IMG-LOGO
Trending Now:
Daerah

Fatayat NU NTB Berbagi Sembako untuk Yatim dan Lansia

Senin 6 Juli 2015 10:3 WIB
Bagikan:
Fatayat NU NTB Berbagi Sembako untuk Yatim dan Lansia

Mataram, NU Online
Ratusan anak yatim dan lansia memadati kediaman Ketua Fatayat NU Nusa Tenggara Barat H Warti'ah jalan Swasembada nomor 122 Kekalek, Kota Mataram, Ahad (5/7) sore. Warga penerima santunan dan bantuan paket sembako ini sudah berkumpul di lokasi sejak 14.40.
<>
Mereka datang dari pelbagai yayasan panti asuhan yang ada di Kota Mataram.

"Kegiatan santunan seperti ini dilakukan tiap bulan Ramadhan," ujar Najwah, salah satu pengurus Fatayat NTB yang ditemui NU Online di tengah kerumunan warga.

Menurut Najwah, Ramadhan bulan yang tepat untuk mengalap berkah dengan berbagi.

Tampak hadir sejumlah politisi salah satu partai Islam Romahurmuzi, Hj Ermalena, dan sejumlah anggota DPRD NTB dari Fraksi partai Islam tersebut.

Menurut Najwah, para politisi ini akan mengadiri undangan Safari Ramadhan yang akan digelar oleh Walikota Mataram. Mereka juga akan menghadiri undangan Haul II Abuya As-Sayid Alwi Al-Maliki Al-Hasani sekaligus buka bersama dengan santri pesantren Nurul Islam NU Sekarbele, Kota Mataram. (Hadi/Alhafiz K)

Bagikan:
Senin 6 Juli 2015 23:30 WIB
Ramadhan, KMNU Undip Gelar Bakti Sosial
Ramadhan, KMNU Undip Gelar Bakti Sosial

Semarang, NU Online
Pada Sabtu 4 Juli 2015 bertepatan dengan 17 Ramadhan 1436 Hijriyah, Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Universitas Diponegoro (Undip) menggelar acara bakti sosial dan buka bersama bersama anak-anak Yayasan Islam Hamdan, di Dukuh Gendong Kelurahan Sendang Mulyo Kecamatan Tembalang, Semarang.
<>
Kegiatan ini merupakan kegiatan sosial KMNU Undip yang bertujuan untuk berbagi kebahagiaan kepada sesama Muslim. Terlebih ini adalah bulan Ramadhan, bulan dimana umat Islam diperintahkan untuk memperbanyak amalan-amalan kebaikan. Kegiatan ini merupakan salah satu contohnya.

Kegiatan bakti sosial dimulai sekitar pukul 15.30, ba’da sholat Ashar. Abu Na’im yang merupakan pengurus Yayasan Islam Hamdan dalam sambutannya berharap agar ke depannya KMNU Undip bisa semakin berjaya untuk mengawal perjuangan NU di kampus Universitas Diponegoro. 

“Saya ini tidak fanatik dengan organisasi entah NU ataupun yang lainnya. Tapi saya pribadi ini orang NU asli gress” tuturnya.

Kegiatan dilanjutkan dengan lomba-lomba untuk anak-anak Yayasan Islam Hamdan. Ada beberapa lomba menarik yang begitu antusias diikuti oleh anak-anak tersebut, yaitu lomba mewarnai, lomba kaligrafi, lomba hafalan surat-surat pendek, dan puncaknya adalah lomba cerdas cermat yang diikuti seluruh anak-anak. Tampak keceriaan pada wajah anak-anak tersebut, mereka sangat antusias saling berebut untuk menjawab soal-soal yang dibacakan.

Menginjak waktu adzan Maghrib acara disambung dengan ta’jil bersama, dilanjutkan sholat berjamaah dan buka bersama dengan anak-anak dan pengurus Yayasan Islam Hamdan. Selepas buka bersama acara dilanjutkan dengan pengumuman juara lomba-lomba dan juga penyerahan hadiah kepada para juara. Sebagai penghujung acara yaitu penyerahan bingkisan dan kenang-kenangan kepada pengurus yayasan yang diwakili oleh ketua panitia saudari Rita Sugiarto. Acara kemudian ditutup dengan do’a oleh pengurus Yayasan Islam Hamdan dan dilanjutkan dengan sholat Isya’ dan Tarawih berjamaah. Red: Mukafi Niam

Senin 6 Juli 2015 23:1 WIB
JELANG MUKTAMAR KE-33 NU
Ishari Jatim akan Pecahkan Rekor MURI dengan 1926 Penerbang
Ishari Jatim akan Pecahkan Rekor MURI dengan 1926 Penerbang

Pacet, NU Online
Jam sudah menunjukkan waktu pukul 23.30 WIB. Suhu udara kecamatan Pacet yang begitu dingin ternyata tidak menyurutkan langkah panitia pagelaran seribu penerbang Ishari (Ikatan Seni Hadrah Indonesia) di agenda Muktamar ke-33 NU untuk terus melanjutkan rapat koordinasi di kantor MWC NU Pacet Mojokerto baru-baru ini.
<>
Menyongsong Muktamar ke-33 NU, Pimpinan Wilayah IshariJawa Timur berinisiatif menorehkan sebuah sejarah dengan pemecahan rekor 1000 penerbang di muktamar nanti.

Perkembangan sejak awal inisiatif pagelaran 1000 penerbang ini juga direspon oleh PWNU Jawa Timur dengan diundangnya PW Ishari Jatim pada saat rapat sidang komisi dan pleno dalam rangka penyusunan kerangka sidang muktamar. 

Dalam forum tersebut, PW Ishari juga mendapat dukungan dari PCNU se-Jawa Timur untuk masuk kembali menjadi Banom. 

“Seminggu sebelum bulan Ramadhan, PW Ishari Jatim diundang untuk mengikuti Rakerwil NU Jawa Timur dalam menyambut agenda Muktamar NU. Tercatat 2000 orang lebih penerbang yang siap mengikuti muktamar,'' kata Ketua Panitia H. M. Aji Muslikh. 

Manurutnya, muktamar menjadi media untuk memperkenalkan lagi Ishari kepada khalayak luas. Ishari adalah salah satu khazanah yang pernah lahir dari rahim NU dan berkembang luas di luar bentuk banom. 

Komunikasi dengan berbagai pihak sudah dijalin, termasuk dengan tim kreatif Muktamar NU. Dari sana, tim kreatif pusat masih mencarikan waktu yang tepat untuk kemungkinan tampilnya Ishari di agenda Muktamar. 

''Kemungkinan kami akan tampil tanggal 3-4 Agustus nanti,'' ungkap Ketua PW Ishari Jatim, H Agus Yusuf Arif. 

Terakhir kali Ishari pernah tampil di arena Muktamar ke-23 NU pada tahun 1962. Ishari diminta oleh KH Wahab Hasbulloh untuk menunjukkan kepada Muktamirin bahwa Ishari adalah salah satu bagian dari keberagaman thoriqoh yang berkembang di tubuh NU. 

Saat itu memang keadaanya sangat jauh berbeda dengan sekarang. Majlis untuk tampilnya Ishari belum didukung dengan sarana yang cukup. Bahkan para peserta Ishari yang hadir disana berangkat dengan membawa bekal uang saku sendiri dan kebutuhan masing-masing. Tapi mereka tetap berangkat dengan semangat demi mensukseskan agenda muktamar waktu itu. 

Pada waktu itu juga akhirnya Ishari menjadi salah satu rintisan badan binaan di bawah naungan Jam'iyah NU. Kemudian baru secara resmi masuk menjadi salah satu badan otonom NU di tahun 1994 berdasarkan hasil Muktamar ke-29 NU di Cipasung Jawa Barat.

Ishari sendiri berawal dari sebuah komunitas kecil jama'ah yang dirintis oleh Hadratussyekh Abdurrokhim Pasuruan (1918) yang bertujuan untuk mengajarkan dan mengenalkan kecintaan kepada Sayyidina Muhammad SAW melalui sebuah thoriqoh pembacaan sholawat. 

Dalam perjalanan naik turunnya, Ishari sebagai jam'iyah pernah menjadi banom dalam NU. Pernah turun menjadi lembaga. Pernah turun menjadi sebuah lembaga kecil dibawah binaan jamiyyah Thoriqoh NU bersama thoriqoh mu'tabaroh lainnya. Bahkan Ishari pernah menjadi sebuah organisasi tersendiri karena Ishari sudah tidak termaktub lagi dalam AD/ART NU. Namun usaha untuk terus mengokohkan keberadaan jam'iyah tetap dilakukan dengan berinsiatif mendaftarkan jam’iyyah Ishari ke Kementerian Hukum dan HAM dan telah diterbitkan badan hukum akta pendirian organisasi Ishari.. 

Perkembangan Ishari dari muktamar ke muktamar yang menyebabkan perubahan posisi secara struktural memang cukup berdampak terhadap perkembangan internal jam'iyah Ishari.

Jam'iyyah yang masih mempunyai sekitar 200.000 jama'ah yang berbasis di Jawa Timur ini mempunyai perkembangan terakhir yang cukup bagus. Tercatat jam'iyyah Ishari sudah berkembang di beberapa daerah di luar Jawa Timur. Di Jawa Tengah sudah ada di daerah Blora, Banten dan Kudus. Di Jawa Barat daerah ada di daerah Depok dan Bogor. Di Jakarta ada di Jakarta Barat dan di daerah Jakarta Utara. Kemudian Wilayah Sumatra ada di Palembang dan Medan. Jam'iyyah Ishari juga ditemukan cukup pesat berkembang di Kalimantan yang dibawa oleh transmigran-transmigran dari Jawa. 

''Alhamdulillah, kini Ishari masih menjadi salah satu lembaga binaan PWNU Jawa Timur dan perkembangan jam'iyyah secara luas sudah menyebar hampir di seluruh Indonesia,'' terang Agus M. Nuruddin, sekretaris PW Ishari Jatim. Red; Mukafi Niam

Senin 6 Juli 2015 22:30 WIB
Pesanten Al-Munawwir Krapyak Baca 3 Juz dalam Tarawih
Pesanten Al-Munawwir Krapyak Baca 3 Juz dalam Tarawih

Yogyakarta, NU Online
Suasana Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta sangat kental dengan nuansa Al-Qur’an, terutama di bulan Ramadhan. Nuansa ini tak lepas dari tradisi yang telah diasas oleh pendirinya, Mbah KH Muhammad Munawwir, sosok yang memang terkenal sebagai muara sanad pengajian Al-Qur’an di Nusantara.
<>
Sejak didirikan pada 1911, Pesantren Al-Munawwir memfokuskan bidang pada pengajian Al-Qur’an, baik menghapal maupun mempelajari ragam qiroatnya. Meski pengajian berbagai ilmu agama mulai bertambah seiring perkembangan pesantren, namun penghapalan Al-Qur’an tetap menjadi ciri utamanya hingga sekarang. Salah satu tradisi penjagaan hapalan Al-Qur’an di Pesantren Al-Munawwir adalah pelaksanaan shalat tarawih dengan bacaan Al-Qur’an secara penuh 30 juz.

Sebagaimana diwasiatkan oleh Mbah Kiai Munawwir, bahwa hafidh (penghapal dan penjaga) Al-Qur’an yang ia akui adalah mereka yang berakhlak baik dan menjadikan hapalan Al-Qur’an sebagai bacaan shalat tarawih. Sebab itulah anak keturunan beliau terus menerus menjaga tradisi pembacaan Al-Qur’an dalam shalat tarawih ini hingga sekarang.

Shalat tarawih di masjid Pesantren Al-Munawwir Krapyak dilaksanakan sebanyak 20 rakaat, ditambah 3 rakaat shalat witir. Selama bulan Ramadhan, Al-Qur’an dikhatamkan dua kali dalam shalat tarawih dengan imam KHR. Muhammad Najib Abdul Qodir, cucu pendiri pesantren.

Khataman pertama digelar pada malam 20 Ramadhan bersama dua ribuan jamaah, baik santri maupun warga sekitar. Artinya, dari malam pertama hingga malam ke dua puluh Ramadhan dibacakan 30 juz di dalam shalat tarawih. Berarti setiap malam dibacakan 1,5 juz Al-Qur’an dalam 20 rakaat tarawih selama kurang lebih satu jam. Selesai tarawih dan witir, digelar majlis tahlil dan doa khatmil Qur’an serta makan bersama.

Mulai malam 21 hingga malam terakhir Ramadhan, bacaan ditambah menjadi 3 juz tiap malam.Sehingga otomatis durasi shalat pun menjadi berlipat ganda, yakni dua jam. Sebagai imam shalat tarawih ini, Kiai Najib membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dengan cara hadr, yakni pembacaan cepat namun tetap tartil atau sesuai dengan aturan-aturan tajwid.

Dalam teknik pembacaan Al-Qur’an, ada beberapa macam pembacaan menurut kecepatan atau temponya. Pertama,tahqiq, yakni membaca Al-Qur’an dengan lambat agar bisa tepat menempatkan hak-hak huruf yang semestinya, mulai dari makhraj, sifat-sifat huruf, maupun mad-qosr. Cara pembacaan ini dipraktekkan oleh Kiai Najib dalam pengajian Al-Qur’an secara talaqi bakda shubuh maupun simakan Al-Qur’an bakda dzuhur di Pesantren Al-Munawwir Krapyak.

Kedua, Tadwir, yakni bacaan dengan kecepatan sedang, tidak lambat tidak pula cepat. Ketiga, hadr, atau pembacaan cepat, tentu saja harus tetap sesuai dangan kaidah tajwid dan memperhatikan makhraj huruf. Sehingga tidak ada huruf yang terlipat atau saling tumpang tindih, tentu temponya disesuaikan dengan ukuran dan kemampuan qari. Pembacaan semacam ini dipraktekkan dalam pelaksanaan shalat tarawih di Masjid Pesantren Al-Munawwir Krapyak. (Zia Ul Haq/Mukafi Niam)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG