IMG-LOGO
Daerah

Ketua MWCNU Bulakamba Nahkodai PGRI Cabang Khusus

Ahad 16 Agustus 2015 11:1 WIB
Bagikan:
Ketua MWCNU Bulakamba Nahkodai PGRI Cabang Khusus

Brebes, NU Online
Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Bulakamba, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, H Moh Robikhun didaulat menakhodai PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) Cabang Khusus Kabupaten Brebes periode 2015-2020.
<>
Robikhun menggantikan Dra Hj Chulasoh MPd setelah terpilih dalam pemungutan suara pada konferensi cabang khusus di Aula MTs Negeri Brebes, beberapa waktu lalu. Robikhun berhasil mendapatkan 9 suara dari total 17 suara. Sementara calon lain, Ahmad Shofi mendapatkan 5 suara dan H Sudardjo mendapatkan 3 suara.

Dengan demikian pria kelahiran Siwuluh, 22 September 1969 ini harus menjalankan program PGRI di lingkungan Kementerian Agama di Kabupaten Brebes. Dia didampingi sekretaris Drs Ahmad Shofi dan Bendahara H Maskuri serta 12 seksi bidang.

Dalam programnya, Robikhun ingin mengantarkan anggota PGRI di cabang khusus ini lebih sejahtera. Menurutnya, PGRI cabang khusus memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam berorganisasi profesi. “Tidak ada perbedaan antara hak dan kewajiban anggota dengan teman-teman guru lain yang tercatat di kementerian pendidikan,” terang Robikhun.

Untuk itu, dalam programnya  dia akan terus berkonsolidasi dengan anggota dan pembentukan ranting ditiap-tiap satuan kerja. “Kalau sekolah tersebut ada 20 anggota maka bisa dibentuk satu ranting,” ucap Robikhun yang juga Ketua MWC NU Bulakamba.

Diterangkan, hingga saat ini, anggota yang tergabung dalam Cabang khusus ada  521 orang sedangkan sebelumnya hanya ada 460 oran. “Alhamdulillah terdapat peningkatan anggota,” tutur suami dari Hj Sofuah ibni H Syatori.

Untuk sementara, yang tergabung dalam PGRI cabang khusus baru guru dan TU yang sudah PNS. Sementara Guru Tidak Tetap (GTT), Guru Tetap Yayasan (GTY) maupun Tenaga  Tidak Tetap (TTT) belum masuk jadi anggota PGRI Cabang khusus karena terkendala besarnya iuran yang harus ditanggung oleh anggota. Padahal, guru dan TU yang ada di kementerian agama dari RA, MI, MTs, MA mencapai belasan ribu. “Bahkan mayoritas, guru-guru di kementerian agama berada dibawah yayasan yang nota bene mereka adalah guru-guru dan TU swasta,” paparnya.

Permasalahan ini, akan dibawa ke PGRI Kabupaten maupun Provinsi dan Pengurus Besar, agar keberadaan mereka tetap diakomodir dengan tidak dikenakan iuran ataupun dengan solusi terbaik lainnya dengan cara meningkatkan kesejahteraan mereka. Sehingga bisa menjadi anggota yang aktif. “GTT, GTY, TTT pada hakekatnya sama-sama guru dan memperjuangkan pendidikan anak-anak bangsa,” pungkasnya. (Wasdiun/Mahbib)
 

Bagikan:
Ahad 16 Agustus 2015 23:59 WIB
PMII Sepuluh Nopember Bekali Mahasiswa Baru Hadapi Perkuliahan
PMII Sepuluh Nopember Bekali Mahasiswa Baru Hadapi Perkuliahan

Surabaya, NU Online
Memasuki tahun ajaran baru, pengurus komisariat PMII Sepuluh Nopember ITS mengadakan pelatihan gerak mahasiswa yang diperuntukkan bagi mahasiswa baru. Kegiatan ini akan berlangsung selama tiga hari ini sejak Sabtu, (15/8) hingga Senin, (17/8), berhasil menarik minat mahasiswa baru ITS, PENS maupun PPNS. 
<>
Dalam acara pembekalan hari pertama, terdapat tiga sesi. Sesi pertama adalah bagaimana cara Bertransformasi dari Siswa Menjadi Mahasiswa, materi ini disampaikan oleh Dr Agus Zainal Arifin Skom Mkom, salah satu dosen Teknik Informatika ITS yang juga pembina dari PMII Sepuluh Nopember maupun CSSMoRA ITS. 

Sesi kedua diisi oleh Zahra S. Arfenti, Mawapres ITS. Dalam sesi ini, ia memaparkan kiat bagaimana menjadi mahasiswa yang berprestasi. Menurutnya prestasi mahasiswa tidak  hanya dalam hal akademis saja, masih ada berprestasi di non akademis semisal PKM. Selain itu, dirinya juga menjelaskan tentang bagaimana cara mengelola waktu, bagaimana cara mencari tim PKM atau keilmiahan lain, bagaimana cara membuat life-mapping dan masih banyak lagi lainnya.

Sesi ketiga merupakan sesi sharing antara peserta dengan anggota PMII Sepuluh Nopember yang berhasil menorehkan berbagai prestasi. Dalam sesi ini ada lima anggota yang membagikan pengalamannya dan tips bagaimana prestasinya berhasil menghampirinya. Mereka yang berlima adalah Mutawalli Alfin, Rizki Mendung, Iklil Muna, Misbahul Munir dan Deni Setiawan. 

Dalam sesi ini ternyata mampu menarik minat dari peserta untuk menanyakan berbagai hal. Salah satunya adalah bagaimana cara menjadi penghafal Al-Qur’an. “Kuncinya adalah istiqomah,” ujar Rizki Mendung kepada para hadirin.

Tidak hanya angkatan 2015 saja, pelatihan ini ternyata mampu menarik minat dari angkatan lain, ada dari 2014 bahkan ada salah seorang peserta yang berasal dari angkatan 2012. Menurut salah satu peserta 2014, Rizal, “Pelatihan yang sangat recommended banget buat para mahasiswa dan atau calon mahasiswa,” ungkapnya pada panitia. 

“Tidak hanya ilmu tapi juga motivasi yang mampu menjadikan siswa menjadi mahasiswa yang rahmatan lil alamin,” imbuhnya mahasiswa jurusan TMJ ITS 2014 itu. (Ahmad Hanan/Mukafi Niam)

Ahad 16 Agustus 2015 23:1 WIB
PMII Mantapkan Ideologi dengan Sekolah Aswaja
PMII Mantapkan Ideologi dengan Sekolah Aswaja

Jepara, NU Online
Untuk memantapkan ideologi ahlussunnah wal jamaah (Aswaja) kader PMII, PMII Jepara mengadakan Sekolah Aswaja yang dilaksanakan di Gedung Muslimat NU desa Bulungan, kecamatan Pakis Aji, kabupaten Jepara, Jum’at-Senin (21-24/8) mendatang.<>

Kegiatan yang bertajuk “Mengukuhkan Aswaja Sebagai Nafas Gerakan” ditargetkan diikuti 30 peserta baik dari Cabang Jepara maupun luar daerah. Beberapa pemateri yang rencananya mengisi: Nur Sayyid Santoso Kristeva, Mayadina Rohma Musfiroh, Murniati, Gus Sahil, Gus Wa’i, A. Syaifudin, Abdul Wahab, Purwanto, Rumail Abbas dan M Ali Nazilatul Furqon.

Selama kegiatan peserta menerima beberapa materi. Di antaranya Doktrin dan Prinsip Aswaja, Geneologi Pemikiran Islam di Indonesia, Aswaja sebagai Manhaj Al Fikr dan Manhaj Al Harokah, Amaliah Keagamaan Kaum Nahdliyyin dan masih banyak lagi.

Dalam siaran persnya, Ainul Mahfudh, ketua PMII Cabang Jepara menyebutkan sekolah ini bertujuan membekali kader PMII ideologi Aswaja. 

“Guna membendung paham-paham radikal yang datang dari luar,” tuturnya.

Mahfudh menegaskan, sesuai AD/ART PMII merupakan organisasi yang berideologi Aswaja. Sehingga kegiatan ini terangnya penting diberikan dalam rangka pemahaman secara mendalam tentang Aswaja baik dari sejarah hingga proses implementasinya dalam beribadah dan bermasyarakat.

Masih dalam rilis yang diterima NU Online, makna tema yang diusung menurut dia dalam bersikap dan bertindak kader PMII harus selalu berlandaskan nilai-nilai Aswaja.

Sarjana Unisnu ini menambahkan kader PMII yang mengikuti sekolah harapannya mampu memahami lebih nilai-nilai Aswaja. 

“Selain itu kader bertanggung jawab kepada kader selanjutnya. Sehingga ilmu-ilmu yang didapatkan dapat meneruskan generasi pemahaman Aswaja di setiap jenjangnya,” pungkas Mahfudh. (Syaiful Mustaqim/Mukafi Niam)

Ahad 16 Agustus 2015 22:9 WIB
JIHAD PAGI
Ustadz Hamid: Jangan Gampang Menyalahkan Sebelum Memahami
Ustadz Hamid: Jangan Gampang Menyalahkan Sebelum Memahami

Pringsewu, NU Online
Ustadz Abdul Hamid pada Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi) yang diadakan rutin di kantor NU kabupaten Pringsewu, Ahad (16/08/15) menyampaikan pesan agar tidak gampang menyalahkan sebelum memahami persoalan secara menyeluruh dan mendalam. 
<>
Pesan ini disampaikan menyikapi fenomena di zaman sekarang ini banyak sekelompok golongan yang dengan gampang menyalah-nyalahkan amaliyah golongan lain.

Menurut Ustadz Hamid golongan ini sering memahami makna dari Al-Qur’an dan hadits secara tekstual saja. Padahal menurutnya, dalam memahami makna dari ayat Al-Qur’an dan hadits diperlukan pemahaman yang dalam, mencakup juga makna kontekstual berikut asbabun nuzul dan asbabul urutnya.

Menurut Ustadz yang sedang menempuh pendidikan S3 di IAIN Radin Intan Lampung ini, pemahaman terhadap ayat Al-Qur’an hendaknya tidak memotong-motong ayat. Hal ini karena banyak sekali ayat Al-Qur’an yang memiliki kaitan dengan ayat sebelum dan sesudahnya. Sedangkan dalam memahami hadits, Ustadz Hamid mengatakan bahwa diperlukan pemahaman tentang sebab-sebab dan bagaimana hadits tersebut disampaikan oleh Nabi.

Hal senada juga disampaikan Mustasyar NU Pringsewu KH Sujadi yang memoderatori Jihad Pagi tersebut. Menurutnya, para ulama Nahdlatul Ulama tidak hanya mengkaji dan menyampaikan secara tekstual dalil dan hukum di dalam agama Islam. Banyak sekali yang menyampaikannya dengan langsung memberikan uswatun hasanah kepada umat.

KH Sujadi mencontohkan bagaimana baru-baru ini KH Maimun Zubair memberikan uswatun hasanah dengan berdiri ketika dilantunkan lagu Indonesia Raya pada Muktamar ke-33 NU di Jombang walaupun kondisi beliau sedang menggunakan kursi roda. 

"Kemudian apakah ada dalil upacara kemerdekaan 17 Agustus? Apakah ada dalil menghormati bendera merah putih? Hal itu tidak harus diperdebatkan karena para ulama lebih tahu dengan mencontohkan yang terbaik kepada umatnya," terangnya. (Muhammad Faizin/Mukafi Niam)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG