IMG-LOGO
Internasional

Trik Desainer Indonesia Tembus Pasar Timur Tengah

Jumat 17 Januari 2014 1:16 WIB
Bagikan:
Trik Desainer Indonesia Tembus Pasar Timur Tengah

Jakarta, NU Online
Desainer busana muslim Dian Pelangi mengungkapkan triknya dalam mencuri perhatian pasar Timur Tengah dalam perhelatan Haute Arabia High Tea 2014 di London, Inggris, 17 Januari mendatang.
<>
"Saya sebelumnya pernah ke Timur Tengah dan cukup merangkum apa yang disenangi oleh fashionista di sana dari apa yang mereka pakai. Yang saya perhatikan mereka tidak suka warna terlalu mencolok, namun tetap suka dengan detail busana bling-bling (bersinar)," kata Dian pada konferensi pers "Dian Pelangi, From Indonesia to the World" di Gedung Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kamis.

Dian terpilih sebagai desainer Indonesia yang akan menghadiri acara itu untuk menampilkan karya 12 perancang busana muslim dari seluruh dunia.

Dian akan menampilkan 15 koleksi busana ala kerajaan-kerajaan Indonesia yang dipersiapkannya selama dua bulan dan telah dimodifikasi menjadi busana muslim modern.

"Acara di London nanti sangat penting, karena di sana memang selalu menjadi tempat berkumpulnya kalangan jetset Timur Tengah. Masyarakat Timur Tengah akan tertarik membeli produk yang sudah ada di London," kata Dian. 

Untuk mencuri perhatian pecinta fesyen Timur Tengah di London nanti, Dian mengaku mengkombinasikan busana muslim khas Indonesia karyanya dengan memperhatikan kebutuhan masyarakat Timur Tengah. 

"Pemilihan warna yang biasanya saya buat mencolok, kali ini saya redam misalnya dengan menggunakan merah marun, atau hijau yang tidak terlalu shocking, namun tetap dengan detail yang bling-bling, karena mereka suka nuansa glamour dan mewah," kata Dian. 

Bahan busana murni bahan lokal dengan kualitas nomor wahid, seperti tenun songket yang dibanderol Rp10 juta untuk bahan dasarnya saja. Setiap busana buatan Dian akan memiliki detail jahitan tangan menggunakan benang emas. 

"Songketnya saya tenun ulang sehingga bahannya lemas dan menggunakan pewarna khusus supaya tidak luntur ketika dicuci, ini salah satu kuncinya. Kira-kira kalau sudah jadi bajunya bisa berkisar Rp25 juta hingga Rp35 juta untuk harga lokal," demikian Dian. (antara/mukafi niam)  

Bagikan:
Jumat 17 Januari 2014 22:0 WIB
Mahasiswa Indonesia Bershalawat di China
Mahasiswa Indonesia Bershalawat di China

Nanchang, NU Online
“Ya Nabi salaam alaika… Ya Rasul salaam alaika…,” kalimat tersebut. Mungkin terdengar biasa dari mushala-mushala di Indonesia. Tapi kali ini terdengar dari gedung asrama mahasiswa internasional Nanchang University.
<>
Kalimat tersebut didendangkan puluhan mahasiswa Indonesia yang sedang studi di China dalam memperingati kelahiran Rasulullah SAW. Setiap malam puluhan anggota Asosiasi Mahasiswa Islam Indonesia Nanchang (AMIIN) tersebut, selama 12 hari membaca shalawat barzanji.

Kegiatan tersebut dilakukan bergiliran di asrama anggota yang berbeda-beda. Tujuannya, selain mengumandangkan shalawat, juga mempererat tali silaturahim para anggota.

Organisasi yang baru dibentuk menjelang awal Januari tersebut beranggotakan mahasiswa berasal dari Jawa Tengah, Makassar dan Aceh yang sedang belajar di Nanchang University, Kota Nanchang, Provinsi Jiangxi.

Sebagian dari mereka adalah alumnus beberapa pondok pesantren di daerahnya masing-masing. Saat ini mereka mendapatkan beasiswa belajar S2 diantaranya jurusan IT, Matematika, Jurnalistik dan sebagian pendidikan bahasa Mandarin dari pemerintah China.

“Alhamdulillah, selama 12 hari kami laksanakan di tengah ujian akhir semester berlangsung dan puncak musim dingin. Tapi tidak membuat teman-teman kendur semangatnya. Malah banyak teman-teman rasakan semakin tenang dalam menjalankan aktivitas keseharian selama di sini,” ujar Nurwidiyanto selaku koordinator AMIIN.

Setiap malam, selama satu jam kumandang shalawat mereka baca. Pada malam ke-12 atau Selasa (14/1) digelar khataman maulid. Lalu diskusi meneladani Rasulullah bersama Boihaki dari Aceh, Khoirudin dan Nurwidiyanto yang sama-sama dari Kendal Jawa Tengah.

Diskusi tersebut ditutup dengan makan malam bersama dan saling bertukar makanan yang dimasak sendiri.

Chalik, mahasiswa asal Makassar yang kebetulan baru satu semester tinggal di Nanchang mengatakan sangat berbahagia bisai kut acara tersebut. Menurut dia, selain bisa menambah kecintaan akan Rasul juga merekatkan hubungan diantara satu sama lain.

Di China sendiri dengan minoritas muslim berjumlah sekitar 20 juta orang, sebagian besar menganut madzab Imam Hanafi. Walaupun mereka mengerti shalawat, tapi peringatan maulid nabi tidak sesemarak di Indonesia. (Ahmad SyaifuddinZuhri/Abdullah Alawi)

Jumat 17 Januari 2014 13:6 WIB
Ekstrimis Budha Diduga Bunuh Puluhan Muslim Rohingya
Ekstrimis Budha Diduga Bunuh Puluhan Muslim Rohingya

Yangon, NU Online
Sekelompok massa Buddha menyerang sebuah kota terpencil di Myanmar dan membunuh perempuan dan anak-anak Muslim dengan benda tajam, demikian menurut kelompok hak asasi manusia Arakan Project dan seorang warga desa, Kamis. Menurut mereka, korban tewas diperkirakan lebih dari 12 orang.
<>
Seorang pejabat pemerintah membenarkan bahwa situasi di kota itu tegang, namun menyangkal insiden ini memakan korban jiwa. Demikian dilaporkan oleh laman wall street journal yang mengutip AP.

Sebuah negara berpenduduk 60 juta orang yang mayoritas Buddha, Myanmar tengah kesulitan menangani kekerasan antar agama yang berlangsung selama hampir dua tahun. Konflik ini telah menewaskan lebih dari 240 orang dan memaksa sekitar 140.000 warga, yang sebagian besar Muslim, mengungsi.

Menurut Chris Lewa dari Arakan Project, konflik terjadi pada Selasa di negara bagian Rakhine. Arakan Project, sebuah kelompok advokasi, selama ini mendokumentasikan kekerasan yang dialami kaum minoritas Muslim Rohingya selama lebih dari satu dekade.

Lewa mengatakan gesekan kian memanas di Rakhine sejak bulan lalu saat biksu-biksu dari sebuah kelompok Buddha ekstremis yang dikenal dengan nama 969 datang ke negara bagian ini. Mereka mendorong pengusiran semua Muslim Rohingya lewat ceramah yang diumumkan dengan pengeras suara.

Seorang warga mengatakan provokasi ini disusul dengan penemuan tiga mayat oleh beberapa pengumpul kayu bakar di dekat desa Du Char Yar Tan.

Ketiga mayat diyakini bagian dari delapan warga Rohingya yang hilang setelah ditahan aparat beberapa hari sebelumnya. Pengumpul kayu bakar pun lantas memberi tahu teman-teman dan tetangganya yang datang ke lokasi mayat dan mengambil gambar dengan ponselnya, ujar seorang warga yang berprofesi sebagai guru bahasa Inggris sukarela ini.

Hal ini memicu tindakan keras aparat. Tentara dan polisi lantas mengepung desa, mendobrak pintu rumah warga, serta menjarah ternak dan barang berharga lainnya, demikian keterangan guru bahasa Inggris ini. Hampir semua pria melarikan diri dari rumahnya, meninggalkan perempuan, anak-anak, dan manula.

Lewa mengatakan sejumlah sumber melaporkan perempuan dan anak-anak Rohingya dibacok hingga tewas, namun jumlah korbannya masih simpang siur. Ada yang mengatakan setidaknya 10 orang tewas, ada juga yang mengatakan jumlahnya mencapai puluhan.

Sementara, guru bahasa Inggris yang dihubungi lewat telepon ini mengatakan 17 perempuan dan lima anak-anak tewas dalam konflik tersebut.

Juru bicara pemerintah negara bagian Rakhine, Win Myaing, mengatakan polisi mengepung desa itu untuk mencari rekan mereka yang hilang. Myaing mengaku tidak tahu bahwa ada warga yang tewas dalam peristiwa itu.

Khin Maung Than, seorang warga Muslim di desa tetangga, mengatakan telah mengunjungi Du Char Yar Tan dan tidak melihat tanda-tanda kekerasan atau kematian di sana. (mukafi niam)

Foto: wsj

Jumat 17 Januari 2014 4:1 WIB
Polisi Moskow Tahan Tersangka Pembakar Al-Qur’an
Polisi Moskow Tahan Tersangka Pembakar Al-Qur’an

Moskow, NU Online
Polisi Moskow telah menahan seorang pria berusia 23 tahun yang diduga membakar Al-Qur’an dan menyerang umat Islam sebagai balasan atas pengeboman bunuh diri yang baru-baru ini terjadi di Volgograd, kota di bagian selatan Rusia.
<>
Juru bicara kepolisian pada Rabu (15/1) mengatakan, pria itu telah diidentifikasi sebagai penduduk wilayah Tver yang sebelumnya memiliki catatan kriminal, termasuk pencurian dan perampokan.

Tersangka telah ditahan selama 48 jam, sejauh ini atas tuduhan hooliganisme, kata juru bicara polisi setempat yang dikutip kantor berita RIA Novosti.

Perburuan terhadap tersangka pembakar Al-Qur’an dimulai pekan lalu setelah video yang diunggah di YouTube menunjukkan sekelompok pemuda membakar terjemahan Al-Qur’an dalam bahasa Rusia. 

Video itu juga menunjukkan seorang pria berpenampilan Asia Tengah dengan memar di wajahnya, yang dipaksa untuk mengulangi perkataan orang-orang di belakang kamera meneriakkan: "Aku meninggalkan Allah".

Video itu muncul dengan teks mengaitkan pembakaran Al-Qur’an dengan serangan bom bunuh diri di kota Rusia selatan Volgograd.

Dua serangan beberapa hari berturut-turut pada akhir Desember menewaskan 34 orang di terminal kereta api utama Volgograd dan bus listrik. Enam lainnya tewas pada Oktober ketika seorang perempuan meledakkan diri di bus komuter.

Gerilyawan di negara tetangga Kaukasus Utara disalahkan atas serangan-serangan itu.

Kelompok radikal nasionalis Rusia sering dituduh melakukan ekstrimisme atau mengipasi kebencian agama, yang masing-masing dapat dihukum sampai dengan empat-lima tahun. (antara/mukafi niam)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG