IMG-LOGO
Cerpen

Menjadi Santri

Ahad 24 Agustus 2014 6:1 WIB
Bagikan:
Menjadi Santri

Puji syukur kepada Yang Maha Kuasa yang membuatku pernah menjadi santri. Terima kasih kepada temanku, si Unung, yang mengiming-imingiku menjadi santri. Terima kasih juga kepada ibu bapakku yang menyebabkan aku menjadi santri. Tidak lama aku menjadi santri, cuma dua tahun.
<>
Perlu aku bersyukur sebab sekarang merasakan beruntungnya menjadi santri. Aku bersyukur dalam sejarah hidupku pernah mengalami kehidupan pesantren. Terasa banyak gunanya. Dan tentu saja punya kisah yang tak dimiliki anak-anak kota yang tak mengenal pesantren.

Kuakui, sebelumnya sering malu kalau orang lain mengetahuiku pernah jadi santri. Kadang sering mangkir pernah jadi santri. Tapi belakangan malah bangga. Aku bangga sebab punya pengalaman hidup yang lebih dari anak-anak kota pada umumnya.

Dari pesantren memang tak sebarapa banyak bertambah ilmuku. Soalnya aku nyantri cuma dua tahun. Sementara santri lain bisa sampai belasan tahun.

Waktu Belanda dikalahkan Jepang, sekolah-sekolah tutup. Anak-anak menganggur. Si Unung, teman sebangku di sekolah, ikut kakaknya nyantri di pesantren P. Ketika pulang, ia menceritakannya dengan menarik. Katanya, mengaji di pesantren lebih cepat ketimbang ngaji di Ajengan Enoh, di Kampung. (Aku dan si Unung mengaji di Ajengan Enoh).

Lalu timbul keinginanku menjadi santri. Semakin bertambah setelah mendengar ceramah Ajengan Ma’mun ketika Rajaban.*

“Sekarang kebanyakan manusia memburu harta dunia seolah-olah akan hidup selamanya. Padahal maut tak diketahui kapan datangnya, bisa besok, bisa nanti, tak ada yang tahu. Saudara-saudara, ilmu itu cahaya, al-ilmu nurun. Orang tak berilmu ibarat di dunia gelap tak tahu jalan yang harus ditempuh. Itulah sebabnya menuntut ilmu itu wajib bagi setiap mukmin. Tholabul ilmi faridlotun ‘ala kulli muslimin wa muslimatin...” begitu kata Ajengan Ma’mun.

Niatku semakin bulat untuk ke pesantren. Ibuku tak kurang sepuluh kali mengucapkan alhamdulillah ketika aku mengatakannya. Ia kemudian bercerita ke hampir setiap orang kampung. Lalu para orang tua ingin juga memiliki anak sepertiku, menjadi santri.

Aku lupa tanggal persisnya mulai menjadi santri. Tapi tak akan lupa harinya, Rabu. Sebab itu perhitungan kakekku. Menurut dia, mencari ilmu harus dimulai hari Rabu. Aku lupa alasannya, tapi katanya Rabu hari terbaik mulai tholabul ilmi.

Tidak seperti Yogaswara dalam Mantri Jero**, ia berangkat ke pesantren sendirian. Keberangkatanku seperti calon haji yang akan pergi ke Makkah. Seperti Purnama Alam*** pergi ke Pesantren Gurangsarak. Berduyun-duyun pengantar. Kedua pamanku mengapit di kiri kananku, ibu, bapak, dan kakek. Beriringan Mang Ihin dan si Uha, tukang kebun dan anaknya. Keduanya memikul perbekalanku dan oleh-oleh buat ajengan.

Ajengan menyambut hormat kedatangan rombonganku. Apalagi kepada kakek, ia sangat hormat sekali. Sebab kakekkulah yang dulu menikahkannya.

Aku menjadi santri istimewa di pesanten itu. Sampai ditawari, mau tinggal di rumah ajengan atau mau di kobong****. Aku memilih di kobong supaya banyak teman. Kalau di rumah ajengan, takut ketahuan aku tak pintar. Di kobong, aku diberi tempat yang enak. Tak jauh dari jendela. Tempat tidur di atas ranjang. Kopor disimpan di atas.

Malam pertama di pesantren aku merasa takut. Mungkin karena belum ada yang kenal. Dan ternyata susah kenal dengan mereka.

Santri yang tidur di bawah ranjangku sepertinya sedang sakit. Dia berselimut terus. Ketika orang lain ke masjid, dia masih saja berselimut. Selepas Isya kuberi paha ayam dan nasi timbel. Betapa gembira menerimanya.

Santri yang tidur di sebalah kiriku, dari tampangnya saja tampak songong. Di hadapanku, ia membaca Safinah keras-keras. Tambah menyebalkan ketika ia bertanya dengan bahasa Arab, “Man ismuka?”

Sespertinya dia menyangka aku tak mengerti sama sekali bahasa Arab. Padahal yang seperti itu aku pernah belajar kepada Ajengan Suganda. Aku menjawab pertanyaan dengan menyebutkan namaku, ia tidak songong lagi.

“Kamu pernah ngaji ya?” tanya teman yang tiduran di bawahku, sementara giginya menggerus tulang.

“Belum,” kataku.

Nah, dengan merekalah aku pertama kali kenal. Pertama si Atok, yang tidur di bawahku. Kedua si Aceng, yang songong, di sampingku, yang bertanya dengan bahasa Arab.

Ketika mulai ngaji, aku diperkanalkan ajengan. Para santri, ini Den Anu, putranya juragan Anu, putunya juragan Hatib, di B.

Mulai saat itulah aku hidup di pesantren.    


Cerpen ini diterjemahkan dari bahasa Sunda ke bahasa Indonesia oleh Abdullah Alawi dari kumpulan cerpen otobiografi Dongeng Enteng ti Pesantren. Kumpulan cerpen tersebut diterbitkan tahun 1961 dan memperoleh hadiah dari LBBS di tahun yang sama. Menurut Adun Subarsa, kumpulan cerpen tersebut digolongkan ke dalam kesusastraan Sunda modern sesudah perang. Nama pengarangnya Rahmatullah Ading Afandie sering disingkat RAF. Ia lahir di Ciamis 1929 M. Pada zaman Jepang pernah nyantri di pesantren Miftahul Huda Ciamis. Tahun 1976, ia muncul dengan sinetron Si Kabayan di TVRI, tapi dihentikan karena dianggap terlalu tajam mengkritik. Ketika TVRI cabang Bandung dibuka, RAF muncul lagi dengan sinetron Inohong di Bojongrangkong.

* peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW
** novel karya Memed Sastrahadiprawira
* ** wawacan karya sastrawan R. Suriedireja
**** kamar-kamar di pesantren Sunda, gutekan di Jawa

Bagikan:
Ahad 17 Agustus 2014 9:1 WIB
Ibu Ajengan
Ibu Ajengan

Ketika aku berpapasan dengan Ajengan di sebuah tepi jalan, ia sempat menceritakan istrinya yang jompo. Aku tidak kaget mendengarnya. Bukan hanya karena usia lanjut, tapi dari dulu Ibu Ajengan memang sakit-sakitan.
<>
Keadaannya tambah parah karena Nyi Halimah, anak satu-satunya bertahun-tahun tiada rimbanya. Padahal Nyi Halimah sangat dimanja sejak kecil.

Ibu Ajengan satu-satunya istri ajengan di pesantrenku. Ajenganku tak pernah poligami dua apalagi tiga seperti umumnya ajengan di kampung.

Ibu Ajengan sangat menyayangiku. Dulu ia punya anak laki-laki (kakak Nyi Halimah). Cuma usianya tidak panjang. Jika masih hidup anaknya sepantaran denganku. Ia meninggal usia 9 tahun, tenggelam di sungai saat berenang bersama santri-santri. Ketika mereka pulang di pondok pesantren, baru sadar si Ujang, putra Ajengan, tiada. Mereka kemudian mencarinya, tapi sayang ia ditemukan tewas di sebuah batu di bawah jembatan gantung.

Tidak tahu yang sebanarnya, menurut Ibu Ajengan, anaknya mirip denganku. Ganteng katanya. Sebab itulah Ibu Ajengan begitu menyayangiku. Menurut kabar lain, katanya Ibu Ajengan ingin mengambilku jadi menantunya. Masya Allah, padahal waktu itu aku masih sangat kanak-kanak.

Tapi menurutku, karena aku datang ke pesantren diantar orang tua seperti yang entar akan kuceritakan di depan. Akulah satu-satunya santri yang diantar orang tua. Disamping itu, Ajengan dan istinya segan pada orang tuaku, lebih-lebih pada kakekku. Singkat kata, di pesantren aku dianggap “pangmenakna*”. Mereka menyebutku Aden*.

Pernah Ibu Ajengan meminta supaya aku tidak memasak nasi sendiri. Beberapa bulan aku mengikuti permintaannya. Aiku mengiyakannya, beberapa bulan “indekos” di ajengan. Tapi setelah bersahabat dengan si Atok, aku masak sendiri. Tapi sebenarnya si Atoklah yang masak. Sebagai imbalannya, makan si Atok aku yang menanggung.

Ibu Ajengan tidak banyak bicara, tapi kalau sudah marah tidak habis dua hari. Sudah ada dua tiga santri pulang karenanya.

Ibu Ajengan bernama Nyi  Djuriah mengajar santri-santri putri dari kampung sekitar. Tempatnya mengajar ngaji santri putri disebut pangwadonan. Haram laki-laki masuk ke situ, kecuali ketika kosong. Ia mengajar selalu di tempat yang sama, di samping tiang dekat gorden. Kerudung kuningnya samar-samar membayang di balik gorden.

Ibu Ajengan mengajar lebih ayem jika dibanding Ajengan. Ajengan sering membentak. Suaranya bisa terdengar ke mana-mana. Sementara Ibu Ajengan tidak, tapi sering mencambuk dengan sapu lidi. Aku tahu seperti itu karena sering mengintip dari balik gorden jika ia sedang berpaling ke arah lain.

Selepas mengajar, Ibu Ajengan sering memberi petuah santri putri. Sampai sekarang masih terdengar petuahnya yang rutin ditanamkan. “Perempuan harus lebih tebal tauhidnya kepada Pangeran. Sebab kalau tauhid perempuan tidak tebal, mustahil punya anak yang rajin beribadah. Sebab dalam sebuah rumah tangga, ibu paling dekat dengan dengan anak. Sementara laki-laki selewatan saja.”

Perkataannya tidak persis seperti itu, tapi maksudnya begitu. Belakangan, aku sering membaca buku pengajaran. Tak beda sedikit pun bahasan hubungan antara perempuan dan keluarga dengan petuah Ibu Ajengan yang rutin disampaikan itu.

Petuah Ibu Ajengan lain yang rutin disampaikan, “Kata Nabi, sorga di telapak kaki ibu, dan ibu itu adalah perempuan.” Dari situ, Ibu Ajengan kemudian mengisahkan mustika-mustika istri dari sejarah Nabi seperti Siti Khodijah, Siti Aisyah, Siti Fatimah. Petuah Ibu Ajengan pada santri putri tidak kalah kendati dibandingkan dengan pidato-pidato pemimpin di kota yang sedang memperingati pahlawan-pahlawan perempuan. Aku tahu pidato mereka didapat dari buku, sementara petuah Ibu Ajengan lahir dari sanubarinya sendiri.

Kepada yang sudah bersuami, Ibu Ajengan sering menekankan seperti ini, “Ingat, kewajiban perempuan itu patuh pada suami. Membangkang kepadanya sama dengan membangkang pada kedua orang tua. Doraka dunia akhirat. Nanti berada di neraka Wailul tempatnya.”
Ibu Ajengan bertubuh gemuk. Meski sudah berumur, tampak sisa-sisa kecantikan di masa mudanya. Tidak usah jauh-jauh, lihat saja paras Nyi Halimah yang anggun. Orang-orang sependapat Nyi Halimah yang cantik itu tidak lain Ibu Ajengan saat belia.

Waktu aku menulis cerita ini, Ibu Ajengan sudah menghembuskan napas terakhir di sebuah rumah sakit akibat serangan jantung. Robbana, semoga iman Islamnya diterima, terang benderang keadaan alam kuburnya.

 

Cerpen ini diterjemahkan dari bahasa Sunda ke bahasa Indonesia oleh Abdullah Alawi dari kumpulan cerpen Dongeng Enteng dar Pesantren. Kumpulan cerpen tersebut diterbitkan tahun 1961 dan memperoleh hadiah dari LBBS di tahun yang sama. Menurut Adun Subarsa, kumpulan cerpen otobiografis tersebut digolongkan ke dalam kesusastraan Sunda modern sesudah perang. Nama pengarangnya Rahmatullah Ading Afandie sering disingkat RAF. Ia lahir di Ciamis 1929 M. Pada zaman Jepang pernah nyantri di pesantren Miftahul Huda Ciamis. Tahun 1976, ia muncul dengan sinetron Si Kabayan di TVRI, tapi dihentikan karena dianggap terlalu tajam. Ketika TVRI cabang Bandung dibuka, RAF muncul lagi dengan sinetron Inohong di Bojongrangkong.   

Ahad 10 Agustus 2014 10:0 WIB
Ajengan
Ajengan

Oleh Rahmatullah Ading Afandie Terakhir aku bertemu dengan ajengan* belum lama, sekitar dua tahun ke belakang. Aku bertemu lagi ketika naik mobil di sebuah jalan. Aku tersentak kaget ketika melihat ajengan di jalan itu dan langsung meminta sopir untuk berhenti.
<>
Bertahun-tahun tak bertemu, tapi aku tidak pangling pada kakek-kakek yang berjalan itu, bertarumpah, bertongkat waregu.

Ajengan sudah agak jauh terlewat ketika mobil berhenti. Buru-buru aku turun, setengah berlari.

Sebelum dia tahu siapa aku, aku menyalaminya, mencium tangannya, seperti dulu waktu di pesantren. Matanya mendelik berusaha mengenaliku. Tentu dia lupa sebab waktu di pesantren aku masih sangat kanak-kanak dan sekarang sudah jangkung.

“Sebentar, sebentar, ini siapa?” katanya.

Aku menyebutkan nama, tapi tetap sepertinya dia tidak ingat.

“Saya pernah mesantren dulu zaman Jepang di Ajengan...,”

Belum tamat aku menjelaskan, ia langsung berucap,”Laa ilaha ilallah, ini Aden?” Tentu, Den. Masya Allah, maaf Aden, maaf. Mama** lupa, maklum sudah tua. Masya Allah, dulu Aden masih kecil. Sekarang...., sebentar, dimana Aden? Bekerja apa? Sudah berapa putra?”

Aku menceritakan keadaanku. Ketika aku bercerita ajengan selalu berdecak, sambil tak henti masya Allah, alhamdulillah terus.

Setelah aku bercerita, ajengan menceritakan dirinya. Katanya, sekarang ia sudah tidak mempunyai pesantren sebab dibakar Belanda waktu zaman pendudukan. Ibu ajengan (istrinya) sudah setengah pikun serta sakit-sakitan. Nyi Halimah, putri tunggalnya dibawa suaminya. Tidak tahu kemana, kata orang dibawa ke gunung. Malahan ajengan juga pernah ditahan sama menantunya itu.

“Si Udin (menentunya) jadi pemimpin gerombolan***, Aden,” kata ajengan.

Menyesal aku tak bisa lama ngobrol dan tak bisa mengajak dia ke mobil sebab jalan yang kutuju berbeda dengannya.

Terus aku menyerahkan uang seratus rupiah. “Lumayan untuk membeli tembakau,” kataku.

Lama sekali dia berdoa setelah menerima uang itu. katanya, “Pak Aden, mama berdoa semoga dekat dengan rezeki, jauh dari balahi. Semoga menjadi orang yang diridoi Tuhan lahir batin. Mama titip jangan meninggalkan kewajiban agama karena buat apa manusia hidup di dunia kalau hanya meninggalkan perintah-Nya. Cuma amal saleh yang bisa dipakai untuk di alam kelanggengan. Harta benda tak akan bisa dibawa ke alam kubur...”

Aku terenyuh ketika melihat ke belakang. Ajengan masih berdiri tertegun menatap mobilku.
Meski sudah agak jauh, tapi jelas terlihat bibirnya masih komat-kamit berdoa.
Aku ingat ketika masiih di pesantren...

Ajengan tidak pernah sekolah, tak pernah mendapat didikan universitas. Tapi aku yakin, ajengan yang tinggal di kampung itu orang pintar, orang yang otodidak. Caranya dia mengajar, meski dia tidak mendapatkannya dari buku, tapi mudah dimengerti. Meski sering membentak, tapi disegani santri-santrinya. Malahan jadi payung bagi orang-orang kampungnya. Penemuannya asli, bukan dari buku orang lain. Meski begitu, tetap dalam dan mengandung kebenaran. Luas pemikirannya, luhur penemuannya. Singkkatnya, bukan orang mentah. Tidak banyak sekarang juga aku menemukan orang seperti ajengan. Pedoman dia, “Tafakur sejam, lebih berguna daripada shalat berjumpalitan enam puluh hari tanpa tafakur.”

Guyonannya, selintas seperti berlebihan, tapi kalau ditelaah, tidak keluar dari jalur agama. Malah sering mengandung pelajaran.

Tidak beda dengan guyonannya Nabi Muhammad. Pada suatu ketika, ada nenek-nenek menangis tersedu-sedu karena Nabi mengatakan, nenek-nenek tidak akan pernah ada di sorga. Nenek itu menangis karena merasa dia tidak akan pernah merasakan sorga.

Nabi tersenyum, katanya, “Jangan menangis, meski di dunia sudah nenek-nenek, kalau sudah masuk sorga akan muda kembali.”

Barulah nenek itu tidak menangis.

Begitu juga dengan guyonan ajengan.

Kalau mengajar dia sering berkata cawokah (mesum). Belakangan aku menemukan guru besar cawokah, Prof. Mr. Dr Hazairin di Fakultas Hukum. Kalau memberi contoh sengaja memilih contoh-contoh cawokah. “Dengan contoh-contoh semacam itu, mahasiswa tidak mudah lupa.”
Begitu juga dulu ajengan waktu mengajar sama dengan Hazairin. Padahal Hazairin profesor dengan banyak gelar, sementara ajengan sekolah juga katanya cuma sampai kelas dua sekolah desa.

Namanya manusia, ajengan juga memiliki banyak kesalahan. “Ana mah manusia, tempatnya salah dan lupa,” katanya.

Menyesal tadi aku tak melihat kepalanya. Dulu kepalanya selalu gundul. Katanya, “Kepala gundul itu sunah Nabi.”

Semoga di sini aku menceritakan ajengan, yang baik maupun buruk, tidak menyebabkan apa-apa, malah semoga menjadi rahmat untukku, juga untuk pembaca. Amin.


Cerpen ini diterjemahkan dari bahasa Sunda ke bahasa Indonesia oleh Abdullah Alawi dari kumpulan cerpen Dongeng Enteng dar Pesantren. Kumpulan cerpen tersebut diterbitkan tahun 1961 dan memperoleh hadiah dari LBBS di tahun yang sama. Menurut Adun Subarsa, kumpulan cerpen otobiografis tersebut digolongkan ke dalam kesusastraan Sunda modern sesudah perang. Nama pengarangnya Rahmatullah Ading Afandie sering disingkat RAF. Ia lahir di Ciamis 1929 M. Pada zaman Jepang pernah nyantri di pesantren Miftahul Huda Ciamis. Tahun 1976, ia muncul dengan sinetron Si Kabayan di TVRI, tapi dihentikan karena dianggap terlalu tajam. Ketika TVRI cabang Bandung dibuka, RAF muncul lagi dengan sinetron Inohong di Bojongrangkong.      

*Ajengan= panggilan kiai di Sunda.

**Mama= bapak. Kemungkan berasal dari kata rama.

***Gerombolan=untuk menyebut pengacau keamanan DI/TII waktu itu

Ahad 6 Juli 2014 9:20 WIB
Menuju Hutan
Menuju Hutan

Oleh Hidayat Tf

-- Aku ingin pergi ke hutan. Hidup di sana. Lepas dari tradisi-tradisi yang ada. Lepas dengan hukum-hukum yang ada. Aku terlalu lelah berada di sini, begitu tertekan dengan keberadaan. Seakan-akan sedikit-sedikit tertekan bagaimana kesejahteraan orang-orang. Padahal, diriku sendiri tidak merasakan kesejahteraan. Bahkan aku tidak mengerti apa itu sejahtera? Apa itu kebahagian? Aku tidak mengerti. Tidak benar-benar mengerti. Aku ingin pergi ke hutan. Mendapati kesejukan pikiran.

<>

“Benarkah di hutan aku mendapatkan kesejahteraan?”

Aku harus mencoba. Seketika di sana. Bersama bayang-bayanganku.

Pohon tinggi menjulang. Tidak rapi. Serabutan pohon-pohon, entah apa itu namanya, aku tidak tahu, berlumut semrawut. Entah. Aku mau kemana. Aku tidak mempunyai tujuan pasti. Aku tidak tahu jalan pulang. Pikirku, untuk apa aku pulang, di kerumunan aku sering terpusingkan. Sangat terlelahkan.

Ia sudah membisu saja. Kalau berbicara sekedar dalam hati. Ia sandarkan tubuhnya di bawah pohon. Tidak ada yang ditunggu. Berupaya membuang pikiran-pikiran tentang kerumunan, tentang kekotaan. Ia berusaha damai tanpa pikiran-pikiran, tanpa bayang-bayang.  Ia berdiri. Melangkah. Tangannya membuka-buka belukar. Kakinya menjejeg-jejegnya, berupaya membuat jalan.

Aku tidak mempunyai tujuan. Pokoknya aku terus berjalan. Kalau lelah, aku istirahat. Begitu saja lah. Di kota pikiranku terlalu kacau. Tujuanku kerap sekali buram. Suram. Malah terkadang seakan-akan tatkala diriku berusaha mewujudkan lebih baik, di sana aku malah mendapati ketidakbaikan yang banyak. Tatkala aku berusaha menantang dan menterjuni karakterku, maka otakku merasa sangat terbodohkan akan kekurangan sesuatu dan bagaimana caranya mensejahterakan orang-orang. Ah pergilah pemikiran-pemikiran kekotaanku. Pergilah.

Ia masih berjalan. Cahaya matahari menerobos lewat pohon-pohon yang tinggi. Suara binatang beraneka ragam. Ia tidak mengenal suara hewan apa itu. Ia tidak hapal. Aku tidak perlu khawatir dengan hewan-hewan. Hutan adalah rumah liar binatang. Tujuanku sekarang adalah terus berjalan mendapati kelelahan. Kalau lelah istirahat. Kalau merasa lapar, aku akan makan. Apa-pun itu yang bisa aku gigit. Entah itu pucuk-pucuk dedaunan, syukur-syukur kalau menemukan buah-buahan.

“Kumohon, jangan lukai kami dengan tangan dan kakimu,” kata rumput merintih.

Robit menengok ke belakang. Bulu kuduknya merinding. Benarkah rumput mampu berbicara?

“Kau lihat bahwa kami hidup, Kawan,” balas rumput, yang kemudian suara itu menjelma suara yang banyak yang menjadi satu. Suara itu muncul dari jejak-jejak yang telah terinjak.

Robit menelan lidah susah. “Tatkala kau menyisihkan diantara kami,” rengek rumput lagi. Robit terharu. Berdirinya ragu.  “Kau memisahkan di antara kami,” tambah rengeknya. “Kau menjadikanku terluka, mengeluarkan darah-darahku. Kalau kau keluar darah, tidakkah kau merasa kesakitan.”

Robit berdiri penuh lelah. Lelah hati. Baru kali ini kurasakan benar, mendapati kata-kata dari rumput. Ia benar-benar tersakiti. Aku harus keluar dari suasana ini. Robit kembali lagi. mengabaikan suara demi suara yang merengek tak henti-henti. Ia memejamkan mata. Berusaha teguh melangkah. Mencari celah dimana ada jalan keluar tanpa menginjak dan memisahkan rumput yang belum tersentuh. Ia merasa bahwa kembali bakal menyakiti dua kali. Tapi itulah pilihannya. Pikirnya, kalau aku melangkah ke depan, maka bukan hanya kakiku yang menyakiti, tapi tanganku juga, terlebih lagi, aku bakal mendengar lebih banyak rumput-rumput merengek. Aku harus kembali ke tempat awal. Dimana tanganku tidak bekerja, dimana tanganku mulai memisahkan rumput.

Kakinya terus melangkah. Sekarang, terlalu jelas, dalam benaknya terbesit sebuah tujuan nyata. Yakni dimana ia bermula bersinggah. Dimana tangannya mulai melakukan perjalanan. Tapi sebelum itu, bakal menemukan pohon besar, dimana tubuhnya tadi bersinggah. Tapi sejauh ini ia melangkah. Belum tampak pohon besar itu. Seketika yang ada adalah belahan rumput, yang tingginya melampaui tubuhnya.

Sejauh mata memandang adalah jalanan belahan rumput. Apa-apaan ini! Mengapa aku bisa berada di antara rumput-rumput belaka. Persis berada di tembok rumput yang terbelah. Aku rasa, tadi tidak seperti itu. rumputnya tidak tinggi-tinggi. Mengapa sekarang rumput menjelma dinding?  Ia menengok ke belakang. Terkejut bukan main. Sejuah mata memandang adalah belahan rumput yang menjadi jalan. Kemana aku harus pergi? Akukah harus kembali, atau aku meneruskan perjalan, ke arah depan. Tapi sekarang, dimana arah depan yang pasti? Aku tidak melihat tanda-tanda selain belahan rumput. Bukankah tadi aku berharap berada di hutan, tapi mengapa sekarang berada di antara rerumputan?

“Ketahuilah, kawan, sebentar lagi mentari tenggelam. Kami sengaja menggiringmu menuju tempat aman,” kata rumput yang menjadi jalan.

“Jadi kalian yang menggiringku sampai di sini. Tapi, sekarang, aku harus kemana? Aku tidak mempunyai arah yang pasti. Kalian membawaku dalam kepusingan yang nyata. Aku harus bagaiamana?”

“Jalanlah sesukamu. Sampai kau terlelahkan. Ingatlah, kalau kau lelah, maka tubuhmu akan letih maka jadilah engkau tertidur.”

Robit tersenyum lega. Mendapat petunjuk tentang bagaimana ia berjalan. Ya, aku tidak mempunyai tujuan pasti sekarang. aku mengikuti dimana tubuhku mengarah. Aku tak ragu dengan jalan ini. aku harus terus berjalan. Pokoknya berjalan sampai diriku lelah, disini aku aman. Aku percaya rumput telah mengiring demi keamananku. Aku percaya itu.

Robit menundukan kepala. Terus melangkah. Berusaha menghapus ingatan dalam memori kepala. Sebab sekali pun dipikirkan, pohon besar itu tidak ada gunanya. Tujuan awal tangannya membuka rumput tak ada gunanya. Biarlah mereka menjadi kenangan dalam perjalanan. Sekarang, tatkala melakulan perjalanan yang ada adalah bentangan rumput yang terus-terusan. Aku menunggu lelah tubuh saja. Terus seperti itu. Tidak ada yang perlu dipikirkan. Tinggal melangkah dalam diam. Diamlah, kawan.

Ia melangkah dengan tenang. Mengamati tanah yang dilalui. Seketika terlihat daun-daun. Ia menegakkan kepala. Pohon besar. Ia tersenyum. Jadi, sampai di pohon pun aku belum terlelahkan. Bahkan aku tidak melihat tanda-tanda matahari, yang ada cuaca sekarang adalah siang yang terang, cuaca yang redup. Tidak panas. Tidak dingin. Aku tidak merasakan sengatan matahari. Ia melongok ke atas. Langit biru. Awan berarak pelan. Di sekitar pohon ia melihat bebatuan. Ia melangkahkah kaki di atas bebatuan. Mengarah ke bebatuan. kakinya mengindar dari menginjak rerumputan. Suara rumput tadi begitu sangat menyayat diri.

Perlahan-lahan bebatuan menggiring menuju tempat yang terang. Terkejut bukan main. Batu-batu menggiring menuju lingkungan masyarakat. Dimana manusia saling berinteraksi. Ia tersenyum. Aku lelah kalau berkumpul lagi bersama para manusia?

“Tapi hidup di hutan jauh lebih sulit, oh pemuda.”

“Siapa itu?” kata Robit begitu terharu. Melongok wajahnya agak takut. Tapi seketika terlihat kakek sedang berjalan membungkuk mengendong kayu bakar. Dia terlihat masih kecil.  Sekarang, apa yang harus aku lakukan? Apakah aku bakal menyambanginya. Membantunya membawa kayu bakar. Batin robit terus bertanya-tanya, tapi tubuhnya telah mengarah ke kakek. Tubuhnya secara otomatis bekerja membatu kakek.

“Sini, Kek, biar saya bantu,” kata Robit dengan renyahnya.

“Tak usah, Nak,” kata Kakek dengan suara terpatah-patah. “Aku sudah terbiasa dengan ini kok. Kalau tidak, maka diriku merasa terlelahkan. Kumohon jangan.” Tambah kakek membuat Robit semakin bingung. “Urus sendiri saja tujuanmu, Nak.” Lanjut kakek seraya melangkahkan kaki. Seakan-akan tak perduli dengan keberadaan Robit.

Ia semakin heran. Akan apa yang bakal diperbuatnya. Ia kembali menepi. Mengarahkan kakinya menuju hutan. Entah apa yang bakal diperbuatnya. Apa-pun itu kejadian yang ada di hutan, aku harus menerima. Agaknya, di hutan bagiku lebih baik, di banding kumpul dengan manusia.

**

Robit telah di hutan.

Aku masih di sini, tidak di hutan. Tapi sekarang, setidaknya pikiranku lebih tenang dari sebelumnya. Setidaknya aku bisa mengambil pelajaran. Pokoknya kehidupan ini perlu di jalani. Walau tidak sesimpel teks, ‘hidup perlu di jalani.’ Setidaknya, gelegatku menerima tentang apa yang terjadi, bahwa segalanya telah ditentukan alurnya. Begitu sajalah. Tak usah dipikir pusing. Walau sebenarnya, pusing pun masih menyelimuti.

Sekarang. Aku keluar dari teks.

2014


Hidayat  Tf,  penyuka sastra, tinggal di Lampung

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG