IMG-LOGO
Internasional

ISIS, Kelompok Militan Paling Kaya Sedunia dari Pemerasan

Ahad 31 Agustus 2014 4:0 WIB
Bagikan:
ISIS, Kelompok Militan Paling Kaya Sedunia dari Pemerasan

Jakarta, NU Online
ISIS, yang kemudian merubah namanya menjadi Islamic State atau Daulah Islamiyah menggerakkan perekonomian secara mandiri di kawasan yang mereka kuasai di Suriah dan Irak. Caranya dengan membajak minyak sekaligus melakukan pemerasan terhadap sekitar delapan juta penduduk, demikian keterangan para pejabat Arab dan Barat. 
<>
Fakta tersebut menjadikan Daulah Islamiyah sebagai salah satu kelompok teror terkaya dunia dengan potensi ancaman besar. Demikian liputan yang ditulis oleh Wall Street Journal.

Sebelumnya, kelompok tersebut diduga mendapatkan sokongan dana dari sejumlah donatur Jazirah Arab dan pelbagai negara lain. Kini, Daulah Islamiyah telah dapat membiayai dirinya sendiri.

Dana dari donatur luar “kecil [jumlahnya] dibandingkan dengan yang mereka dapatkan dari aktivitas kriminal dan terorisme,” ujar seorang pejabat Departemen Pertahanan Amerika Serikat. Menurutnya, aktivitas Daulah Islamiyah menghasilkan jutaan dolar AS per bulan.

Bagi negara Barat dan Arab yang berusaha menghentikan sepak terjang Daulah Islamiyah, sumber pendanaan domestik Daulah Islamiyah memunculkan dilema. Embargo ekonomi sumber-sumber pendanaan Daulah Islamiyah, ujar para pakar dan pejabat antiterorisme, dapat menyebabkan krisis kemanusiaan di kawasan yang mereka kuasai.

“Mungkinkah ISIS dihalang-halangi dari menyita aset? Tidak juga. Mereka telah banyak memiliki aset,” ujar seorang pejabat antiterorisme Barat. “Jadi, yang harus dilakukan adalah mengganggu jaringan perdagangannya. Namun, jika yang dibidik adalah komoditas pangan, contohnya, ribuan warga sipil terancam akan menderita kelaparan.”

Dari Raqqa di Suriah hingga Mosul di Irak, kelompok radikal Sunni Daulah Islamiyah mengelola sistem pemerasan terhadap dunia usaha, pertanian, dan transportasi publik. Mereka pun mengutip uang jago dari umat Kristiani serta minoritas agama lain yang memilih tinggal di bawah pemerintahan milisi ketimbang hengkang, demikian keterangan para penduduk, para analis, dan pejabat pemerintah.

Daulah Islamiyah juga berbisnis dengan sejumlah individu dari kawasan yang pemerintahannya berupaya menindak kelompok tersebut. Dari wilayah kekuasaannya, Daulah Islamiyah mengendalikan penjualan minyak, gandum, dan barang-barang antik. Mereka menciptakan pasar yang pembelinya berasal dari rezim Suriah serta pebisnis Kurdi dan Syiah dari Libanon dan Irak, ujar pejabat Barat serta sumber dari Suriah dan Irak.

“Mereka memiliki perekonomian yang, lebih kurang, stabil di seluruh wilayah kekuasaannya di Suriah dan Irak,” ujar Hasan Abu Hanieh, cendekiawan Yordania bidang radikalisme Sunni yang menjadi pakar masalah Al-Qaeda dan Daulah Islamiyah.

Uang tebusan menjadi sumber pendapatan besar bagi Daulah Islamiyah, tetapi alirannya tidak semantap pendapatan dari aktivitas domestik, ujar para pejabat Barat.

Al-Qaeda di Irak, dibentuk oleh warga Yordania, Abu Musab Al-Zarqawi, adalah tulang punggung kelompok yang meluaskan kekuasaan ke Suriah.

Pada Juni, setelah menduduki Mosul, kelompok itu menghilangkan rujukan geografis dan memproklamirkan kekhalifahan Islam dengan ambisi memperluas wilayah kekuasaan serta menunjuk Abu Bakar Al-Baghdadi, warga negara Irak, menjadi khalifah. Kelompok yang awalnya bernama ISIS atau ISIL itu kini menyebut dirinya Daulah Islamiyah, dengan klaim penguasaan Irak barat dan Suriah timur laut.

Dalam pergerakannya di Suriah tahun lalu serta serbuan ke Irak tahun ini—kelompok milisi merebut ladang minyak, pertanian, dan cabang-cabang bank sentral—Daulah Islamiyah mengejutkan para pemerhati dari dunia luar. Namun, para pakar Timur Tengah mengatakan kelompok itu adalah penerus Al-Qaeda Irak, yakni cabang terkaya Al-Qaeda yang menerapkan pemajakan dan pemerasan serupa.

“Tak seorang pun dapat melakukan transaksi harian atau usaha sederhana—truk tidak dapat melewati jalan—tanpa dipungut bayaran,” ujar Abu Hanieh menyinggung Al-Qaeda Irak pada puncak kejayaannya. “Strategi itu kini berlanjut,” ujarnya. Struktur Daulah Islamiyah pun serupa dengan pendahulunya, dan diyakini memiliki panitia keuangan yang dipimpin oleh “menteri keuangan” sebagai pengawas urusan finansial, ujarnya. (mukafi niam)

Bagikan:
Ahad 31 Agustus 2014 23:7 WIB
Warga Amerli Pilih Mati daripada Menyerah pada ISIS
Warga Amerli Pilih Mati daripada Menyerah pada ISIS

Jakarta, NU Online
Luar biasa tekad dan heroisme warga kota Amerli di Irak Utara yang sedang dikepung para ekstrimis Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).
<>
Warga Irak keturunan Turki beragama Islam aliran Syiah ini menolak menyerah kepada ISIS yang mengepung kota itu selama dua bulan.

Pada Sabtu, tentara Irak dan milisi Syiah melancarkan ofensif untuk menembus kepungan ISIS guna membebaskan kota itu, namun belum berhasil.

Kini, warga kota Amerli mengaku kepada Aljazeera bahwa mereka lebih baik bunuh diri ketimbang jatuh ke tangan ISIS yang selama ini dikenal gemar membuntai warga minoritas yang tidak sealiran dan seagama dengan mereka.

"Pada setiap tiga atau empat rumah kami menggali kuburan. Andai ISIS menyerbu kota kami, maka semua orang akan menembak mati para istri dan anak-anaknya, lalu menguburkannya," kata Mehdi, seorang PNS melalui telepon dari Amerli.

Mehdi yang meminta tidak disebutkan nama aslinya, mengatakan bahwa para istri warga kota Amerli telah setuju bahwa mereka lebih baik mati daripada ditawan ISIS.

"Mereka bilang 'kami tak ingin berakhir di tangan ISIS, diperbudak seperti mereka yang ada di Gunung Sinjar.  Kami tak sudi ISIS menjamah kami'".

Beberapa wanita warga Amerli yang berhasil diungsikan lewat udara ke Baghdad pekan ini mengatakan satu-satunya yang terpikir dari para wanita Amerli yang masih berada di kota itu adalah apakah orang lain yang menembak dirinya sendiri atau para wanita itu sendiri yang menembak dirinya sendiri.

"Semua wanita akan bunuh diri, apakah itu dengan menembak diri sendiri atau dengan besin lalu membakar diri hingga mati," kata Fatima Qassim, pemilik salon kecantikan dari Amerli.

Fatima mengungkapkan bahwa abangnya kini sedang berjuang mempertahankan kota itu dan masih bersama istri dan keenam anaknya.

"Dia memasukkan delapan peluru dalam senjatanya dan dia berkata jika ISIS memasuki kota itu maka 'saya akan menembak anak-anak saya satu per satu dan lalu menembak mati istri saya serta saya sendiri."

Laila yang masih bersaudara dengan Fatima mengatakan bahwa adik perempuan suaminya (bernama Nada) bunuh diri beberapa minggu lalu setelah suami Laila terbunuh dalam pertempuran.

Setelah 40 hari, ayahanda Nada meminta Nada menjadi suami kedua dari seseorang yang diyakini seorang laskar ISIS.  Dia (Nada) mengambil pistol dan menembakkannya ke dirinya sendiri, kata Laila.

Antara 15.000 sampai dengan 20.000 keluarga masih bertahan di Amerli.  Dua bulan dikepung ISIS membuat kota itu kekurangan makanan dan kehausan.

Sekitar 2.000 lelaki, yang kebanyakan petani dan PNS, menggali parit-parit pertahanan kota dan berhasil menghalau tiga serangan ISIS.

Amerika Serikat kabarnya akan memulai misi kemanusiaan kepada warga kota Amerli seperti dilakukan kepada warga minoritas Yazidi di Gunung Sinjar beberapa pekan lalu.

Pekan lalu PBB mengatakan situasi di Amerli dilanda suasana putus asa dan membutuhkan aksi segera untuk mencegah pembantaian.

Warga keturunan Turki di Irak mengaku mereka menjadi pihak yang paling menderita dalam ofensif ISIS ke Irak Utara.

"Lebih dari 40 desa yang mengelilingi Amerli jatuh ke tangan ISIS. Jika Amerli jatuh maka jelas akan terjadi genosida (pemusnahan etnis)," kata Torhan al-Mufti, Menerti Komunikasi Irak. (antara/mukafi niam)

Sabtu 30 Agustus 2014 6:13 WIB
Tiga Perempuan Malaysia “Jihad Seks” Bersama ISIS
Tiga Perempuan Malaysia “Jihad Seks” Bersama ISIS

Jakarta, NU Online
Tiga perempuan Malaysia, tampaknya bersimpati kepada Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), dilaporkan telah melakukan perjalanan ke Timur Tengah untuk menawarkan diri secara seksual kepada militan, kata seorang pejabat intelijen Malaysia dalam wawancara yang diterbitkan Rabu. <>

"Para wanita ini diyakini telah menawarkan diri mereka dalam peran kenyamanan seksual kepada pejuang ISIS," kata pejabat intelijen, yang berbicara dengan syarat anonim, mengatakan kepada The Insider Malaysia yang dikutip oleh Al Arabiya. 

Dia menambahkan: "Konsep ini mungkin tampak kontroversial tetapi muncul pada beberapa perempuan Muslim untuk menunjukkan simpati mereka pada ISIS." 

Ini yang disebut Jihad al-nikah, hubungan seksual di luar nikah dengan beberapa partner yang dianggap oleh beberapa kelompok garis keras Salafi sebagai bentuk sah dari perang suci. 

"Pertukaran data Intelijen dengan negara-negara lain menunjukkan bahwa perempuan Muslim Sunni dari Australia dan Inggris juga telah bergabung dengan ISIS," kata pejabat intelijen. 

"Para pejabat intelijen Australia telah mengungkapkan bahwa lebih dari 100 Muslim Australia berada di Suriah berjuang bersama ISIS." 

Sebelumnya laporan mengenai perempuan Muslim, termasuk wanita Tunisia yang menuju ke Suriah untuk Jihad al-nikah beredar pada akhir 2013, sedangkan kasus yang dilaporkan ini merupakan yang terbaru. 

Pejabat itu menyatakan bahwa salah satu wanita berumur 30-an, dan satu lagi di usia 40-an. 

Malaysia awalnya mengungkapkan bahwa sekitar 30 warga Malaysia mungkin telah melakukan perjalanan ke Timur Tengah untuk bergabung ISIS. (mukafi niam) foto: al arabiya

Sabtu 30 Agustus 2014 4:56 WIB
Larangan Penggunaan Bikini Halal Picu Kontroversi di Marokko
Larangan Penggunaan Bikini Halal Picu Kontroversi di Marokko

Jakarta, NU Online
Beberapa resor Maroko di kota wisata Marrakesh telah mengeluarkan peraturan baru, yang melarang penggunaan burkini di kolam renang pribadi mereka atas apa yang mereka sebut "alasan kebersihan".  
<>
Hanya "pakaian renang biasa" yang diperbolehkan Mazagan beach resort, yang terletak di al-Jadida di selatan ibukota ekonomi Casablanca sebagaimana dilansir oleh Al Arabiya News. 
 
Para pejabat resor menambahkan bahwa burqini tidak diperbolehkan untuk dikenakan di kolam renang resor. 

 Burkini ini berasal dari kata burqa (pakaian yang menutupi kepala sampai pergelangan kaki) dan bikini. 
 
Dua potong baju renang menggabungkan penutup kepala, kamisol longgar dan legging, awalnya dirancang untuk wanita Muslim guna membantu mereka berenang. 
 
Pakaian ini awalnya diimpor dari Turki dan Maroko. 

 Beberapa orang mengatakan pakaian ini sebagai pakaian halal renang. Larangan burkini dilaporkan secara luas oleh media di Marokko di tengah meningkatkan kontroversi di Kerajaan Utara Afrika. 
 
Situs-situs berita lokal telah mengungguh poster yang digunakan oleh manajemen kolam renang pribadi untuk menginformasikan pengguna bahwa burkini tidak diperbolehkan. 

 Hal ini dilaporkan bahkan terjadi jika burkini terbuat dari bahan renang khusus. 
 
Masalah ini telah mengangkat kontroversi politik setelah Abdelaziz Aftati, seorang anggota parlemen dari partai Keadilan dan Pembangunan Islam Moderat yang berkuasa, yang menyampaikan keluhan kepada Menteri Pariwisata Lahcen Haddad, setelah seorang wanita yang mengenakan burkini dilaporkan dilarang kolam renang di al-Jadida, menurut Maroko World News.  

Menurut situs Maroko, Aftati mengatakan kepada pers bahwa tidak boleh membatasi kebebasan masyarakat dan keyakinan mereka yang menunjukkan bentuk "kolonisasi baru."  

Pada tahun 2009, pihak berwenang di kota Norwegia Oslo mengijinkan wanita Muslim menggunakan kolam renang kota dengan burqini mereka.  

Gaun renang Muslim juga diperbolehkan di Australia, Inggris dan Amerika Serikat. (islam.ru/mukafi niam) foto: AFP

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG