air, nama KH Muntaha Al-Hafizh tentulah bukan nama yang asing. Ia adalah sosok di balik megahnya bangunanan Pondok Pesantren, sekolah SMA dan SMP Takhassus Al-Qur`an serta UNSIQ, Wonosobo, Jawa Tengah, yang sebelumnya bernama IIQ, sewaktu ia masih menjabat sebagai Rektor.<>

KH Muntaha Al-Hafidz lahir sekitar tahun 1910M di Kalibeber, Wonosobo. Ia adalah ulama Multidimensi yang mempunyai segudang ide dan pemikiran cemerlang yang bisa dijadikan sebagai pelajaran bagi ulama lainnya.

Pertama, Ide Pendidikan. Dalam dunia pendidikan KH. Muntaha Al-Hafidz merupakan teladan karena keberhasilannya mengembangkan pendidikan di bawah naungan Yayasan Al-Asy`ariyyah. Yayasan tersebut saat ini menaungi berbagai jenjang pendidikan antara lain, Taman Kanak-Kanak (TK) Hj. Maryam, Madrasah Diniyah Wustho, 'Ulya dan Madrasah Salafiayah Al-Asy`ariyyah, SMP dan SMU Takhassus Al-Qur'an, SMK Takhassus Al-Qur`an, Universitas Sains Al-Qur`an (UNSIQ), khusus untuk Perguruan Tinggi UNSIQ ini di bawah naungan Yayasan Pendidikan Ilmu-Ilmu Al-Qur'an (YPIIQ) namun cikal bakalnya Pesantren Al Asy'ariyah. YPIIQ sendiri sebelumnya telah mendirikan Institut Ilmu Al Qur’an (IIQ) JawaTengah sebagai embrio dari UNSIQ. KH. Muntaha Al-Hafidz juga menjadi salah seorang pendiri bahkan memegang jabatan Rektor pada saat Perguruan Tinggi ini sebelum berubah menjadi universitas adalah merupakan bukti implementasi dari ide dan pemikirannya.

Implementasi dari ide dan pemikirannya di bidang pendidikan diwujudkan dengan memadukan antara pesantren yang notabene merupakan pendidikan non formal dan pendidikan formal sejak dari TK sampai Perguruan Tinggi.

Kedua, Ide Tentang Dakwah dan Sosial. Dalam bidang dakwah, dibentuk Korps Dakwah Santri (KODASA). Korps ini merupakan wadah untuk aktifitas santri Pondok Pesantren Al-Asy`ariyyah dalam menyiarkan Islam, baik yang diperuntukkan bagi kalangan santri (sesama santri) dalam rangka meningkatkan kualitas diri, maupun kepada masyarakat dalam bentuk pengabdian dan kepedulian pondok pesantren terhadap kondisi riil yang dihadapi oleh masyarakat, khususnya di bidang sosial keagamaan. Adapun aktifitasnya, meliputi: bacaan shalawat, Qira'atul Qur'an, khitobah dengan menggunakan empat bahasa, yakni: bahasa Inggris,Arab dan bahasa Indonesia serta bahasa Jawa, juga Qosidah dan rebana yang merupakan kesenian bernuansa islami. Dalam bidang sosial, ia juga merintis berdirinya Pusat Pengembangan Masyarakat (PPM) bersama dengan Adi Sasono KH. MA. Sahal Mahfudz.

Ketiga, Ide Tentang kesehatan. Dalam bidang kesehatan, implementasi dari ide dan pemikirannya diwujudkan dalam pendirian balai pengobatan dan pendirian Pendidikan Akademi Keperawatan (AKPER). Akper ini sekarang berada di lingkungan Universitas Sains Al-Qur`an (UNSIQ) Wonosobo, Jawa Tengah. Karenanya institusi ini diberi nama AKPER UNSIQ. Selain itu, dibentuk Poliklinik Maryam. Poliklinik ini tidak hanya melayani santri dan mahasiswa saja, akan tetapi juga melayani masyarakat umum di sekitar poliklinik bahkan sering pula masyarakat dari daerah atau kecamatan lain yang memeriksakan kesehatannya di Poliklinik Maryam ini. Bahkan sebelumnya, ia telah merintis dan mendirikan Balai Kesehatan di Tieng, Kejajar, pada tahun 1986, yang disusul pula dengan pendirian Rumah Sakit Islam (RSI) Kabupaten Wonosobo.

Keempat Ide Tentang Pemikiran Islam, Ia juga tidak ketinggalan dalam memberikan ide dan pemikiran di bidang pemikiran Islam. Dalam bidang ini, ia membentuk "tim sembilan" untuk menyusn tafsil Al-Maudhu`i.

Dalam rangka menghadapi era globalisasi, KH. Muntaha Al-Hafidz memiliki ide dan pemikiran tentang perlunya penguasaan bahasa, yakni tidak hanya bahasa Indonesia dan bahasa Arab saja, melainkan juga bahasa Inggris, Cina, Jepang, dan lain-lain bagi para santri Al-Asy`ariyyah untuk bisa menjelaskan isi dan kandungan Al-Qur`an kepada masyarakat luas (internasional). Dan ide ini telah dipraktekan di Pondok Pesantren Al-Asyariyyah, juga di SLTP, SMU, dan SMK Takhassus Al-Qur'an, termasuk di dalamnya Universitas Sains Al-Qur`an.

Implementasi dalam bidang seni, terutama seni kaligrafi ia wujudkan dalam tulisan "Mushaf Al-Asy`ariyyah" (Al-Qur'an Akbar). Al-Qur'an ini memang berukuran besar, bahkan pada waktu dipublikasikan Al-Qur'an ini tercatat paling besar di dunia. Ukuran mushafnya 2 x 15 m pada saat kondisi tertutup dan berukuran 2 x 3 m dalam kondisi terbuka. KH. Muntaha Al-Hafidz adalah tokoh dan figur pemimpin yang patut untuk menjadi teladan. Aktifiatas, ide, dan pemikirannya selalu berorientasi ke masa depan. Sehingga santri-santrinya digembleng sedemikian rupa dengan harapan, di kemudian hari nanti mampu berinteraksi dengan komunitas masyarakat yang heterogin dan berbeda kondisi sosialnya.

Keseluruhan hidup Mbah Muntaha telah diabdikan untuk pencerahan dan pembebasan umat, baik melalui wadah pesantren yang ia warisi dari orang tuanya (KH. Asyari), maupun melalui Jami'iyyah NU yang telah dipilih sebagai medium perjuangannya. Di zaman kemerdekaan, perjuangan Mbah Muntaha selalu mengikuti ritme perjuangan NU. Di samping berjuang memanggul senjata dengan bergabung sebagai Laskar Hizbullah dan memimpin BMT (Barisan Muslimin Temanggung) sebuah laskar kerakyatan yang turut berjuang membela kemerdekaan. Ia juga aktif mengikuti gerakan NU.

Sewaktu NU melalui muktamarnya di Palembang memutuskan untuk keluar dari Masyumi dan berdiri sebagai partai politik sendiri, sebagai akibat dari tindakan para politisi Masyumi yang berasal dari kalangan non pesantren terlalu meremehkan peran politisi dari pesantren. Ia pun terlihat aktif dalam memperjuangkan NU untuk berkiprah di masyarakat bahkan sempat ditunjuk menjadi anggota Konstituante mewakili NU Jawa Tengah sampai dibubarkannya majlis itu pada tanggal 5 Juli 1959. Kondisi itu itu terus berlangsung hingga tahun 1972 saat pemerintah orde baru menetapkan bahwa partai Islam harus berfusi dalam satu wadah partai yaitu Partai Persatuan Pembangunan. Sebagai konsekuensi dari sikap NU yang harus mengikuti peraturan pemerintah walalupun secara politik sangat merugikan NU, Mbah Mun pun ikut terlibat aktif dalam Parta Persatuan Pembangunan. Kondisi itu berlangsung hingga dicanangkannya kembali ke Khittoh 1926.

Setelah sekian tahun bergulat dalam tandusnya lahan politik praktis, Mbah Mun kembali melirik kondisi pesantrennya yang terlihat belum begitu tampak kemajuannya. Kemudian Ia memilih untuk berpolitik secara substansial yaitu menggunakan jalur politik dengan tujuan membawa kemaslahatan umat yang lebih banyak. Dari perubahan sikapnya itu kemudian Ia menata pesantrennya dengan membenahi pola pengajarannya. Bahkan kemudian mendirikan dua sekolahan yaitu SMP dan SMA Takhassus Al-Qur'an yang berafiliasi kepada penajaman pemahaman Al-Qur'an bahkan pada gilirannya mendirikan Institut Ilmu Al-Qur'an sebagai wadah penggodokan sarjana Al-Qur'an yang mampu dalam pemahaman Ilmu Al-Qur'an dan umum. Dalam kaitan ini pula Mbah Mun tak kenal lelah meyakinkan berbagai pihak akan pentingnya pembenahan NU, mengingat posisinya yang strategis bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Puncaknya Ia menghadiri Muktamar NU ke 27 di Situbondo yang diantaranya, memutuskan kembali ke Khittoh 1926. Fanatisme Mbah Mun terhadap NU ini dapat dipahami mengingat latar belakang Ia sebagai orang pesantren yang senantiasa memelihara ajaran pendahulunya dan perjuangan Ia dalam berbangsa dan bernegara melalui wadah NU.

Satu hal yang mungkin belum banyak terekam dalam sejumlah tulisan tentang Mbah Mun adalah tulisan (risalah) yang ditulis oleh Ia atau manuskrip serta gagasan dalam bentuk tulisan yang Ia sendiri turut memberikan sumbangan pemikirannya, belum banyak dipublikasikan. Padahal sebagai seorang Kyai yang multidimensi, termasuk kepiawaian Ia berbicara di depan orang banyak sebagai seorang orator dan mampu menghanyutkan pendengar ke arah isi pidatonya dengan disertai ilmu balaghohnya banyak disenangi oleh pendengar, serta jabatan yang Ia sandang baik formal maupun non formal, banyak tulisan Ia yang menunjukkan kepiawaian Ia dalam menyampaikan gagasan pikirannya, atau sekedar menyampaikan pesan kepada umatnya. Atau terkadang Ia menyuruh seseorang untuk menyusun suatu tulisan dengan yang dikehendaki Ia, dan terkadang Ia merestui suatu gagasan yang telah tersusun dalam bentuk buku yang memang sesuai dengan gagasan Ia, sebagai penghormatan karya dari orang tersebut serta sebagai dorongan untuk terus berkarya.

Hal ini hampir sama dalam khazanah kepustakaan Islam, misalnya gagasan seorang alim yang tertuang dalam bentuk tulisan Kitab Klasik (kuning) terkadang bukan dari tulisan tangannya sendiri, bahkan ditulis dari muridnya atau orang yang sengaja disuruh untuk menuliskannya. Sesungguhnya apa yang dilakukan oleh Mbah Mun ini bisa menjadi konvensi bagi para Kyai maupun santri di daerah yang pesantrennya hendak eksis, bahwa di samping menguasai ilmu-ilmu keislaman dan juga ilmu umum, yang diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, dituntut pula untuk trampil menyampaikan suatu gagasan lewat tulisan.

 

Ahmad Muzan

Direktur Islamic Homeschooling dan Sekolah Alternatif Fatanugraha Wonosobo

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG