IMG-LOGO
Trending Now:
Daerah

NU Tegas Tak Berpolitik Praktis


Senin 24 Maret 2014 20:00 WIB
Bagikan:
NU Tegas Tak Berpolitik Praktis

Brebes, NU Online
Keberadaan Nahdlatul Ulama di tahun politik perlu ditegaskan lagi sebagai organisasi sosial keagamaan yang tidak berpolitik praktis. NU hanya menganut politik kebangsaan yang lebih mengutamakan kemaslahatan umat ketimbang harus terseret-seret pada kepentingan partai politik yang sesaat.
<>
“NU itu bukan partai politik, itulah sebabnya Nahdliyin (warga NU, red) ada dimana-mana dan tidak kemana-mana terhadap partai politik,” kata Wakil Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang NU Brebes Drs KH Sodikin Rachman saat melantik Pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Kecamatan Banjarharjo di halaman Masjid Parereja Banjarharjo, Ahad (23/3) kemarin.

Menurut Sodikin, NU itu sangat besar. Jadi tidak boleh di seret-seret ke partai politik yang sangat kecil. Calon legislatif yang membawa-bawa NU ke ranah politik sama artinya mengerdilkan NU. Tidak perlu menempelkan lambang atau pendiri NU di samping caleg atau gambar partai. Sebab NU itu sudah besar, yang telah ikut serta mendirikan bangsa dan menjadi milik bangsa Indonesia.

“Nahdliyin bebas memilih caleg yang berasal dari partai merah, kuning, hijau, ungu, biru dan warna lainnya, yang penting kader NU dan memiliki rekam jejak ahlakul karimah,” kata Sodikin.

Kepada Pengurus MWC     yang baru, Sodikin berpesan agar bisa menjalankan roda organisasi dengan sebaik-baiknya dengan ikhlas, sepi ing pamrih rame ing gawe. Meski mengurusi NU tidak mendapatkan gaji, tapi percayalah akan mendapat barokah dari Allah SWT. “Yakinlah, dengan mengurusi NU hidup akan lebih barokah dan sejahtera,” kata Kiai Sodikin.

Namun juga perlu diperhatikan, lanjutnya, kalau menjadi pengurus NU harus tahan banting. Dalam artian tahan terhadap tantangan, cemoohan, cibiran bahkan selalu dipaido (diomongi).  “Pengurus NU harus tahan omongan yang miring, meskipun program yang dijalaninya sukses,” ucapnya.

Hal senada disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam KH Syeh Sholeh Basalamah kalau NU itu sebagai organisasi terbesar dan tersebar seluruh dunia. Jadi jangan dianggap enteng memegang NU yang menaungi aqidah Ahlussunah Wal Jamaah. Namun juga harus diwaspadai kini bermunculan paham-paham selain Ahlussunah wal Jamaah merambah ke Indonesia. Seperti Wahabi, Khawarij dan lain-lain.

Aqidah itu, lanjut Syeh Sholeh, ibarat tiket bus umum saat kita akan pergi ke suatu tujuan. Jangan sampai kita keliru pegang tiket akibat ulah sang calo. Kalau tiket yang kita pegang ternyata piket palsu, maka kita diturunkan ditengah jalan bahkan bisa-bisa tidak sampai ke tujuan. “Kalau kita hendak ke surga, tetapi keliru tiket maka tak akan pernah sampai surga,” kata Syeh Sholeh.

Pengurus MWC Banjarharjo periode 2014-2019 yang dilantik sebagai Rais Syuriah dipegang KH Soimun Anwar sedangkan Ketua Tanfidziyah dipercayakan kepada K Moh Mas’ud. Dalam kesempatan tersebut juga dilantik sebanyak 25 Pengurus Ranting (PR) se-Kecamatan Banjarharjo.

Hadir dalam kesempatan tersebut, Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah Noval Najib, Unsur Muspika, Wakil Bendahara PC NU Brebes Drs H Sufa Wijaya, Wakil Sekretaris PCNU Brebes Lakhmudin MPdI dan sejumlah undangan lainnya. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

Bagikan:
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Maulid Akbar dan Doa untuk Keselamatan Bangsa
Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
IMG
IMG