IMG-LOGO
Nasional

KH Ma’ruf Amin: Regenerasi Ulama Sudah Mendesak

Senin 21 Desember 2015 10:0 WIB
Bagikan:
KH Ma’ruf Amin: Regenerasi Ulama Sudah Mendesak

Jember, NU Online
Persemaian bibit-bibit santri merupakan hal yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Sebab, semakin lama orang yang benar-benar paham soal agama atau ulama semakin berkurang karena dimakan usia. Nah, keberadaan santri diharapkan dapat menjadi pemegang tongkat estafet kepemimpinan para ulama di masa yang akan datang.
<>
Demikian dikemukakan Rais 'Aam PBNU KH Ma’ruf Amin di tengah para santri Pondok Pesantren Nuris, Antirogo, Jember, Sabtu (19/12). Menurut Kiai Ma’ruf, dalam beberapa tahun terakhir ini, para ulama kharismatik satu per satu meninggal dunia. Oleh karena itu, perlu penerus perjuangannya.

“Sudah saatnya regenerasi ulama dilakukan. Dan santri nanti diharapkan akan menjadi pemimpin yang dapat meneruskan dakwah dan perjuangan para ulama,” ucapnya.

Kiai Ma’ruf menambahkan, salah satu tugas santri atau ulama adalah memberikan penjelasan yang benar soal  agama. Lebih-lebih saat ini muncul kelompok-kelompok yang sangat tekstual dalam memahami isi Al-Qur’an di satu sisi. Mereka beribadah dan bermuamalah hanya berlandaskan Al-Qur’an. Yang tidak ada dalam Al-Qur’an dianggap bid’ah. Sedangkandi sisi lain, juga muncul kelompok yang sangat sekuler dalam beragama. Mereka memahami Al-Qur’an untuk dipaksa-paksakan sesuai dengan kehendak mereka.

“Nah, tugas para santri adalah memberikan penjelasan yang benar dalam beragama. Tidak radikal, tapi tidak juga sekuler. Namun tidak keluar dari bingkai Al-Qur’an dan Sunnah,” ujarnya.

Sementara pengasuh Pondok Pesantren Nuris, Antirogo, Jember, KH Muhyiddin Abdusshomad mengatakan bahwa NU adalah pesantren besar dengan jumlah santri mencapai jutaan orang. Basis NU adalah pesantren-pesantren dari Sabang sampai Merauke. “Kalau setiap pesantren punya kiai, maka pengasuh pesantren besar itu adalah Rais ('Aam) Syuriyah PBNU, yaitu KH Ma’ruf Amin,” jelasnya.

Usai menemui santri, KH Ma’ruf Amin bertemu dengan para pengurus PCNU Jember dan sejumlah Ketua MWCNU Jember di kediaman KH Muhyiddin. “Beliau (Kiai Ma’ruf) hanya silaturahim biasa ke Nuris, sekalian kita undang para pengurus NU,” ujar putra Kiai Muhyiddin, Gus Robith Qashidi. (Aryudi/Mahbib)


Bagikan:
Senin 21 Desember 2015 21:7 WIB
Inilah Alasan Kenapa Pengikut ISIS Paling Kecil di Indonesia
Inilah Alasan Kenapa Pengikut ISIS Paling Kecil di Indonesia

Jakarta, NU Online
Mantan Wakil Menteri Agama Prof Nasaruddin Umar mengatakan warga Indonesia yang menjadi ISIS tercatat paling sedikit dibanding negara lain, meski penduduk muslim Indonesia paling banyak di dunia.

"Itu tidak lepas dari keberadaan BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) dan FKPT (Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme) yang tidak pernah lelah menjalankan program pencegahan terorisme," katanya dalam keterangan persnya, Sabtu.

Menurut Nasaruddin, fakta itu terungkap ketika ia diundang mengikuti World Summit di Gedung Putih dan mendapat kesempatan berbicara setelah Presiden Barack Obama. 

"Karena fakta itu, banyak negara-negara Islam datang untuk belajar bagaimana hidup damai seperti di Indonesia," kata Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, itu.

Saat mengikuti acara di Liberia, Afrika, Nasaruddin mendengarkan khutbah berbahasa Inggris di mana khatib menyatakan bangga memiliki saudara seperti Indonesia yang bisa mengekspor pesawat dan bisa hidup berdampingan dengan berbagai suku bangsa serta agama.

"Fakta inilah yang seharusnya membuat bangsa Indonesia bangga. Saat orang-orang luar negeri melihat Indonesia, mereka pasti menjadi tahu apa sebenarnya Islam Indonesia itu," kata dia.

Intinya, lanjut Nasaruddin, Islam Indonesia tidak identik dengan terorisme karena Islam Indonesia adalah Islam rahmatan lil alamin, Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam.

"Tanpa embel-embel negara Islam, banyak yang kagum dengan Pancasila. Kita perlu belajar dari Piagam Hudaibiyah dan Piagam Jakarta. Ternyata Islam yang damai ya Islam yang diajarkan founding fathers kita, Soekarno dan Hatta," kata Nasaruddin.

Mengutip kitab suci Al-Qur’an, Nasaruddin mengatakan bahwa pertumpahan darah tidak akan berakhir selama manusia itu ada. Yang bisa dilakukan adalah memperkecil kemungkinan terjadinya pertumpahan darah tersebut. 

"Mustahil manusia bisa kompak bersatu seperti yang diimajinasikan. Kini tugas kita adalah melatih hidup di tengah perbedaan, bukan menyatukan perbedaan itu, demi untuk menciptakan perdamaian untuk meminimalisir aksi kekerasan ataupun terorisme," katanya. (Antara/Mukafi Niam)

Senin 21 Desember 2015 18:1 WIB
KESEHATAN
Kaki Bayi Menyerupai Huruf O, Normalkah?
Kaki Bayi Menyerupai Huruf O, Normalkah?

Sidoarjo, NU Online
Kaki merupakan salah satu anggota tubuh yang sangat penting bagi manusia. Selain sebagai alat penyangga berat badan, kaki juga sebagai alat gerak manusia. Dengan kaki manusia mampu bergerak dan berjalan kemanapun. Mengingat begitu pentingnya fungsi kaki, sebagai orang tua harus selalu mengawasi bagaimana tumbuh kembang si kecil termasuk dengan pertumbuhan kakinya.<>

"Cara berjalan anak balita sangat beragam, salah satu yang paling sering menjadi perhatian para orang tua adalah adanya bentuk kaki "O" pada balita. Bagaimana sebenarnya bentuk kaki "O" pada balita apakah ini suatu bentuk kelainan (penyakit) atau hanya perkembangan normal kaki balita saja?" kata dokter yang bertugas di RSI Siti Hajar Sidoarjo, Yunita Ulindiati, Senin (21/12).

Pada perkembangan kaki bayi masih lentur, lembut dan pada saat dilahirkan kaki bayi memang berbentuk menyerupai huruf "O", hal itu dikarenakan saat berada dalam rahim ibu, bayi berada dalam posisi meringkuk. Posisi meringkuk itu merupakan bagian penyesuaian janin terhadap rahim ibu yang sempit agar terasa nyaman.

Posisi meringkuk itu sendiri terbawa hingga lahir, sehingga saat bayi lahir kakinya berbentuk "O". Jadi memang secara fisiologis (normal) bayi memiliki kaki bentuk "O" adalah wajar. Tetapi seiring bertambahnya usia bayi lama kelamaan tulang kaki bayi akan lurus dengan sendirinya pada saat usia 1-2 tahun.

Pada tahun-tahun pertama usia balita adalah masa yang sangat penting untuk perkembangan kakinya dan biasanya orang tua baru menyadari kalau kaki si anak bengkok pada saat anak mulai belajar berjalan.

"Apabila dalam perkembangannya, kondisi kaki yang bengkok tidak berkurang atau malah bertambah bengkok maka bisa jadi mengindikasikan adanya suatu kelainan atau penyakit. Pemeriksaan yang diperlukan untuk melihat apakah kelainan yang terjadi merupakan perkembangan normal atau suatu penyakit dengan pemeriksaan radiologis," terang Yunita yang bertugas di rumah sakit NU ini.

dr Yunita menjelaskan, ada beberapa penyakit yang memberikan gejala kaki bentuk "O" yaitu, blaunt disease (penyakit blaunt), penyakit riket, tumor, infeksi atau trauma.

Penyakit blaunt atau tibia vara penyakit tulang akibat gangguan pertumbuhan bagian medial epifise dari tulang tibia bagian proksimal. Faktor mekanik yang merupakan penyababnya adalah karena mulai berjalan pada usia dini dan obesitas saat usia 1 tahun. Adanya peningkatan berat badan yang berlebihan dan trauma yang berulang menyebabkan perlambatan pertumbuhan epifise medial (sisi bagian dalam lutut).

Tibia vara atau bow leg merupakan penyebab kelainan kaki bentok "O" patologis yang paling sering.

Sebagai orang tua sebaiknya memperhatikan cara anak berjalan dan jika dalam perkembangannya orang tua melihat cara berjalannya berbeda dengan anak lainnya, maka tidak ada salahnya untuk memeriksakan kondisi tulang kakinya ke dokter spesialis Rehabilitasi Medik, spesialis Orthopedi atau dokter spesialis Tumbuh Kembang Anak.

"Apabila hal itu tidak dilakukan penanganan dengan baik akan terjadi penyakit degeneratif yang berat pada sendi secara dini. Berbagai cara untuk penanganan kondisi ini, tergantung berat ringannya sudut kelengkungannya dari pemasangan brace sampai operasi," tambah dr Yunita.

Penyakit lain yang memberi gejala bentuk kaki O, lanjut Yunita, yakni penyakit riket yang merupakan penyakit tulang akibat kekurangan vitamin D. Tetapi hal itu jarang ditemukan di Indonesia, mengingat Indonesia merupakan wilayah dengan paparan sinar matahari tinggi yang merupakan sumber vitamin D dan bermanfaat untuk pertumbuhan tulang.

"Jadi ada beberapa patokan untuk evaluasi dan penanganan anak-anak dengan kaki bentuk "O" yaitu bisa sebagai pertumbuhan normal, akan membaik dengan sendirinya pada usia antara 18 bulan-24 bulan dan tidak memerlukan tindakan, mencegah kegemukan, dan tidak memaksakan anak berjalan usia dini, menghindari duduk tailor atau bersila," jelas Yunita. (Moh Kholidun/Fathoni)

Senin 21 Desember 2015 15:1 WIB
Bersama Kemdikbud, PBNU Inisiasi FGD Bela Negara
Bersama Kemdikbud, PBNU Inisiasi FGD Bela Negara

Jakarta, NU Online
Program Bela Negara sebagai upaya dari elemen masyarakat baik itu dari unsur militer maupun sipil untuk selalu menjaga Tanah Air Indonesia ditindaklanjuti secara positif oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Hal ini didasari oleh kesadaran bahwa setiap muslim wajib hukumnya mencintai negaranya.<>

Sebagai wujud dari kesadaran itu, di Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Senin (21/12) diselenggarakan kegiatan Forum Grup Discussion (FGD) yang membahas tentang Kepanduan Bela Negara Berbasis Pendekatan Spiritual yang diinisiasi oleh PBNU. 

Ketua PBNU, H Marsudi Syuhud dalam arahannya menyampaikan pentingnya arti Bela Negara bagi kita semua. Hal ini, bagi Marsudi yang merujuk dan mencontohkan pada konflik Timur Tengah adalah hal yang sangat mungkin terjadi di Indonesia sehingga sikap cinta tanah air harus selalu dipupuk.

Sementara itu, Direktur SMA Kemdikbud RI, Purwadi dalam sambutannya menyampaikan, Mendikbud, Anies Baswedan sangat mengapresiasi kegiatan ini. Bahkan menurut Mendikbud, acara seperti Pelayaran Santri Bela Negara beberapa waktu lalu adalah wujud komitmen warga negara terhadap keutuhan negaranya.

FGD ini dihadiri oleh beberapa Narasumber seperti Chusnul Mar'iyyah dari FISIP UI, Ninuk dari Kompas, Direktur SMK, Mustaghfirin, Ketua Lakpesdam PBNU, Rumadi. Serta beberapa perwakilan lintas iman (interfaith), seperti Matakin, Walubi, Global Peace, dan oragnisasi LSM lainnya.

Sebagai penanggung jawab acara, Imam Pituduh, Wasekjend PBNU menyampaikan bahwa acara FGD perdana ini diharapkan dapat menghasilkan gagasan-gagasan cemerlang dan pada waktunya nanti akan menular pada elemen masyarakat lain untuk bersama berbuat yang terbaik bagi negara. (Faridur Rohman/Fathoni)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG