IMG-LOGO
Nasional

Mahasiswi STAIN Jember Juara Kaligrafi Nasional

Kamis 28 November 2013 1:0 WIB
Bagikan:
Mahasiswi STAIN Jember Juara Kaligrafi Nasional

Jember, NU Online,
Mahasiswi Prodi Bahasa Arab Jurusan Tarbiyah Sekolah Tinggin Agama Islam Negeri (STAIN) Jember, Jawa Timur, atas nama Siti Halimah berhasil menyabet  juara 1 lomba kaligrafi nasional dalam Festival Jazirah Arab di Universitas Islam Negeri (UIN) Malang belum lama ini.
<>
“Kita patut bersyukur karena salah satu anak didik kita, berhasil mempersembahkan yang terbaik dalam bidang kaligrafi,” ujar Ketua STAIN Jember, Babun Suharto di sela-sela sebuah acara di STAIN Jember, Rabu (27/11).

Mantan Ketua PC. GP. Ansor Jember itu berharap agar prestasi Siti Halimah bisa memicu inspirasi mahasiswa lain untuk berprestasi di tingkat nasional sesuai bidannya masing-masing.

Dikatakan Babun, prestasi yang bersangkutan cukup membanggakan, apalagi lomba tersebut diikuti oleh 20 universitas ternama se-Indonesia. “Mudah-mudahan kelak muncul Siti-siti yang lain dari kampus ini,” tukasnya seraya menambahkan bahwa untuk bidang kaligrafi pihaknya memang intens melakukan pembinaan terhadap mahasiswa.

Di tempat yang sama, Humas STAIN Jember, Minan Jauhari menuturkan, pihaknya akan mengirimkan 31 mahasiswa  untuk mengikuti Porseni tingkat PTAIN dan PTAIS se-Jawa Timur yang akan berlangsung akhir bulan ini. “Kami juga siap menang di ajang itu,” tukasnya (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)
 

Bagikan:
Kamis 28 November 2013 22:4 WIB
Teladani Pendiri, PMII Cetak Kader Junalis Pergerakan
Teladani Pendiri, PMII Cetak Kader Junalis Pergerakan

Jakarta, NU Online
Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menyelenggarakan pendidikan jurnalistik bagi para kadernya di Jakarta, 28 November-1 Desember 2013. Kegiatan tersebut dibuka dengan diskusi pemikiran pendiri PMII, H Mahbub Junaidi.
<>
Diskusi bertajuk “Simposium Pemikiran Mahbub Djunaidi dan Pendidikan Jurnalisme Kader” ini menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Ketua Umum Ikatan Sarjana NU (ISNU) Ali Masykur Musa, sesepuh Gerakan Pemuda Ansor Kholid Mawardi, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Moh Mahfud MD, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, dan anak kelima Mahbub Djunaidi Isfandari.

Ketua Umum PB PMII Addin Jauharuddin, dalam sambutannya, mengatakan, pihaknya ingin meneladani Mahbub sebagai penulis hebat. Melalui pendidikan jurnalistik, ia berharap PMII mampu mencetak penulis-penulis berkarakter semacam Mahbub.

Ali Masykur menilai, Mahbub merupakan tokoh yang komplet. Ketua umum PMII pertama ini tak hanya sukses menjadi tokoh pemimpin tapi juga melengkapi dirinya sebagai seorang penulis dan sastrawan handal. Pribadi seperti ini, katanya, memadukan ketegasan praktis dengan kelembuatan dan keluasan imajinasi pikiran.

“Seorang pemimpin yang menulis biasanya tidak dilupakan sejarah. Seperti Mahbub, Gus Dur, tulisanya sangat banyak. Dan saya kira PMII harus meneladaninya untuk giat dalam menulis,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Kang Said, sapaan akrab KH Said Aqil Siroj, mengurai tradisi penulisan pada zaman Islam abad pertengahan. Sejarah Islam berkembang sangat dinamis, dan melintasi beragam ilmu pengetahuan.

Mahfud MD mengaku terinspirasi dengan tulisan Mahbub berjudul “Politik Tingkat Tinggi Kampus” ketika menjadi mahasiswa di Yogyakarta tahun 1978. Sejak itu, ia mengagumi Mahbub dan membaca banyak tulisan-tulisannya. (Mahbib Khoiron)

Kamis 28 November 2013 20:0 WIB
Kiai Hasyim Sindir Perilaku Menyimpang Media
Kiai Hasyim Sindir Perilaku Menyimpang Media

Jakarta, NU Online
Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi, menyindir perilaku media massa yang kini lebih mengedepankan kepentingan ketimbang kemaslahatan umat.
<> 
Kiai Hasyim menuturkan saat ini jurnalis acapkali memberitakan sesuatu selalu tergantung kepada pihak yang memasang iklan atau pihak yang memiliki kuasa atas media massa tersebut.
 
"Saya melihat sekarang ini pers atau koran tergantung yang masang iklan saja, bisa disuruh ke sana, ke sini, disuruh diam. Jadi menyerang dia bayar, tidak menyerang bayar, diam juga dibayar," katanya dalam acara Simposium Pemikiran Mahbub Djunaedi dan Pendidikan Jurnalisme Pergerakan di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (28/11).
 
Kata Kiai Hasyim, inilah kondisi yang terjadi saat ini, di mana perang persepsi di media menjadi lebih canggih dari politik. Pasalnya, pemberitaan media itu menyatu dengan opini rakyat yang bisa menggiring arah opini itu. "Dengan kondisi kebebasan pers seperti sekarang membuat partai itu butuh pers. Pemerintah juga dibawah pers, karena lidahnya dipotong oleh undang-undang (UU Kebebasan Pers)," tegasnya.
 
Kekacauan ini, sambung Kiai Hasyim, justru yang membuat rating media naik. Bila tidak seperti ini, mungkin ketika jurnalis dikecewakan oleh pihak tertentu, maka nantinya bakal sakit semua yang dikecewakan itu. "Maka opini itu ada di wartawan," tuturnya.
 
Bagi Kiai Hasim, saat ini suatu informasi yang belum terpengaruh hanya ada dalam tulisan di buku karena kalau tulisan sudah menjadi berita itu sudah menghitung rating.

"Dalam hal yang seperti ini, kalau berita jadi bagian bisnis uang itu luar biasa. Dan ketuhanan yang maha kuasa, jadi keuangan yang maha kuasa. Nah dalam keadaan seperti ini bagaimana Anda bisa meneruskan pemikiran Mahbub Junaedi," tuturnya. (Syaiful/Abdullah Alawi)

Kamis 28 November 2013 19:0 WIB
Siswa NU Teliti Blimbing Wuluh untuk Listrik
Siswa NU Teliti Blimbing Wuluh untuk Listrik

Semarang, NU Online
Murid Madrasah Ibtidaiyah (MI) Kalisidi Ungaran Barat melakukan penelitian berjudul “Pemanfaatan Blimbing Wuluh sebagai Sumber Energi Listrik”. Penelitiannya disertakan dalam Lomba Karya Ilmiah Siswa Ma’arif (KISMA) Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Rabu (27/11).
<>
Penelitan anak itu menyabet juara pertama. Juara ke 2 dari MI Ma’arif Wonokasihan Jambu dengan judul penelitian “Pemanfaatan Kulit Jeruk untuk Membasmi  Jentik-jentik Nyamuk”.

Sedangkan Juara ke 3 adalah MI Ma’arif Ketapang Susukan dengan judul penelitian Pemanfaatan Singkong dan Kelapa Hijau sebagai Pestisida Alami Pengendali  Hama Tikus pada Tanaman Padi”.

Salah seorang dewan juri KISMA, Moh Yasir Alimi menerangkan kagum akan kepiawaan peserta KISMA tersebut. “Bener, sungguh terjadi. Inilah salah satu peserta lomba dan menjadi pemenangnya. Saya menjadi juri, dan anak-anak ini sungguh luar biasa. Mereka mendemonstrasikan dengan sangat baik,” ungkapnya kepada NU Online.

Ia menambahkan, peserta yang lainnya juga demikian. Tema penelitian mereka hebat. Bahasa penyampaiannya juga pintar dan percaya diri. Sekolah Ma’arif tidak bisa dientengkan.

“Wakil Bupati Kabupaten Semarang mengagumi karena walau SD tapi udah dilatih menulis dan meneliti,” katanya.

Penelitian ini, kata dia, juga mengenalkan lingkungan sekitar mereka dengan pendekatan kreatif. “Ma’arif Kabupaten Semarang memang sangat dinamis. Lomba ini terselenggara dari bantingan, saweran. Gak bisa bayangkan hal ini bisa dilakukan sekolah negeri,” tambahnya.

Bisa bayangkan betapa banyak yang bisa dipelajari anak-anak ini dengan tampil dan menceritakan penelitian mereka. Tidak heran, sekolah maarif di Kabupaten Semarang hebat-hebat.

Saya pernah mengunjungi salah satu sekolah di Tuntang, sekolah dengan sokongan 10 ribu itu sama dengan sekolah Al-Azhar dengan SPP ratusan ribu.

Kegiatan yang dibuka secara resmi oleh wakil Bupati Kabupaten Semarang Bpk Drs. Warnadi ini bertujuan untuk menyiapkan peserta didik yang kritis, kreatif sehingga mampu menghasilkan sesuatu yang berguna bagi lingkungannya.

Dalam kegiatan ini Ma’arif Kabupaten Semarang mendatangkan 3 juri yaitu ; Abdul Wahab, S.Pd. M.Pd, dari PW Ma’arif Jawa Tengah, Drs. Agus Mujiono, M.Ed dari Balai Diklat Keagamaan Semarang dan Moh Yasir Alimi, M.M, Ph.D, dari Universitas Negeri Semarang. (Moh Yasir Alimi/Abdullah Alawi)


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG