IMG-LOGO
Internasional

Desainer Indonesia Perkenalkan Hijab Fashion ke Dunia

Kamis 26 Februari 2015 1:19 WIB
Bagikan:
Desainer Indonesia Perkenalkan Hijab Fashion ke Dunia

London, NU Online
Desainer muda terkemuka Indonesia Dian Pelangi (24) memperkenalkan hijab fashion kepada dunia dengan menggelar pelatihan cara pemakaian hijab dalam berbagai gaya di London.
<>
"Saya ingin memperkenalkan hijab fashion kepada dunia," ujar Dian Pelangi kepada Antara London seusai workshop pada ajang "International Fashion Showcase" (IFS) dan "London Fashion Week" (FSW), Selasa (24/2) sore.

Kegiatan itu dihadiri pengamat mode, mahasiswa fashion dan juga istri Duta Besar RI untuk Kerajaan Inggris Raya Lastry Thayeb dan pejabat KBRI London lainnya Anita Lidya Luhulima.

Dian Pelangi diundang oleh "London College of Fashion" untuk mengikuti program residensi di London. Selama dua pekan dari 22 Februari sampai 10 Maret, Dian berkolaborasi dengan mahasiswa tahun ketiga dan tahun terakhir dari program studi BA Textiles untuk membuat proyek yang terinspirasi dari koleksi Dian Pelangi.

Pelatihan yang hanya berlangsung selama satu jam itu berhasil menyedot perhatian dari para pengunjung IFS, mahasiswa yang menekuni desain dan pemerhati fashion yang berlangsung di parkiran yang disulap menjadi tempat peragaan busana dalam rangkaian London Fashion Week.

Sekretaris Satu KBRI London Hastin AB Dumadi mengakui ketertarikan para pengunjung yang hadir tidak saja karena kepiawaian Dian Pelangi memberikan workshop pemakaian hijab, namun karena sosok Dian sebagai entrepreneur muda di bidang fashion.

Dalam acara IFS yang didukung British Council dan London Fashion Week (FSW) di London, Dian Pelangi diundang khusus untuk memberikan presentasi mengenai desain dan perjalanan pengembangan bisnisnya di depan para mahasiswa London College of Fashion dan para desainer lainnya yang berpartisipasi di IFS.

Kehadiran Dian Pelangi di ajang fashion terkemuka di London ini didukung pula London for Fashion Enterprise, London College of Fashion, British Council, dan Kemendag RI. Sebelumnya, Dian Pelangi menampilkan karyanya di New York Couture Fashion Week di AS. 

Dalam rangkaian kegiatan di IFS dan FSW ini, Dian juga memilih dua mahasiwa London College of Fashion untuk melihat tempat usahanya di Pekalongan, Jawa Tengah. Banyak para peserta yang menghadiri presentasi Dian Pelangi di London ingin mengetahui perjalanan Dian dalam merintis usahanya dan menembus pasar internasional.

Karya Dian semuanya dibuat di Indonesia dan terinspirasi oleh batik serta budaya Indonesia. Karya-karya desain Dian semuanya merupakan buatan tangan sehingga unik dan berbeda satu dengan yang lainnya.

Dian menyatakan bahwa dalam pengembangan bisnisnya tidak semata-semata mempertimbangkan aspek bisnis, namun juga renjana atau "passion" untuk memberikan karya terbaik.

Selama di London, Dian akan mengadakan beberapa acara di antaranyan dialog dan lokakarya, seperti penataan hijab di IFS pada 24 Februari 2015 di Brewers Street Car Park dan public lecture tentang "Faith and Fashion" di London College of Fashion pada 2 Maret 2015. 

Dari residensi ini Dian akan menyeleksi dua mahasiswa dari London College of Fashion untuk diundang dalam program pertukaran residensi selama tiga bulan di tempat produksi Dian Pelangi di Pekalongan, bekerja sama dengan perajin batik dan songket.

Hasil dari kolaborasi Dian dengan mahasiswa dari London College of Fashion akan ditampilkan dalam pergelaran fashion showcase di Jakarta Fashion Week pada Oktober 2015.

Dian Pelangi, adalah desainer busana Muslim dari generasi pertama Indonesia Fashion Forward. Dian lulus dari Ecole Superieur des Arts et Techniques de la Mode (ESMOD) pada 2008 dan membawa angin segar dan penuh warna ke panggung busana Muslim di Indonesia maupun mancanegara.

Dian terinspirasi akan pelangi yang begitu kaya warna dan selalu berusaha menggali kekayaan budaya Indonesia, mulai dari tie dye yang cerah, songket yang indah, sampai batik yang mewah.

Setelah diwawancarai oleh CNN pada tahun 2010, popularitas Dian melejit dan langsung menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dan diikuti di dunia mode Indonesia. 

Menyadari pengaruhnya yang sudah sangat luas, anggota termuda dari Asosiasi Perancang Pengusaha Muda Indonesia (APPMI) ini kini telah menerbitkan dua buah buku yang berisi kumpulan "street style" para Muslimah yang ditemuinya di negara-negara yang ia kunjungi dan "Brain Beauty Belief" yang telah menjadi "national bestseller" ini berisi kumpulan saran untuk Muslimah dari sisi agama hingga fashion.

Pada akhir 2011, Dian Pelangi diundang ke Paris untuk mengikuti "The International Fair of Muslim World" di Le Bourget dan memastikan jejaknya sebagai salah seorang desainer muda Indonesia yang patut diperhitungkan.

Di awal tahun 2015 ini, Dian Pelangi bersama kedua teman desainernya, yakni Barli Asmara dan Zaskia Sungkar mengikuti New York Couture Fashion Week dengan mengangkat kain asal Lombok, Nusa Tenggara Barat, 14 Februari lalu di The Crowne Manhattan, Times Square, New York.

Program Indonesia Fashion Forward adalah inisiatif nirlaba yang berfokus pada pengembangan kapasitas label fashion Indonesia untuk siap bersaing di pasar internasional. 


Para desainer dilatih oleh ahli mode kelas dunia untuk mempertajam kreativitas, mengidentifikasi masalah dan solusi yang dapat menghambat pertumbuhan bisnis, serta memahami branding, analisis penjualan, kemitraan strategis dan taktik untuk menembus pasar global.

Program ini merupakan kolaborasi dari Jakarta Fashion Week, Departemen Pariwisata Republik Indonesia, British Council dan Centre for Fashion Enterprise (CFE). Berbasis di London, CFE adalah inkubator bisnis fashion yang mendukung pengembangan label baru dan desainer untuk menjamin kelangsungan hidup dan sukses di pasar internasional. 

Melalui program IFF, para desainer juga mendapatkan kesempatan yang lebih besar untuk menampilkan karya mereka di berbagai acara fashion di tahap lokal dan internasional. (antara/mukafi niam)

Bagikan:
Rabu 25 Februari 2015 23:59 WIB
Masjid di Betlehem Dibakar, Pelaku Tuliskan “Balas Dendam”
Masjid di Betlehem Dibakar, Pelaku Tuliskan “Balas Dendam”

Betlehem, NU Online
Satu masjid di dekat Betlehem, Tepi Barat, dibakar pada Selasa dengan kalimat anti-Arab berbahasa Ibrani tertulis pada tembok di dekatnya, kata sejumlah saksi asal Palestina.
<>
Warga mengetahui kebakaran di masjid desa Jaba itu pada pukul 04.00 waktu setempat (17.00 WIB). Warga desa berhasil memadamkan api namun kerusakan bangunan sudah terjadi, kata saksi.

Pada tembok di dekat masjid itu, pelaku menyemprotkan cat bertuliskan "balas dendam" dan sejumlah pernyataan lain dalam bahasa Ibrani. 

Selain itu, terdapat gambar Bintang Daud (lambang Israel), kata saksi, yang meyakini pelakunya adalah penduduk Yahudi garis keras.

Desa Jaba terletak 10 kilometer baratdaya Betlehem. Di kawasan itu juga terdapat kantong permukiman Yahudi bernama Gush Etzion.

Juru bicara kepolisian Luba Samri membenarkan ada laporan dari warga Palestina atas pembakaran masjid di Jaba dan mengatakan unit kejahatan sektarian akan menyelidiki insiden itu. (antara/mukafi niam)

Rabu 25 Februari 2015 23:0 WIB
Penyiksaan Masih Umum Terjadi di Penjara Afganistan
Penyiksaan Masih Umum Terjadi di Penjara Afganistan

Kabul, NU Online
Penjara di Afghanistan menyiksa lebih dari sepertiga dari hampir 800 tahanan, yang diduga terlibat dalam gerakan Taliban, kata laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Rabu.
<>
Afganistan, yang mulai menangani sendiri pemberontakan Taliban sejak awal tahun karena sebagian besar pasukan NATO ditarik, dinilai PBB berhasil mencapai kemajuan dalam pengananan tahanan. Namun, di sisi lain, keengganan pemerintah setempat menghukum penyiksa justru membuat masalah itu masih umum terjadi.

"Upaya pemerintah Afghanistan mencegah penyiksaan dan penanganan salah terhadap tahanan mulai menunjukkan keberhasilan selama dua tahun belakangan," kata utusan tertinggi PBB untuk Afghanistan, Nicholas Haysom, dalam pernyataan tertulis.

"Meski demikian, masih banyak yang harus diperbaiki," tambah Heysom, seperti dilaporkan Reuters.

Undang-undang di Afghanistan sebetulnya telah melarang penyiksaan. Namun praktik tersebut masih banyak digunakan sebagai cara memperoleh informasi, tulis laporan PBB sambil menyatakan bahwa sistem hukum di negara tersebut terlalu bergantung pada pengakuan terdakwa sebagai dasar penetapan keputusan.

PBB, yang memang secara periodik menyiarkan laporan survei soal penyiksaan, menyatakan bahwa praktik penyiksaan turun sebesar 14 persen dibanding periode sebelumnya. 

Dalam laporan tersebut, PBB menemukan bahwa 35 persen dari 790 tahanan yang dituduh terlibat dalam gerakan pemberontakan Taliban telah disiksa dan tidak diperlakukan sebagai mana mestinya.

Meski penyiksaan masih terjadi secara luas, hanya ada satu penyiksaan maju ke meja hukum sejak 2010.

Selain itu, PBB juga menyebut "keterangan terpercaya" mengenai keberadaan sejumlah tempat penahanan rahasia yang dijalankan oleh sejumlah badan pemerintahan Afghanistan. PBB mendesak agar tempat tersebut segera ditutup.

Dalam menyikapi temuan PBB itu, pemerintah Afghanistan mengaku memahami kekhawatiran lembaga internasional terbesar tersebut. Namun Afghanistan juga menolak "banyak hal" isi laporan yang secara statistik dinilai menyesatkan.

Di sisi lain, pemerintah Afghanistan mengakui bahwa penyiksaan adalah persoalan besar dan berkomitmen untuk menyusun rencana penghapusan praktik itu.

Dalam laporan PBB, para korban menyebut 16 metode penyiksaan, termasuk di antaranya adalah pemukulan, pengaliran listrik dan penggantungan.

"Impunitas yang terus terjadi untuk kejahatan penyiksaan membuat praktik tersebut terus terjadi berulang," kata direktur hak asasi manusia PBB untuk Afghanistan, Georgette Gagnon.

Sementara itu, penurunan angka penyiksaan yang tercatat dalam laporan 2015 terjadi karena kebijakan baru pemerintah, pelatihan yang lebih baik untuk teknik interogasi, dan inspeksi rutin. (antara/mukafi niam)

Sabtu 21 Februari 2015 23:1 WIB
Habib Syech Meriahkan Korea Selatan dengan Shalawat
Habib Syech Meriahkan Korea Selatan dengan Shalawat

Kwangju, NU Online 
Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf dari Solo Jawa Tengah memeriahkan Korea Selatan dengan lantunan shalawat dibawakannya di depan ribuan jama’ah yang tergabung dalam Komunitas Muslim Korea Selatan, Kamis (19/2) di Kota Kwangju, Korea Selatan dalam acara Silaturrahim Akbar (Silakbar) 2015. Acara Silakbar adalah program komunitas muslim Indonesia di Korea yang diadakan tiap tahun sekali.<>

Para Syecher Mania di Korsel sangat antusias mengumandangkan sholawat ketika Habib Syech naik ke atas panggung. Acara makin meriah ketika seluruh pengunjung diajak bersholawat bersama oleh Habib Syech.

Dalam acara tersebut Habib Syech menekankan pentingnya manusia bergotong royong sebagai makhluk sosial. Manusia tidak bisa hidup sendiri, membangun usahanya sendiri tanpa adanya sikap tolong menolong dan gotong royong dengan sesama. 

“Karena manusia yang bertaqwa adalah selain baik hubungannya dengan Allah SWT juga harus baik dalam berhubungan dengan sesama manusia, apapun keyakinannya,” tegasnya.

Disamping itu, lanjutnya, pentingnya seseorang bersyukur dan mengingat Allah dalam kondisi senang maupun sedih, jangan mengingat Allah hanya ketika mendapat teguran berupa bencana atau kesedihan. Habib Syech juga berpesan kepada jamaah untuk tetap bekerja dantidak melupakan kewajiban beribadah. Acara semakin menarik dengan diadakannya dialog tanya jawab dari para pengunjung kepada Habib Syech.

Sehari sebelum acara Silakbar, rombongan Habib Syech bertolak ke mushola at-Taubah untuk menerima cindera mata dari PCINU Korsel yang langsung diserahkan oleh Ketua Umum PCINU Korsel Yusuf Muhammad.

Acara Silakbar dimulai dengan menampilkan kesenian rebana dari perkumpulan mushola-mushola dan masjid-masjid yang ada di Korea.

Disamping itu, acara juga dimeriahkan dengan adanya stan-satn bazar yang menjual berbagai macam barang seperti sarung, peci, kopiah, batik, tasbih, baju, buku-buku agama, aneka macam jajanan, dan makanan khas Indonesia dari seluruh masjid, mushola, paguyuban, dan organisasi yang ada di Korea.

Seperti yang terlihat di stan PCINU Korsel yang menjual aneka macam dagangan seperti tasbih, batik khas PCINU, sarung, kaos syecher mania, kaos gusdur, kaos banser, buku-buku ke-NU-an, buku-buku agama, dan lain-lain. Di samping itu juga melayani pembuatan Kartanu bagi warga NU di Korea Selatan.

Acara dimulai dengan menampilkan kesenian rebana kemudian dilanjutkan dengan sambutan-sambutan dari ketua panitia acara, ketua Komunitas Muslim Indonesia (KMI) Korsel sambil membacakan perolehan infaq untuk pembangunan masjid agung Kota Daegu, dan perwakilan Kedubes RI Korsel. 

Di akhir acara, sebelum membaca doa penutup, Habib Syech berharap,  semoga acara-acara seperti ini bisa menjadikan wadah hubungan silaturrahim dan mempererat tali ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathoniah sesama masyarakat Indonesia di Korea. “Sehingga dakwah Islam khas Indonesia yang penuh dengan keramahan, kesopanan, dan kedamaian bisa berkembang di Korea Selatan,” tandasnya. (Imam Sibaweh/Fathoni)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG