IMG-LOGO
Pesantren

Santri Alumni Qudsiyyah Kuatkan Jaringan

Senin 4 Agustus 2014 11:15 WIB
Bagikan:
Santri Alumni Qudsiyyah Kuatkan Jaringan

Kudus, NU Online
Hari Raya Idul Fitri sering dinilai sebagai momentum yang tepat untuk pulang ke kampung halaman. Kesempatan itulah yang dimanfaatkan ratusan santri-santri alumni Madrasah Qudsiyyah Kudus dengan menyelenggarakan “Reuni Angkatan 2012-2013 dan Halal Bihalal” di Jati, Kudus, Sabtu (2/9) siang lalu.
<>
Reuni dan Halal Bihalal alumni madrasah asuhan Musytasar PBNU KH Sya’roni Ahmadi ini berawal dari niat beberapa santri alumni yang berkeinginan untuk tetap mengukuhkan tali silaturahim. “Walaupun sudah terpisah sekian waktu, tapi kita tetap ingin bersaudara setelah lulus dari Qudsiyyah,” kata salah seorang panitia, Nur Kholis.

Kepada NU Online, Kholis mengungkap tujuan dari acara ini, selain merawat tali silaturrahim, juga menguatkan jaringan para santri yang sudah ada. “Keinginan kami, nanti teman-teman santri bisa terjun ke masyarakat sesuai dengan bidang masing-masing. Jadi nanti alumni dari kita, saat teman-teman mengalami kesulitan dalam masalah hukum, bisnis, atau apapun, nanti kita dapat mengaitkan satu sama lain,” ujarnya.

Acara tersebut diisi dengan tahlilan, shalawatan yang diiringi rebana, dan diskusi antarsantri dari daerah Kudus dan sekitarnya. “Setiap tahun kita rencananya akan mengadakan dua kali pertemuan, yakni ketika maulid Nabi Muhammad dan halal bihalal saat momen Idul fitri,” tambah santri yang pernah menjabat ketua IPNU Ranting Karanganyar, Demak.

Di tengah-tengah kompetisi dunia yang semakin ketat, harap Kholis, ke depan santri alumni Qudsiyyah dapat terus berkarya, berkiprah, dan menancapkan taring perjuangan dimana pun berada. “Jadi perjuangan seorang santri tidak hanya di pesantren, madrasah, masjid, tapi perjuangan santri sekarang bisa di ranah apapun,” tegas Kholis.

Sementara itu,  ketika disinggung soal hubungan santri dan guru, ia membenarkan bahwa setelah lulus, tetap ada hubungan dengan seorang guru atau kiai. “Kita tetap masih ada unggah-ungguh (rasa hormat) dengan guru, walaupun terpisah sekian waktu, tidak ada istilah mantan guru bagi kami,” terangnya. (Muhammad Zidni Nafi’/Mahbib)

Bagikan:
Senin 4 Agustus 2014 9:1 WIB
Ikatan Santri Astanajapura Pesantren Kempek Gelar Halal Bihalal
Ikatan Santri Astanajapura Pesantren Kempek Gelar Halal Bihalal

Cirebon, NU Online
Sekurangnya 300 jamaah yang terdiri dari para santri, alumni dan tokoh masyarakat menghadiri acara Halal Bihalal  ke-9 Ikatan Santri dan Alumni Astanajapura (Istajap) Pondok Pesantren Kyai Haji Aqiel Siroj (KHAS) Kempek, Cirebon,  Jawa Barat, Sabtu (2/8) malam.
<>
Ketua panitia, Obid Qobidurrizki menjelaskan, acara yang digelar di halaman Madrasah Diniyah Wathoniyah Desa Rawaurip Kecamatan Pangenan Cirebon ini merupakan wadah silaturahim bagi para santri dan alumni Pondok Pesantren Kempek yang berasal dari Kecamatan Astanajapura Kabupaten Cirebon dan sekitarnya, selain itu juga sebagai  media syiar kepesantrenan secara langsung di tengah-tengah masyarakat.

“Mudah-mudahan acara seperti ini mampu memberi semangat bagi kita semua para santri, untuk tetap memegang teguh amanat dan petuah dari para kiai di pesantren, kemudian di teruskan kepada keluarga kami dan masyarakat pada umumnya,” jelas Obid dalam sambutannya.

Hal senada juga diungkapkan oleh tokoh sepuh setempat, KH Sirojudin. Dia mengatakan, acara seri kepesantrenan yang mulai jarang di tengah-tengah masyarakat umum ini harus dibangkitkan kembali, dengan tujuan, pesantren turut membantu pembentukan karakter dan akhlak masyarakat secara langsung melalui para santri dan alumninya.

“Halal bihalal ini diharapkan menjadi penghubung yang baik bagi kami kalangan masyarakat untuk mengikuti keilmuan yang diberikan dan berkembang di pesantren. Kami menyambut baik acara ini sebagai tradisi yang baik yang patut dipertahankan,” ungkap Kiai Siroj.

Halal Bihalal Istajap kali ke sembilan ini dihadiri oleh pimpinan Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon, KH Muhammad Bin Ja’far, serta diisi ceramah keagamaan oleh KH Niamillah Aqil Siroj. (Sobih Adnan/Mahbib)

Ahad 3 Agustus 2014 19:1 WIB
PESANTREN SUNAN DRAJAT HIDAYATULLAH
Pertahankan Kekhasan dengan Sistem Salaf
Pertahankan Kekhasan dengan Sistem Salaf

Probolinggo, NU Online
Meski dikelilingi lembaga pendidikan umum, namun Pesantren Sunan Drajat Hidayatullah tidak merasa sesak. Pesantren ini tetap berkembang dengan pesat dengan mempertahankan kekhasannya mengajarkan pendidikan salafiyah. Sudah 10 tahun lamanya, pesantren ini mengembangkan ajaran kitab-kitab Islam.<>

Pesantren Sunan Drajat Hidayatullah didirikan tahun 2004 silam. Letaknya berada di Kelurahan Jrebeng Kidul Kecamatan Wonoasih Kota Probolinggo. Cikal bakal pendiriannya berawal dari musholla kampung yang diasuh oleh KH. Faisol Untung.

Saat itu santri kampung yang mengaji di musholla itu berjumlah 5 (lima) orang. Mereka beraktifitas mengaji Al Qur’an seperti lazimnya sebuah musholla. Namun dengan berbagai pertimbangan, akhirnya rumah milik Kiai Faisol Untung tersebut diubah menjadi pesantren. “Kalau bagaimana cerita awalnya kami kurang paham. Abah saya yang tahu secara detail,” ungkap Kepala Pesantren Sunan Drajat Hidayatullah H Habibi, Ahad (3/8).

Habibi merupakan putra dari KH Faisol Untung yang telah mengurus pesantren tersebut sejak lima tahun terakhir. Kiprahnya juga banyak membuat perubahan di pesantren tersebut. Salah satunya dengan tetap mempertahankan sistem pembelajaran salafiyah, kendati banyak bermunculan lembaga pendidikan umum di sekitarnya.

Menurut Habibi, pemberian nama Pesantren Sunan Drajat Hidayatullah sendiri terinspirasi dari nama Wali Songo atau sembilan wali. “Harapannya agar bisa memberikan manfaat dan barokah bagi setiap santri atau pun pada lingkungan sekitar pesantren,” jelasnya.

Di tangan Habibi inilah perkembangan jumlah santri terus bertambah. Sekarang santri mukimnya berjumlah 20 orang dan santri non mukim berjumlah sekitar 60 orang. “Rata-rata santri mukim santri putra,” terangnya.

Bahkan ada dua lembaga pendidikan tambahan, yaitu lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Kanak-kanak (TK). Meski demikian, pendirian pesantren ini semata-mata niat untuk mengamalkan ilmu, utamanya ilmu agama. Tidak hanya itu, pendirian pesantren tersebut juga bertujuan memperkuat syariat Islam melalui pesantren. “Alhamdulillah, jumlah santri yang mukim saat ini jumlahnya semakin bertambah,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Anam)

Rabu 30 Juli 2014 7:15 WIB
Pesantren Al Amin Padukan Model Pendidikan Lirboyo-Yaman
Pesantren Al Amin Padukan Model Pendidikan Lirboyo-Yaman

Probolinggo, NU Online
Pesantren Al Amin mempunyai kaitan erat dengan Pesantren Lirboyo Kediri dan Universitas Al ‘Aqof Yaman. Sebab di kedua lembaga pendidikan itulah, Pengasuh Pesantren Al Amin H. Mustofa Hasan (38) menimba ilmu.
<>
Sejak menimba ilmu di kedua tempat itu pula, Gus Mus bercita-cita menjadikan pesantren yang didirikan orang tuanya itu sebagai pesantren yang konsep pendidikannya merupakan perpaduan dari Pesantren Lirboyo dan Universitas Al ‘Aqof Yaman.

Secara resmi, pesantren yang didirikan pada tahun 1993 oleh KH. Hasan Azkia, orang tua Gus Mus. Namun jauh sebelum itu, tepatnya pada tahun 1963, pesantren ini sebenarnya sudah berdiri. Pendirinya adalah kakek dari Gus Mus. Hanya saja, santrinya terus berkembang hingga tidak tertahan seiring berjalannya waktu.

Awalnya pesantren ini hanya tempat beribadah berdinding bambu dan beralas bambu. Masyarakat biasanya menyebutnya angkringan. Namun karena desakan dari masyarakat Desa Tongas Kulon Kecamatan Tongas Kabupaten Probolinggo, akhirnya pada tahun 1993 mulai dibangun pesantren.

Dari awal berdiri hingga seiring berjalannya waktu, santrinya mampu mencapai 100 orang. Dengan kondisi seperti itu akhirnya Kiai Hasan Azkia (63) mendirikan pesantren yang dinamakan Al Amin.

Gus Mus sendiri resmi menjadi pengasuh sejak tahun 2003. Saat itu ia baru menyelesaikan studynya di Yaman. Dibawah kekholifahan Gus Mus, kondisi pesantren ini mulai ditata ulang. “Saya lulus kuliah, kami tata kembali dari awal satu per satu,” ujarnya, Sabtu (26/7).

Sebelum belajar di Yaman, Gus Mus mondok di Pesantren Lirboyo Kediri pada kurun waktu 1990-1999. “Dulu abah (ayah) saya mondok hanya tujuh bulan karena terkendala biaya. Beliau bertekad anaknya akan disekolahkan ketempat yang jauh. Akhirnya saya dimondokkan di Kediri, lalu ke Yaman. Alhamdulillah ini berkat dan doa orang tua,” jelasnya.

Upaya yang dilakukan Gus Mus dengan memadukan model pendidikan Lirboyo-Yaman secara perlahan membuahkan hasil yang menggemb irakan. Sebab dari waktu ke waktu santrinya terus bertambah. Mereka tidak hanya berasal dari Kabupaten dan Kota Probolinggo saja seperti pada awal pendirian pesantren ini.

“Alhamdulillah, perpaduan model pendidikan Lirboyo-Yaman ini mendapatkan respon yang luar biasa dari masyarakat. Buktinya semakin hari santri disini terus bertambah. Selain dari dalam daerah, ada santri yang berasal dari Kalimantan, Surabaya dan Pasuruan. Mudah-mudahan ke depan perpaduan model pendidikan ini mampu melahirkan santri yang benar-benar berkualitas yang siap terjun di tengah-tengah masyarakat,” harapnya. (Syamsul Akbar/Mahbib)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG