IMG-LOGO
Pendidikan Islam
PESANTREN AN-NAWAWI TANARA

Bervisi Melahirkan Para Ulama Fukaha

Ahad 29 November 2015 21:30 WIB
Bagikan:
Bervisi Melahirkan Para Ulama Fukaha

Pesantren An-Nawawi Tanara Serang Banten, sesuai dengan namanya, ingin mengambil spirit dari Syekh Nawawi Al Bantani, salah satu ulama asal Nusantara yang mampu menunjukkan kiprahnya di tingkat internasional pada zamannya. Visi inilah yang ingin dijadikan spirit oleh KH Ma’ruf Amin ketika mendirikan pesantren An-Nawawi pada tahun 2001 yang menginginkan pesantren ini bisa menjadi tempat untuk melahirkan ulama, khususnya para ahli fikih.<>

KH Ma’ruf mengatakan, pengkaderan ulama kini semakin mendesak mengingat para ulama sepuh sudah pada meninggal sementara belum banyak generasi muda yang dipersiapkan menggantikan mereka. Jika hal tersebut terjadi, bisa menyebabkan kelangkaan ulama. Untuk mencapai visi tersebut, sistem pendidikan sedari awal sudah diarahkan ke sana. Di pesantren yang lokasinya di daerah tempat kelahiran Syekh Nawawi itu, kini sudah berdiri Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) yang akan dikembangkan sampai pendidikan tinggi dengan fokus dalam kajian fikih dari S1 sampai dengan S2. “Kami fokus di ilmu fikih karena ulama itu kan ahli fikih, dan disana kekuatan para ulama,” katanya.

Untuk menghasilkan para ulama yang kompeten, tentu bukan hal yang mudah dan waktu yang singkat. Strategi yang dilakukannya adalah mengambil keunggulan-keunggulan yang ada di berbagai pesantren lalu dicangkokkan dalam kurikulum pesantren. Untuk keunggulan bahasa Arab dan Inggis, diambil metode dari pesantren Gontor sedangkan kemampuan membaca kitab diambil dari keunggulan pesantren salaf. Satu hal lain adalah para santri di sini diharapkan juga hafal Al-Qur’an. Karena itu, metode pengajaran dari pesantren yang fokus pada hafalan Qur’an juga diterapkan di pesantren ini. 

Diakuinya, tak mudah mencapai target ambisius tersebut. Karena itu mau tidak mau harus dilakukan kompromi, misalnya untuk lulusan Aliyah, hanya ditargetkan mampu menghafal 15 juz Qur’an yang nantinya bisa dilanjutkan dalam jenjang berikutnya. Sementara itu, untuk kajian kitab, yang digunakan adalah kitab-kitab yang selama ini memang sudah biasa digunakan di pesantren, salah satunya Tafsir Jalalain. Para santri belajar dan mengaji sampai malam.  

Mereka yang belajar di sini juga diwajibkan mondok atau tinggal di asrama pesantren. Sebelumnya santri tidak diwajibkan tinggal di pesantren, tetapi ternyata hasilnya kurang maksimal. Pertama, waktu belajarnya minimal sekali sedangkan kedua, pergaulannya tidak terjaga. Di pesantren, para santri diajari akhlak dan etika pergaulan yang baik, tetapi begitu keluar pesantren maka langsung rusak lagi. 

“Biar orang situ, tetap harus mondok. Kalau ngak mau mondok, ngak usah sekolah situ,” tegasnya. 

Untuk menghasilkan pendidikan yang berkualitas atau mampu menyediakan pendidikan bagi kelompok tidak mampu, Kiai Ma’ruf yang kini juga rais aam PBNU ini berusaha mencarikan beasiswa dari para pengusaha yang masih memiliki komitmen keumatan. Jaringannya dalam ekonomi syariah yang luar ternyata juga banyak membantu mengembangkan pendidikan yang dikelolanya. 

Sebagian besar muridnya kini masih berasal dari seputar Banten, sebagian dari Lampung. Tetapi kini mulai ada yang berasal dari Papua. Ia sangat senang adanya santri asli Papua ini karena bisa diharapkan menjadi ulama yang bisa mengembangkan Islam di Papua.

“Susah sekali kalau orang luar Papua karena mereka dianggap sebagai pendatang. Karena itu, kita harus mengkader orang Papua sebanyak mungkin. Rencananya masih akan ada yang akan dikirim ke sini lagi,” paparnya. 

Untuk Pendidikan Tinggi, saat ini masih dalam proses perizinan. Ia menjelaskan targetnya adalah mengembangkan ilmu fikih. Sayangnya, saat ini belum ada nomenklature Fakultas Ilmu Fikih sehingga Kementerian Agama menganjurkannya untuk membuat kajian akademik untuk itu supaya nantinya bisa diproses dan menjadi keputusan resmi. Baginya, tak masalah menjadi pelopor karena memang ia mengaku suka mengembangkan sesuatu yang sebelumnya belum digeluti orang lain, seperti perjuangannya dalam mengembangkan ekonomi syariah. 

“Saya suka memulai sesuatu yang baru, nanti yang lain akan enak karena tinggal mengikuti,” paparnya.

Prinsip yang banyak dianut oleh kalangan pesantren adalah mempertahankan yang lama yang masih baik dan mengambil sesuatu yang baru yang lebih baik. Tetapi baginya hal tersebut belumlah cukup. Mengambil yang baik dari orang lain belum kreatif dan inovatif dan dinamis.Upaya perbaikan harus dilakukan secara berkelanjutan karena yang lebih baik hari ini besok tidak lebih baik, besok yang lebih baik, lusa tidak lebih baik. “Jadi tiga hal ini merupakan satu kesatuan, menjaga yang lama, mengambil yang lebih baik, dan melakukan perbaikan ke arah yang lebih baik secara berkelanjutan.”

Mengenai alasannya hanya akan mengembangkan pendidikan tinggi dengan fokus dalam kajian ilmu fikih sampai tingkat S2 saja, hal ini dikarenakan lulusan S2 sudah memiliki pemahaman yang kuat sehingga lebih aman dari upaya “pencucian otak” jika pergi ke tempat lain. Beda dengan lulusan Aliyah. 

Kasarannya, mereka bisa dibiarkan berenang di lautan karena sudah memiliki basis,” imbuhnya. 

Jika semua pengembangan keilmuan tersebut kokok, ia berharap pesantren An-Nawawi juga dapat menjadi tempat berhimpunnya para ulama untuk membahas berbagai masalah keumatan dan kebangsaan. 

Kiai Ma’ruf menyadari, mimpi tersebut butuh perjuangan dan kerja keras serta kesabaran. Berbagai kelemahan terus dievaluasi dan dicarikan solusinya. Sikap optimis dan yakin bahwa kendala apapun bisa diatasi menjadi penyemangat untuk tetap teguh memelihara dan melangkah menuju visi yang dicita-citakan. (Mukafi Niam) 

Bagikan:
Ahad 29 November 2015 16:0 WIB
MI Al-HIDAYAH PACUL
Raih Prestasi dengan Sistem Pembelajaran di Alam Terbuka
Raih Prestasi dengan Sistem Pembelajaran di Alam Terbuka

Saat ini, persaingan lembaga sekolah tingkat dasar memang sangat pesat. Mulai dari segi infrastruktur, fasilitas belajar, sistem belajar hingga raihan prestasi yang diperoleh siswa setiap sekolah. Terlebih lagi, lembaga sekolah tingkat dasar yang berbasis Madrasah Ibtidaiyah (MI) sering dianggap sebelah mata dalam segi pembelajaran kepada anak didiknya. Karena stigma inilah, Madrasah Ibtida'iyah (MI) Al Hidayah, Desa Pacul, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur berbenah dan membuktikan bahwa madrasah bisa lebih baik.
<>
Usaha untuk menyukseskan impian itu salah satunya dengan menjalankan program pembelajaran inovatif dan inspiratif tanpa tidak membuat stres peserta didik dengan pembelajaran yang dijalankan. Akhirnya dipilihlah sistem belajar di alam terbuka yang juga menjadikan agenda rutin setiap tiga bulan sekali.

Program pembelajaran di alam terbuka ini wajib diikuti seluruh elemen madrasah mulai pendidik dan peserta didik. Pembelajaran langsung dilaksanakan dengan praktik sehingga para siswa-siswi bisa menerapkan teori yang diajarkan di meja kelas. Pembelajaran di alam terbuka ini bisa dilakukan di mana pun. Misalnya saja di persawahan, anak-anak dikenalkan tentang bagaimana cara petani menggarap sawah mereka sehingga menghasilkan beras yang dimakan setiap hari hingga di peternakan melihat bagaimana peternak memelihara ternak mereka.

Dengan sistem pembelajaran yang dilakukan, siswa-siswi semakin tertarik dan bisa abelajar dengan suasana baru. Tujuan terpentingnya peserta didik bisa lebih mengenal alam, mencintainya dan tahu bahwa alam ada untuk keberlangsungan hidup manusia, sehingga manusia bertugas agar terus menjaganya. Dari sistem pembelajaran yang diterapkan, meski MI Alhidayag berada di pinggiran kota tak membuat lembaga ini miskin prestasi.

Terbukti, banyak prestasi yang pernah diraih oleh siswa di antaranya pernah menjadi Juara II Olimpiade Sains Tingkat MI serta menjadi Runner Up Be number 1 (juara 2) Lomba Pengetahuan Alam Se- Kabupaten Bojonegoro yang diselenggarakan tahun 2015 ini.

Di sisi lain, selain unggul dari pengetahuan umumnya, MI Al hidayah juga termasuk sekolah yang menjadi media untuk turut mensyi'arkan agama Islam di wilayah Kecamatan Bojonegoro, khususnya di Masyarakat Desa Pacul. Sekolah yang terletak di samping masjid Desa Pacul ini awal berdirinya di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Falah pada Tahun 1968 oleh KH Mashudi Hasan. Diawali dengan madrasah berbasis Madrasah Diniyah (Madin) saat ini Madrasah Ibtida'iyah (MI) Al-Hidayah bisa menjadi lembaga pendidikan formal favorit masyarakat Kota Bojonegoro.

Asah Siswa dari Segi Amaliyah, Mental dan Karakter

Untuk menanamkan kebiasaan menjalankan amaliyah Islam, MI Al-Hidayah membiasakan siswa-siswinya untuk mempraktikkan Shalat Dhuha setiap hari sebelum memulai kegiatan belajar mengajar. Selain itu, untuk melatih mental dan karakter setiap siswa, mereka wajib praktik berbicara (pidato) di depan guru dan teman seperjuangannya setiap kali di kelas yang dilakukan terjadwal. Harapannya, dengan pembiasan yang diterapkan nantinya dapat mencetak generasi penerus bangsa yang berilmu, beriman dan berakhlakul karimah sesuai visi MI Al-Hidayah.

Dari segi sejarah, MI Al Hidayah Sejak berdiri tahun 1968 hingga kini mengalami 10 periodesasi kepemimpinan. Adapun periodesasi kepemimpinan tersebut dimulai dari pendiri awal KH.Masyhudi Hasan, dilanjutkan penerus-penerusnya Mahmudi Ali, Marwazi Hasan, Abdullah Masykur, Ali Musa,Muhammad Badri, Maryani Ahmad, Ngaijan, Mohamad Syaifuddin dan Muhaimin Abbas hingga saat ini.

Dalam perjalanannya pada tahun 1992, tepatnya saat lembaga di bawah kepemimpinan Muhammad Badri, MI Al-Hidayah tidak lagi berada di lingkup wilayah Ponpes Al Falah namun berdiri sendiri di bawah naungan Yayasan Al-Hidayah. Meski berdiri sendiri, semangat mesyiarkan agama Islam serta memajukan madrasah ibtida'iyah tetaplah menjadi motivasi utama.

Seiring berjalannya Waktu, kini MI Al-Hidayah pacul di bawah kepemimpinan Muhaimin Abbas. Madrasah ini terus mengembangkan sistem belajar siswa-siswi agar terus mendapat suasana baru dalam belajar dengan menerapkan nilai agama yang dirangkai dengan materi kurikulum umum maupun agama. Salah satunya dengan program sekolah alam.

Muhaimin Abbas selaku kepala sekolah mengatakan, dengan sekolah di alam bebas diharapkan dapat memberi penyegaran otak semua siswa sehingga siswa yang belajar dapat termotivasi untuk terus belajar. Terbukti siswa dapat pengalaman dan banyak prestasi siswa yang diraih.

Selain pembelajaran intrasekolah, MI Al-Hidayah juga banyak menawarkan banyak kegiatan Ekstra kurikuler pada siswa agar nantinya siswa dapat mandiri serta dapat mengembangkan bakatnya dikemudian hari. Adapun ekstra
kurikuler yang ada di antaranya adalah Seni musik Piano, pidato, pramuka, tari dan banyak ekskul lainnya.

"Semoga MI Al-Hidayah Pacul ini ke depannya dapat dan layak bersaing untuk mengukir prestasi namun tak lepas menanamkan jiwa keislaman sejak dini di era modern ini," harap Muhaimin Abbas. (Nidhomatum MR)


Sabtu 28 November 2015 7:33 WIB
Menengok Program Kelas Internasional STAINU Jakarta
Menengok Program Kelas Internasional STAINU Jakarta

Sejak berdiri tahun 2003 lalu, Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta baru bisa mengembangkan program kelas internasional pada tahun 2011. Perguruan Tinggi Islam milik Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini merangkul Universitas Ibnu Thufail di dan Universitas Abdul Malik es Sa’adi Tetouan. Keduanya di Maroko. Sedangkan pada tahun 2013, STAINU Jakarta juga berhasil menggandeng Universitas Zitounah di Tunisia.<>

Meskipun kerjasama di Maroko dimulai tahun 2011, namun program baru bisa berjalan di tahun 2012. Menurut Pembantu Ketua (Puka) I STAINU Jakarta, Imam Bukhori, sebetulnya program ini merupakan program Kementerian Agama RI dengan nama ‘Beasiswa Santri Berprestasi’. Namun, STAINU Jakarta ditunjuk oleh Kemenag untuk mengelola program ini, sebab mempunyai jaringan luas di Maroko dan Tunisia.

Tahun 2014 lalu, STAINU Jakarta memperpanjang masa kerjasama program kelas inetrnasionalnya dengan dua universitas bergengsi di Maroko, Universitas Ibnu Thufail dan Universitas Abdul Malik Essaadi Maroko. “Perpanjangan kerjasama ini hingga tahun 2016,” ujar Imam Bukhori berdasarkan keterangan yang berhasil dihimpun penulis.

Mewakili STAINU Jakarta, Imam menandatangani perpanjangan kerja sama ini akhir Januari 2014 lalu di Maroko dan diterima masing-masing wakil rektor kedua universitas tersebut. Pembaruan nota kesepahaman dilakukan sekaligus pada momen penyerahan angkatan ketiga program kelas internasional sebanyak 20 Mahasiswa.

Kerjasama kali ini juga mengembangkan dua program baru, yaitu  program pertukaran dosen dan program dosen tamu. “Rencana masing perguruan tinggi (PT) akan mengirim dosen yang berkualifikasi dan berkompetensi dalam waktu tertentu 3-6 bulan,“ ujar Imam. 

Ia berharap, dengan kerja sama ini STAINU Jakarta mampu bersaing di tengah kehidupan yang mengglobal. “Ini (kerja sama) penting karena tidak ada PT atau organisasi manapun dapat unggul dan bersaing tanpa membangun jaringan kerja sama dengan yang lain,” kata Imam. Program kelas Internasional ini ditujukan kepada 20 santri berprestasi dari seluruh Indonesia setelah melalui beberapa tahapan seleksi.

Memperdalam ilmu keislaman dan bahasa Arab

Kerjasama untuk menyelenggarakan program kelas Internasional ini dilakukan untuk memperdalam berbagai mata kuliah keagamaan seperti, fiqh, ushul fiqh, maqashid syar’iyah, qawaid fiqh, dan materi-materi kegamaan lain. Disamping itu, Universitas Ibnu Thufail juga menyiapkan program pendalaman Bahasa Arab bagi mahasiwa STAINU Jakarta yang mengikuti program kelas internasional.

Program yang telah berjalan selama empat tahun ini menjaring para santri dari berbagai pelosok daerah melalui bantuan beasiswa dari Kemenag dengan program beasiswa santri beprestasinya. Para mahasiswa dikirim di tiga universitas tersebut hanya untuk masa pendidikan selama satu tahun. Selanjutnya, mahasiswa menyelesaikan pendidikannya dengan kembali ke STAINU Jakarta.

Dari beberapa kali diadakan visitasi oleh pihak Kemenag dan STAINU Jakarta, para mahasiswa yang sedang menimba ilmu di daratan Afrika Utara tersebut cukup membanggakan dari segi penyerapan ilmu dan akhlak sehari. Hal ini diamini oleh pihak universitas di Maroko dan Tunisia yang mengungkapkan kebanggannya terhadap para mahasiswa STAINU Jakarta yang mempunyai akhlak baik selama berada di kelas maupun saat di luar kelas.

Saat pertama kali mengikuti perkuliahan, selama satu bulan para mahasiswa STAINU Jakarta lebih difokuskan untuk takhoshus atau pendalaman bahasa yang  telah diberikan pihak universitas sebelum mengikuti kelas reguler. Hal ini dilakukan oleh pihak universitas agar menjadikan mahasiswa STAINU Jakarta mampu menyerap perkuliahan dengan baik dan bisa beradaptasi dengan mahasiswa lainnya.  

Takhoshus tersebut tidak menjadi sesuatu yang sulit bagi mahasiswa STAINU Jakarta karena mereka juga ikut serta belajar  dalam satu kelas dengan mahasiswa pribumi Maroko sehingga menjadikan mereka untuk terus aktif mempraktikkan apa-apa yang telah mereka dapat ketika mengikuti takhoshus bahasa Arab.

Dengan menginisiasi program kelas internasional ini, STAINU Jakarta tetap memberikan perhatian bagi para mahasiswanya agar selama belajar di Tunisia dan Maroko, tetap mempertahankan identitas ke-NU-annya. Karena NU menjadi perhatian umat Islam di negara Timur Tengah, terutama di dalam menjaga amalan seperti hizib, ratib, maulid, dan istighotsah.

Program Aswaja Internasional Movement

Selain mengirimkan para santri berprestasi ke Tunisia dan Maroko, STAINU Jakarta juga memberikan beasiswa belajar bagi mahasiswa luar negeri yang ingin belajar Islam di Indonesia. Hal ini dalam rangka untuk mewujudkan program Aswaja Internasional. Untuk tahap awal, STAINU Jakarta menerima para mahasiswa berasal dari Pattani, Thailand pada tahun 2013 sebanyak 31 mahasiswa. 

Program ini dilakukan STAINU Jakarta dalam rangka mendidik para mahasiswa dari Thailand untuk belajar sekaligus memperdalam pemahaman tentang Islam aswaja. Program Aswaja Internasional Movement ini digagas oleh STAINU Jakarta bekerjasama dengan pengurus pusat organisasi Al-Khidmah.

Ketua BP3TNU yang juga mantan Ketua STAINU Jakarta HM Mujib Qolyubi, MH mengatakan sangat bergembira dan optimistis bahwa program Aswaja International Movement yang digagas oleh STAINU Jakarta dan Al-Khidmah ini akan terus berjalan dan bermanfaat untuk menyebarkan panji-panji serta ajaran Islam ahlusunnah wal jamaah ke depan. Terlebih di tengah serangan paham-paham yang cenderung semakin menjauhkan umat Muslim dari ajaran otentik Rasulullah SAW.

“Program Aswaja Internasional Movement adalah salah satu bentuk komitmen STAINU Jakarta dalam mempertahankan tradisi serta amaliah ahlusunnah wal jamaah ala Nahdlatul Ulama, ini adalah wujud pengejawantahan diri kami sebagai perguruan tinggi berbasis NU,” terang Kiai Mujib.

Misi ini juga dilakukan, sebab STAINU Jakarta tidak hanya sekedar mentransfer ilmu praksis-akademis semata. Melainkan lebih dari itu, STAINU Jakarta akan mendidik mahasiswa-mahasiswanya, termasuk yang berasal dari Thailand untuk belajar amaliah-amaliah praksis-ideologis NU semisal wirid, manaqib, tahlil serta istighotsah agar kelak bisa menyebarkan serta menjadi imam tatkala kembali ke daerah asalnya masing-masing. 

Untuk mengembangkan misi ini, STAINU Jakarta juga bekerjasama dengan Universitas Kebangsaan Malaysia pada tahun 2014 lalu. Kerjasama ini bukan hanya pada penyebaran pemahaman Islam Aswaja, melainkan juga di bidang akademik dengan mengembangkan dan mempublikasi hasil penelitian-penelitian akademik, selain pertukaran mahasiswa dan dosen.

Program Pascasarjana Islam Nusantara

Setelah membuka berbagai program kelas internasional, pada tahun 2013 STAINU Jakarta berhasil membuka program pascasarjana untuk jenjang S2 untuk Program Studi Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) dengan konsentrasi Kajian Islam Nusantara. Untuk angkatan pertama tahun 2015, Pascasarjana STAINU Jakarta berhasil mencetak sebanyak 45 mahasiswa dengan berbagai penelitian yang mengungkap khazanah keilmuan Islam Nusantara.

Konsentrasi Islam Nusantara menjadi pilihan STAINU Jakarta karena khazanah keilmuan Islam di Nusantara sangat melimpah. Selain itu, konsentrasi ini juga dipilih karena STAINU Jakarta, bahwa distingsi Islam Nusantara secara sosial dan budaya berbeda dengan karakter Islam di Negara-negara lain, misalnya Timur Tengah.

Konsentrasi ini bukan berarti melokalisir pemahaman Islam, yaitu hanya di Nusantara, melainkan berupaya memproduksi penelitian-penelitian akademik sehingga mampu mewujudkan Indonesia sebagai destinasi (tujuan) kajian Islam dunia. Hal ini berangkat dari pemahaman, bahwa Islam di Indonesia sebagai sebuah karakter, dikenal oleh masyarakat dunia sebagai Islam yang ramah, toleran, dan  moderat dengan berbagai kekayaan karya-karya manuskrip orang Nusantara terdahulu.

Dengan demikian, Pascasarjana STAINU Jakarta bukan hanya berusaha mencetak para Master Sejarah, melainkan juga ahli manuskrip nusantara, ahli geneologi keilmuan Islam Nusantara, ahli antropologi, sosiologi, maupun kebudayaan Islam Nusantara. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, Pascasarjana STAINU Jakarta menyediakan para dosen yang berkompeten dibidangnya, baik dosen lulusan luar negeri maupun dalam negeri.

Untuk program S2 ini, STAINU Jakarta menggandeng Kemenag RI untuk menyediakan beasiswa setiap tahunnya. Bagi para guru madrasah, program S2 ini bisa diakses karena STAINU Jakarta menyediakan beasiswa guru madrasah untuk 25 orang tiap tahun. Selain itu, untuk program reguler, STAINU Jakarta juga menyediakan program beasiswa untuk tahun pertama. (Fathoni) 

Jumat 27 November 2015 9:30 WIB
Pesantren Almanar Wajibkan Santri Bikin “Blog”
Pesantren Almanar Wajibkan Santri Bikin “Blog”

Saat jam istirahat Pesantren Almanar Azhari sedang berlangsung, para siwa menarik nafas sejenak setelah mendapat pelajaran di kelas dan akan dilanjutkan lagi setelah istirahat usai.<>

Siswa-siswa terlihat asyik bercengkerama di beranda kelas, masjid, dan di saung-saung yang berada di lokasi pesantren yang beralamat Jalan Raya Limo Pelita No 10 Depok, Jawa Barat ini. Akan tetapi di antara santri-santriwati terebut, ada dua santri yang sedang asyik berinternet-ria di pojok ruangan, di salah satu kelas: M Satrio Khalifah Ardhy dan Reza Anugrah Putra.

Yang menarik, kedua siswa tersebut sedang membuka blog mereka masing-masing. Satrio yang memiliki alamat blog, www.str21.blogspot ini menjelaskan dia sering mengunduh berita-berita yang terjadi di sekelilingnya. Saya ingin berbagi informasi dengan orang lain melalui dunia maya, tutur siswa Kelas 2 SMA yang berasal dari Bekasi ini.

Selain itu, lanjutnya, dia juga sering memberi catatan terhadap apa yang terjadi di Indonesia dan dunia international, terutama dunia Islam. Di blog, saya memberi catatan tentang gempa Tasik dan bagaimana perjuangan rakyat Palestina, katanya sambil menunjukkan isi blog-nya tersebut kepada Pelita.

Menurut siswa berkaca-mata yang juga hafal empat juz Al-Quran ini, jika betul-betul menguasai, blog bisa dimanfaatkan untuk mencari duit. Makanya, blog harus diisi dengan hal-hal yang baik, ucap santri yang juga berperan sebagai administrator blog Organisasi Siswa Almanar Azhari (Osama) ini: www.osama2009-2010.blogspot.com.

Sama halnya dengan Reza Anugrah Putra, siswa Kelas 3 SMP. Santri yang telah memiliki blog, www.hackod3.co.cc, sejak Kelas 1 ini berdalil saat ini tidak seorang pun bisa lepas dari sains dan teknologi, termasuk internet. Saya isi blog, seputar informasi, tips, dan trik yang berkaitan dengan dunia internet, tutur santri yang telah hafal lima juz Al-Quran ini.

***

PESANTREN Almanar Azhari sepertinya memang berbeda dengan pesantren pada umumnya. Head Master Pesantren Almanar Azhari Nurcholis Suhaimi, MA menuturkan di pesantren yang dipimpinnya tersebut setiap santri dan guru diwajibkan memiliki blog. Makanya, setiap siswa harus memiliki laptop dan semua lokasi pesantren merupakan area free hot spot, tutur alumnus Pesantren Modern Ar-Rasyid, Jawa Timur ini.

Nurcholis mengakui, pada awalnya kebijakan pesantren tersebut mendapat penentangan dari sejumlah orangtua murid. Para orangtua khawatir, anak mereka justru menggunakan internet untuk hal-hal yang tidak baik. Kita tegaskan, pesantren akan mencetak santri yang ahli membuat virus dan membobol password, tapi mempunyai moralitas tinggi, tandasnya.

Hal ini tentu sejalan dengan visi besar Pesantren Almanar Azhari: menjadikan lembaga pendidikan yang dapat menciptakan siswa-siswi yang memiliki kualitas intelektual tinggi serta mempunyai moral, akhlak, dan budi pekerti yang luhur.

Nurcholis tidak bisa membayangkan bagaimana seandainya yang menguasai dunia maya justru berasal dari orang yang tidak bertanggungjawab. Pesantren berkomitmen akan menghiasi internet dengan ayat-ayat Al-Quran dan wacana keislaman. Dari itu, setiap bada Maghrib dan Subuh, para siswa akan menghafal Al-Quran. Bada Subuh, terangnya, setoran hafalan. Sedangkan bada Maghrib tambah hafalan. Satu hari setiap siswa harus hafal setengah halaman.

Teknologi sebenarnya netral. Tergantung si penggunanya, tutur alumnus Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini berdalil.

Nurcholis menjelaskan penguasaan sains dan teknologi merupakan satu dari lima pilar yang dimiliki Pesantren Almanar Azhari. Sedangkan empat pilar lainnya adalah hafal Al-Quran, menguasai Bahasa Arab dan Inggris, memahami dengan benar ilmu syariah Islamiyyah, dan berakhlakul karimah.

Untuk mencapai lima target tersebut, Pesantren Almanar memadukan sistem pendidikan kepesantrenan (pendidikan Islam), kurikulum Departemen Pendidikan Nasional, dan kurikulum international. Kurikulum tersebut diterapkan untuk jenjang SMP dan SMA.

Sementara untuk kurikulum pesantren, tuturnya, santri akan mengkaji berbagai kitab yang telah disusun tim Almanar Azhari yang berpedoman pada pelajaran Islamic studies (al-ulum as syariyyah) dari Alazhar University Cairo Mesir.

Pelajarannya meliputi, tafsir, fiqh, ushul fiqh, hadits, tauhid, faraid, dan tahfizh Al-Quran dengan menggunakan sistem talaqqi: pertemuan anatara ustadz dan guru, paparnya. Untuk ilmu fiqh, empat aliran mazhab semua diajarkan. Sementara akidahnya adalah ahlu sunnah wal jamaah.

Selain itu, Pesantren Almanar juga berkerja sama dengan Cambridge University, Inggris. Kerja sama dengan Cambridge University, katanya melanjutkan, meliputi pelajaran, matematika, kimia fisika, biologi, dan Bahasa Inggris. Materi soal ujian berasal dari Cambridge. Lulusan Almanar akan menerima Sertifikat Cambridge, tutur alumnus Magister Psikologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini.

Karena menerapkan sistem perpaduan, Pesantren Almanar tidak membedakan antara pelajaran agama dan umum. Nurcholis mencontohkan, jika belajar tentang biologi, planet, ekosistem misalnya, para pengajar juga akan memberikan penjelasan perspektif Islam. Jadi ada internalisasi nilai-nilai Islam dalam sains, ucapnya.

***

UNTUK menunjang keberhasilan dan kenyamanan santri dalam belajar, siswa Pesantren Almanar memang tidak banyak. Setiap kelas hanya memiliki 25 murid. Setiap tahun pihak pesantren hanya menerima 100 siswa baru: 50 SMP dan 50 SMA yang dibagi dalam dua kelas. Yang menarik, di luar kelas, satu pengasuh akan mendampingi enam murid.

Para santri juga dilengkapi dengan berbagi fasilitas penunjang, mulai dari berbagai laboratorium, perpustakaan, sarana olahraga dan kesehatan, hingga kolam renang. Semua ruangan ber-AC Tentu semua ini tidak mudah dan murah, aku Nurcholis. Perlu kekonsistenan dan kedisisplinan.

Pendiri Pesantren Almanar Azhari KH Manarul Hidayat mengakui bahwa lembaga pendidikan yang didirikannya tersebut hanya bisa diakses oleh siswa yang memiliki IQ tinggi dan berasal dari keluarga yang mampu.

Akan tetapi, buru-buru ia menambahkan, 10 persen dari jumlah santri harus berasal dari keluarga yang tidak mampu: keluarga miskin atau anak yatim. Jadi ada subsidi silang. Sayarat yang pertama tetap: harus pintar, kata Kiai Manarul Hidayat. Ini tidak bisa ditawar. (Zul Hidayat/Pelita)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG