Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Aktivis NU Lampung Sosialisasi Pentingnya Donor Darah Lewat Budaya

Aktivis NU Lampung Sosialisasi Pentingnya Donor Darah Lewat Budaya

Lampung Timur, NU Online
Sejumlah aktivis Nahdlatul Ulama (NU) di Lampung berpartisipasi menyosialisasikan gerakan sukarela donor darah pada masyarakat desa melalui pendekatan budaya. Mereka menggelar Forum Dialog Budaya Ambengan (Ameguru Bekti Pangeran), Rabu (16/9) malam, di Rumah Hati-Lampung, Desa Margototo Dusun IV RT 014 RW.007, Metro Kibang, Lampung Timur.
<>
Ketua Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) Lampung S.A.M Arifien yang aktif di komunitas musik Jamus Kalimosodo menjelaskan, tema yang diangkat ialah “Darah yang Menyehatkan” dengan narasumber dr. Wahdi Spog, Direktur RSAMC Kota Metro, dan Yusuf Wahyudi dari Jamus Kalimosodo.

"Masyarakat mesti mendapatkan informasi-informasi yang benar, bahwa berdonor darah itu bukan saja mulia secara sosial dan agama, tetapi juga bermanfaat bagi kesehatan pendonor itu sendiri. Maka mendorong tumbuhnya komunitas-komunitas pendonor darah hidup lingkungan masyarakat, adalah sebuah jawaban, sehingga di setiap satuan-satuan masyarakat akan tersedia stok-stok bank darah hidup, yang kapanpun saatnya diperlukan untuk membantu pasien, komunitas-komunitas darah hidup masyarakat tersebut selalu siaga," kata Arifien.

Menurut dia, Komunitas Ambengan, mendedah permasalahan tersebut dengan melaksanakan diskusi bersama masyarakat dengan melibatkan prakrtisi kesehatan sebagai nara sumber.

"Kegiatan tersebut bersifat swadaya dan dikemas melalui pendekatan budaya, dengan maksud agar kegiatan dapat berjalan mengalir dan tidak terkungkung oleh budaya seremonial. Output kegiatan dialog budaya ini diharapkan dapat memberikan pencerahan baik subtantif maupun teknis dalam penanganan kehamilan dan persalinan bayi, bagi masyarakat desa," ujar dia lagi.

Selain itu, ialah lahirnya juga komunitas-komunitas donor darah hidup  dari anggota masyarakat desa yang bersinergi dengan institusi-institusi kesehatan.

"Fakta terjadi saat ini, Indonesia yang kaya dan gemah ripah ini ternyata masih menempati angka tertinggi Angka Kematian Ibu atau AKI dalam kehamilan, persalinan, nifas, dan Angka Kematian Bayi atau AKB," kata  dr. Wahdi menambahkan.

Masyarakat desa, secara umum masih terbatas pengetahuan maupun informasi-informasi fundamental menyangkut kesehatan kehamilan dan persalinan.

"Demikian juga semangat kegotongroyongan dan kepedulian sosial dalam berdonor darah kepada sesama dalam berbagai kasus darurat penyelamatan nyawa pasien, masih tergolong rendah," ujar dr Wahdi lagi.

Sementara, kebanyakan para tenaga kesehatan bekerja lebih mengedepankan sisi komersilnya, misalnya lebih suka merekomendasi operasi ceasar pada persalinan bayi, ketimbang mengedepankan  aspek-aspek antisipasi dan pencerahan masyarakat, misalnya bagaimana merawat kehamilan ibu secara sehat, sehingga dapat menekan angka kematian bayi atau ibu di saat persalinan.

Di kalangan praktisi kesehatan sendiri, tidak sedikit yang melakukan otokritik bahwa tingginya angka kematian bayi dikarenakan program-program pemerintah tidak focus (nggedabyah), sehingga tidak tepat sasaran.

Sebagai contoh program Jampersal. Hampir setiap persalinan minta di rumah sakit, sementara rumah sakit sendiri tidak dipersiapkan dengan kelengkapan sarana dan tenaga. Sehingga terkesan pelayanan rumah sakit tidak baik.

Idealisme tenaga kesehatan (dokter dan paramedis) yang mengutamakan empati-profesionalisme daripada komersialisme akan menjadi jawaban dari problem sosial, ekonomi, pendidikan masyarakat.

Oleh karenanya perlu diurai secara komprehenship akar masalah penyebab tingginya angka kematian bayi/ibu dalam kehamilan dan persalinan melalui kegiatan dimaksud. (Gatot Arifianto/Mahbib)

BNI Mobile