IMG-LOGO
Nasional

Ribuan Warga Jatim Ikuti Napak Tilas KH Nawawi, Pejuang Kemerdekaan

Ahad 8 November 2015 19:4 WIB
Bagikan:
Ribuan Warga Jatim Ikuti Napak Tilas KH Nawawi, Pejuang Kemerdekaan

Sidoarjo, NU Online
Ribuan warga Sidoarjo dan Mojokerto, mengikuti napak tilas memperingati gugurnya pejuang syuhada kemerdekaan KH Nawawi, Sabtu (7/11) malam. Start napak tilas dimulai dari dusun Sumantoro desa Plumbungan Sukodono Sidoarjo menuju pesantren An-Nawawi di Kota Mojokerto.
<>
Sebelum peserta napak tilas diberangkatkan, salah satu anggota Banser Sooko Mojokerto melakukan aksi teaterikal yang mengkisahkan gugurnya perjuangan KH Nawawi. Dalam teaterikal digambarkan bahwa KH Nawawi yang kebal dengan peluru tembak itu akhirnya gugur dengan empat luka tusukan pisau bayonet tentara Belanda tepat di lehernya.

Kemudian, di Dusun Sumantoro Desa Plumbungan tempat gugurnya itu akhirnya dibangunlah monumen KH Nawawi pada tanggal 22 Agustus 1946.

Pelaksana Jabatan (PJ) Bupati Sidoarjo Jonathan Judyanto menuturkan, kegiatan napak tilas merupakan bentuk atau bukti bahwa generasi penerus bangsa dalam menghargai jasa para pahlawannya. Dirinya berharap agar tradisi seperti ini terus dikembangkan dan dilestarikan.

"Sebagai generasi penerus bangsa harus melaksanakan dan terus mendharmabaktikan hidup sebagaimana yang telah dibuktikan oleh leluhur kita dalam membangun bangsa Indonesia," tuturnya.

Ketua DPRD Sidoarjo H Sulamul Hadi Nurmawan menyatakan, napak tilas bukan sekadar dimaknai dengan berjalan kaki menuju tempat dimakankannya KH Nawawi di Mojokerto. Tetapi untuk mengenang dan merasakan perjuangan KH Nawawi dalam mengusir penjajah.

"Semoga kita bisa meniru dan merasakan perjuangan beliau dalam melawan penjajah," ucap Gus Wawan yang juga pernah menjadi Ketua IPNU Jawa Timur ini.

Dalam acara tersebut, nampak hadir PJ Bupati Sidoarjo Jonathan Judyanto, Ketua DPRD Sidoarjo H Sulamul Hadi Nurmawan, Cicit KH Nawawi yang juga sebagai anggota DPRD Sidoarjo H Khulaim Junaedi, Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimka), ribuan warga Sidoarjo dan Mojokerto. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

Bagikan:
Ahad 8 November 2015 23:6 WIB
Ratusan Ulama Thariqah Ikuti Manakib Kubro dan Bahtsul Masail
Ratusan Ulama Thariqah Ikuti Manakib Kubro dan Bahtsul Masail

Purworejo, NU Online
Ribuan orang yang terdiri dari mursyid thariqah, para kiai, habib serta ahli thariqah se-Jawa Tengah dan Yogyakarta memadati forum manaqib kubro dan bahtsul masail jam'iyyah ahlit thariqah Al-Muktabaroh An-Nahdliyyah (Jatman) Jawa Tengah yang digelar di kompleks Gedung Pendidikan Pesantren An-Nawawi, Berjan, Purworejo, Sabtu (7/11) lalu. Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saefudin.
<>
Ketua Idaroh Wustho Jatman Jawa Tengah KH Dzikron Abdullah mengemukakan, even manaqib kubro dan bahtsul masail yang diselenggarakan di pesantren An-Nawawi itu sangatlah istimewa. Pasalnya, berdirinya Jatman di Indonesia pertama kali dilaksanakan atas ide dari Almaghfurlah KH Nawawi, pendiri ketiga pesantren An-Nawawi, ayahanda KH Chalwani.

"Maka saya katakan istimewa karena KH Nawawi adalah tonggak awal berdirinya Jatman pada tahun 1957 silam," terangnya.

Sementara itu, Menteri Agama, Lukman Hakim Saefudin dalam sambutannya mengatakan, di Indonesia ini meski bukanlah negara Islam, namun Indonesia juga bukanlah negara sekuler. Agama memiliki peranan vital dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Untuk itu, kami sangat mendukung penuh acara-acara seperti ini. Ke depan akan kami pikirkan agar kegiatan seperti ini dapat terus berjalan karena saya yakin kegiatan seperti ini memberikan sumbangsih yang tidak ternilai bagi kelangsungan NKRI," kata Lukman.

Lebih lanjut dikatakannya, Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia dengan pemeluk agama Islam terbesar di dunia. Dengan kondisi demikian, jam'iyyah thariqah memiliki sejarah panjang dalam merawat tradisi Islam yang ada di Indonesia sebagaimana telah diwarisi oleh para pendahulu.

"Ciri keindonesiaan yang ada dalam jam'iyyah thariqh inilah yang membuat Islam dapat diterima oleh masyarakat Nusantara dan berkembang hingga sekarang," tandasnya.

Sementara itu, KH Achmad Chalwani mengungkapkan 19 tahun lalu acara serupa pernah dilaksanakan di pesantren An-Nawawi. Berdasar catatan yang ditulis oleh KH Nawawi, silsilah thariqah Qodiriyah wa Naqsabandiyah dari Berjan semasa KH Zarkasyi telah berkembang pesat bahkan hingga Malaysia.

"KH Nawawi yang merupakan cucu dari KH Zarkasyi yang melanjutkan perjuangan menyebarkan ajaran thariqah dengan mengangkat mursyid di sejumlah wilayah di Jawa Tengah bagian hingga Kuala Tungkal Jambi dan masih terus berkembang hingga sekarang," tuturnya.

Ketua panitia yang juga mantan Bupati Purworejo H Mahsun Zain mengungkapkan, dalam kegiatan ini dihadiri tidak kurang dari lima ribu orang. Ini merupakan sebuah kehormatan bagi kabupaten Purworejo dan diharapkan dapat memberikan berkah bagi Purworejo ke depan.

"Mumpung ada ribuan alim ulama berkumpul di sini, kami berharap agar Purworejo didoakan agar ke depan bisa lebih baik lagi," katanya.

Terlebih di Purworejo terdapat puluhan pesantren yang tersebar di pelosok-pelosok wilayah di Purworejo. "Khusus untuk pesantren, mohon secara khusus didoakan bersama agar kelak santri-santrinya dapat meneruskan perjuangan para ulama," kata Mahsun yang juga alumni pesantren An-Nawawi itu. (Luqman Hakim/Alhafiz K)

Ahad 8 November 2015 20:2 WIB
Tenaga Umat Islam Kini Hampir Habis oleh Isu-Isu Meresahkan
Tenaga Umat Islam Kini Hampir Habis oleh Isu-Isu Meresahkan

Bandung, NU Online
Saat ini umat Islam mengalami gangguan pemikiran akibat banyaknya isu-isu yang menakutkan. Banyak yang menyebarkan isu tentang bahaya ini, bahaya itu. Masyarakat muslim dibuat takut dan ini berbahaya karena bisa melemahkan mental.

Demikian disampaikan Ulil Abshar Abdalla dalam sesi “Dialog Menjadi Muslim Masa Kini,” di Kantor PWNU Jawa Barat, Sabtu (7/11) sore.

Acara yang berlangsung jam 14:30 hingga 17:30 ini dimoderatori oleh Dr. Asep Salahudin. Sementara pembukaan disampaikan oleh Ketua PWNU Jawa Barat yang disampaikan oleh Kiagus Zaenal Mubarok.

Di hadapan ratusan peserta itu Ulil memaparkan pandangan-pandangan kritis terkait dengan pemikiran-pemikiran keislaman dan keindonesiaan. Ia menunjukkan sejumlah fakta bahwa umat Islam sekarang sedang mengalami kemandegan dalam berpikir karena lebih terkonsentrasi mengurus ancaman ketimbang serius mendalami pemikiran Islam.

"Saya kira kita tidak perlu lagi menebarkan ancaman-ancaman tentang bahaya Syiah, bahaya Wahabi, bahaya Ahmadiyah, dan bahaya lain. Kaum Nahdliyin tidak usah ikut-ikutan seperti itu karena menurut saya menakut-nakuti orang itu akan menimbulkan mentalitas kita menjadi lemah. Suatu bangsa yang mentalnya penakut akan mati kreativitasnya," terangnya.

Di dalam pandangan Ulil, kritis terhadap pemikiran radikal bukan berarti harus takut. Sebab kelompok-kelompok kecil ini tidak perlu ditakuti. "Saya sendiri kritis terhadap Wahabi, tapi saya tidak takut kepada Wahabi. Saya sendiri tidak sepaham dengan Wahabi, termasuk Hizbut Tahrir tetapi saya tidak menebarkan kesesatan apalagi mengatakan mereka bukan Islam. Kritis tidak harus menyesatkan apalagi disertai dengan kebencian," sambungnya.

Atas dasar sikap kritis tersebut Ulil sangat berharap generasi muda NU bisa lebih rasional dalam melakoni dirinya menjadi muslim masa kini. Menjadi muslim masa kini itu menurut Ulil setidaknya butuh tiga dimensi.

Pertama adalah dimensi Islam di mana identitas diri Islamnya seorang muslim harus diperhatikan. Kedua, adalah dimensi nasional karena seorang muslim tidak bisa sendirian menjadi muslim melainkan pasti terikat dengan status negara tempat seorang muslim hidup dan menjalani kehidupan bersama warga non agama. Ketiga, harus mampu beradaptasi dengan dimensi global di mana kesepakatan internasional itu pasti harus dihubungkan dengan konvensi internasional.

Forum dialog yang digelar oleh Sarekat Muslim Indonesia (SMI) dan PMII Kota Bandung tersebut berlangsung meriah. Banyak generasi muda NU di kota Bandung dan sekitarnya hadir dan aktif dalam diskusi tersebut. (Satar-Sakri/Alhafiz K)

Ahad 8 November 2015 18:4 WIB
93 Cabang Regional I Ikuti Kongres GP Ansor Tanpa Syarat
93 Cabang Regional I Ikuti Kongres GP Ansor Tanpa Syarat

Tangerang, NU Online
Pimpinan Pusat GP Ansor menggelar Pra Kongres XV Regional I bagi pimpinan wilayah dan cabang di daerah Sumatera, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Barat di Tangerang, Sabtu hingga Ahad (7-8/11). Berdasarkan verifikasi terhadap 14 pengurus wilayah dan 102 pengurus cabang itu, sebanyak 93 pimpinan cabang dinyatakan lolos tanpa mengikuti kongres tanpa syarat.
<>
"Lalu pimpinan cabang 38 lolos dengan catatan. Lalu 7 pimpinan cabang tidak lulus, kemudian 7 pimpinan cabang belum diverifikasi karena tidak datang," ujar Ketua Umum GP Ansor Nusron Wahid di Tangerang, Ahad (8/11).

Nusron didampingi Ketua Bidang Pendidikan, Pelatihan, dan Keinstrukturan Adung Abdul Rochman melanjutkan, sejumlah SK pimpinan cabang masih dalam proses.

"Bagi yang lolos dengan catatan harus melakukan PKD atau Diklatsar paling lambat dalam seminggu ke depan," paparnya.

GP Ansor, demikian Nusron menambahkan, hati-hati mengeluarkan SK. "Tidak ada obral SK jelang kongres," kata Nurson menegaskan.

Pada kegiatan bertema "Menjaga Keutuhan Bangsa Memperkuat Kedaulatan Negara dan Meluhurkan Nilai Kemanusiaan" hadir Sekjend Ansor DR M Aqil Irham dan Kasatkornas Alfa Isnaeni. Pimpinan wilayah dan 15 kabupaten/kota di Lampung dinyatakan lolos dengan nilai cukup memuaskan dan bisa mengikuti kongres berlangsung 25-27 November di pesantren Sunan Pandanaran, Yogyakarta. Sementara cabang di Sumatera Selatan, hanya Kabupaten Lahat lolos tanpa syarat.

"Yang lolos dengan catatan harus bisa menyelenggarakan PKD atau Diklatsar dengan cepat. Jika tidak, undangan menghadiri kongres tidak akan pernah ada," kata dia lagi.

Selain Lampung, PW dan PC GP Ansor Riau juga lolos akreditasi. Bahkan dalam hal administrasi, Riau dinilai paling baik karena rapi, dijilid dan disimpan juga dalam disk.

"PW Ansor Riau berbasis IT (Informasi dan Teknologi)," canda Nusron. (Gatot Arifianto/Alhafiz K)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG