IMG-LOGO
Opini

Penjelasan atas Buku “Guru Sejati Hasyim Asy’ari”

Ahad 26 Juli 2015 5:1 WIB
Bagikan:
Penjelasan atas Buku “Guru Sejati Hasyim Asy’ari”

Oleh Masyamsul Huda
Berkaitan dengan resensi “Buku Guru Sejati” yang meninggalkan pertanyaan atas beberapa hal, terutama soal tahun kejadian yang bertolak belakang dengan buku-buku yang lain; tentang penamaan Tebu Ireng pada 1906; tentang pendirian Pabrik Gula Tjukir dan penyerangan pesantren Tebu Ireng oleh tentara Hindia Belanda; telah menggerakkan saya sebagai penulisnya untuk memberikan penjelasan.<>

Penulis perlu sampaikan, bahwa penulisan tanggal kejadian tersebut ditulis berdasar rujukan atas buku Mengenang 100 tahun Pondok Pesantren Tebu Ireng karya KH Ishom Hadzik yang juga merupakan cucu dari Mbah Hasyim. Penulis berkeyakinan bahwa buku yang ditulis oleh Gus Ishom tersebut telah dilakukan  melalui penyeleksian referensi yang valid dari berbagai sumber literatur tentang Hadratus syaikh Hasyim Asy'ari. Penulis berkeyakinan bahwa buku tersebut memiliki keakuratan yang cukup baik dibanding buku-buku lain yang pernah terbit.

Koreksi dan kritik atas buku Guru Sejati tentu sangat berarti bagi penulis,  karena dengan ini penulis dapat menjelaskan lebih dalam soal sejarah Tebu Ireng, mengingat sejarah Tebu Ireng hingga saat ini masih banyak versi dan perlu penggalian secara cermat dan mendalam, maka  atas dasar itu penulis merasa dituntut untuk mengkaji dan menyempurnakan kesejarahan KH. Hasyim Asy'ari dan Pondok Pesantren Tebu Ireng. Sebab kedudukan Pesantren Tebu Ireng menurut penulis sangatlah penting  didalam perjuangan Islam di tanah Jawa.

Dengan menggali dan menyajikan  sejarah Tebu Ireng secara jelas  dan mendalam agar tidak lagi terjadi kesimpang siuran sejarah Tebu Ireng dan Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari. Sebab dua hal tersebut tidak bisa dipisahkan. Berdirinya Pabrik Gula Tjukir dan Pondok Pesantren Tebu Ireng adalah seperti minyak dan air, keduanya memiliki kepentingan yang berbeda. Pabrik Gula yang mewakili kepentingan kapitalis, tentu tidak pernah berfikir akan adanya dampak dekandensi moral pada masyarakat sekitarnya. Kerusakan moral yang begitu luar biasa inilah yang pada akhirnya mendorong KH. Hasyim Asy'ari turun gunung untuk memperbaiki keadaan masyarakat yang sudah cenderung menjadi jahiliyah.

Kisah pertarungan kepentingan antara Pabrik Gula Tjukir dan Pesantren Tebu Ireng inilah yang dicoba oleh penulis sampaikan secara detail agar masyarakat bisa belajar banyak tentang perjuangan KH. Hasyim Asy'ari dalam membangun peradaban di Kebo Ireng. Tebu Ireng adalah entitas yang sangat penting terhadap model pesantren di Indonesia, Tebu Ireng yang juga merupakan pondasi awal pondok pesantren salafiah syafi'iyah di Indonesia

Tentang koreksi yang demikian penting tersebut, ada hal yang jauh lebih penting untuk menjawab tentang kesimpang siuranya sejarah Pondok Pesantren Tebu Ireng dan kisah Kebo Ireng. Niat  awal penulisan buku Guru Sejati adalah  penulis ingin menjabarkan, menelisik  dan menggali dari berbagai sumber sola sejarah Tebu Ireng secara benar dan koferehensip.

Sosok KH Hasyim Asy'ari adalah pribadi yang sangat sederhana, tidak mau menonjolkan diri, bahkan untuk difoto sekalipun, beliau sangat berkeberatan. nyaris hanya sebuah foto yang terlihat samar ketika Mbah Hasyim sedang dalam pertemuan dengan Laksamana Maeda. Maka, tidaklah heran bila sampai hari ini belum satupun foto KH. Hasyim Asy'ari yang bisa dikatakan sesuai dan cocok dengan wajah asli Beliau, masih banyak yang berdebat soal ada jenggot atau tidak ada jenggot, termasuk baju kesukaan Beliau? Sebab menurut yang sempat menemuai Beliau pada masa itu, KH. Hasyim Asy'ari itu selalu rapi, wangi dengan baju jas model krah shanghai dan selalu memegang tonggat rotan yang multi fungsi; biasa digunakan untuk melempar pintu kamar santri agar agar bangun shalat subuh, atau memukul santri yang nakal (tentu mukulnya terukur dan tidak membahayakan).

Menurut pendapat penulis, hingga hari ini belum pernah ada penyajian sejarah Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari dan Tebu Ireng  yang bisa dikatakan akurat. Dalam hal soal foto pribadi saja, masih banyak pihak memperdebatkan, apalagi sejarah, nama  kondisi Tebu Ireng masa lalu, pastilah banyak versi yang sumbernya  bisa jadi dari utak atik ghatuk(dicocok-cocokkan.

Melihat kondisi yang demikian, maka penulis yang melihat, mendengar dan merasakan adanya kesimpang siuran ini, penulis terpanggil dan berusaha keras untuk merangkai penulisan yang rujukan penulisan buku Guru Sejati Hasyim Asy'ari diambil dari berbagai sumber baik penulisan maupun dari cerita rakyat yang berkembang hingga hari ini, dan tentunya cerita langsung dari orang tua(usia saat ini 91 tahun) yang mengalami hidup bersama Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari yang semakin memperkaya kejelasan sejarah yang dimaksud.

Bahwa Tebu Ireng berasal dari daerah hitam, semua pihak pasti setuju. Dari hasil penelusuran soal kisah Tebu Ireng yang berawal dari kawasan dunia hitam dan bernama Kebo Ireng, banyak kisah sejarah yang masih belum terungkap dimasyarakat luas. Kawasan Kebo Ireng adalah sebuah sarana yang diciptakan pemerintah kolonial Hindia Belanda adalah dalam rangka merusak mental masyarakat pribumi. Budaya Mo-limo(madat, main, mabuk, madon, dan maling) adalah sebuah kesengajaan untuk meredam gejolak masyarakat. Konsep ini diberlakuan disetiap pabrik gula yang didirikan pada masa itu. Dan khusus Kebo Ireng, kawasan ini sangatlah fenomenal sehingga melahirkan cerita rakyat tentang penguasa Kebo Ireng yang bernama Kebo Kicak. Kisah Kebo Kicak telah menjadi folklore(cerita rakyat) yang pada jaman PKI melalui Lekra, cerita ini telah dibajak untuk menjelekkan Surontanu(tokoh dari pesantren yang melawan penjajah) dan menempatkan Kebo Kicak( penjahat papan atas) sebagai pahlawan.

Dengan menulis Guru Sejati pada saat sekarang ini, penulis telah menelusur dan merangkaii jejak kisah Kebo Ireng dan Surontanu untuk menjadi lebih jelas dan terkait dengan sejarah Tebu Ireng. Berdasar literatur dan cerita orang tua serta masyarakat sekitar, bahwa cerita dimaksud terlahir dan tidak terlepas dari adanya Kebo Ireng(pusat peradaban dunia hitam) dan dikemudian hari diganti oleh KH. Hasyim Asy'ari menjadi Tebu Ireng( sebuah pengharapan agar para santri yang dididik Beliau akan menjadi/menghasilkan kwalitas gula terbaik seperti halnya Tebu Ireng, bukan Kebo Ireng lagi).

Dan yang tak kalah pentingnya, Guru Sejati ingin mengungkap pelajaran politik Islam dari Hadratussyaik Hasyim Asy'ari yang rahmatan lil alamin didalam melawan penjajah Hindia Belanda. Hadratussyaikh sadar betul bahwa perang mengangkat senjata seperti halnya Perang Diponegoro belum tentu berhasil dengan baik. Perang diplomasi model KH. Hasyim Asy'ari  dengan mengedepankan sikap dan perilaku  kesehariannya yang selalu melindungi yang lemah, mengobati yang sakit, menyedekahkan kekayaannya untuk mendidik santri dan masyarakat sekitarnya. terbukti berhasil dengan gemilang. Model perjuangan politik semacam inilah, Beliau sukses besar dan memenangkan "peperangannya" dengan pemerintah kolonial Hindia Belanda tanpa pertumpahan darah.

Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari memilih model perjuangan tanpa konfrontasi melawan penjajah Hindia Belanda. Karena menurut Beliau perjuangan yang dilakukan dengan kekerasan akan berakhir sia-sia.

Jika menyimak dengan baik buku Guru Sejati, maka para pembaca akan mendapat gambaran seperti apa hebatnya Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari memainkan strategi politik dalam membangun peradaban yang warisan secara fisik maupun ajaran Ahlussunah waljama'ah di Pondok Pesantren Tebu Ireng terus hidup dan berkembang hingga hari ini.

Sangatlah disayangkan bila kisah yang luar biasa dari seorang Guru Besar Nahdatul Ulama ini tidak tersaji dengan baik dan benar.

Demikian klarifikasi dari penulis agar dapat dimengerti oleh para pembaca sekalian, semoga penjelasan ini dapat memberi pencerahan dan bermanfaat bagi kita semua untuk terus belajar dan mengamalkan ajaran Hadratussyaikh Hasyim As'ari.

Masyamsul Huda,  penulis buku Guru Sejati, putra dari H. Ahmad Riyadi, Cucu dari H. Abdul Hadi dan cicit dari Sakiban (pemilik tanah asal Tebu Ireng, sebelum dibeli oleh KH Hasyim Asy'ari)

 

Bagikan:
Ahad 26 Juli 2015 11:9 WIB
JELANG MUKTAMAR KE-33 NU
Konsep Kuratorial “Matja”; Membaca Seni Wali-wali Nusantara
Konsep Kuratorial “Matja”; Membaca Seni Wali-wali Nusantara

Oleh A.Anzieb & Hasan Basri---- Salah satu tradisi Islam Nusantara adalah menempatkan kesenian pada posisi yang mulia. Seni yang bersifat luhur, baik, dan ada rasa keadilannya. Dalam konteks ini, NU yang didirikan para ulama dibawah pimpinan KH Hasyim Asy’ari, tidak sekadar menempatkan kesenian secara fungsional, sebagai alat dakwah.
<>
Lebih dari itu, kesenian merupakan tanda dari pencapaian keber-islam-an seseorang atau masyarakat. Kesenian adalah perlambang kematangan ruhani umat manusia. Semakin rendah selera seni (art taste) sebuah masyarakat menunjukkan rendahnya tingkat spiritualitas masyarakat tersebut. Pandangan semacam ini khas pandangan, pedoman dan keyakinan (i’tiqad) Ahlusunnah Waljama’ah  (ASWAJA) mengenai kesenian. Imam Ghazali (wafat 1111 M) misalnya dalam magnum opusnya, Ihya’ Ulumuddien, menyebut orang Islam yang tidak bisa menikmati kesenian sebagai kelompok “yang kurang akal” (naaqishul ‘aql). Tatah atau alas dari pencerahan ruhani adalah kesenian, dalam istilah lain hanya kesenian yang mampu menampung bahasa ruhani sehingga sampai pada tataran kemanusiaan.

Dalam konteks Islam di Nusantara, bagaimana para wali menata ajaran Islam dalam bentuk kesenian, dari kesenian serius sampai yang populer. Dari sastra tinggi sampai sastra populer, dari musik klasik Jawa sampai lagu dolanan anak-anak, arsitektur, bahkan sampai kepada fashion, kuliner, dan lain-lain. Eksemplar (uswah hasanah) para Wali Jawa (Wali Songo) dalam bidang kesenian menunjukkan tingginya pencapian kehidupan umat Islam di Nusantara pada abad-15 Masehi dan sebelumnya.

Jika menelisik pencapaian dalam bidang kesenian ini, maka argumen para peneliti asing tentang Islam Nusantara yang “berumur jagung”, yakni akhir abad 14 Masehi terasa janggal, tidak saja masalah kronologi sejarah tetapi juga tuduhan “ketidak autentikan” Islam Nusantara.

Tingginya pencapaian keber-islam-an pada masa Wali-wali Nusantara (seperti Wali Songo) menjadi teladan bagi masyarakat islam (pesantren) sampai hari ini. Tidak seperti yang ditulis oleh para peneliti Barat, bahwa sejarah autentik keislaman masyarakat Jawa (Nusantara) dimulai pada abad-19 di Haramain (sekarang Saudi Arabia), bahwa keberadaan para ulama Jawa di Haramain (ashabul jaawi atau Java connections) merupakan fajar pemurnian dan pelurusan Islam Indonesia yang masih hijau.

Bagi para ulama (golongannya yang nantinya mendirikan Nahdlatul Ulama) sendiri berbeda, justru mereka adalah pelanjut dari tradisi Islam Nusantara yang ditegakkan oleh para Wali Jawa dengan segala hambatan dan kekurangannya. Sikap rendah hati terhadap para pendahulu menjadi sumber kekuatan kaum tradisional Islam di Nusantara. Ulama Jawa akhir abad 19 menyadari bahwa pesantren sebagai pusat pengetahuan telah bergeser menjadi tempat menimba ilmu agama semata, ruang lingkup pesantren semakin sempit. Otoritas orang pesantren di bidang sastra Jawa (Jawa, Melayu, dll.) telah berpindah ke kelompok lain, estetika kesenian wali-wali nusantara semakin terbatas, bahkan tersingkirkan (hanya hadrah, qasidah, dan kaligrafi arab), jaringan islam (pesantren) Nusantara sudah terputus dengan jaringan politik, ekonomi, sejarah, budaya, tradisi, bahkan terhadap warisan leluhurnya sendiri.

Maka, kita harus melakukan pembacaan ulang terhadap warisan dari para wali Nusantara, baik di bidang pengetahuan maupun kesenian secara menyeluruh tanpa harus tergantung dengan, dan hasil pandangan orang lain tentang Islam Nusantara. Islam Nusantara merupakan tetas-tetesan keluhuran dari mata air kewalian (walayah dalam bahasa Arab) yang sebagian besar berwujud dalam kesenian: baik itu seni rupa, seni sastra, seni tari, drama, seni musik, arsitektur, dan sebagainya.

Keterkaitan antara dinamika dunia seni kontemporer hari ini dengan sejarah estetika seni yang dihasilkan wali-wali nusantara nyaris terputus. Dalam konteks hari ini pula, dengan menimbang segala perubahan dan dinamika dunia Islam, terutama dalam dinamika dunia kesenian itu sendiri, maka apa yang disebut dengan seni wali-wali Nusantara harus diapresiasi kembali (sekaligus sebagai media instrospeksi diri) untuk mendorong keterbukaan dan proses apropriasi menuju dialog tradisi keilmuan yang lebih konstruktif sebagai ikhtiar membangun nilai-nilai kebangsaan yang lebih jujur demi kemaslahatan bersama. Para kyai atau ulama Nahdlatul Ulama mendorong, membangun, dan menjaga kehidupan kebangsaan yang beragama di atas tiga sendi: keberagaman (taaddudiyah= pluralitas), kemoderatan (tawasuth), dan keadialan (taaddul). Kebaragaman termasuk meliputi keberagaman keyakinan, etnis, ras, dan sebagainya. NU sejak berdiri pada tahun 1926 M terlibat aktif melanjutkan gagasan kebangsaan para ulama di masa lalu yang mendorong sebuah Negara kebangsaan seperti terwujud sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Walaupun tumbuh sebagai kelompok mayoritas, NU tidak berminat mendirikan sebuah Negara agama (Negara Islam) seperti yang diinginkan (desiring) oleh kelompok lain di dalam postur kebangsaan Indonesia.

Pameran Seni Rupa “Matja” (Iqro’ atau to read) atau membaca seni wali-wali Nusantara ini merupakan kanal, adalah upaya untuk membaca pelbagai sisi dari perjalanan islam Nusantara, pembacaan tentang dinamika dunia islam sampai hari ini, pembacaan tentang keragaman Nusantara, bentuk perubahan dan dinamika kesenian hari ini terhadap nilai-nilai kelokalan. Atau, aspek terpenting yang perlu dieksplorasi gagasan-gagasan seniman dalam ruang pameran yang berlangsung ini adalah karya-karya hasil ‘dialog’ tentang pembacaan secara estetik terhadap jejak sejarah wali-wali Nusantara, dan mengapresiasi hasil karya para wali-wali Nusantara.


A.Anzieb & Hasan Basri adalah Kurator Pameran: “Matja”; Membaca Seni Wali-wali Nusantara. Pameran akan berlangsung di Jogja Nasional Museum Jl. Prof. Dr. Amri Yahya No 1, Gampingan, Wirobrajan, Yogyakarta 25 – 28 Juli 2015


Sabtu 25 Juli 2015 16:3 WIB
Guruku, KH Afifuddin Muhajir
Guruku, KH Afifuddin Muhajir

* Oleh Abdul Moqsith Ghazali
Tubuhnya kecil, berkulit kuning langsat. Tatapan matanya tajam. Berpenampilan sederhana. Suaranya lembut dan timbrenya tipis. Terkesan hemat bicara. Intonasinya datar. Pembawaan dirinya tak mengecoh orang untuk segera memerhatikannya. Namun, ketika ia tampil sebagai pembicara di forum-forum seminar, audiens tak bisa mengabaikannya. Ia tampak powerfull. Di balik tubuhnya yang ringkih, tersimpan energi intelektual luar biasa. Itulah KH Afifuddin Muhajir, wakil pengasuh pesantren Sukorejo Asembagus Situbondo.
<>
Saya berjumpa dengan banyak orang yang mengakui kedalaman ilmu dan keluasan wawasan Kiai Afif. Bahkan, jauh sebelum saya belajar kitab kuning kepada Kiai Afif (begitu ia biasa disapa sekarang), saya sudah mencium keharuman namanya dari alumni pesantren Sukorejo yang mengajar di pesantren kepunyaan orang tua saya. Mereka berkata bahwa Kiai Afif (saya dulu memanggilnya "Ustad Khofi") mendapatkan ilmu ladunni, yaitu ilmu yang dikaruniakan langsung oleh Allah Subhanahu wa ta'ala. Tak terkecuali ayah saya (KH Ghazali Ahmadi) dan paman saya (alm KH Qasdussabil Syukur) yang pernah mengajar Kiai Afif di pesantren Sukorejo mengakui kealiman Kiai Afif.

Karuan saja, ketika saya dikirim orang tua untuk belajar di pesantren Sukorejo, Kiai Afif adalah orang pertama yang saya “buru”. Saat itu ia sudah menjadi ustad dan belum menikah. Ia tinggal di sebuah kamar-asrama yang tak jauh dari kamar-asrama saya. Setiap hari saya bisa melihat sosoknya. Kiai Afif yang ketika berjalan selalu menunduk-menatap tanah itu mungkin tak menyadari bahwa ada banyak santri seperti saya yang selalu memerhatikannya. Sambil beradaptasi dengan lingkungan sosial baru di pesantren, saya coba mendengarkan presentasinya di forum bahtsul masa’il dan kemudian mengikuti pengajiannya.

Biasanya bahkan hingga sekarang Kiai Afif mengajar kitab secara bandongan di sebuah mushala depan kediaman KH As’ad Syamsul Arifin. Kitab yang dibacanya adalah kitab-kitab marhalah `ulya seperti al-Iqna`, Fathul Mu`in, Fathul Wahhab, Ghayatul Wushul, dan lain-lain. Saya yang sudah dibekali ilmu-ilmu dasar keislaman oleh orang tua tak merasa terlalu sulit untuk mengikuti pengajian Kiai Afif. Saya hanya terpukau dengan kefasihan dan kepiawaiannya dalam menerjemahkan dan mengulas kitab kuning. Kiai Afif coba mengartikan kitab kuning dengan bahasa-bahasa akademik-ilmiah. Sambil mengaji, saya kerap mendengar darinya istilah-istilah seperti “argumen”, “aksioma”, “tekstual”, “kontekstual”, dan lain-lain. Itu salah satu kelebihan Kiai Afif dibanding para ustad lain ketika itu.

Setelah Kiai Afif banyak beraktivitas di luar terutama sejak menjabat Katib Syuriyah PBNU, publik Islam mulai mengetahui kealiman Kiai Afif di bidang ushul fikih. Tak sedikit dari mereka yang bertanya, di mana Kiai Afif belajar ushul fikih? Saya tak segera menemukan jawabannya. Ini karena Sukorejo sendiri, tempat Kiai Afif belajar, tak dikenal sebagai pesantren ushul fikih. Sukorejo lebih banyak berkonsentrasi pada pengajian ilmu fikih dan nahwu-sharaf. Sekalipun ada pengajian ushul fikih, durasinya cukup kecil jika dibandingkan dengan bidang-bidang lain. Sukorejo pun saat itu tak banyak mengoleksi buku-buku ushul fikih dari lintas madzhab. Dengan kondisi ini, agak susah membayangkan lahirnya seorang pakar ushul fikih dari Sukorejo.

Kiai Afif tak pernah belajar di luar, baik di timur apalagi di barat. Seluruh jenjang studinya, mulai dari Madrasah Ibtida’iyyah hingga strata satu, diselesaikan di Sukorejo. Ketika saya tanya, “Kepada siapa Kiai Afif belajar ushul fikih?” Ia menjawab, “Saya pernah mengaji kitab Lubbul Ushul pada KH Qasdussabil Syukur. Selebihnya saya belajar sendiri”. Ini menunjukkan bahwa kealimannya di bidang ushul fikih ditempuh melalui kerja keras dan ketekunan. Peran Kiai Qasdussabil adalah mengajarkan teks utama ushul fikih, Lubbul Ushul, kepada Kiai Afif. Tapi, pendalamannya dilakukan secara otodidak. Dengan perkataan lain, ia memperluas sendiri bacaan ushul fikihnya, dengan melahap ar-Risalah karya Imam Syafi'i, al-Mustashfa min `Ilmil Ushul karya al-Ghazali, al-Muwafaqat fi ushulis Syari’ah karya as-Syathibi, al-Ihkam fi Ushulil Ahkam karya al-Amidi. Namun, dalam amatan saya, kitab ushul fikih yang paling disukai sekaligus dikuasainya tampaknya adalah Jam’ul Jawami’ karya Tajuddin as-Subki itu.

Baru pada perkembangan berikutnya Kiai Afif melengkapi diri dengan referensi ushul fikih modern. Kiai Afif membaca buku-buku ushul fikih mulai dari karya Abdul Wahhab Khallaf, Abu Zahrah, Muhammad Khudhori Bik, Wahbah az-Zuhaili hingga merambah pada buku-buku karya `Allal al-Fasi, Ahmad ar-Raysuni, dan Jasir Audah yang banyak mempercakapkan soal maqashid al-syari’ah dan fiqhul maqashid. Dengan penguasaan yang komprehensif atas literatur-literatur itu, Kiai Afif makin kukuh sebagai seorang faqih dan ushuli. Dan kedudukannya sebagai ahli fikih telah dibuktikan Kiai Afif dengan menulis buku fikih berbahasa Arab dengan judul Fathul Mujibil Qarib, syarah terhadap kitab at-Taqrib karya Abu Syuja’ al-Isfahani.

Di bidang ushul fikih, keahlian Kiai Afif memang tak terbantahkan. Puluhan makalah terkait metode istinbathul ahkam telah selesai ditulisnya. Ia menulis buku dengan judul as-Syari’ah al-Islamiyah baynats Tsabat wal Murunah. Menarik, Kiai Afif menjadikan ushul fikih sebagai sebuah perspektif untuk merespons persoalan-persoalan keislaman kontemporer. Ia berbicara tentang negara Pancasila, Islam Nusantara, dan lain-lain dari sudut pandang ushul fikih. Ia juga menjadikan ushul fikih sebagai perangkat metodologis untuk mendinamisasi fikih Islam. Untuk kepentingan dinamisasi pemikiran Islam itu Kiai Afif intens berdiskusi dengan para pemikir gaek lain di NU seperti KH Ahmad Malik Madani, KH Masdar Farid Mas’udi, KH Said Aqil Siroj, KH Husein Muhammad, dan lain-lain.

Di tangan orang-orang seperti Kiai Afif ini, ushul fikih adalah sumur yang airnya tak pernah kering untuk ditimba. Jika ada yang mengkhawatirkan bahwa sepeninggal Kiai Sahal Mahfudz NU akan dilanda kelangkaan ahli ushul fikih, maka fenomena Kiai Afif ini akan menampik kekhawatiran itu. Tentu Kiai Afif tak sendirian. Ada banyak kiai dan intelektual muda NU lain yang memiliki penguasaan memadai tentang ushul fikih. Hanya yang kita “tagih” dari orang-orang seperti Kiai Afif adalah konsistensinya untuk terus menulis dan berkarya. Mengikuti sunnah Kiai Sahal Mahfudz yang banyak menulis buku seperti membuat syarah terhadap al-Luma’ dan Ghayatul Wushul, saya berharap Kiai Afif juga mau menulis banyak buku termasuk membuat syarah terhadap kitab-kitab ushul fikih lain seperti Jam’ul Jawami yang dikenal sangat susah dipahami itu.


Abdul Moqsith Ghazali, alumnus pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo.

Sabtu 25 Juli 2015 12:0 WIB
Batu Akik Syaikhona Kholil dan Pesan Muktamar NU
Batu Akik Syaikhona Kholil dan Pesan  Muktamar NU

Oleh Abdullah Hamid
Syaikhona Kholil Bangkalan Madura lahir Tahun 1820 M atau 1235 H merupakan guru ulama besar di pulau Jawa. Ulama besar yang digelar oleh para kiai sebagai “Syaikhuna” yakni guru kami, karena kebanyakan kiai-kiai dan penggasas pondok pesantren di Jawa dan Madura pernah belajar dan nyantri dengan beliau.<>

Di antara santrinya yang menjadi ulama besar adalah Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah, KH Bisri Syansuri, Mbah Ma’shoem Lasem dll. Mereka juga dikenal sebagai pendiri NU. Berdirinya NU tahun 1926 M tidak lepas dari doa dan restu Syaikhona Khalil gurunya yang disampaikan melalui utusannya, KH As’ad Syamsul Arifin.

Syaikhona Kholil berasal dari keluarga walisongo. Ayahnya, KH Abdul Lathif, mempunyai pertalian darah dengan Sunan Gunung Jati. Ayah Abdul Lathif adalah Kiai Hamim, anak dari Kiai Abdul Karim. Yang disebut terakhir ini adalah anak dari Kiai Muharram bin Kiai Asror Bujuk Langgundih Desa Kramat keturunan dari Kiai Abdullah bin Sayyid Sulaiman Mojoagung. Sayyid Sulaiman adalah cucu Sunan Gunung Jati.

Istri Syaikhona Kholil memiliki keponakan bernama Amna, sejak kecil dirawat dan diambil anak hingga dewasa olehnya bersama suaminya, Syaikhona Kholil. Perhatian dan kasih sayangnya sangat besar, seperti dengan anaknya sendiri yang bernama Nyai Asma.

Contoh kecil perhatiannya, Syaikhona memberikan cincin yang begitu indah kepada Amna. Berupa batu akik atau batu mulia Kecubung Kalimantan dengan ring cincin berukir keemasan yang indah pula. Cincin tersebut masih ada tersimpan, bernilai cagar budaya. Seperti yang kita lihat di fotonya, tampak kemilau bagai gugusan awan tebal.

Nyai Amna menikah dua kali, suami pertama meninggal tanpa anak kemudian menikah kedua kalinya dengan Hadji Ismail Desa Ujung Piring yang juga kehilangan istrinya yang wafat yaitu Nyai Musyrifah masih family Syaikhona Kholil. Hadji Ismail membawa 4 anak, salah satunya Abdul Hamid masih berusia 6 tahun (H.A.Hamid Ismail ayah penulis). Karena dirawat sejak kecil hubungan keduanya paling dekat. 

Semasa hidup Hajjah Amna, kakak penulis HM. Baihaqi semasih remaja pernah meminta 3 kali cincin pemberian Syaikhona tersebut, dijawab beliau bahasa Madura arti Indonesianya begini: ”Cucuku aku ingin memakai sendiri selagi aku masih hidup, cincin ini pemberian Abah Kholil kepadaku”. Sampai akhirnya Nyai Amna wafat, dikubur di Komplek Syaikhona Kholil seperti juga Hadji Ismail.

Dari peristiwa yang sederhana itu kita ingin mengambil hikmah dan barakah sebanyak-banyaknya dari Syaikhona Kholil, kira-kira apa pesan yang bisa ditarik untuk Muktamar NU? Sebagaimana kita baca tadi perhatian Syaikhona terhadap anak perempuan sangat besar, memberi isyarat pentingnya Muktamar NU 2015 di Jombang mengangkat derajat pendidikan perempuan dan akhlakul karimah di tengah pertaruhan ideologi global abad ini.

Salah satu contoh kecil agar Pemerintah Indonesia memberi peluang perempuan-perempuan desa pendidikan tinggi tanpa harus meninggalkan lingkungannya yang Islami di pesantren salaf. Salah satu caranya dengan membuka perkuliahan di Universitas Terbuka dengan sistem pendidikan jarak jauh, masalahnya hingga kini UT belum membuka prodi agama Islam.

Maka Muktamar NU perlu merekomendasikan pembukaan prodi tersebut kepada pemerintah terkait. Sekaligus menindaklanjuti Keputusan Musykerwil NU Jatim No: /MKW-NU/II/2014. Pengesahan Hasil Sidang Rekomendasi tertanggal 27 Feb 2014 sebagai berikut: Pendidikan a. Secara formal-yuridis. UU No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) telah mengakui keberadaan pondok pesantren sebagai bagian integral dari sistem pendidikan nasional.

Sayangnya, selama satu dekade, pengakuan tersebut tampak masih belum diterapkan sepenuh hati. Pasalnya, masih masih banyak aspek teknis dalam kebijakan pendidikan nasional yang terasa diskriminatif terhadap kalangan pondok pesantren.

Dalam kaitan itu, Forum Muskerwil NU Jatim mendesak pemerintah (c.q.Kementerian dan Kebudayaan RI) untuk memfasilitasi akses pendidikan tinggi bagi santri di lingkungan pondok pesantren salaf dengan membuka Fakultas atau Program Studi Agama Islam di Universitas Terbuka. Dengan demikian, peran sosial kemasyarakatan lulusan pondok pesantren salaf dalam hal memberdayakan masyarakat dan meyukseskan program pembangunan diharapkan akan berjalan secara optimal

Lasem, 25 Juli 2015

Abdullah Hamid, Padepokan Sambua Lasem

 

Foto: Cincin Peninggalan Syaikhona Kholil

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG