IMG-LOGO
Nasional

Asal-Usul Gelar “Haji” di Indonesia

Sabtu 27 September 2014 7:2 WIB
Bagikan:
Asal-Usul Gelar “Haji” di Indonesia

Jakarta, NU Online
Gelar “haji” tergolong cukup unik. Hanya di Indonesia saja kita menemukan fakta pemberian gelar semacam itu. Mengenai hal ini, arkeolog Islam Nusantara, Agus Sunyoto, menyatakan hal tersebut mulai muncul sejak tahun 1916.
<>
"Kenapa dulu tidak ada Haji Diponegoro, Kiai Haji Mojo, padahal mereka sudah haji? Dulu kiai-kiai enggak ada gelar haji, wong itu ibadah kok. Sejarahnya (gelar “haji”, red) dimulai dari perlawanan umat Islam terhadap kolonial. Setiap ada pemberontakan selalu dipelopori guru thariqah, haji, ulama dari Pesantren, sudah, tiga itu yang jadi 'biang kerok' pemberontakan kompeni, sampai membuat kompeni kewalahan," beber Agus Sunyoto di Pesantren Ats-tsaqafah, Ciganjur, Jakarta. Jumat (24/9)

Penulis buku “Atlas Wali Songo” itu menambahkan, para kolonialis sampai kebingungan karena setiap ada warga pribumi pulang dari tanah suci Mekkah selalu terjadi pemberontakan. "Tidak ada pemberontakan yang tidak melibatkan haji, terutama kiai haji dari pesantren-pesantren itu," tegasnya

Untuk memudahkan pengawasan, lanjut Wakil Ketua Pengurus Pusat Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) itu, pada tahun 1916  penjajah mengeluarkan keputusan Ordonansi Haji, yaitu setiap orang yang pulang dari haji wajib menggunakan gelar “haji”.

"Untuk apa (ordonansi haji, red)? Supaya gampang mengawasi, intelijen, sejak 1916 itulah setiap orang Indonesia yang pulang dari luar negeri diberi gelar haji," ujar Agus.

Menurut Dosen STAINU Jakarta itu, adapun sebutan atau panggilan “Ya Haj” yang ada di Timur Tengah hanya bersifat verbal atau ucapan penghormatan saja, karena pemerintahan di sana tidak mengeluarkan sertifikat haji. (Aiz Luthfi/Mahbib)


Bagikan:
Sabtu 27 September 2014 21:7 WIB
Wukuf Jatuh Hari Jum'at Disebut “Haji Akbar”
Wukuf Jatuh Hari Jum'at Disebut “Haji Akbar”

Kudus, NU Online
Puncak ibadah haji ditandai dengan pelaksanaan wukuf di padang Arafah. Pada musim haji 2014 ini, wukuf yang jatuh pada 9 Dzulhijjah jatuh pada Jum'at (3/10) sehingga sering disebut sebagai “haji akbar”.
<>
Demikian yang dilaporkan Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatu Ulama (ISNU) Kudus Kisbiyanto kepada NU Online di Kudus melalui jejaring sosial media langsung dari tanah Suci Makkah, Jum'at kemarin (26/9).

Mengutip pemberitaan media Arab Saudi, Kisbiyanto menginformasikan sekitar empat juta jamaah haji dari semua negara di dunia, dan ratusan ribu jamaah dari jazirah Arab sendiri akan memadati Arafah, Mina, Muzdalifah, dan Masjidil Haram. "Kekhususan haji akbar ini terletak pada maksimalnya jumlah jamaah karena bersifat sangat istimewa sehingga penduduk negara-negara Arab akan sangat banyak yang  turut melaksanakan ibadah haji," ujarnya.
 
Ia mengatakan haji akbar tahun 1435 H ini yang merupakan fadhal dari Allah SWT yang perlu disyukuri oleh semua muslimin muslimat sedunia. Oleh karenanya, Kisbiyanto berharap doa agar semua jamaah haji Indonesia di Arab Saudi tetap sehat, selamat dalam menjalankan ibadah haji dan ibadah tambahan lainnya.
 
Terkait adanya perbedaan penetapan 1 Dzulhijjah 1435 H antara Kerajaan Arab Saudi dan pemerintah ataupun ormas keagamaan di Indonesia, Kisbiyanto menyatakan akan tetap mengikuti hari Arafah pada hari Jum'at dan merayakan hari raya Idul Adha pada hari Sabtu (4/10).

Dikatakan, metode hisab dan rukyat yang diterapkan bisa saja berbeda. Perbedaan bisa dipengaruhi oleh letak geografis negara tertentu terhadap keterlihatan bulan pada tgl 1 Dzulhijjah.

"Kendati begitu, bagi masyarakat di tanah air kami mengimbau untuk tetap merayakan Idul Adha sesuai dengan tempat tinggal masing-masing menyesuaikan ketetapan pemerintah Indonesia tanpa harus ada perpecahan,” tandasnya.

Kisbiyanto juga melaporkan kondisi cuaca di Makkah maupun Madinah sangat panas, namun masih relatif bersahabat untuk orang Indonesia. Umumnya, imbuh dia, jamaah Indonesia banyak yang mengenakan masker guna menahan rasa panas untuk pernafasan serta memakai pakaian berlengan panjang agar tidak terlalu tersengat panas matahari.

"Namun demikian, Kerajaan Saudi Arabia sudah banyak menyediakan pendingin ruangan di semua ruang di Masjid Nabawi Madinah maupun Masjidil Haram Makkah. Di halaman masjid juga banyak disediakan kipas angin besar-besar dengan  angin yg mengandung percikan air, sehingga berdampak pada udara yang sejuk. Termasuk apartemen, hotel, maktab juga diberikan AC baik di kamar maupun ruang-ruang lobi,"ujarnya. (Qomarul Adib/Abdullah Alawi)

Sabtu 27 September 2014 11:0 WIB
As’ad: Keruntuhan ISIS hanya Soal Waktu
As’ad: Keruntuhan ISIS hanya Soal Waktu

Jakarta, NU Online
Wakil ketua umum PBNU H As’ad Said Ali berpendapat meskipun keberadaannya sempat “mengguncang” dunia, keruntuhan Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) saat ini hanya soal waktu.
<>
“Asal kekuatan regional bersatu seperti Saudi, Mesir dan lainnya bersatu, mereka akan segera lemah,” katanya seusai peluncuran buku Al Qaeda: Tinjauan Sosial-Politik, Ideologi dan Sepak Terjangnya, yang merupakan rangkuman hasil pengalaman dan pengetahuannya selama berkarir di Badan Intelejen Negara (BIN).

Gerakan kekerasan di Irak, muncul setelah jatuhnya Saddam Hussein yang beraliran sunni. Pemerintahan lalu didominasi oleh kelompok syiah. Negara-negara Muslim Sunni di regional tersebut seperti Mesir dan Arab Saudi, secara tidak langsung akhirnya mendorong berkembangnya Al Qaeda, sebagai upaya menyeimbangkan dengan rezim Syiah. 

Situasi juga diperburuk oleh penarikan tentara Amerika Serikat di Irak yang terlalu cepat yang merubah stabilitas disana dan juga mengganggu kepentingan AS. Kelompok-kelompok Amerika di luar pemerintah lalu melakukan operasi melalui jalurnya di Turki yang juga anggota NATO. Kepentingan kedua pihak ini bertemu karena Turki tidak nyaman dengan adanya kedekatan Irak dengan Iran. 

Pemberian dukungan ini bukan untuk membuat kelompok militan kuat, tetapi sebagai ujung tombak untuk melakukan perubahan yang terjadi di Irak.

“Ternyata benar, ketika ISIS naik ke atas, PM Maliki diganti dengan PM Abadi yang lebih dekat dengan sunni. Pada akhirnya akan terjadi keseimbangan dan akhirnya ISIS akan ditekan sedemikian rupa sehingga keruntuhannya hanya akan masalah waktu,” tegasnya. 

Ditanya tentang pola penempatan tentara Amerika yang berlangsung sangat lama seperti di Jerman dan Jepang untuk menciptakan stabilitas nasional, dan sekarang, negara-negara tersebut keamanannya stabil dan menjadi sejahtera, hal tersebut tidak bisa diterapkan di dunia Muslim.

“Ngak bisa karena konteksnya lain, mereka kalah dalam perang dunia. Orang Arab kan nasionalismenya kuat sekali. Kalau ada orang asing, akan melawan,” tandasnya. (mukafi niam)

Sabtu 27 September 2014 10:1 WIB
Ideologi Radikal Berkembang karena Arogansi Barat
Ideologi Radikal Berkembang karena Arogansi Barat

Jakarta, NU Online
Negara-negara Barat harus menyadari bahwa sebab utama ideologi radikal tumbuh dan berkembang pesat, salah satunya adalah karena arogansi Barat, yang berusaha melakukan hegemoni politik, ideologi dan ekonomi secara massif di dunia Islam.
<>
Wakil Ketua Umum PBNU H As’ad Said Ali menyampaikan hal tersebut pada acara peluncuran buku karyanya, Al Qaeda: Kajian Sosial Politik, Ideologi dan Sepak Terjangnya, di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat malam (26/9/2014).

“Satu contohnya adalah membiarkan isu Palestina dan Isu Yerusalem (Al Aqhsa) tidak terselesaikan. Padahal di situlah ‘emosi’ umat Islam mudah terprovokasi untuk keuntungan radikalisme,” katanya.

Menurut As’ad, penting disadari bahwa gerakan jihadis dan gerakan-gerakan ideologis Islam radikal lainnya, kelahirannya juga dirangsang oleh, dan sebagai respon atas, kekecewaan yang mendalam terhadap negerinya, yang dinilai telah terseret ke dalam situasi amoral, sekuler, libertarianisme dan semakin jauh dari cita-cita masyarakat teokratis.

Menghadapi situasi baru tersebut, para penyelenggara negara dan kaum intelektual di dunia Islam dituntut kecerdasannya. Sistem politik di negeri-negeri muslim yang sekarang ini ada, yang dibangun di atas gagasan negara-bangsa, harus mampu merespon secara kreatif berbagai perkembangan baru yang muncul.

“Pembangunan ekonomi, modernisasi dan demokratisasi, harus dikelola sedemikian rupa untuk menghindarkan jebakan yang tidak diinginkan, yakni lahirnya gerakan jihadis,” tambahnya.

Menurutnya, dalam pengalaman negara-negara muslim, kita ketahui masih banyak yang belum berhasil membangun sistem politik yang  dapat menggabungkan secara harmonis antara gagasan negara-bangsa dengan ajaran Islam. Barangkali baru sebagian saja yang berhasil. Itupun masih dalam proses, di antaranya adalah Indonesia dan sejumlah kecil negara Arab.

“Indonesia adalah contoh unik, bagaimana para ulama mazhab, mazhab maslahat, khususnya NU, Muhammdiyah dan ormas lainnya, bersama tokoh-tokoh nasionalis, Muslim maupun Non-Muslim, mampu merumuskan suatu dasar negara yang secara esensial sama sekali tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip agama,” paparnya.

Bahkan, imbuh As’ad, asas Pancasila merupakan sebuah rumusan cerdas mengatasi problem dikotomis, sekuler versus  teokrasi, yang dihadapi dunia Islam saat itu. Meski demikian, negara-negara yang relatif berhasil itupun kini dihadapkan dengan tantangan-tantangan barunya.

Hadir dalam peluncuran buku tersebut mantan tokoh dan pendiri Jamaah Islamiyah Mesir Najih Ibrahim Abdullah, mantan Kepala Badan Intelijen Nasional Hendropriyono, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, serta para tokoh dan cendekiawan lainnya. Acara disusul bedah buku oleh pengamat politik dan pengaji Timur Tengah Fachri Ali, Rektor UIN Jakarta Komaruddin Hidayat, Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar. (Mahbib Khoiron)

Ideologi Radikal Berkembang karena Arogansi Barat

Jakarta, NU Online

Negara-negara Barat harus menyadari bahwa sebab utama ideologi radikal tumbuh dan berkembang pesat, salah satunya adalah karena arogansi Barat, yang berusaha melakukan hegemoni politik, ideologi dan ekonomi secara massif di dunia Islam.

Wakil Ketua Umum PBNU H As’ad Said Ali menyampaikan hal tersebut pada acara peluncuran buku karyanya, Al Qaeda: Kajian Sosial Politik, Ideologi dan Sepak Terjangnya, di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat malam (26/9/2014).

“Satu contohnya adalah membiarkan isu Palestina dan Isu Yerusalem (Al Aqhsa) tidak terselesaikan. Padahal di situlah ‘emosi’ umat Islam mudah terprovokasi untuk keuntungan radikalisme,” katanya.

Menurut As’ad, penting disadari bahwa gerakan jihadis dan gerakan-gerakan ideologis Islam radikal lainnya, kelahirannya juga dirangsang oleh, dan sebagai respon atas, kekecewaan yang mendalam terhadap negerinya, yang dinilai telah terseret ke dalam situasi amoral, sekuler, libertarianisme dan semakin jauh dari cita-cita masyarakat teokratis.

Menghadapi situasi baru tersebut, para penyelenggara negara dan kaum intelektual di dunia Islam dituntut kecerdasannya. Sistem politik di negeri-negeri muslim yang sekarang ini ada, yang dibangun di atas gagasan negara-bangsa, harus mampu merespon secara kreatif berbagai perkembangan baru yang muncul.

“Pembangunan ekonomi, modernisasi dan demokratisasi, harus dikelola sedemikian rupa untuk menghindarkan jebakan yang tidak diinginkan, yakni lahirnya gerakan jihadis,” tambahnya.

Menurutnya, dalam pengalaman negara-negara muslim, kita ketahui masih banyak yang belum berhasil membangun sistem politik yang  dapat menggabungkan secara harmonis antara gagasan negara-bangsa dengan ajaran Islam. Barangkali baru sebagian saja yang berhasil. Itupun masih dalam proses, di antaranya adalah Indonesia dan sejumlah kecil negara Arab.

“Indonesia adalah contoh unik, bagaimana para ulama mazhab, mazhab maslahat, khususnya NU, Muhammdiyah dan ormas lainnya, bersama tokoh-tokoh nasionalis, Muslim maupun Non-Muslim, mampu merumuskan suatu dasar negara yang secara esensial sama sekali tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip agama,” paparnya.

Bahkan, imbuh As’ad, asas Pancasila merupakan sebuah rumusan cerdas mengatasi problem dikotomis, sekuler versus  teokrasi, yang dihadapi dunia Islam saat itu. Meski demikian, negara-negara yang relatif berhasil itupun kini dihadapkan dengan tantangan-tantangan barunya.

Hadir dalam peluncuran buku tersebut mantan Kepala Badan Intelijen Nasional Hendropriyono, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, serta para tokoh dan cendekiawan lainnya. Acara disusul bedah buku oleh pengamat politik dan pengaji Timur Tengah Fachri Ali, Rektor UIN Jakarta Komaruddin Hidayat, Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar. (Mahbib Khoiron)

 

 

Ideologi Radikal Berkembang karena Arogansi Barat

Jakarta, NU Online
Negara-negara Barat harus menyadari bahwa sebab utama ideologi radikal tumbuh dan berkembang pesat, salah satunya adalah karena arogansi Barat, yang berusaha melakukan hegemoni politik, ideologi dan ekonomi secara massif di dunia Islam.

Wakil Ketua Umum PBNU H As’ad Said Ali menyampaikan hal tersebut pada acara peluncuran buku karyanya, Al Qaeda: Kajian Sosial Politik, Ideologi dan Sepak Terjangnya, di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat malam (26/9/2014).

“Satu contohnya adalah membiarkan isu Palestina dan Isu Yerusalem (Al Aqhsa) tidak terselesaikan. Padahal di situlah ‘emosi’ umat Islam mudah terprovokasi untuk keuntungan radikalisme,” katanya.

Menurut As’ad, penting disadari bahwa gerakan jihadis dan gerakan-gerakan ideologis Islam radikal lainnya, kelahirannya juga dirangsang oleh, dan sebagai respon atas, kekecewaan yang mendalam terhadap negerinya, yang dinilai telah terseret ke dalam situasi amoral, sekuler, libertarianisme dan semakin jauh dari cita-cita masyarakat teokratis.

Menghadapi situasi baru tersebut, para penyelenggara negara dan kaum intelektual di dunia Islam dituntut kecerdasannya. Sistem politik di negeri-negeri muslim yang sekarang ini ada, yang dibangun di atas gagasan negara-bangsa, harus mampu merespon secara kreatif berbagai perkembangan baru yang muncul.

“Pembangunan ekonomi, modernisasi dan demokratisasi, harus dikelola sedemikian rupa untuk menghindarkan jebakan yang tidak diinginkan, yakni lahirnya gerakan jihadis,” tambahnya.

Menurutnya, dalam pengalaman negara-negara muslim, kita ketahui masih banyak yang belum berhasil membangun sistem politik yang  dapat menggabungkan secara harmonis antara gagasan negara-bangsa dengan ajaran Islam. Barangkali baru sebagian saja yang berhasil. Itupun masih dalam proses, di antaranya adalah Indonesia dan sejumlah kecil negara Arab.

“Indonesia adalah contoh unik, bagaimana para ulama mazhab, mazhab maslahat, khususnya NU, Muhammdiyah dan ormas lainnya, bersama tokoh-tokoh nasionalis, Muslim maupun Non-Muslim, mampu merumuskan suatu dasar negara yang secara esensial sama sekali tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip agama,” paparnya.

Bahkan, imbuh As’ad, asas Pancasila merupakan sebuah rumusan cerdas mengatasi problem dikotomis, sekuler versus  teokrasi, yang dihadapi dunia Islam saat itu. Meski demikian, negara-negara yang relatif berhasil itupun kini dihadapkan dengan tantangan-tantangan barunya.

Hadir dalam peluncuran buku tersebut mantan Kepala Badan Intelijen Nasional Hendropriyono, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, serta para tokoh dan cendekiawan lainnya. Acara disusul bedah buku oleh pengamat politik dan pengaji Timur Tengah Fachri Ali, Rektor UIN Jakarta Komaruddin Hidayat, Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar. (Mahbib Khoiron)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG