IMG-LOGO
Daerah

Kisah Preman Insaf di Bulan Ramadhan

Ahad 21 Juni 2015 1:0 WIB
Bagikan:
Kisah Preman Insaf di Bulan Ramadhan

Bojonegoro, NU Online
Seperti pondok pesantren pada umumnya, di bulan Ramadhan, pesantren lebih menggenjot santri dalam mengaji. Termasuk di Pondok Pesantren Asy'ari Desa Ceweng Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
<>
Di pondok pesantren yang diasuh Kiai Ahmad Choirul Anam itu ada beberapa mantan preman. Di antara mereka, selain berambut panjang, ada yang bertato.

"Di bulan Ramadhan ini dapat hidayah, saya ingin insaf," ujar salah seorang preman, Rio, dari Terminal Rajekwesi Bojonegoro.

Diceritakan Rio, kalau sebelum insaf, ia banyak melakukan perbuatan yang tidak baik dan tidak pantas disebutkan.

Kemudian setelah kenal Abah Choir (panggilan Ahmad Choirul Anam) yang mengadakan pengajian rutin di terminal kepada anak-anak jalanan dan penghuni terminal, ia berubah.

"Panjang ceritanya bisa insaf. Saya mau ke pondok karena kenal beliau. Abah sampai ngelawang door to door," ungkapnya di masjid Pondok Ceweng setempat.

Ditambahkan, selain belajar agama dan puasa, ia juga mendirikan Sanggar Putra Bima untuk mewadahi anak jalanan agar mengisi kegiatan-kegiatan yang positif.

Preman insaf lainnya, Puguh, asal Kelurahan Pandigiling Kecamatan Sawahan Surabaya Selatan. Ia mengaku sekitar setahun di pondok tersebut. Dengan kaki, tangan, dada dan dahi bertato, ia tetap belajar ilmu agama meski atas keinginan kakaknya.

"Dulu nakal banget, Mas; preman, minum, mencuri uang, dadu dan lainnya pernah," ungkap remaja berusia 24 tahun itu. Selama di Pondok Ceweng, ia diajari banyak hal termasuk kebersihan dan mengaji.

Pengasuh pondok pesantren Al-Asy'ari Ahmad Choirul Anam menuturkan, di tempatnya ada lima preman yang insaf dan mau belajar mengaji. Orang berniat baik itu, sudah insaf, tetapi harus diiringi dengan perbuatan-perbuatan baik.

"Ada lima preman yang insaf di bulan Ramadhan ini, kebanyakan dari terminal Bojonegoro. Tahun lalu juga ada, sekarang sudah kembali di tengah-tengah masyarakat," jelasnya.

Awalnya Abah Choir tidak serta-merta langsung mengajak berbuat baik. Ia mendekati mereka perlahan-lahan dengan memberikan pengajian dan pengetahuan yang baik-baik. Setelah mau ke pondok dan mengaji, mereka juga diajak berpuasa saat bulan Ramadhan sekarang ini.

"Di pondok mereka diajari tentang lingkungan, sikap dan etika. Supaya nanti bisa kembali di masyarakat dan bermanfaat," pungkasnya. [M. Yazid/Abdullah Alawi]

Bagikan:
Ahad 21 Juni 2015 21:4 WIB
Masjid Agung Ar-Raudlah Kraksaan Siapkan Seribu Paket Takjil
Masjid Agung Ar-Raudlah Kraksaan Siapkan Seribu Paket Takjil

Probolinggo, NU Online
Selama bulan suci Ramadhan 1436 H, pengurus masjid agung Ar-Raudlah Kota Kraksaan kabupaten Probolinggo menyiapkan seribu paket takjil. Pihak pengurus juga menyediakan nasi bungkus untuk berbuka puasa setiap harinya.
<>
Paket takjil dan buka puasa ini dipersiapkan sebagai wujud syiar Ramadhan. Takjil itu disediakan bagi para jamaah termasuk para musafir yang tengah menjalankan ibadah puasa.

Takjil sebanyak itu merupakan sumbangsih dari berbagai pihak. Takjil yang dipersiapkan meliputi korma, kolak, nasi bungkus dan air mineral.

Sekretaris pengurus masjid agung Ar-Raudlah Kota Kraksaan Nurul Yaqin mengatakan, pihak yang turut mendukung program syiar Ramadhan ini adalah takmir masjid, sejumlah perangkat daerah di lingkungan Pemkab Probolinggo dan masyarakat Probolinggo.

Yaqin merinci, takmir masjid menyediakan 200 paket takjil dan nasi bungkus. Sisanya sejumlah 800 paket merupakan kontribusi dari SKPD dan masyarakat. “Takjil tahun ini merupakan program rutin tahunan dari takmir masjid. Dan setiap hari akan ada dua instansi yang berkontribusi,” ujarnya, Ahad (21/6).

Ia menambahkan pihak-pihak lain yang juga ingin ikut berpartisipasi masih diperkenankan. “Selama dalam batas wajar dan tidak mengganggu kekondusifan masjid, kami persilakan,” jelasnya.

Seribu paket takjil itu nantinya akan dibagikan kepada jamaah saat waktu berbuka tiba. Kemudian setelah itu jamaah akan melakukan sembahyang Maghrib bersama hingga sembahyang Tarawih bersama. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Ahad 21 Juni 2015 20:0 WIB
MUI Sampang Imbau Warga Tak Mencari Penghidupan dengan Mengemis
MUI Sampang Imbau Warga Tak Mencari Penghidupan dengan Mengemis

Sampang, NU Online
Memasuki bulan Ramadhan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sampang Madura kembali mengingatkan warga agar tidak mencari mata pencaharian dengan menjadi pengemis. MUI Sampang mengimbau warga agar mencari sumber penghidupan yang lain.<>

MUI setempat pernah mengeluarkan fatwa haram bagi warga yang menekuni pekerjaan sebagai mengemis, menyusul maraknya para pengemis terutama ketika memasuki bulan Ramadhan .

Ketua MUI Sampang KH Buchori Maksum di Sampang, Sabtu, mengatakan bahwa fatwa haram bagi warga yang mampu mengemis itu, telah dikeluarkan sejak beberapa tahun lalu.

"Kami ini perlu menyampaikan kembali bahwa fatwa haram mengemis itu, tidak pernah dicabut, dan seharusnya diperhatikan oleh masyarakat," katanya.

Keluarnya fatwa haram mengemis oleh MUI Sampang bersama MUI di tiga kabupaten lain di pulau Madura ini, menyusul temuan kasus di Desa Pragaan, Kecamatan Pragaan, Sumenep yang menjadikan mengemis sebagai pekerjaan sehari-hari.

Warga yang mengemis di desa itu, bukan karena faktor kemiskinan, akan tetapi sudah menjadi mata pencaharian.

Buktinya, warga yang mengemis di desa itu, banyak di antaranya memiliki rumah mewah, sehingga tidak layak disebut warga miskin yang harus hidup dengan belas kasihan orang lain.

"Kalau benar-benar miskin sebenarnya diperbolehkan. Tapi kan negara telah menanggung beban hidup mereka melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat," katanya.

Salah satu program yang dicanangkan pemerintah untuk membantu mengurangi angka kemiskinan adalah program keluarga harapan, bantuan langsung tunai, serta sejumlah program bantuan lain yang dikhususkan untuk warga miskin.

Sementara, memasuki bulan suci Ramadhan ini, warga mengemis di Kabupaten Sampang, sejak hari pertama Ramadhan semakin marak. Mereka datang dari kabupaten lain, dan umumnya mengaku dari Kabupaten Sumenep, yakni dari Desa Pragaan, Kecamatan Pragaan, Sumenep. (Antara/Mukafi Niam)

Ahad 21 Juni 2015 16:2 WIB
Gandeng Tribun Jateng, RMI NU Buka Rubrik Halaqah Ramadhan
Gandeng Tribun Jateng, RMI NU Buka Rubrik Halaqah Ramadhan

Semarang, NU Online
Pengurus Rabithah Ma'ahid Islamiyyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) Jawa Tengah bekerja sama dengan harian pagi Tribun Jateng membuka rubrik Halaqah. Rubrik ini hadir setiap hari selama Ramadhan. Berbentuk tanya-jawab seputar ibadah Ramadhan menjadikan pembaca bisa mendapatkan jawaban langsung dari pengurus RMI NU Jateng.<> 

Kerjasama ini merupakan tindak lanjut atas kunjungan pengurus RMI NU Jateng pada 27 Mei 2015 lalu. Selain membahas kerjasama dalam rubrik Halaqah, pengurus RMI NU Jateng menjelaskan tentang Gerakan Nasional Ayo Mondok yang diluncurkan 1 Juni lalu.

“Ini menjadi bagian penting, bahwa perlu adanya sinergi dengan media lokal dan nasional. Rubrik ini sebagai jembatan pembaca agar mengenal pesantren lebih jauh", ungkap anggota Departemen Media dan Informasi RMI NU Jateng, Khasan Ubaidillah. Ahad (21/6) di Semarang.

Pesantren, lanjutnya, menjadi tempat belajar ilmu yang dilandasi akhlak mulia. Sudah seharusnya pesantren dikenal lebih baik oleh berbagai kalangan. 

Untuk pembaca, bisa mengirimkan pertanyaan melalui line SMS ke 085712341233 untuk mendapatkan jawaban seputar ibadah Ramadhan. (Mukhamad Zulfa/Fathoni)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG