IMG-LOGO
Daerah

Pesantren Al-Ittifaq Buka Layanan Pelatihan dan Konsultasi Agriculture


Jumat 13 Februari 2015 15:02 WIB
Bagikan:
Pesantren Al-Ittifaq Buka Layanan Pelatihan dan Konsultasi Agriculture

Bandung, NU Online
Pesantren Al-Ittifaq kabupaten Bandung menggagas sebuah lembaga baru dalam bidang pelatihan dan konsultasi Agribisnis. Lembaga bernama "Al-Ittifaq Agriculture" ini didirikan untuk mewadahi kegiatan-kegiatan pelatihan yang selama ini dikelola oleh koperasi.
<>
"Dengan lembaga  ini kami dirikan awal tahun 2015. Tujuannya supaya kami bisa lebih konsentrasi mengurus pelatihan dan kegiatan lain seperti konsultasi dan pemberdayaan, terutama yang terkait dengan kerja sama dengan pihak luar," kata pengasuh pesantren Al-Ittifaq H Agus Setia Irawan kepada NU Online, Jumat (13/2).

Setia Irawan mengatakan, pesantrennya selama ini memang sudah aktif dalam bidang pelatihan meliputi kegiatan pertanian, mulai dari budidaya hingga urusan pasca panen di berbagai bidang pertanian seperti sayur-mayur, peternakan dan perikanan. Bertahun-tahun kerja sama dengan berbagai pesantren lain, perguruan tinggi, perusahaan swasta hingga kementerian, terutama Kementerian Agama, Kementerian Pertanian, Kementerian Sosial dan lain sebagainya.

"Hanya saja karena mulai tahun 2014 ini kegiatan pelayanan untuk para peserta training semakin banyak, maka kami mendirikan lembaga tersendiri supaya pelayanan semakin baik dan lebih profesional," paparnya.

Selain itu Lembaga "Al-Ittifaq Agriculture" juga mengemban visi yang lebih bagus ketimbang sekadar pelatihan praktis karena sekarang miliki visioner pembangunan sumberdaya manusia terkait dengan kepentingan bangsa.

"Kami memiliki visi gerakan pertanian yang membumi dengan upaya penanaman kesadaran-kesadaran kebangsaan RI dengan menyandarkan diri pada arus republikanisme di mana semangat komunitarianisme dalam berorganisasi dan bertani harus diperkuat," ujarnya.

Semangat visioner itu, menurut Irawan, dibutuhkan mengingat kaum tani juga selalu terkait dengan dunia politik, perdagangan internasional dan seterusnya.

"Jadi jangan sampai petani hanya pinter mencari duit, tetapi tidak pinter dalam urusan organisasi dan urusan politik. Pertanian harus disertai dengan gerakan kebersamaan, lintas sektoral, lintas mazhab, lintas agama dan sadar akan etika keislaman, etika publik, etika ekonomi dengan mindset Islamic-virtue," paparnya. (Yus Makmun/Alhafiz K)

Bagikan:
IMG
IMG