IMG-LOGO
Opini
DINNO BRASCO

Gus Dur Sang Petarung Kelas Dunia

Rabu 8 Januari 2014 19:0 WIB
Bagikan:
Gus Dur Sang Petarung Kelas Dunia

Jadilah manusia agung
Bagai seorang syahid,
Seorang imam, bangkit, berdiri
Di antara rubah, serigala, tikus, domba
Di antara nol-nol, bagai yang satu

<>Syair intelektual pejuang bernama Ali Syari’ati dalam puisi “Satu yang Diikuti Nol-nol yang Tiada Habis-habisnya”, tak biasanya menjadi senjata untuk membangkitkan kesadaran manusia yang terlelap, bahkan mati jiwanya di alam dunia. Dibangkitkan kembali menjadi sejatinya manusia. Manusia adalah segalanya, manusia selalu menarik untuk dibedah untuk mencari jawab tentang arti kepastian. Pisau filsafat pembentukan manusia, dalam pandangan Syari’ati menyasar bahwa hanya manusia yang dibaptis Tuhan untuk menggerakkan jagat semesta, laksanakan amanah-Nya. Malaikat jauh sebelumnya sudah memprediksi kelakuan manusia, sebagai biang tengkar angkara murka di bumi. Tapi Tuhan sangat tahu yang tidak diketahui barisan malaikat. Karena itu, manusia punya darah juang pengetahuan, daya perang dan iman sejati untuk melaksanakan misi besar menjadi khalifah di bumi, bukan khalifah di syurga. Maka, maha benar deklarasi manusia yang dikaruniai dengan keberanian, strategi perang nafsu, keutamaan, kearifan dan kebijaksanaan di jagat semesta.

Penyair besar Jalaluddin Rumi berkata bahwa amanah dan karunia itu adalah kehendak. Kehendak terbesar manusia yaitu membuktikan dirinya ada, ada untuk menjadi wakil Tuhan di bumi manusia, demikian petuah wali Nusantara bernama Syaikh Siti Jenar. Disanalah awal kisah misteri dosa Nabi Adam as, tragedi dosa yang melahirkan keluarga manusia agung sepanjang sejarah, puncak hamba yang memimpin sebaik-baik umat yakni Nabi Muhammad saw. Manusia terbesar yang diakui kawan dan lawan sampai detik ini, sebagaimana sering disampaikan Karen Armstrong dalam karyanya Muhammad: Prophet for our time. Puncak hamba yang menjadi teladan akhlak mulia dan kepemimpinan Indonesia, sebagaimana dicontohkan Presiden KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Gus Dur berjuang membela kemanusiaan tanpa syarat apapun tak peduli resiko bahaya dan taruhannya. Membela kearifan lokal di seluruh penjuru negeri yang bertransformasi dalam wujud dasar negara Pancasila, Konstitusi UUD 1945 dan NKRI. Gus Dur yang selalu setia terhadap visi kebangsaan yang diperjuangkannya setiap waktu.

GD: Lahir, Berjuang dan Syahid

Kita semua seyogyanya bersaksi, bahwa biografi Gus Dur disimpulkan dengan tiga kata,’ ia lahir, berjuang, dan syahid. Gus Dur masuk geng manusia ideal, sosok khalifah Tuhan yang telah bergerak di jalan puncak penghambaan yang sulit, terjal dengan memikul beban-beban amanah. Sampai ia menuju ke ujung tapal batas dan membentuk diri jadi khalifah serta penggerak amanah Tuhan. Gus Dur bernyawa manusia ‘theomorphis’, manusia yang berjalan dan bergerak dengan berakhlak sebagaimana akhlak Tuhan. Tipologi ‘manusia menuhan’ dengan segala risiko terbesar yang dialami hidupnya dalam perjalanan dari alam menuju Sang Pencipta alam.

Adalah filsuf Jerman, Dilthey yang mengatakan manusia adalah makhluk yang senang bercerita dan membangun hidupnya atas dasar kisah yang diimaninya. Tanpa cerita, hidup kita carut-marut. Dengan cerita dan kisah, kita susun pernak-pernik hidup kita yang berserakan dan centang perenang dalam narasi-narasi besar (grand narratives), yaitu untuk pengorganisasian hidup (Zusammenhang des Lebens), yang dipercayai juga oleh Hannah Arendt, pemikir besar abad kedua puluh. Narasi kisah Nabi Muhammad adalah salah satunya. Kita mendengarkan kisah beliau, menyampaikannya kepada yang lain. Bahkan manusia terkadang rela ‘bertempur’ melawan kekuatan hitam, yang menyampaikan cerita atau kisah yang berbeda tentang sang tokoh yang puja-puji.

Izinkan kami Gus, untuk menulismu, menceritahkan cerita dan kisahmu, titah pengorbananmu, setia demi Islam, Indonesia dan dunia yang lebih baik. Karena dengan jujur kami tak pernah bersentuhan secara langsung dengan Gus Dur, seperti halnya Soekarno kecil tak pernah dapatkan kehangatan kasih sayang langsung dari tokoh besar bernama HOS Cokroaminoto. Tak seperti kader-kadermu dan santrimu yang setiap hari engkau ajarkan kehidupan, ‘5 jurus dewa mabuk’ dan seluk beluk perlawanan serta gemerlap dunia malam para konspirator serta kisah hikmah dari kitab al-Hikam.

Dari geng kader-kader terbaikmu, yang kujadikan ‘shogun’ dalam ‘jalan ronin diriku’. Kami menimba jejak-jejak muliamu, samurai ilmumu, akar-akar kepemimpinanmu, jurus politikmu dan masuk dalam alam pikiranmu, ilhammu, kesetiaan visi geopolitikmu berjuang demi Islam dan Indonesia. Islammu, Islamku, Islam Kita. Indonesia, negeri tercinta kita. Hidupmu engkau abdikan sepanjang sejarah, dengan terang benderang, teguh, berani saat melakukan pembelaan dan pemihakan terhadap orang-orang tertindas dan dilemahkan, antara lain kelompok minoritas dan kaum marjinal: Ahmadiyah, Syiah, etnis Tionghoa, dan orang-orang yang hancur hatinya di setiap waktu subuh menghadapmu.

Apakah sebuah perubahan besar dalam sejarah dunia sosial politik tidak ditentukan oleh kekuatan pribadi, poros individu sebagai agen sejarah? Baik secara teoritis maupun dalam kenyataannya, perubahan besar terdorong oleh agregasi berbagai faktor yang membentuk kekuatan besar untuk memfasilitasi sebuah kejatuhan dan kemunculan geng politik baru yang ditindas dan disingkirkan. Sebagaimana yang dialami NU (Nahdlatul Ulama) yang memang tidak diharapkan oleh kekuatan tertentu di bumi Indonesia. Postulasi bersifat teroritis ini juga berlaku misalnya untuk perubahan politik Indonesia tahun 1980 sampai akhir 2002. Tanpa krisis keuangan pertengahan 1997 yang merembes kepada krisis ekonomi dan akumulasi gelombang massa aksi mahasiswa dan rakyat yang berujung pada krisis kebangsaan sosial politik. Jatuhnya rezim penguasa Orde Baru yang mendominasi pentas politik dan ekonomi negeri ini selama lebih tiga puluh tahun bisa jatuh bagai ‘istana kertas’. Oleh pakar geopolitik, dibuat mudah bahwa keruntuhan rezim Soeharto lebih merupakan permainan hitam (black game) kekuatan-kekuatan ekonomi politik tingkat tinggi, tingkat supra negara-bangsa.


Sudah pasti dalam postulat pengetahuan perubahan sejarah manapun, ada postulasi teroritis bahwa peran strategis politik pribadi-pribadi besar tertentu sebagai agen sejarah yang merubah sejarah. Adalah Thomas Carlyle, ahli sejarah dari Inggris abad ke-19 yang berfatwa “ sejarah, pada dasarnya merupakan sejarah orang-orang hebat” dan Gus Dur adalah sebuah contoh utama. Sejarawan Inggris itu adalah pencinta the great man theory. Hal tersebut sangat kontras dengan kaum materialis, yang mengatakan bahwa perubahan sejarah yaitu teknologi dan distribusi barang dan jasa sebagai sumber perubahan sosial. Bahkan kaum idealis bersabda bahwa ide dan gagasanlah yang mencipta perubahan sosial. Postulat the great man theory membumikan jejak pahlawan sebagai epicentrum dari segala perubahan sejarah dunia.

Kehadiran pahlawan adalah prototype manusia besar yang merubah dan membalik sejarah. “And I said: the great man always acts like a thunder. He storms the skies, while others are waiting to be stormed”, ucap Thomas Carlyle saat menggoreskan postulat teoritis tentang ‘manusia besar’ dalam panggung sejarah manusia. Saya katakan bahwa manusia besar selalu seperti halilintar yang membelah langit, dan manusia yang lain hanya menunggu dia seperti kayu bakar.

Dan sosok Gus Dur adalah sebuah contoh utama di bumi Indonesia. Dari segenap pergerakan pemikiran dan tindakannya dilipat dalam hasrat untuk mendirikan ‘Republik bumi di syurga’. Dengan menjadikan kemanusiaan sebagai tujuan pertama dan utama, maka pemikiran apapun takkan jadi ideologi yang tertutup dan mendebarkan bagi nyawa manusia. Gus Dur adalah katalis perubahan, pengamal cinta kemanusiaan tanpa batas seperti yang diteladaninya dari Nabi Muhammad saw.

Pertarungan Serigala Politik

Masihkah kita semua, melupakan perlakuan rezim Orde Baru yang hegemonik terhadap siapapun yang berani berkata beda dengan penguasa tiran. Sejarah politik Orde Baru, sejak decade 1980-an penuh dengan warna-warni pertempuran negara dengan ‘manusia-manusia hebat’. Pembangkangan sipil terhadap negara, muncul dan menjamur di setiap sudut kota dan desa. Megawati Soekarno Putri dengan PDI dan ‘people powernya’, Gus Dur dengan kekuatan besar NU sebagai pemilik sah negeri ini dan melalui Forum Demokrasinya melakukan protes sosial dari negara yang abai mewujudkan keadilan sosial yang tak tentu arah.

Situasi itu membentuk semangat dan kondisi pikiran Gus Dur untuk melancarkan perang posisi (war of position) untuk bertarung hadapi hegemoni Orde Baru atas nama tunggalnya Pancasila. Melalui Rapat Akbar NU tahun 1991 dan front-front sipil tafsir epistemologi ideologi Pancasila tahun 1984. Sasaran operasinya adalah menolak tunduk pencalonan kembali Soeharto sebagai Presiden pada Pemilu 1992.

Inilah jurus politik Gus Dur yang membuat Republik ini pernah geger, melawan dengan caranya berhadapan dengan penindasan penguasa Orde Baru. Gus Dur, dan NU setia abadi pada ideologi negara bangsa, bukan kepada penguasa. Peran besar Gus Dur melahirkan gelombang kejut dan tekanan besar terhadap negara. Berbaris, menyemai dan mencipta budaya perlawanan elemen massa kota yang terkonsolidir pada pelbagai lembaga swadaya masyarakat (LSM) serta kekuatan rakyat di perkotaan yang digalang dan gerakkan mahasiswa di penjuru negeri. Menjalani target operasi, mengalami penderitaan dan ketidakpastian zaman, Gus Dur mengirimkan semangat dan harapan di setiap sudut jiwa manusia. Penderitaan demi kesetiaan tujuan bersama pengikutnya, yang mengingatkan kita kepada perjuangan Alexander, Yesus, Nabi Muhammad saw, Mao Zedong, Lenin, Castro, dan Nelson Mandela.   

Dalam kamus politik seperti yang kita ketahui, untuk menjadi manusia-manusia hebat sebagai tokoh politik Indonesia menjulang tinggi ke langit, seseorang mesti melalui 7 (tujuh) tangga yaitu laras senjata, bakat, kharisma (silsilah), kemampuan organisasi, manipulasi politik, pengetahuan kuasa dan kapital besar. Ibu Megawati adalah contoh politisi yang mengandalkan karisma ayahnya dan massa pengikut Soekarno. KH. Zainul Arifin, Ali Moertopo, Sarwo Edhie Wibowo, LB Moerdani, Subhan ZE, Akbar Tanjung jadi teladan baik dari jalur kemampuan berorganisasi baik sipil maupun militer. Nah, Gus Dur ini menjulang namanya sebagai tokoh politik, yang menggabungkan dan melewati jurus-jurus kekuasaan yaitu karisma, bakat, pengetahuan dan kekuatan besar NU (Nahdlatul Ulama). Kekuatan kharisma setara dengan charity (kedermawanan) dipandang filsuf politik Max Weber (1864-1920) sebagai kualitas diri, karakter yang memiliki kekuatan supranatural, berasal dari dukungan ilahi sebagai teladan hidup.

Atas dasar inilah Gus Dur diperlakukan sebagai pemimpin politik. Bagaimana mungkin Soeharto yang dipersenjatai laras senjata dan uang besar dari para konspirator, tumbang dengan tersenyum tanpa dendam kepadanya. Gus Dur dalam pandangan pakar strategi militer Joseph Nye berhasil menggabungkan kekuatan lembut (softpower) dan kekuatan berat (hardpower) untuk mendapatkan kekuatan cerdik yang memungkinkannya mengubah jalannya politik serta menciptakan perubahan arah baru Indonesia. Misalnya perubahan militer kembali dalam barak sejarah yang dipeloporinya, keputusan mengangkat Baharuddin Lopa sebagai Jaksa Agung, pemberantasan korupsi Soeharto, memeriksa Akbar Tanjung, Arifin Panigoro dan konglomerat hitam, menaikkan gaji pegawai negeri sipil dan lainnya. Totalitas perjuangan Gus Dur jadi Presiden RI harus dibayar dengan kejatuhannya, seperti pernyataannya bahwa pelengserannya merupakan konspirasi politik dan tindakan yang inkonstitusional.

Tetapi, Gus Dur tidak dendam, tidak punya musuh politik. Soeharto adalah patner politik utamanya, bukan musuh politik yang banyak disalahpahami. Kemanusiaan haruslah di atas segalanya, walaupun resikonya kekuasaan Gus Dur dijatuhkan sekalipun oleh kekuatan hitam. Tanpa pertumpahan darah, tanpa benci dan dendam atas nama kebaikan negeri. Kekuatan spiritual Gus Dur di atas rata-rata pemimpin negeri manapun, sebagaimana contoh perebutan kuasa politik di Mesir, darah dan air mata ditumbangkan demi politik kepentingan semata. Biarlah sejarah yang mencatat, semoga tak ada presiden yang di jatuhkan di tengah jalan seperti yang disampaikan Kapolri Jenderal Sutarman, mantan ajudannya di Istana Negara. Sebuah ‘simphoni hitam’ kehidupan yang mendebarkan, di tengah kekuatan anak negeri yang porak-poranda, bergejolak atas nama dendam dan kebebasan.

Dari semua penulis buku yang memaparkan tentang Gus Dur dan NU, dari Greg Barton sampai Greg Fealy mestinya menulis kembali kualitas kepemimpinan dan visi geopolitiknya terhadap penataan ulang sistem dunia yang tak adil, dikendalikan superpower Amerika Serikat dan gengnya dalam group 5 Eyes (UKUSA). Visi geopolitiknya itulah yang menjadikan Gus Dur harus ditumbangkan oleh para konspirator dunia, pasca menggalang kekuatan dunia yaitu Brazil, dan Venezuela di Amerika Latin, serta menggalang Poros Jakarta, Beijing Cina dan New Delhi India. Kemudian pernyataan politik luar negeri perdananya yaitu mengumumkan rencana pembukaan hubungan dagang dengan Israel. Akar-akar kepemimpinan dan pertarungan geopolitiknya Gus Dur diperoleh dari kuasa pengetahuan dunia, sejarah Nusantara, Wali Songo, Soekarno dan transformasi jurus politik otentiknya sendiri. Sampai detik ini Gus Dur menjadi ‘sejarah hidup’ kekuatan pemain dunia baru yang terkonsolidir dalam BRIC (Brazil, Russia, India and China) sebagai kekuatan ekonomi yang dominan nanti di tahun 2050

Sayang sekali seperti halnya senior Gus Dur yaitu Soekarno yang dijatuhkan, karena tidak disenangi kelas menengah yang nyaman, yang hidup kebanyakan berpesta, berfoya foya dalam gemerlap malam di Amerika Serikat. Kaum muda itu memandang Amerika sebagai ladang dan medan kebebasan, sementara memandang Soekarno adalah anak manis ideologi komunis. Yang sejatinya, Soekarno bukanlah komunis, beliau berhasrat memerdekakan bangsanya 150%. Bahkan visi dan cita-cita geopolitiknya memang edan dan gila yaitu ingin memajukan Indonesia menjadi negara nomor satu di dunia ini. Soekarno jadi ‘target operasi imperialisme dan kolonial baru’. Soekarno dan Gus Dur menyadari itu, risiko bahaya dan perjuangannya menjadi martir, jadi panah sejarah yang hidup sampai saat ini bukan hanya di Republik Indonesia, Gus Dur diberhentikan di tengah jalan. Tapi merka jadi pedoman dan bintang penuntun negara-negara tertindas dunia Asia Afrika dan Amerika Latin, sebagaimana negara Iran yang dikomandoi Ayatullah Ali Khamenei belajar bangkit dari Soekarno dengan Pancasila-nya.

Di sanalah letak kebenaran kepemimpinan Soekarno dan Gus Dur. Keduanya pernah bergerak, yang satu menggalang kekuatan Asia-Afrika, satunya lagi menggalang Amerika Latin. Soekarno menggalang kekuatan New Emerging Forces (NEFO), melempar gagasan non-alignment, Non Blok. Sungguh, Soekarno dan Gus Dur sadar dan tahu benar struktur penguasa dunia, takkan menjadi baik dan damai bumi manusia ini, jika di atasnya hanya bercokol dan berkuasa dua kekuatan apalagi hanya satu kekuatan saja. Manusia Soekarno dan Gus Dur adalah ‘target imperalisme dan kolonial baru’, karenanya, keduanya harus dirobohkan. Propaganda hitam dan opini diproduksi, dikembangkan bangsa-bangsa neo-liberal melalui juru dakwah intelektual tukang dan penjual negara untuk melengserkannya.

Bahkan terlebih ketika Soekarno gelorakan propaganda ‘berdikari’ ke seluruh penjuru negeri, juga ke belahan alam raya ini. Ingat, ingatlah Soekarno slogan yang sangat terkenal, “Nanti… ketika Banteng Indonesia, bersatu dengan Lembu Nandi dari India, Spinx dari Mesir, dan Barongsai dari China, saat itulah imperialisme akan mati!. Visi geopolitik Soekarno itulah yang dimodifikasi oleh Gus Dur, dengan memfatwakan semangat dan harapan sampai ke ujung dunia, spirit berdiri di atas kaki sendiri. Tekad tanpa ketergantungan kepada pihak mana pun dan bersiasat menyiasati angin globalisasi dengan bekal senjata akumulasi pengetahuan (modified capitalism), kecerdasan geopolitik. sebuah wasiat dan petuah dari pendiri bangsa salah satunya Soekarno, Tan Malaka, dan ayahnya KH. Wahid Hasyim. Bagaimana kancil bisa menang menyiasati singa dan serigala yang ganas, menghadapi kekuatan fasisme militer Jepang.

Sang visioner Gus Dur ingin berwasiat kepada kita semua sebagaimana pendahulu Nusantara, Raja Kertanegara yang menolak tunduk kepada imperium Jenghis Khan melalui Kubilai Khan, cucunya dan penjajah negeri selama berabad-abad lamanya di bumi Indonesia. Gus Dur menggelorakan negeri ini bukan bangsa tempe, bangsa kita adalah bangsa yang tak mau kalah, bangsa besar, keagungan, kemenangan, penaklukan, tak kenal takut, bangsa agung, bangsa paling berani dan bangsa paling gila dan edan di dunia. Sebagaimana disaksikan sendiri pelaut Italia, Diogo Do Couto, yang datang ke Nusantara tahun 1526 dalam karyanya yang berjudul Decadas da Asia, “ ……for he will permit no person to stand above him, nor would a javan carry carry any weight or burthen on his head, even if they should threaten him with death”.

Detik ini kita mesti bisa membayangkan, seandainya jika negara-negara besar seperti Indonesia, Cina, India, Mesir, Amerika Latin bersatu padu, mau apa Amerika Serikat dan geng Baratnya? Justru dalam keadaan terpecah, justru dalam keadaan tidak berdikari, neo-kolonialisme sangat merajalela melalui militer, investasi dan aparatus ideologi liberalnya. Lihatlah konflik dan titik merah berkobar di Timur Tengah, situasi tersebut diperparah dengan ketidak-kompakan, kesatuan di antara bangsa Arab sendiri. Negara-negara di luar Indonesia membutuhkan Soekarno, dan petarung sekaliber Gus Dur.  Karenanya, dalam panah semangat dan hasrat untuk menghidupkan kembali visi kebangkitan kesadaran Nusantara saat ini, semangat dan darah juang Gus Dur harus dihidupkan kembali dalam konteks kekinian di tengah prahara globalisasi.

Gus Dur mesti jadi ruh sejarah bangsa ini untuk maju dan bersatu padu di masa kini dan masa depan. Kita semua mesti menoleh dan memilih siapa tokoh penggerak bangsa, maka lihatlah di buku-buku sejarah, Nusantara, biografi dan autobiografi semua tokoh Indonesia. Gus Dur pasti sangat berpengaruh paling besar terhadap Ke-Islam-an dan Ke-Indonesia-an sebagaimana para petinggi negeri menyampaikannya dari mulai Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono, Megawati, Prabowo Subianto, Akbar Tanjung, Jenderal Sutarman dan lainnya. Semoga pemimpin negeri kita Tahun 2014 tak kehilangan bimbingan Gus Dur, yakni 9 (Sembilan) nilai dasar pergerakan Gus Dur yaitu ketauhidan, keadilan, kemanusiaan, kesetaraan, pembebasan, kesederhanaan, persaudaraan, ksatriaan, dan kearifan lokal. Jaring-jaring pemikiran Gus Dur antara lain pribumisasi Islam terpatri pada Islam sebagai etika sosial bagi kemanusiaan.

Dengan visi itu, mengapakah kita tidak datang lagi Di Bawah Bendera Revolusinya Bung Karno dan Visi Kemanusiaan Gus Dur, agar rakyat Indonesia terselamatkan dari kehancuran bangsa, kooptasi kapital asing, banjir bandang globalisasi demi mencapai kedamaian, keadilan sosial, kemajuan martabat negeri tercinta di tengah pergaulan dunia yang dipenuhi para serigala. Di titik pijak inilah Gus Dur bagi PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) dan kaum muda NU adalah warga pergerakan, Gus Dur sebagai paradigma, weltanschauung. Pengetahuan Gus Dur terdiri dari semua ragam warna pemikiran dunia baik Islam, Timur dan Barat. Dari humanisme, marxisme, zarathustra Nietzsche sampai hikmah al Hikam Ibn Atha’illah. Dari nasionalisme, pluralisme, demokrasi, de-ideologi Islam, filsafat, toleransi, kebudayaan, kesetaraan gender sampai jurus-jurus politik tingkat dewa. Langkah Gus Dur merujuk pergerakannya pada buku ilmiah, film, kitab, hikmah tasawuf, kisah tokoh dunia, cerita silat, film dan riang gembira bergumul, bertarung dalam palung sejarah, power struggle.  

Akhirnya, penulis bisa bersaksi bahwa Gus Dur adalah manusia “menuhan”, sang petarung kebaikan, yang hatinya dipenuhi keikhlasan berjuang demi negerinya dan sistem dunia yang lebih baik. Kesadarannya menjulang tinggi ke langit, tetapi amal bakti pertarungan hidupnya demi negeri menggores aktivisme di bumi manusia. Mewujudkan kesadaran sejarah human social life, seperti halnya peristiwa Isra’ Mi’raj Sang Nabi Muhammad SAW. Bergerak menemui Tuhan dan kembali menemui manusia. Gus Dur setia membela martabat kehormatan manusia tanpa pembeda dan pembatas, siapapun, dimanapun dari ujung bumi Sumatera, Papua sampai ujung dunia. Membela yang tertindas dan orang yang hancur hatinya. Kepemimpinan Gus Dur bukanlah kekuasaan yang berasal dari laras senjata, seperti dipandang sah oleh Nicollo Machiavelli, Jenghis Khan, Attila The Hun, Mussolini, Hitler dan Mao Zedong. Tapi bisa dari banyak cara, yakni pemilihan, demokrasi, musyawarah, kebaikan dan keikhlasan berjuang, mengabdi untuk negeri. Gus Dur sudah pernah memulai ‘pertarungan’ melawan blok sejarah yang tak adil. Akankah kita lanjutkan semangat dan visi abadinya sebagai petarung besar sampai ke ujung dunia? Membentuk cerita dan kisah Indonesia yang bagus dan lembut untuk dirapalkan oleh generasi muda pasca Gus Dur.

Jejak-jejakmu merahimi kebangkitan”, adalah mantra dan do’a yang dirapalkan dalam lukisan hidup yang dilukis dan dirupakan sebagaimana jejak tradisi perjuangan leluhurmu. Ada ruh Hadrussyaikh Sang Kiai Hasyim Asy’ari dan ayah-ibumu yang mulia. Berjuang tanpa henti demi setia kepada Islam dan Indonesia, rela mati demi kebaikan negeri. Di belakang lukisan leluhurmu, ada warisan jejak darah dan air mata rakyat Indonesia yang berjuang demi Tanah Air. Kami pernah menghadap dengan benar, bersujud di ruang pribadimu dan terharu di atas sajadah sembahyangmu di markas besar PBNU. Merapalkan kembali mantra itu di kedalaman jiwa, demi kebaikan bangsa.

Pendamlah dirimu dalam bumi kekosongan, Gus. Selamat “bersatu” bersama Tuhan dan tertawa bareng Ibn Atha’illah ya, Gus. Gitu aja kok repot!

Jakarta, 06 Januari 2014

DINNO BRASCO, Ketua Pengurus Besar PB PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia)
Periode 2011-2014

Bagikan:
Senin 6 Januari 2014 19:0 WIB
ZIA UL HAQ
Gus Dur Santai Gus Dur Serius
Gus Dur Santai Gus Dur Serius

Setiap Desember, haul Gus Dur digelar dimana-mana. Bukan hanya oleh pihak keluarga, tetapi juga masyarakat luas, para perindunya. Sebagai bentuk pelestarian terhadap pandangan Gus Dur, refleksi terhadap permasalahan kontemporer, atau sekedar mengenang sang guru bangsa bertepatan dengan bulan kewafatan beliau.
<>
Beberapa waktu lalu, di pendopo LKiS Sorowajan, saya sempat menyaksikan betapa guyubnya GUSDURian dari berbagai daerah berdiskusi untuk membahas nilai-nilai dasar Gus Dur yang wajib dilestarikan. Dalam musyawarah yang berlangsung sejak pagi hingga petang itu ditelurkan sembilan nilai dasar Gus Dur. Yakni ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, pembebasan, kesederhanaan, persaudaraan, keksatriaan, dan kearifan lokal. Saya heran, semua nilai itu beraroma serius dan tegang. Tidak ada nilai yang mengekspresikan sosok Gus Dur yang paling nampak di mata dunia, disebar kemana-mana, yakni kesantaian dan kelucuan.

Entah sudah berapa ratus kali lelucon-lelucon Gus Dur diterbitkan. Entah sudah berapa ribu kali kalimat ampuhnya, “Gitu aja kok repot!”, dikutip orang-orang. Rasanya, sosok sekaliber Gus Dur tidak menampakkan kesantaian secara vulgar tanpa tujuan. Mulai dari guyonan-guyonan yang ia lontarkan hingga tingkah yang begitu rileks ketika keluar dari istana saat dilengserkan.

Andai saja ada kajian tentang guyonan mantan presiden yang kiai ini, pasti ditemukan harta karun yang berharga: ilmu. Agama adalah salah satu tema dari sekian banyak bidang yang dibungkus dalam wadah lelucon oleh Gus Dur. Di tengah menegangnya hubungan antar pemeluk agama, keyakinan, dan pemahaman akhir-akhir ini, alangkah sejuk bila sikap santai Gus Dur disemarakkan kembali oleh penerusnya.

Momen Natal, tahun baru, hingga Maulid Nabi menjadi komoditas perdebatan yang laku keras saat ini. Terutama bagi umat Islam. Seakan-akan semua itu adalah hal baru yang muncul satu dua tahun lalu. Klaim kebenaran menjadi hal yang lumrah, caci maki dan cap pengkafiran pun ramai diteriakkan. Bahkan belakangan, dalil-dalil teologis diseret dan diperkosa untuk melampiaskan nafsu politik dalam perebutan suara di ibu kota. Semua pihak terjebak dalam sikap berlebih-lebihan, baik yang pro maupun kontra. Urat syaraf menegang dan senyum pun menjadi barang langka. Kalaupun ada, sekadar basa-basi belaka.

Pendekatan guyon ala Gus Dur tidak hanya memantik senyum, tetapi juga menumbuhkan keakraban yang sulit dibentuk dengan formalitas. Setidaknya tiga potong lelucon Gus Dur berikut ini bisa menggambarkan betapa santainya beliau menyikapi perbedaan keyakinan dan pemahaman keagamaan. Suatu sikap yang bijak dan segar sebagai bentuk kedewasaan beragama. Bukan untuk menyepelekan apalagi melecehkan.

***

Kisah pertama tentang para pemuka agama. Seorang pandita Hindu, seorang pastor Katolik, dan seorang kiai Islam, memperdebatkan tentang siapa di antara mereka yang paling dekat dengan Tuhan.

“Kami!” ujar pandita Hindu, “Kami memanggil Dia ‘Om’, seperti kami menyebut paman kami,” katanya sambil merapatkan kedua tangan di dada, “Om, shanti, shanti, Om..”

“Kalau begitu, kamilah yang jelas lebih dekat kepada Tuhan!” ujar pendeta Katolik, “Kami memanggil Dia ‘Bapa’. Bapa kami yang ada di Surga.”

Kiai terdiam. Ia merenung. Pandita dan pastor menunggu tanggapan.

“Kami? Hmm.. Boro-boro dekat, memanggil Dia saja musti pakai menara, pakai teriak-teriak pula,” sahut sang kiai, santai.

Guyon kedua, Kiai Said Aqil Siroj berkisah, saat internet baru marak di Indonesia, seseorang bertanya kepada Gus Dur mengenai keabsahan menikah melalui internet. Mendapat pertanyaan begitu, dengan ringan Gus Dur menjawab,

“Akad nikah lewat internet itu sah,” katanya, “Tapi kelonane juga harus lewat internet.”

Satu lagi. Setiap Selasa, sebagaimana dikisahkan Mahfud MD, Gus Dur dan para menteri kerap sarapan bersama di kediaman Wakil Presiden Megawati. Gus Dur bercerita tentang perbedaan kisah Nabi Ibrahim yang akan menyembelih anaknya. Dalam versi Islam, anak Ibrahim yang akan dikorbankan adalah Ismail sementara menurut agama Yahudi adalah Ishak. Suatu ketika, Gus Dur ditanya versi mana yang benar.

"Dua-duanya, baik Ismail maupun Ishak, tidak jadi disembelih,” jawabnya, “Jadi buat apa diributkan?"

***

Tiga potong lelucon Gus Dur di atas bukan tanpa makna. Ia sarat pelajaran, tak sekadar pengembang ujung bibir pengundang tawa. Tapi saya tidak perlu menjabarkan apa saja pelajaran itu. Mungkin Anda akan tersinggung dengan guyonan agama di atas, kecuali jika Anda memiliki kerendahhatian atau selera humor yang tinggi.

Akhirnya, meskipun Bulan Gus Dur telah usai, saya yakin tirakat rileks dalam keseriusan akan tetap langgeng diamalkan perindunya pada bulan-bulan ke depan. Apalagi, nampaknya, atmosfer nasional tahun baru ini akan lebih ‘panas’ dari tahun yang lama.


Krapyak, 30 Desember 2013

Senin 6 Januari 2014 17:1 WIB
SYAIFUL ARIF*
Teologi Kebangsaan Gus Dur
Teologi Kebangsaan Gus Dur

Telah empat tahun, sejak 30 Desember 2009, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) meninggalkan kita. Namun warisan pemikiran dan perjuangannya tetap menerangi gerak hidup bangsa ini. Warisan tersebut memiliki keabadian, khususnya ketika negeri ini semakin terpuruk dalam perilaku hidup nan koruptif.
<>
Bahkan sejak 1987, Gus Dur telah merumuskan “nilai keindonesiaan” yang unik dan mendasar. Menurutnya, “nilai yang paling Indonesia” ialah pencarian tak berkesudahan akan perubahan sosial tanpa memutus sama sekali ikatan dengan masa lalu. Artinya, keindonesiaan selalu bersifat praksis: perubahan sosial menuju kehidupan sosial manusiawi (human social life). Namun asa akan perubahan itu tak harus mencerabut bangsa ini dari akar kulturalnya sendiri.

Senyata, pengagum buku Etika Nikomacheia karya Aristoteles ini kemudian mempraktikkan perubahan sosial berdasarkan nilai kultural yang paling ia cintai: Islam. Oleh karenanya, tulisan ini akan mengajak kita menilik warisan Gus Dur paling berharga, yakni dasar-dasar keislaman bagi pandangan kebangsaan yang relevan hingga hari ini.

Etika Sosial

Dalam mendekati hubungan antara Islam dan bangsa, Gus Dur bersifat fungsional. Artinya, pertama, ia mendekati Islam berdasarkan fungsi agama ini sebagai pandangan hidup yang menebarkan kesejahteraan bagi semesta (rahmatan lil ‘alamin). Menarik karena Gus Dur tidak memaknai kata rahmat sebagai kasih, melainkan kesejahteraan. Bagi Gus Dur, kasih mungkin bersifat abstrak. Sementara Islam adalah agama hukum yang memiliki kadar politik. Maka yang dipilih adalah kesejahteraan yang meniscayakan pemerintahan demokratis yang mampu mensejahterakan.

Gus Dur menempatkan Islam sebagai “agama kesejahteraan”, karena ia memahami Islam sebagai etika sosial. Dalam terang etis ini, kesempurnaan iman baru tercapai ketika seorang muslim memiliki kepedulian atas kaum miskin, selayak titah al-Baqarah:177. Kepedulian ini lahir dari pemuliaan Islam atas martabat manusia (QS 2:32), sehingga tujuan utama dari syariat Islam (maqashid al-syari’ah) sendiri adalah perlindungan terhadap hak-hak dasar manusia (al-kulliyat al-khamsah).

Kedua, fungsi negara sebagai alat bagi tujuan Islam. Ketika fungsi dan tujuan Islam adalah kesejahteraan rakyat (al-mashalih al-ra'iyah), maka negara menjadi alat untuk mencapai tujuan tersebut. Oleh karenanya, Gus Dur menggunakan kaidah al-ghayah wa al-wasail (tujuan dan cara pencapaian). Jika sebuah negara (NKRI) bisa menjadi alat bagi tujuan Islam; bentuk dari negara itu tidak lagi penting. Apalagi jika di dalam dasar negara tersebut (Pancasila), termuat cita keadilan sosial yang sama dengan Islam.  

Dengan demikian, Gus Dur bukan seorang sekularis, sebab meskipu mengritik teo-demokrasi al-Maududi misalnya, ia juga tak sepakat dengan sekularisme Ali Abdur Raziq. Kritik atas teo-demokrasi dan segenap ideal negara Islam terletak pada keterjebakan konsep tersebut di dalam hukum. Sebab negara hanya didekati dari sudut pandang formalisme hukum tanpa terkait dengan kualitas demokratis dari sistem politiknya. Sementara itu sekularisasi terkritik, karena ia telah melucuti sisi normatif Islam dan hanya menempatkan agama ini sebagai landasan filosofis dari negara.

Menurut Gus Dur, Indonesia telah melampaui dikotomi integrasi (negara-agama) dan separasi (negara tanpa agama) di atas, karena dua hal. Pertama, partikel hukum Islam telah dilembagakan di dalam hukum nasional. Melalui pengesahan pemerintan RI sebagai pemimpin darurat yang memiliki kewenenangan (waliy al-amri al-dlaruri bi al-syaukah), segenap syariat Islam sah diterapkan di negeri ini. Formalisasi syariat ini telah menghindarkan NKRI dari sekularisasi.

Kedua, ditegakkannya Islam sebagai etika sosial yang membentuk keadaban publik demi keadaban negara. Dalam rangka peran etis ini, Islam menubuh dalam struktur politik Indonesia melalui dua strategi. Pertama, penegakan etika politik melalui Pancasila. Artinya, Islam menjadi landasan etis bagi dasar negara. Ini yang Gus Dur maksud, "Pancasila adalah bangunan rumah, Islam menjadi aturan rumah tangga". Hal ini rasional sebab semua sila Pancasila bersifat Islami, dan lebib jauh, agama ini bisa menyempurnakan pandangan-dunia Pancasila melalui visi politik Islam yang lebih komprehensif.

Strategi kedua melalui gerakan sipil Islam (civil Islam). Artinya, politik Islam bermain di luar negara untuk mengimbangi negara. Dengan demikian, etika sosial Islam akhirnya menjelma etika publik yang digerakkan oleh gerakan Islam. Penempatan Islam sebagai gerakan sipil yang mengimbangi otoriterisme negara inilah yang membuat Islam Indonesia menjadi primadona bagi dunia Barat. Pada dekade 1990, puluhan Indonesianis melakukan pertaubatan metodologis akibat kemampuan Islam tradisional menjadi oposisi demokratik di Indonesia. Mitsuo Nakamura misalnya, menyebut Nahdlatul Ulama (NU) era Gus Dur sebagai "tradisionalisme radikal". Artinya berdasarkan tradisi, NU telah menggerakkan radikalisme politik. Kemampuan Islam memperjuangkan oposisi demokratik, tak lepas dari peran Gus Dur dalam mentransformasikan Islam sebagai etika sosial.

Dari sini bisa dipahami bahwa Gus Dur telah memperjuangkan politik Islam melalui demokrasi. Dan karena definisi demokrasinya adalah demokratisasi politik menuju struktur masyarakat berkeadilan. Maka perjuangan demokrasi Gus Dur tak terhenti pada proseduralisme politik (pemilu) melainkan demokratisasi (otoriterisme) negara demi keadilan sosial bagi rakyat yang papa. Visi ini secara substantif Islami, sebab Gus Dur memahami Islam sebagai "agama demokratik" karena memuat nilai syura (musyawarah), 'adalah (keadilan) dan musawah (persamaan).

Reorientasi Politik

Dari uraian di atas terpahami bahwa Gus Dur mengembangkan suatu nasionalisme Islam yang praksis. Artinya, ia tak hanya terhenti pada ketegangan teologis antara Islam dan negara, melainkan mempraksiskannya dalam perjuangan demokratik. Hal ini terjadi karena bagi Gus Dur, negara adalah alat bagi kesejahteraan rakyat. Strategi untuk mewujudkan hal itu adalah demokrasi. Pada titik ini posisi Islam sangat vital sebab menyediakan landasan etik bagi pembentukan struktur masyarakat yang adil.

Bercermin dari warisan berharga ini, umat Islam perlu melakukan reorientasi politik Islam. Dari orientasi formalis-simbolik, menuju perjuangan substantif-etis dengan menempatkan "keadilan politik" sebagai tujuan dari perjuangan Islam. Reorientasi ini akan menyelamatkan gerakan Islam dari peran tak strategis: menolak atau melegitimasi keadaan. Gus Dur telah membuktikan bahwa Islam memiliki ideal politik yang bisa diperjuangkan melalui keadaban demokratik. Ketidakmampuan atas hal ini akan mengukuhkan irrelevansi Islam dan menempatkan agama ini di pinggiran sejarah bangsanya sendiri.

* Pengajar Mata Kuliah “Pemikiran Gus Dur” di Pascasarjana STAINU Jakarta

Ahad 5 Januari 2014 19:0 WIB
ANA SABHANA AZMY
Gus Dur, Keadilan Gender, dan Buruh Migran
Gus Dur, Keadilan Gender, dan Buruh Migran

Ketika menyebut nama KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang tercipta di benak saya adalah cendekiawan Muslim sangat arif, bijaksana, humoris, dan juga toleran. Siapa tak kenal dia? Mantan Presiden Indonesia keempat ini begitu dikagumi, sekaligus dihujat karena berbagai pemikiran menuai pro dan kontra di masyarakat.
<>
“Perjumpaan” saya dengan Gus Dur pun terbilang sangat singkat, yaitu sejak tahun 2009, ketika saya menimba ilmu politik di kampus Universitas Indonesia. Meski belum berkesempatan untuk berdialog langsung dengan beliau hingga akhir hayatnya, namun pemikiran-pemikiran-nya tentang perlindungan buruh migran Indonesia, yang menjadi konsentrasi saya dalam ranah ilmu politik, amat saya kagumi.

Gender dan Politik

Berbicara tentang gender, maka berbicara pula tentang keadilan. Karenanya, seringkali kita mendengar kata “adil gender”. Gender, sebagaimana yang disebutkan oleh Judith Squires dalam bukunya Gender in Political Theory, mengurai bahwa ketika kita menyebut gender, maka identik dengan suatu bentuk secara kultur/budaya yang mendefinisikan sebuah karakteristik yang dikonstruksi secara sosial, kemudian dialamatkan pada salah satu pihak, dan dalam hal ini adalah perempuan.

Akhirnya, kita akan mendengar penamaan feminine dan maskulin. Feminine merujuk pada perempuan, bahwa perempuan itu lembut, lemah, berkutat pada ranah domestik, sensitif dan sebagainya. Sedangkan maskulin merujuk pada laki-laki, bahwa mereka tangguh, kuat, berkutat pada ranah publik, dan tidak sensitif. Pada akhirnya, secara umum kita akan mengenal kata gender sebagai pembedaan peran, fungsi, tanggung jawab dan hal lainnya antara perempuan dan laki-laki dalam masyarakat yang dikonstruksi secara sosial, budaya atau penafsiran nilai agama yang salah.

Kehadiran konstruksi sosial, budaya dan bahkan penafsiran nilai agama yang salah  tersebut, menyebabkan kurangnya kehadiran perempuan dalam konteks pembangunan sosial. Ini pula yang disadari oleh Gus Dur, dengan berpikir bagaimana Negara menempatkan perempuan dalam pembangunan. Meminjam tulisan yang diurai dalam sebuah artikel di situs Fahmina pada bahasan “Gus Dur Sang Presiden Feminis”, bahwa Gus Dur kemudian mengubah Menteri Urusan Peranan Wanita, menjadi Menteri Urusan Pemberdayaan Perempuan.

Bagi saya, sikap Gus Dur tersebut merefleksikan pemikiran dan keberpihakannya terhadap kondisi perempuan Indonesia, yang terkena budaya patriarkhi dan menempatkan perempuan sebagai warga Negara kelas kedua/second sex. Pemikiran beliau tentang adil gender, juga diaplikasikan pada sejumlah produk kebijakan ketika Gus Dur menjabat sebagai Presiden Indonesia periode 1999-2001. Ia memperkenalkan kata gender dalam GBHN 1999-2004, dijabarkan dalam UU No.25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas) tahun 2000-2004. UU  tersebut juga sebagai salah satu upaya merespon Konferensi Beijing.

Tidak hanya itu, pada tahun 2000, Gus Dur juga menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) No.9 tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender (PuG/Gender Mainstreaming). Dimana Inpres tersebut menjadi cikal bakal masuknya nafas kesetaraan dan keadilan gender dalam tiap kebijakan dan program pembangunan nasional yang ada di Indonesia. Pada masa beliau menjabat, program KB juga tidak hanya diarahkan kepada perempuan, tetapi mulai diarahkan juga pada laki-laki. Hal ini menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan adalah “mitra sejajar”, dapat saling bermusyawarah dan tidak mensubordinat antara satu dengan lainnya.

Membela Buruh Migran Indonesia

Pemikiran dan gagasan Gus Dur terhadap konsep adil gender, rupanya beliau terapkan juga dalam bidang migrasi ketenagakerjaan. Menyadari bahwa banyak sekali warga Negara Indonesia yang bekerja di luar negeri demi mencari penghidupan yang layak, menjadikan Gus Dur sangat memahami perlindungan yang wajib di dapatkan oleh TKI/TKW Indonesia.

Ketika beliau menjabat, arus migrasi meningkat tajam, khususnya jumlah buruh migran perempuan Indonesia. Berdasarkan data Kemnakertrans RI 2011, saat itu terdapat 302.791 buruh perempuan dan 124.828 buruh laki-laki (1999), 297.273 buruh perempuan dan 137.949 buruh laki-laki (2000) dan 239.942 buruh perempuan dan 55.206 buruh laki-laki (2001).

Hal ini sungguh menghadirkan dilema, karena pada satu sisi membuat perempuan mampu meningkatkan taraf hidupnya, namun di sisi lain kekerasan terjadi pada buruh migran perempuan yang mayoritas bekerja di sektor domestik. Tentu kita masih ingat kasus kekerasan terhadap Nirmala Bonat (2004), Ceriyati (2007), Winfaidah, Siti Hajar (2009), Sumiati, Ruyati dan Wilfrida Soik, di mana mereka bekerja sebagai Pekerja Rumah Tangga (PRT) di Negara tujuan pengiriman terbesar, yaitu Malaysia dan Arab Saudi.

Menghadapi kekerasan yang banyak terjadi, maka Gus Dur saat itu mengupayakan langkah soft diplomacy dan berbicara dengan Raja Arab Saudi untuk sama-sama berkomitmen melindungi dan juga memberikan ampunan pada buruh migran Indonesia yang terkena ancaman hukuman mati.

Tidak hanya itu, tercatat bahwa selama periode kepemimpinannya, ia mempertegas komitmen Kementerian Luar Negeri untuk memberi perlindungan yang optimal, dengan dikeluarkannya Keppres No.109 tahun 2001, yang melahirkan terbentuknya Direktorat baru di Kemlu, yaitu Direktorat Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia (BHI).

Hingga kini, Direktorat ini menjadi satu-satunya Direktorat yang mempunyai peranan penting dalam tubuh Kemlu, guna mengupayakan perlindungan terhadap TKI/TKW, selain KBRI di Negara setempat. Juga, menjadi Direktorat yang menjalin kerjasama dengan sejumlah LSM yang memperjuangkan perlindungan buruh migran Indonesia, seperti Migrant CARE.

Bahkan, atas segala dedikasinya dalam memperjuangkan perlindungan terhadap buruh migran Indonesia, LSM Migrant CARE pun “memanggil” beliau sebagai Presiden Buruh Migran Indonesia. LSM ini mencatat bahwa pada tahun 1999, Gus Dur melakukan diplomasi untuk menyelamatkan Zaenab dari hukuman mati. Tahun 2005, Gus Dur menampung 81 orang buruh migran Indonesia (BMI/TKI) di asrama Pesantren Ciganjur dan melakukan upaya penyelesaian kasus buruh migran ilegal tersebut dengan mendatangi Perdana Mentri Malaysia Datuk Seri Najib Tun Razak.

“Perjumpaan” saya yang singkat tersebut dengan Gus Dur, membuat saya memahami betapa pemikiran Gus Dur melangkah jauh ke depan. Ia berpikir di luar kebiasaan, di saat tidak banyak orang terpikir untuk melakukan langkah-langkah yang bisa ditempuh, khususnya dalam hal kepemimpinan.

Sungguh, saya sangat mengagumi pemikiran beliau tentang keberadaan dan partisipasi perempuan, yang sejatinya harus menjadi mitra sejajar bagi laki-laki dalam dunia publik, bukan sekedar “pelengkap”.

Ada tiga hal konkret yang beliau lakukan dalam kaitan memberikan perlindungan dalam bidang ketenagakerjaan. Pertama, mendirikan SBSI (Serikat Buruh Seluruh Indonesia), serikat independen era ORBA, sebagai langkahnya dalam pembelaan terhadap aktifis buruh. Kedua, beliau mencabut UU No.25 Tahun 1997 tentang Ketenagakerjaan yang eksploitatif, anti serikat dan tidak ada proteksi terhadap tenaga kerja Indonesia. Ketiga, Gus Dur juga membuat Peraturan Menteri Tenaga Kerja No.150 Tahun 2000 tentang pesangon untuk antisipasi dampak pemberhentian kerja pada buruh.

Ketiganya adalah bukti keberpihakan beliau pada perlindungan bidang ketenagakerjaan di Indonesia. Bukti, bahwa semua warga Negara Indonesia berhak mendapatkan perlakuan yang sama, tanpa tindakan diskriminatif. Semoga kita semua dapat mencontoh dan meneruskan perjuangan Gus Dur dalam segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Lahu Al-Fatihah.

ANA SABHANA AZMY, Ketua IV Bidang Hubungan Luar Negeri Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama periode 2012-2015.

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG