IMG-LOGO
Pesantren

Pesantren Tanggamus Sampaikan Pesan Moral Lewat Teater

Sabtu 25 Oktober 2014 08:08 WIB
Pesantren Tanggamus Sampaikan Pesan Moral Lewat Teater

Tanggamus, NU Online
Teater Jabal School SMK Nurul Falah dari Yayasan Pendidikan Islam Pondok Pesantren Nurul Falah (YPIPPNF), Gunungtiga, Pugung, Kabupaten Tanggamus, Lampung, menyampaikan pesan moral kepada masyarakat mengenai perceraian dengan memanggungkan karya naskah berjudul "Pada Suatu Hari" karya Arifin C Noer.
<>
"Drama yang diciptakan Arifin ini sangat mempunyai pesan moral yang tinggi, menyikapi banyaknya sebuah kata perceraian yang terjadi dewasa ini yang didasari oleh perasaan cemburu, hal sepele yang tentunya tidak perlu lagi ada dalam kalimat rumah tangga," ujar Kepala SMK Nurul Falah Wahidun, didampingi Ketua Yayasan YPIPPNF Ustad H Junaedi AR Bc Hk di Tanggamus, Jumat (24/10).

Pementasan bertema kekeluargaan itu berlangsung pukul 14.30 WIB – selesai di Gedung Rina, Pringsewu. Menurut Wahidun pula, banyak asumsi yang mengatakan, bahwa sebuah pernikahan ibarat seperti sebuah mainan saja oleh sebagian besar orang yang tentunya tidak memiliki keseriusan dalam menjalani bahtera rumah tangganya.

Peran seorang saudara atau orang tua kerap kali dapat menyelamatkan sebuah pernikahan, namun apakah yang terjadi jika tidak ada orang tua atau pun saudara? Apakah perceraian akan tetap terjadi.

"Kuncinya adalah pada diri kita, sebagai manusia tentu bersinggungan dengan orang jelas terjadi, namun bagaimana kita menyikapi akan hal yang tentunya tidak perlu kita rasakan kepada orang-orang yang kita sayangi," katanya.

Pikirkanlah dalam segalah hal yang akan terjadi jika sebuah perceraian terjadi, terlebih jika dalam rumah tangga itu telah memiliki anak yan tidak tahu pasti tentang masalah yang dialami kedua orang tuanya. Beban psikis tentunya akan benar –benar dirasakan oleh anak walau secara fisik mereka tidak memperlihatkan itu semua. Yang paling serius adalah sebuah tindakan yang tidak tepat saat memilih jalan," ujarnya.

Dari hari demi hari perceraian banyak terjadi, mulai dari rasa cemburu yang belum tentu kebenarannya, dengan emosi saat menyelesaikan, yang ada hanyalah saling baku lontar kejelekan pasangan.

"Lalu bagai mana dengan ucapan-ucapan manis mereka sebelum menikah? Apakah mereka akan menjilat lagi itu semua. Setidaknya bukan hanya diperuntukan bagi yang sudah menikah saja. Kita yang belum menikah tentunya bisa menjadi modal dasar kita untuk lebih siap dan hati-hati dalam memilih seorang pasangan hidup. Tidak hanya manis dimuka, tapi cobalah menjadikan hidupmu manis disetiap waktuanya. Agar kata-kata perceraian tidak lagi terucap di kemuadian hari," paparnya.

Jika mengintip kisah cinta di novel yang dimana didalamnya terdapat sebuah cinta yang begitu setianya hingga melahirkan keluarga yang begitu bahagia, alangkah indahnya dan bahagia kita melihat itu, tidakkah kita ingin seperti dalam cerita itu? Menjalani hidup dengan perasaan saling percaya, hingga maut yang memisahkan keduanya.

"Pengarang mengharapkan adanya kesadaran dari individu tentang cara untuk menanggapi sebuah permasalahan dalam rumah tangga, harus dengan pemikiran yang mantap sebelum memutuskan suatu keputusan, kita dilatih menahan sebuah emosi dalam menyelesaikan persoalan. Banyak dari sebuah hubungan termasuk dalam rumah tangga yang mengalami kebuntuan dalam memecahkan masalahnya," ujar dia lagi.

Berikut para tokoh dan penokohan dalam naskah karya Arifin C Noer. Nenek seorang pencemburu, penyindir, penasehat, romantis dan keras kepala. Lalu Kake, sosok yang jujur, penasehat, dan romantis. Kemudian Pesuruh, tokoh yang amanat, jujur dan lalai. Selanjutnya Janda atau Nyonya Wenas tokoh penyindir dan penggoda.

"Lantas Arba atau Sopir tokoh yang amanat dan jujur, lantas Novia sosok yang pencemburu, berburuk sangka dan keras kepala, kemudian Nita sosok penasehat dan Meli sosok yang Manja," ujar Wahidun menjelaskan. (Gatot Arifianto/Mahbib)

Bagikan:
IMG
IMG