IMG-LOGO
Opini
MERAH JOHANSYAH ISMAIL

Ekologi Pesantren ala Syekh Arsyad Al-Banjari

Sabtu 21 Desember 2013 12:0 WIB
Bagikan:
Ekologi Pesantren ala Syekh Arsyad Al-Banjari

Mendung menggantung di atas langit Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Masih pagi, matahari masih belum di tempat tertingginya, tapi jalan menuju makam terkenal, makam Syekh Arsyad Al-Banjari sudah ramai dikunjungi peziarah.
<>
Mungkin karena hari Sabtu, maka banyak pengunjung dari luar kota -setidaknya itu yang terlihat dari sejumlah plat kendaraan yang beriringan bersama kami menuju makam.

Makam terletak di Desa Kalampaian, sekitar 35 menit berkendara angkot dari pasar Martapura. Menuju makam mesti melewati jalan kecil tidak terlalu lebar, peminta dan pedagang bunga untuk peziarah. Sepanjang jalan juga akan berpapasan dengan perkampungan, kebun limau dan “pehumaan”—sebutan lain bagi hamparan sawah.

Saat hidup, Mohammad Arsyad adalah ulama berpengaruh tak hanya di Kalimantan, namun juga di Asia Tenggara.

Ihya’ul Mawat : Revolusi Agama dan Pangan

Setelah 35 tahun belajar di Makkah dan Madinah, sekembalinya ke Tanah Air di Kalimantan Selatan, Sultan Banjar memberikan lahan yang diubah menjadi pusat pendidikan pesantren. Kini tanah tersebut menjadi kampung yang dikenal sebagai kampung Dalam Pagar. Tak jauh dari dalam pagar, Arsyad bersama-sama warga juga membangun saluran irigasi pertanian yang dikenal sebagai Sungai Tuan.

Konon Sungai Tuan yang kini tumbuh menjadi perkampungan ini dibuat Sang Syekh dengan cara menggoreskan tongkatnya sepanjang 8 kilometer dari hulu ke hilir, karena “karomah” yang melekat padanya, goresan tersebut “maujud” menjadi sungai yang berfungsi sebagai irigasi mengaliri tiap-tiap sawah dan kebun limau warga hingga saat ini.

Sungai Tuan dan Dalam Pagar, saling berdekatan jaraknya, dengan berkendara motor, dapat menyusuri kedua kampung yang saling terhubung satu sama lain ini, lebih mudah.

Inilah konsep “khas” Islam pesantren yang menyatukan kawasan masyarakat dengan kawasan pendidikan Islam. Bukti bahwa ideologi Islam pesantren yang karib dan intim dengan masyarakatnya. Bukti bahwa ulama dan santri adalah anak kandung rakyat, seperti .

Sebagai ulama dan santri yang merupakan anak kandung rakyat Kalimantan, Syekh Mohammad Arsyad Albanjari paham benar tentang problem yang dihadapi sehari-hari oleh rakyatnya. Tak hanya membangun irigasi pertanian, dalam kitab karyanya yang terkenal, “Sabilal Muhtadin” juga memberikan perhatian pada permasalahan ternak dan hasil bumi atau pertanian, bahkan terdapat bab khusus terkait zakat pertanian .

Revolusi agama dan pertanian ini dinamai Syekh Mohammad Arsyad Albanjari dengan gerakan “ihya’ul mawat” , gerakan menghidupkan lahan-lahan yang non-produktif/ lahan terlantar. Kesuksesan gerakan ini melekat, hingga sekarang, kawasan-kawasan ini adalah pemasok utama buah limau di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

Ikatan terhadap Tanah & Air

“Rumah kita adalah sekolah pesantren ini dan santri adalah anak-anak kita ”

---Tuan guru Abdurrasyid, Pendiri Madrasah Wathaniyah, Kandangan, 1931--

“Agama tak bisa ditegakkan di ruang hampa tanpa tanah dan air, karena itulah mencintai agama berarti mencintai tanah dan air, kehilangan tanah berarti kehilangan agama dan sejarah”

---KH Said Aqil Siroj, Ketua PBNU, pada lawatan Bulan Februari 2013 di Samarinda—

Karena mencintai agama (Dalam Pagar) lah, para ulama dan santri Syikh Arsyad Albanjari juga mencintai pertanian mereka (Sungai Tuan). Kehilangan lahan pertanian dan pangan berarti juga kehilangan agama. Begitulah kira-kira jika ingin melukiskan hubungan antara perkampungan pesantren Dalam Pagar dan perkampungan pertanian Sungai Tuan, ibarat dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.

Karena mencintai agama sekaligus mencintai Tanah-Air pula, para ulama dan santri yang dipimpin oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari, mengeluarkan Resolusi Jihad, agar umat Islam dan kekuatan pesantren melawan dan mengusir Belanda lewat peristiwa heroik 10 november 1945 lampau.

Sebagai anak kandung rakyat Kalimantan, Syekh Arsyad paham betul bagaimana medan perjuangan yang ia sedang hadapi. Ia bahkan diberikan julukan “Tuan Haji Besar” oleh Belanda karena pengetahuan dan pengasaannya yang komplit atas hampir semua disiplin ilmu, salah satunya adalah ilmu falak (Astronomi) dan ilmu hidrologi.

Penguasaannya atas astronomi atau ilmu falak terlihat dari salah satu buku karangannya yang berjudul Kitab Ilmu Falak dan prestasinya dalam membetulkan arah kiblat sebuah masjid di Betawi.

Kemudian penguasaannya atas ilmu hidrologi dapat dijumpai dalam karyanya yang terkenal, Sabilal Muhtadin, sebuah kitab fikih yang 40 persen dari isinya membahas secara rinci tentang air dan hidrologi yang tersebar diberbagai bab .

Pengetahuannya atas air dan hidrologi konon pernah diuji oleh belanda, saat ia bersama Syekh Abdusshomad Al-Palembangi ditangkap selama 3 hari, 3 malam oleh Belanda di Batavia, karena gerak gerik yang mencurigakan . Syekh Arsyad terbukti mampu menghitung kedalaman air sungai bahkan air laut. Pengetahuan ini pula yang ia terapkan dalam pembangunan irigasi pertanian sungai tuan.

Sebagai anak Kalimantan, negeri yang dijuluki sebagai negeri seribu sungai, menjadi latar belakang pemikiran “ekologi” Syekh Arsyad Albanjari yang menyebabkan pembahasan dan pengetahuannya mengenai air dan hidrologi sebegitu dalamnya dan menjadi perhatiannya dalam kitab Sabilal Muhtadin.

Karena kecintaannya pada tanah dan air, aktivitas ber”huma” atau bertani memiliki nilai ibadah, ikatan dan perlakuan atas tanah bukan semata fungsi ekonomis guna memenuhi kebutuhan makan dan minum melalui ladang dan sawah, akan tetapi juga fungsi spiritual dan bernilai ibadah.

Tasawuf dan Tantangan Kapitalisme Pertambangan di Kalimantan

Kini 70 persen dari 3,7 Juta luas Provinsi Kalimantan Selatan telah dikapling oleh Pertambangan Batubara, JATAM dan Walhi kalsel mencatat bahwa otonomi daerah membawa dampak buruk, salah satunya adalah obral perizinan tambang oleh pemerintah setingkat kabupaten dan kota akibat dari desentralisasi kewenangan. Kapitalisme dengan bentuk maskapai modal, perusahaan pertambangan kini semakin mudah melakukan negosiasi langsung dengan pemerintah daerah dan masyarakat, Walhi dan JATAM mencatat ada 625 ijin usaha pertambangan  kini dibumi Kalimantan Selatan.    

Masyarakat terbagi dua, yang pro dengan jual-beli tanah oleh perusahaan dan yang kontra jual-beli lahan. Pragmatisme menjalar cepat pada masyarakat, ikatan sosial menipis, konflik lahan atau konflik agraria merebak pada kampung-kampung dengan kawasan perkebunan dan pertambangan, bahkan konflik terjadi antar keluarga sendiri.

Pragmatisme membuat ikatan masyarakat mudah menjual tanah atau lahannya, ikatan atas tanah memudar drastis, hubungan terhadap tanah hanya sebagai hubungan ekonomis, seperti yang disabdakan kapitalisme.

Bumi Kalimantan memang tak bisa dipisahkan dari daya tarik sumber daya alamnya, seperti batubara. Jauh sebelum saat ini, kapitalisme yang bercokol dalam bentuk kolonialisme dan imperialisme VOC – Belanda sudah pernah datang beberapa dekade yang lampau.

Di Kalimantan Selatan, belanda melalui gubernurnya di Kalimantan, Neuwenhuyzen berhasil menjalankan politik adu domba (devide et impera) di Kesultanan Banjar, Mereka berhasil “memprovokasi” Sultan Tamjidullah untuk mendapatkan kekuasaan secara tidak sah dan memberikan konsesi pertambangan batubara pertama dalam sejarah Kalimantan, yaitu pertambangan batubara oranje nassau di pengaron dekat martapura .  

Sejak interaksi pertamanya dengan Belanda di Batavia, Syekh Mohammad Arsyad Albanjari paham benar taktik belanda yang menggunakan “godaan materi dan kekuasaan”, selain karena ia dan sahabat karibnya Abdusshomad al-Palembangi yang memilih melanjutkan dan menambah belajar tasawuf pada mursyid terkenal Syekh Samman Almadani di Madinah, 5 tahun lagi setelah 30 tahun sebelumnya belajar di Kota Mekkah.

Tasawuf-lah yang membuat pandangan ulama Kalimantan ini menjadi anti-kolonial, dalam sebuah catatan, bahkan sahabat Arsyad Albanjari, Abdusshomad Al-Palembangi disebut sebagai yang paling anti-kolonial dengan menulis sebuah tulisan berjudul ; Nashihatul Muslimin wa Tadzkiratul Mukminin fi Fadha’il Jihad wa Karamatul Mujahidin Fisabilillah, sebuah naskah tentang pentingnya jihad melawan kolonialisme asing .

Mereka berdua ini adalah murid langsung dari Syekh Samman al Madani, sumber utama gerakan Tharekat Sammaniyah yang “masyhur” dikenal sebagai tarekat yang menginspirasi berbagai gerakan perlawanan atas kolonialisme Belanda di Nusantara .  

Berkembangnya Tarekat Sammaniyah di Kalimantan Selatan berkaitan dengan 'pengisian mental' pejuang dalam melawan penjajah. Seperti juga yang ditemukan di Banten melalui Nawawi al Bantani yang hidup satu abad sesudah Abdusshomad Al-Palembangi, Nawawi sempat berguru kepada murid-murid Abdusshomad al Palembangi   di Sulawesi Selatan tarekat ini dikenal dengan nama Tharekat Khalwatiyah Salman.

Di Banjar, Kalimantan Selatan, ada dua tokoh yang disebut-sebut bagian dari “jaringan” tarekat ini yaitu Muhammad Nafis AlBanjari dan Syaikh Muhammad Arsyad Albanjari.

Nafis AlBanjari—walaupun tidak langsung berguru dengan Syekh Samman, namun ia mengarang kitab yang sangat berkaitan dengan konsep Sammaniyah, berjudul Ad Durrun Nafis .

Tahun 1998 dulu, Tuan Guru Zaini Abdul Ghani yang biasa dikenal sebagai Guru IJAI menyelenggarakan haulan Syekh Samman yang ke 230 di kampung kelahiran Syekh Arsyad AlBanjari. Haulan dimulai dengan shalat maghrib, maulud, manakib, qasidah, tahlilan dan do'a, saat itu sempat dilantunkan lima kasidah Syekh Samman selama 50 menit di selenggarakan di kompleks pengajian Musholla Ar-Raudhah, Sekumpul, Martapura, Kalimantan Selatan.

Ada sebuah konsep penting yang diajarkan oleh guru-guru pesantren yang ajarannya bersumber dari Syekh Arsyad Albanjari dan dari konsep tasawuf, yaitu ; “Alim dulu hanyar sugih”, “menjadi alim dulu baru menjadi kaya”,--ini adalah konsep meletakkan materi atau capital dibawah pengetahuan agama. Konsep ini relevan saat ini ketika laju “pragmatisme” melalui godaan menjual tanah dan lahan pada kepentingan asing atau Kapitalisme.

Karena kini banyak kawasan pertanian dan pangan yang direbut oleh pertambangan batubara, begitu juga di Kalimantan, menghancurkan lahan pertanian berarti juga menghancurkan “ideologi pesantren” yang sudah lama memilih pertanian sebagai “ideologi ekonominya”.  

MERAH JOHANSYAH ISMAIL, adalah anggota Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumberdaya Alam (FNKSDA) Dan Pengkampanye Nasional Energi, Jaringan Advokasi Tambang (JATAM).





 


 


Bagikan:
Kamis 19 Desember 2013 3:0 WIB
SOBIH ADNAN
Kurikulum Itu Bernama Buya Ja’far
Kurikulum Itu Bernama Buya Ja’far

Riuh tepuk tangan menggema di gedung olah raga yang baru dua kali menjadi tempat perhelatan tahunan ini. Kiai Musthofa Aqil, seperti –entah sengaja atau tidak- menekan saklar bunyi tersebut, menggetarkan ribuan hati yang hadir, dan bagi para alumni,  menenggelamkan pada ingatan masing-masing.
<>
“Jika saja tidak berkat Buya Ja’far, maka pesantren ini tidak akan seperti sekarang,” begitu, Kiai Musthofa, memberi penghargaan kepada kakaknya, Buya KH Ja’far Aqil Siroj.

Buya KH Ja’far Aqil Siroj -selanjutnya, Buya Ja’far-, merupakan nama paling sulung dari kelima putra KH Aqil Siroj, tokoh pendiri Majlis Tarbiyatul Mubtadi-ien (MTM) Pesantren Kempek, Cirebon, Jawa Barat. Secara berurutan, kelima putra tersebut disusul KH Said Aqil Siroj, KH Musthofa Aqil Siroj, KH Ahsin Syifa Aqil Siroj, serta paling akhir, KH Niamillah Aqil Siroj.

Kembali soal tepuk riuh penghargaan pada malam puncak peringatan Haul Almaghfurlah KH Aqil Siroj Ke-24 yang berlangsung hari Sabtu, 14 Desember 2013 yang lalu di Gedung Olah Raga (GOR) KHAS Kempek Cirebon itu, tentu tidak tanpa sebab. Selama 23 tahun, semenjak didaulat menggantikan ayahnya di tahun 1990, Buya Ja’far dikenal sebagai sosok yang gigih, istiqamah, penuh dedikasi dan semangat pengabdian yang tinggi.

Banyak kenangan bersama Buya Ja’far, konon, komentar antar  alumni saat berkesempatan saling sapa di acara haul. Hampir sama, katanya, hari-hari bersama Buya Ja’far adalah hari-hari melatih jantung untuk berdetak keras sejak pagi  buta.

Bangun pagi, tak boleh telat, sudah siap setoran nazam? Atau, akankah namanya disebut untuk giliran membaca keterangan kitab Alfiyah Ibnu Malik yang njlimet itu? Seperti itulah rasanya menghabiskan dua tahun bersama Buya Ja’far, dari kelas Alfiyah Ula dan Alfiyah Tsani di pesantren yang terletak di wilayah Cirebon bagian barat ini.

Buya Ja’far tidak akrab dengan waktu senggang, selain sebagai seorang pengasuh pesantren, dua periode dipercaya sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Cirebon membuat langkah dan nafasnya seolah sama-sama menjadi derap semangat, tak kenal lelah, apalagi putus asa. Pukul 3 pagi, kata seorang putranya, Buya Ja’far sudah bangun untuk sembahyang barang dua rakaat. Subuh pun tiba, memimpin jamaah, mengajari santri kelas sorogan Al-Quran, disambung dengan pengajian Alfiyah Ibnu Malik mulai pukul enam.

Jika matahari sudah sedikit terangkat, usai sarapan, Buya Ja’far langsung berangkat memenuhi undangan masyarakat, atau siapa pun yang membutuhkan kehadirannya. Bukan sekadar urusan-urusan besar, Buya Ja’far tak sungkan menjadi wali nikah bagi siapa pun yang pernah mengaji kepadanya, atau saat  diminta menghadiri acara selametan, tahlil, begitu pun kendurian, di kampung-kampung sekitarnya.

Jelang sore hari, Buya Ja’far kembali ke kediaman, selalu begitu, tepat waktu, terkecuali saat terpaksa berada di luar kota untuk mengikuti agenda-agenda tertentu.

Boleh di bilang, pesantren Kempek Cirebon merupakan pesantren dengan basis pengajaran Al-Quran serta sepasang fan yang dikenal dengan istilah ilmu alat, Nahwu dan Sharaf. Maka di setiap jenjang kelasnya, para santri selalu disajikan pelajaran  dengan bingkai yang serupa. Puncaknya, dua tahun sebelum usai, santri harus bersama Buya Ja’far untuk mengkhatamkan Al-Quran, juga melunasi sebanyak 1002 bait nazam Alfiyah dalam bentuk hafalan.

Boleh dibilang juga, -di mata santri- Buya Ja’far adalah sosok yang galak, terlebih bagi kelas pengajian Alfiyah. Dalam mengaji, pertama-tama, paling tidak Buya Ja’far membacakan 2 sampai 5 nazam perhari, berikut keterangannya, besoknya, 2 sampai 3 nama akan disebut untuk membacakan nazam dan keterangan sesuai dengan apa yang Buya Ja’far berikan sebelumnya.

Yang menarik adalah, Buya Ja’far masih menggunakan kitab yang ia afsahi semasa menempuh pendidikan di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur puluhan tahun lalu, juga, santrinya, tidak diperkenankan untuk menganggap remeh dalam hal mengafsahi makna kitab, harus lengkap, tak boleh asal rujukan, jika hal-hal itu diabaikan, maka bersiaplah untuk menerima hukuman mencabuti rumput di lapangan asrama putri, berdiri 3 jam lebih, atau jika terlampau salah, tangkai kipas bambu mendarat di punggung telapak tangan, setidaknya, dua kali pukulan.

Tak sebatas itu, di mata Buya Ja’far, ilmu, berikut kemanfaatannya tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan ingatan dan daya nalar. Kebersihan adalah utama, hati, badan dan pakaian. Tak jarang, santri yang diketahuinya tak sempat mandi saat mengaji, akan dipaksa keluar dan pulang ke kamar. Maka wajar, jika hari-hari bersama Buya Ja’far dianggap sebagai hari-hari menegangkan, hari-hari melatih jantung untuk berdetak keras sejak pagi  buta.

Lalu apa yang menjadikan alumni Kempek terasa begitu tersekap rindu untuk selalu bertemu Buya Ja’far? Entahlah. Selain banyak hal yang tak bisa diungkapkan, paling tidak, ada beberapa poin yang karenanya bisa dianggap sebagai manfaat;

1.    Buya Ja’far pernah berkata; “Jangan berharap jadi orang sukses jika tidak mau capek dan lelah,”

2.    Mengaji kepada Buya Ja’far berarti menelusuri jalan panjang tentang pengabdian, kedisiplinan, keistiqamahan, dan kebersihan. Sesuatu yang kerap dibutuhkan santri sebagai modal dan tanggung jawab di tengah masyarakat.

3.    Kecintaan terhadap shalawat digambarkan dalam perkataan Buya Ja’far; “Dengan rajin bershalawat kepada Nabi, apapun yang dicita-citakan oleh kita, Insyaallah tercapai. Itulah sebabnya mengapa saya menekankan kepada para santri untuk rajin-rajin bershalawat,” [NU Online, 19/1/2013]

Dan masih banyak lagi yang oleh penulis sendiri layak dianggap sebagai kurikulum Buya Ja’far dalam mendidik dan mencita-citakan santrinya sebagai sosok yang tangguh, tahan banting, pekerja keras, tidak malas, namun tetap santun. []

 

SOBIH ADNAN, pernah nyantri di Pondok Pesantren Kempek, Cirebon. 

Selasa 17 Desember 2013 21:29 WIB
AKHMAD KHUSAIRI
Menjelang 2020, Indonesia Dikepung Nuklir
Menjelang 2020, Indonesia Dikepung Nuklir
Beberapa dekade terakhir, dunia mengalami krisis sumber energi. Sumber energi fosil, seperti minyak bumi dan batubara, yang selama ini menjadi sumber energi utama dunia telah mengalami penurunan cadangan. Di samping itu dampak pemanfaatan sumber energi fosil telah meningkatkan suhu bumi sehingga terjadilah pemanasan global. <>

Pemanasan global memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pelelehan salju abadi di kutub utara dan selatan sehingga meningkatkan  tinggi muka air laut dimana hal ini memberikan dampak pada munculnya berbagai bencana banjir di beberapa negara yang mempunyai permukaan dataran rendah.

Disamping itu isu kerusakan lingkungan dan pemanasan global menjadi kuat ketika berbagai bencana alam terjadi yang diakibatkan oleh adanya perubahan iklim global dimana hal ini berdampak pada industri pertanian yang mengalami gangguan dalam perencanaan/pola tanam komoditas pertanian. Wilayah Filipina beberapa waktu yang lalu diterjang badai Haiyan yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa hingga lebih dari 5.700 jiwa. Hal ini membuktikan bahwa dampak pemanasan global cukup signifikan pada pola iklim dunia.

Terganggunya perencanaan tanam pada dunia pertanian memberikan dampak pada terancamnya pasokan pangan dunia yang dikhawatirkan dapat meningkatkan tingginya tingkat kelaparan pada beberapa negara dengan kemampuan ekonomi lemah.

Pada sektor energi, tekanan isu pemanasan global memberikan implikasi pengambilan keputusan dalam menentukan sumber energi untuk memenuhi kebutuhan energi nasional, khususnya pada beberapa negara berkembang.

Beberapa negara ASEAN telah memutuskan untuk mengurangi prosentase sumber energi fosil dalam bauran energi nasional mereka, sebut saja Malaysia, pada tahun 2010 Malaysia telah memutuskan akan menggunakan energi nuklir, saat ini mereka telah mempunyai calon tapak potensial yang akan digunakan sebagai lokasi PLTN, sebagian besar berada pada Semenanjung Malaysia (lihat gambar).

Sementara itu Indonesia merencanakan akan mengoperasikan sebanyak 4 unit PLTN pada tahun 2024, namun hingga tulisan ini dibuat, keputusan tentang calon lokasi tapak masih belum diputuskan. Sementara itu Korea Selatan merencanakan akan menggunakan nuklir sebagai pembangkit listrik utama meraka hingga 60% pada 2035. Sedangkan Philipina yang mempunyai potensi bencana alam (badai) lebih besar dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya telah memutuskan akan menggunakan nuklir untuk memenuhi pasokan energy mereka sebanyak 5% pada tahun 2030.

Sementara itu Vietnam sejak awal 2000-an lebih serius memikirkan penggunaan energy nuklir dibandingkan dengan beberapa Negara ASEAN lainnya, saat ini Vietnam merencanakan akan membangun 13 unit PLTN selama 2 dekade kedepan. Bahkan hingga tulisan ini dibuat, Vietnam telah menandatangi kontrak pembangunan PLTN dengan ROSATOM, sebuah perusahaan desainer PLTN asal Rusia. Vietnam juga telah menetapkan tapak yang akan digunakan sebagai tapak PLTN (lihat gambar)

Seolah tak ingin kalah dengan negara-negara tetangga lainnya, secara serius Thailand juga telah mempersiapkan calon lokasi tapak PLTN yang akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi nasionalnya. Hingga saat ini Thailand mempunyai 6 calon tapak potensial yang akan digunakan, namun demikian Thailand masih menjajagi teknologi mana yang akan mereka digunakan.

 

Akhmad Khusyairi, M.Eng 

Kontributor Iptek NU Online

 

 

 

 

 

 

Senin 16 Desember 2013 9:35 WIB
FAISOL RAMDHONI*
Menakar Internalisasi Fikrah Nahdliyah di Madura
Menakar Internalisasi Fikrah Nahdliyah di Madura

 

Nahdlatul Ulama (NU) menganut paham Ahlussunah Wal Jama’ah, sebuah pola pikir yang mengambil jalan tengah antara ekstrim aqli (rasionalis) dengan kaum ekstrim naqli (skripturalis). Karena itu untuk mempertegas ke-identitasan-nya maka diputuskanlah sebuang kerangka berpikir bagi kalangan Nahdliyin yang kemudian dikenal dengan sebutan “Fikrah Nahdliyah”.<>

Sesuai keputusan Musyawarah Nasional Alim-Ulama No. 02 (MUNAS/VII/2006 tanggal 30 Juli 2006 di Surabaya mendefinisikan ‘Fikrah Nahdliyah” sebagai: Kerangka berpikir yang didasarkan pada ajaran ahlussunnah wal-jama’ah yang dijadikan landasan berpikir Nahdlatul-Ulama (Khittah Nahdliyah) untuk menentukan arah perjuangan dalam rangka ishlah al-ummah (perbaikan umat).

Definisi tersebut bila dijabarkan secara luas memberikan penjelasan bahwa dasar-dasar faham keagamaan NU bersumber dari Al-Qur’an, Sunnah, Ijma’, Qiyas dan menggunakan jalan pendekatan bermadzhab yang dipelopori ole salah satu dari madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali di bidang fiqih dan NU mengikuti pendirian bahwa Islam adalah agama fitri, bersifat menyempurnakan dan tidak menghapus nilai luhur yang sudah ada. Konskuensi logis dari penggunaan dasar faham keagamaan ini kemudian menuntut pola pikir yang khas bagi NU dalam merespon setiap persoalan, baik yang berkenaan dengan persoalan keagamaan maupun kemasyarakatan.

Dalam definisi fikrah Nahdliyah terdapat 5 (lima) pola pikir yang harus diterapkan NU dalam menyelesaikan persoalan,antara lain: Pertama, Fikrah Tawassuthiyyah (pola pikir moderat), artinya Nahdlatul Ulama senantiasa bersikap tawazun (seimbang) dan Itidal(moderat) dalam menyikapi berbagai persoalan. Nahdlatul Ulama tidak tafrith atau ifrath, Kedua,Fikrah Tasamuhiyyah (pola pikir toleran), artinya Nahdlatul Ulama dapat hidup berdampingan secara damai dengan pihak lain walaupun aqidah, cara pikir, dan budayanya berbeda, Ketiga, Fikrah Ishlahiyyah (pola pikir reformatif), artinya Nahdlatul Ulama senantiasa mengupayakan perbaikan menuju ke arah  yang lebih baik (al-ishlah ila ma huwa al­ ashlah), Keempat, Fikrah Tathowwuriyyah (pola pikir dinamis), artinya Nahdlatul Ulama senantiasa melakukan kontekstualisasi dalam merespon berbagai persoalan serta yang terkahir,Kelima,Fikrah Manhajiyyah (pola pikir metodologis), artinya Nahdlatul Ulama senantiasa menggunakan kerangka berpikir yang mengacu kepada manhaj yang telah ditetapkan oleh Nahdlatul Ulama.

Salah satu bentuk implementatif dari kontekstualisasi diberlakukannya Fikrah Nahdliyah ini terwujud dalam ketegasan NU yang menolak upaya pendirian negara Islam dan pemberlakuan formalisasi syariat Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Hal ini nampak hasil Majelis Bahtsul Masa’il Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Zainul Hasan, Genggong, Probolinggo pada November 2007. Salah satu point penting adalah pembahasan tentang “Khilafah dan Formalisasi Syari’ah”. Forum tersebut memberikan argumentasi bahwa tidak ada dalil/nash al-Qu’ran atau al-Hadist yang mengharuskan pembakuan bentuk khilafah dalam sistem ketatanegaraan Islam, karena keberadaan khilafah adalah bentuk ijtihadiyyah atau interpretasi belaka. Sedangkan upaya penerapan syariat Islam harus dijalankan secara substantif bukan di formalisasikan dalam bentuk peraturan-peraturan formal.

Namun seiring dengan perjalanan waktu membawa Nahdlatul Ulama berinteraksi dengan organisasi­-organisasi lain yang memiliki karakter dan cars berpikir berbeda. Akibatnya, warga NU sendiri banyak yang kehilangan identitas ke-NU-annya. Banyak orang yang secara for­mal mengatasnamakan warga nahdliyin, tetapi cara berpikirnya tidak lagi mencerminkan karakteristik Nadlatul Ulama.

Di sini mulai muncul paradoks; di satu sisi NU (setidaknya) di tingkat pusat selalu menjaga untuk tetap berada dalam pijakan fikrah Nahdliyah namun di sisi lain NU terutama di derah-daerah malah seringkali berada di luar lintasan fikrah tersebut. Beragam aktivitas,keputusan dan pemikiran yang dimunculkan oleh nahdliyin di daerah-daerah cenderung lebih berpihak pada semangat untuk mengusung tema formalisasi syariat Islam. Mereka nampaknya lebih menyukai bahkan lebih merasa nyaman untuk bersetubuh dengan wacana-wacana yang banyak diusung oleh kempok-kelompok islam ektrimis palagi kalo sudah masuk dalam zona demi amar ma’ruf nahi munkar.

Kenyataan ini sebagaimana pernah diungkap oleh K.H Hasyim Muzadi (NU Online, 09/04/2007). Beliau menyatakan bahwa mengembangkan Fikrah Nahdliyah atau pokok-pokok pemikiran ke-NU-an mengalami banyak kendala. Sat ini fikrah nahdliyah sedang berada dalam “kepungan” berbagai macam ideologi dan pemikiran lain.Hal ini disebabkan karena fikrah Nahdliyah yang menjadi ciri khas pemikiran NU kurang disosialisasikan secara massif baik secara tertulis maupun lisan kepada masyarakat nahdliyin akibatnya banyak yang tidak peduli dan tidak tahu tentang NU walaupun mereka lahir dan besar di lingkungan NU.

Rupanya,pernyataan ini ternyata bukan hanya isapan jempol belaka. Di Madura, misalnya, daerah yang dikenal sebagai salah satu basis NU karena mayoritas masyarakatnya merupakan nahdliyin. Bahkan di Madura,NU telah dijadikan sebagai “agama” oleh sebagian besar masyarakat kalangan bawah yang terkenal sangat fanatik. Fenomena menguatnya semangat untuk lebih menyukai wacana-wacana formalisasi syariat Islam begitu mudah didapatkan bahkan cenderung merata hampir di sebagian nahdliyin yang tersebar di empat kabupaten di pulau Madura.

Fenomena penerapan Perda Syariat Islam di Pamekasan menjadi salah satu fakta adanya kesenjangan pemahaman fikrah nahdliyah ini antara NU pusat dengan NU di daerah. Perda yang lahir atas desakan Lembaga Pengkajian dan Penerapan Syariat Islam (LP2SI) yang dibentuk atas dukungan dari sejumlah Organisasi msyarakat (ormas) Islam telah menempatkan NU pamekasan sebagai pendukung utama. Bahkan menjadi garda terdepan yang paling getol dengan membuat pernyataan bersama untuk turut berperan aktif dlam mensosialisasikan program-program LP2SI yang terangkum dalam motto Gerakan Pembangunan Masyarakat Islami (Gerbang Salam).

Kesenjangan dalam memposisikan fikrah Nahdliyah ini juga terjadi di Kabupaten Sampang tatkala meletusnya konflik Sunni-Syiah yang sampai saat ini tak kunjung menemukan penyelesain. Pemaknaan adanya Fikrah Tasamuhiyyah (pola pikir toleran) dalam Fikrah Nahdliyah yang coba dipaparkan oleh PBNU malah kurang memunculkan respon positif dari kiai-kiai NU Sampang baik yang berada di struktural maupun non struktural.

Fenomena yang serupa juga ditemukan di Kabupaten Bangkalan dan Sumenep. Walaupun skalanya tidak se ekstrim seperti yang tejadi di Pamekasan dan Sampang namun gelagat untuk mengarah pada dukungn penerapan Islam formalistik sangat jelas untuk dibaca. Di Bangkalan,PCNU setempat mengusulkan siterbitkannya Perda  agar seluruh peserta didik dan pegawai kantoran, wajib menggunakan busana muslim atau berjilbab. Hal tersebut dinilai sangat penting, guna menjaga norma agama dan sekaligus menegaskan identitas kota santri.Usulan tersebut, dituangkan secara langsung oleh jajaran PCNU, dalam hearing dengan DPRD setempat dan organisasi lain, yang membahas masalah rancangan peraturan daerah (raperda) tentang penyelenggaraan pendidikan, di ruang DPRD Bangkalan(Detik,29 Juli 2009).

Lain lagi dengan gejala yang muncul di Sumenep, Meskipun menuai pro kontra, keinginan DPRD Sumenep untuk menjadikan Sumenep sebagai kawasan bebas buta huruf Al-quran dengan adanya Perda khusus nampak sangat mendapatkan dukungan dari sejumlah aktivis NU. Terbukti Raperda Wajib Baca Tulis Al-Quran saat itu begitu mudah masuk dalam program legislasi daerah. Ditengarai penetapan perda ini akan dilanjutkan dengan penerapan perda syariat Islam di Sumenep.

Membaca semua ini maka patut kiranyalah dilakukan kembali kajian-kajian yang lebih mendalam dan evaluasi yang menyeluruh terhadap proses internalisasi dan implementasi fikrah nahdliyah di tubuh NU terutama di daerah-daerah. Pengutan internl inilah yang juga menjadi tantangan NU masa kini di samping ancaman idiologi transnasional yang mulai tumbuh subur di kantong-kantong NU. sa Penulis yakin apa yang terjadi di Madura juga ditemukan  di daerah-daerah yang lain. Dengan demikian, secara sepihak dan spontan tidak bisa  menyalahkan nahdliyin di daerah akibat ketidakmengertiannya. Karena bisa jadi selama ini PBNU dan elit-elit NU lainnya masih cenderung elitis dalam memaknai dan menerapkan fikrah Nahdliyah.Wallahu alam bis showab.

 

*Ketua PC Lakpesdam NU Sampang

 

 

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG