Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Bagi NU, Tidak Ada Masalah Antara Agama dan Negara

Bagi NU, Tidak Ada Masalah Antara Agama dan Negara
Bandung, NU Online
Ketua Umum  PBNU KH Said Aqil Siroj melihat masih banyak kelompok yang memimpikan khilafah sesudah runtuhnya khilafah Turki Utsmani. Dari sini muncul gerakan-gerakan pemikir politik antara lain yang dipelopori oleh Ikhwanul Muslimin dengan tokohnya seperti Sayid Quthub, Hasan Al-Banna, Muhammad Asmawi, Yusuf Qardhawi, Said Hawa, dan lain-lain.

“Mereka ingin mengembalikan khilafah, ternyata gagal,” kata Kang Said saat mengisi seminar di forum Munas Ke-2 Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) di UPI, Bandung, Jum’at (22/1) lalu.

Menurut Kang Said, gerakan nasionalisme pertama memunculkan nasionalisme Arab yang dipelopori Wijchen Flat seorang penganut Kristen Ortodoks, sosialis, liberal, sekuler yang berasal dari Syiria. Gerakan ini berbeda dengan nasionalisme Pan-Arabian yang dipelopori Jamaluddin Al-Afghani yang ingin mempersatukan seluruh Arab.

Wijchen Flat, kata Kang Said, berhasil menggembleng kader-kader militan sehingga melahirkan pejuang-pejuang nasionalisme di Syiria seperti Abdul Karim Kasim yang memunyai anak buah Hafidh Asad, di Iraq ada Hasan Bakr yang memunyai anak buah bernama Saddam Husein dan Jamal Naser.

“Ini orang-orang nasionalis, yang pasti bukan ulama,” tegas kiai yang akrab dipanggil Kang Said.

Di Timur-Tengah sejak dahulu hingga sekarang masih sering terjadi benturan keras antara tokoh ulama dan nasionalis. Misalnya Jamal Naser pada tahun 1966 mengambil keputusan eksekusi berupa hukuman gantung kepada enam aktivis muslim yang dianggap pengkhianat termasuk Sayid Quthub, Muhammad Asmawi, Zabir Muhaddis.

“Di kita itu sudah kuno, kecuali orang-orang yang bodoh saja,” tutur Kang Said.

Jadi cara berpikir pemimpin Timur-Tengah baik ulama maupun nasionalis tidak cocok dibawa ke Indonesia, tutup Kang Said di tengah ratusan mahasiswa. (M Zidni Nafi’/Alhafiz K)

BNI Mobile