IMG-LOGO
Internasional

Berlebaran di Korea, Muslim Indonesia Tetap Hidangkan Opor dan Ketupat

Ahad 19 Juli 2015 23:5 WIB
Bagikan:
Berlebaran di Korea, Muslim Indonesia Tetap Hidangkan Opor dan Ketupat

Seoul, NU Online
Rasa syukur ini atas datangnya Idul Fitri juga dirasakan oleh Mualim Indonesia yang sekarang berada di Korea Selatan (Korsel). Rasa syukur itu terwujud dalam bentuk ibadah-ibadah yang sunah maupun wajib dijalankan selama hari raya Idul Fitri seperti sholat Ied secara berjamaah dan penunaian zakat fitrah. Mereka juga berusaha menghidangkan makanan khas Indonesia saat lebaran seperti opor dan ketupat.<>

Sholat sunah 'Ied secara berjamaah di Korsel dilakukan baik di dalam masjid maupun di lapangan terbuka. Hal yang sangat mencolok dan menjadi perhatian adalah ketika sholat dilakukan di lapangan terbuka. Tak jarang warga non-Muslim Korsel yang sedang berlalu lalang melewati arena lapangan yang digunakan untuk shalat, terkagum melihat jumlah jamaah sholat 'Ied yang begitu banyak. 

Mereka sangat antusias dan memperhatikan dengan seksama ribuan jamaah yang sedang mendengarkan khotbah shalat Ied dan melaksanakan shalat secara khusu'. Jumlah jamaah yang begitu banyak membuat heran orang Korsel karena bagi mereka hanya sebuah konser musik yang mampu mengundang masa sebanyak itu berkumpul di sebuah lapangan terbuka. Kekaguman ini mudah-mudahan menjadi magnet penarik bagi warga non-Muslim Korsel untuk mengenal Islam lebih dalam. 

Hari raya Idul Fitri belum menjadi hari libur nasional di Korsel karena jumlah Muslim yang masih minoritas. Hari raya Idul Fitri 1436 H yang jatuh di hari kerja membuat para WNI Muslim harus meminta izin berlibur. Surat Izin libur untuk merayakan hari raya Idul Fitri difasilitasi oleh Kedutan Besar Republik Indonesia melalui surat edaran yang ditujukan kepada perusahaan tempat bekerja atau kampus tempat belajar. 

Keberadaan surat ini sangat membantu sekali dalam menjelaskan kepada warga non-Muslim Korsel akan pentingnya hari raya Idul Fitri bagi Muslim sehingga surat ini banyak digunakan oleh WNI di Korsel. 

Meskipun terkadang tidak semua pekerja Indonesia mendapatkan izin untuk berlibur di hari raya Idul Fitri tapi sebagian perusahaan atau kampus sangat paham dengan makna penting Idul fitri sehingga tidak harus menyertakan surat izin, cukup dengan izin secara lisan. 

Rasa syukur akan hadirnya Idul Fitri terwujud pula dalam ibadah penunaian zakat fitrah. WNI di Korsel mendapatkan kemudahan dalam menunaikan kewajiban ini karena adanya organisasi Komunitas Islam Indonesia (KMI) yang mewadahi 42 mushola Indonesia di Korsel dan lembaga sosial dari Indonesia yang bertindak sebagai amil zakat. 

Amil zakat di Korsel sudah mengumpulkan zakat fitrah seminggu sebelum hari Idul Fitri hingga beberapa saat menjelang pelaksanaan shalat 'Ied. Hasil zakat yang didapat langsung didistribusikan oleh para amil kepada para mustahiq zakat di Indonesia. Besar zakat fitrah di Korsel ditetapkan sebesar 8.000 won menyesuasikan dengan harga beras di pasaran. 

Hal lain yang melengkapi Idul Fitri 1436 H bagi WNI di Korsel adalah silaturahim dan ramah tamah dengan saudara–saudara Muslim lainnya. Sebagai sesama perantau yang jauh dari keluarga, berkumpul dengan rekan seperjuangan menjadi obat rindu akan kampung halaman dan keluarga tercinta di rumah. Oleh karena itu, pasca sholat 'Ied, mushola–mushola yang didirikan oleh orang Indonesia mengadaakan acara silaturahim lengkap dengan segala hidangan khas Idul Fitri di Indonesia, seperti ketupat, lontong, opor, rendang dll. 

Dengan kegiatan ini Muslim Indonesia yang sedang berada di Korsel tetap merasakan nikmat dan khidmatnya Idul Fitri meski sedang berada di negeri minoritas Islam dan berjarak ribuan kilo meter dari kampung halaman.

Laporan Muhammad Roghib Ar-Romadhoni, tim Dakwah Al-Bahjah Korea Selatan sekaligus Mahasiswa di Yeungnam University-Korea Selatan

Bagikan:
Ahad 19 Juli 2015 16:0 WIB
DARI PEMBACA
Di Yaman, Pelajar Indonesia Nikmati Hujan Setahun Sekali
Di Yaman, Pelajar Indonesia Nikmati Hujan Setahun Sekali

Alhamdulillah, Sabtu 2 Syawwal 1436 H/18 Juli 2015, Kota Tarim Yaman turun hujan disertai sedikit angin kencang. Namun sayangnya, hanya sekitar sepuluh menit saja yaitu dari pukul 16.00 - 16.10 waktu setempat.<>

Beberapa pelajar Indonesia berhamburan menuju halaman rumah untuk menikmati hujan yang turun hanya setahun beberapa kali ini, bahkan kadang hanya setahun sekali. Namun jangan dibayangkan kalalu hujan di sini seperti hujan di Indonesia yang begitu deras dan berjam-jam lamanya. 

Hujan di Yaman, jika dibandingkan dengan hujan di Indonesia hanya sebatas gerimis. Di antara kebiasaan masyarakat Yaman ketika turun hujan adalah keluar rumah untuk menikmati air hujan.

Namun demikian, jika hujan deras turun begitu lama, maka akan banyak rumah yang runtuh. Sebab semua rumah di sini kebanyakan terbuat dari tanah liat. Sehingga jika terkena air hujan yang deras akan roboh dengan cepat.

Sedangkan setiap kali khutbah Jum'at khususnya di Masjd Jami' Tarim setiap kali tiba pada bagian doa pasti membaca doa Istisqa' yaitu doa meminta agar diturunkan hujan. Begitu juga ketika Khutbah Sholat Idul Fitri kemarin, Sang Khotib tak lupa membaca doa Istisqa'.


Foto: Mendung di Tarim setelah hujan.

Dikirim oleh Imam Abdullah Rasyid yang sedang berada di Kota Tarim, Yaman.

Ahad 19 Juli 2015 15:6 WIB
Semarak Hari Raya Idul Fithri 1436 H di Sudan
Semarak Hari Raya Idul Fithri 1436 H di Sudan

Jakarta, NU Online
Setelah sidang itsbat, alunan takbir menggema bersama iringan terbangan hingga jam 10 malam di halaman sekretariat PCINU Sudan. Kumandang takbir sebanyak 112 warga NU di Sudan menjadi penanda bahagia mereka menyambut Hari Raya Idul Fithri 1436 H.
<>
Jum’at (17/7) pagi, hari kemenangan pun tiba. Mereka tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan di hari yang fitrah itu. Mereka berkumpul di aula wisma PCINU Sudan. Acara open house lalu dibuka setelah pelaksanaan shalat sunah Idul Fithri di wisma duta besar Republik Indonesia untuk Sudan dan Eritrea.

Menurut H Lian Fuad, organisasi yang paling tampak, aktif, dan ramai dari dulu sampai sekarang di Sudan tidak lain dan tidak bukan hanya PCINU Sudan.

“Ini merupakan nilai plus. Saya harap hal ini masih tetap bertahan seterusnya,” kata Dubes RI untuk Sudan.

Selama Ramadhan, PCINU cukup aktif mengadakan pelbagai kegiatan. Mereka membuka pengajian Risalah Ahlussunnah di sekretariat PCINU Sudan. Mereka juga menyelenggarakan tadarus Al-Qur’an setiap usai shalat Tarawih.

Mereka mengakhiri Ramadhan dengan khataman akbar Al-Quran sesaat sebelum berbuka di malam hari raya Idul Fithri 1436 H. Mereka lalu menutup Ramadhan dengan buka puasa bersama. (Red Alhafiz K)

Jumat 17 Juli 2015 16:10 WIB
Kader NU Maroko Siap Dakwahkan Islam Santun di Eropa
Kader NU Maroko Siap Dakwahkan Islam Santun di Eropa

Amsterdam, NU Online
Pelaksanaan Bahtsul Masail tahap II yang digagas Pimpinan Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Belanda bekerja sama dengan Persatuan Pemuda Masyarakat Eropa (PPME) al-Ikhlash Amsterdam dan PCINU  Maroko berjalan dengan lancar. Bahtsul masail ini merupakan kelanjutan dari Bahtsul masail pertama pada 27 Juni 2015 di Aula PPME Amsterdam al-Ikhlash, Saaftingestraat 312, Amsterdam.
<>
Katib Suriyah PCINU Belanda, Ustadz Muhammad Shohibudin Sifatar menyampaikan bahwa dalam bahtsul masail kali kedua ini terdapat momentum istimewa, karena selain topik permasalahan yang diangkat sangat urgen dan menarik, turut meramaikan juga peserta bahtsul masa'il (musyawirin) dari beberapa negara di Eropa dan Mediterania melalui telekonferensi via Skype.

Kerja sama PCINU Belanda dan PCINU Maroko serta PPME berawal dari sarasehan dan pelantikan PCINU Belanda di Amsterdam yang dilantik langsung oleh Rais Am PBNU KH Musthofa Bisri.  Mengingat kebutuhan yang mendesak akan dai Nusantara untuk masyarakat Muslim Indonesia dan Belanda maka PPME dan PCINU Belanda memohon agar PCINU Maroko berkenan mengirim kader terbaiknya ke sana di bulan suci Ramadan 1436 H.

Rais Syuriah PCINU Maroko H Alvian Iqbal Zahasfan mengaku sangat bangga dengan suksesnya berbagai kegiatan tersebut. Ini berarti, tambahnya, dua delegasi kader NU Maroko yang bertugas di Belanda mulai awal puasa hingga saat ini bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Dua kader tersebut adalah Ustadz M. Mahludi Bahran sebagai dai dan mengisi kegiatan lainnya selama di Belanda dan satunya lagi Ustadz Azhari Mulyana sebagai imam rowatib dan tarawih serta membimbing belajar membaca al-Quran.

Alvian menyampaikan bahwa saat ini PCINU Belanda dan PCINU Maroko telah menyepakati kerja sama pada bidang pertukaran ilmu agama, informasi, dan diskusi ilmiah dengan melakukan kunjungan langsung ke Maroko dan sebaliknya secara berkala. Tepatnya setiap musim liburan. Kerja sama ini bertujuan untuk menambah wawasan dan memberikan informasi yang terdapat di dua negara tersebut. Baik segi budaya, agama dan khususnya tradisi Maroko yang memilki banyak kesamaan dengan tradisi amaliyah NU.

Alvian berharap kerja sama ini terus berlanjut dan merambah kebidang lainnya yang bisa memberikan manfaat bagi warga NU di Belanda dan Maroko. “Kader-kader NU Maroko selalu siap berperan aktif menyampaikan dakwah Islam yang hanif (lurus) dan santun di bumi Eropa.’’ Ujarnya.

Bukan hanya di Belanda, sebetulnya Ramadhan ini PCINU Maroko juga diminta oleh Keluarga Pengajian Muslim Indonesia (KPMI) di Belgia mengirimkan kader terbaiknya mengisi pengajian selama bulan Ramadhan. Karena terhambat dengan dalam pengurusan visa, terpaksa PCINU Maroko tidak bisa memenuhi permintaan tersebut. Namun demikian, Bahtiar selaku koordinator KPMI berharap kerja sama tersebut bisa berjalan lancar di tahun berikutnya. (Kusnadi/Mahbib)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG