IMG-LOGO
Nasional
NU ONLINE NGAJI

Awak Redaksi NU Online Rutin Kaji Ushul Fiqih

Rabu 27 Januari 2016 17:52 WIB
Bagikan:
Awak Redaksi NU Online Rutin Kaji Ushul Fiqih
Jakarta, NU Online  
Para redaktur NU Online melakukan kajian rutin kitab Al-ijtihad an-Nash al-Waqi al-Mashlahah karangan Prof DR Ahmad Raisuni dari Maroko. Pengajian tersebut merupakan agenda rutin mingguan.

Pengajian kitab kuning tersebut diselenggarakan di kantor Redaksi NU Online lantai 5 gedung PBNU, Jakarta Pusat setiap Selasa pukul 16.00 WIB.

Menurut salah seorang redaktur NU Online Alhafiz Kurniawan, kajian mingguan ini digelar untuk menyegarkan kembali pelajaran-pelajaran yang dulu pernah diajarkan sewaktu di pesantren.

“Teman-teman di sini (redaktur NU Online) masih membutuhkan kajian terhadap tema-tema tertentu,” katanya, Rabu (27/1).

Kitab yang tebalnya 90-an halaman ini berisi tentang metode pengambilan keputusan di dalam hukum Islam (Ushul Fiqih). Misalkan tentang hukum berijtihad, ijma, qiyas, dan bagaimana penerapan teori tersebut pada kasus-kasus riil demi mencari mashlahat tanpa mengabaikan nash atau realitas.

Metode kajian yang dilakukan oleh para redaktur ini bukan sekadar mendengarkan pengkaji, namun ada sesi tanya-jawab dan diskusi. Hal itu menambah suasana menjadi hidup.

Forum kajian ini terlihat santai dan para peserta bisa sambil ngopi. Moderator dengan bebas memfasilitasi para peserta yang berlatarbelakang dari berbagai pesantren dan perguruan tinggi.

“Sebenarnya kegiatan ini merupakan hal yang sudah biasa dilakukan oleh warga NU, sebagaimana biasa disebut bahtsul masail. Dalam bahtsul masail terkandung unsur musyawarah. Dan apabila ada pembahasan yang kurang dipahami dari isi kitab tersebut, maka akan diajukan kepada Rais Syuriyah PBNU,”  tambah Hafiz.

Kajian kitab selama satu jam ini diikuti oleh sekitar 10 awak redaktur NU Online. (Izzi Maulana/Abdullah Alawi)
Bagikan:
Rabu 27 Januari 2016 17:4 WIB
Musaddeq, Inspirator Gafatar Pernah Bertobat di Hadapan Kiai Said
Musaddeq, Inspirator Gafatar Pernah Bertobat di Hadapan Kiai Said
Jakarta, NU Online
Mantan pemimpin Al Qiyadah yang juga mengaku sebagai nabi, Ahmad Musaddeq merupakan sumber inspirasi ajaran bagi Gafatar. Ternyata ia pernah menyatakan bertobat setelah melakukan dialog dengan KH Said Aqil Siroj pada 9 November 2007.

Kepada NU Online, Kiai Said menunjukkan klipping sebuah media yang menuliskan perdebatannya dengan Musaddeq, pada Jum’at, 9 November 2007. 

Kiai Said menjelaskan, perdebatannya dengan Musaddeq berlangsung panjang sampai tiga jam yang berlokasi di kantor Polda Metro Jaya. Ia mengakui orang yang mengaku sebagai nabi ini pintar dalam Al-Qur’an dan hadits, sayangnya penafsiran yang diberikan keliru. Argumen-argumen yang disampaikan Musaddeq bisa dibantahnya. Dari situlah Musaddeq menyatakan bertaubat. 

Tapi ternyata meskipun ajaran Al-Qiyadah Al-Islamiyah sudah dibubarkan dan Musaddeq bertaubat dan sempat dipenjara selama empat tahun, rupanya taubatnya bukan taubatan nasuuha. Ajarannya mengalami metamorfosis menjadi Gafatar. Banyak pengikut Al-Qiyadah kemudian menjadi anggota Gafatar. 

“Mereka muncul lagi dengan bungkus sosial, ekonomi kerakyatan, menampung orang miskin, dan pengobatan gratis,” kata Kiai Said. 

Gafatar, dengan mengambil inspirasi Musaddeq, menyatakan kembali kepada millah ibrahim, mencampuradukkan antara agama Yahudi, Kristen, dan Islam. 

Kiai Said meminta agar masyarakat berhati-hati terhadap ajaran yang keluar dari mainstream Islam, apalagi sampai ingin mendirikan negara sendiri dan menyebabkan keresahan masyarakat. (Mukafi Niam) 
Rabu 27 Januari 2016 14:2 WIB
Menengok Perencanaan Strategis Majalah NU, AULA dan AULEEA
Menengok Perencanaan Strategis Majalah NU, AULA dan AULEEA
Foto: Suasana kegiatan SWOT PT Aula Media Nahdlatul Ulama, 23-24 Januari 2016.
Pasuruan, NU Online
Selama dua hari yakni sejak 23 hingga 24 Januari 2016, pimpinan, staf dan karyawan PT Aula Media Nahdlatul Ulama melangsungkan kegiatan SWOT atau perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) di Finna Golf and Country Club Resort Pandaan Pasuruan, Jawa Timur. Acara ini sebagai wahana untuk melakukan evaluasi terhadap kiprah majalah AULA dan AULEEA sebelumnya, sekaligus proyeksi yang akan direngkuh untuk tahun mendatang.

Pada sambutan di acara pembukaan, H Arif Affandi selaku Pemimpin Umum media ini mengemukakan bahwa kekurangan yang harus segera ditutupi oleh NU adalah menjalankan usaha secara profesional. "Kegiatan selama dua hari ini hendaknya diikuti secara serius untuk membahas berbagai hal demi perkembangan Majalah AULA dan AULEEA di masa mendatang," kata mantan Wakil Walikota Surabaya ini. Arif, lanjutnya, juga mengingatkan bahwa segala hal yang selama ini terjadi dalam keseharian di kantor dan lapangan hendaknya dapat didiskusikan demi menemukan formula terbaik bagi perkembangan media.

Ketua PW Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Jawa Timur ini mengemukakan bahwa kesempatan mengikuti acara hendaknya dapat dioptimalkan untuk mencari tahu bagaimana mengelola media secara baik dan profesional.

Karena media kita sudah berbentuk Perseroan Terbatas atau PT, tambahnya, maka tidak ada pilihan lain bagi seluruh pimpinan dan karyawan untuk menjadikannya sebagai sarana bisnis. Ukuran bagi kelayakan bisnis adalah dikelola secara baik dan menguntungkan. Kendati demikian, bisnis yang diinginkan adalah bukan semata mencari keuntungan, namun juga membawa visi besar NU sebagai penyebar Islam rahmatan lil'alamin.

Mantan Pemimpin Redaksi Harian Pagi Jawa Pos ini kemudian memaparkan sejumlah fakta bahwa semakin banyak warga NU yang telah sukses menjadi profesional dengan berbagai usaha yang digeluti. "Oleh sebab itu, frame dalam pengelolaan media ini sangatlah jelas yakni harus profesional dan berorientasi bisnis," tegasnya.

Saling berbagi kritik dan masukan

Di hari pertama, yakni usai shalat Ashar berjamaah, setiap divisi diberikan kesempatan memberikan gambaran kondisi yang dialami. Demikian pula kendala yang dihadapi sembari menyampaikan proyeksi yang diharapkan pada tahun 2016.

Pada sesi pertama tampil Muhamad Jamil bersama Subhan dan serta Ahmad. Devisi periklanan ini memaparkan sejumlah perolehan iklan di Majalah AULA maupun AULEEA tahun 2015 sebagai penyumbang pendanaan media disamping oplah dan sejumlah ivent. "Kami berharap, ada sinergi antara semua pihak untuk mendongkrak iklan yang masuk di media kita," kata Abah Jamil, sapaan akrabnya. Karena berdasarkan evaluasi iklan yang masuk selama ini adalah buah kerjasama yang terjadi bagi semua pihak. "Baik di redaksi maupun kawan yang berada di devisi lain," katanya.

Saat sesi tanya tawab, catatan kritis diberikan terkait dengan prosedur mendapatkan iklan, materi iklan yang masuk serta eksekusi dalam penagihan. "Mohon ada koordinasi yang lebih intensif pihak yang memperoleh iklan dengan bagian tata letak sehingga tidak ada materi iklan yang terlewatkan," kata Johan dari bagian tata letak.

Demikian pula pihak iklan mendapat masukan untuk membuat jadwal waktu yang dapat dioptimalkan untuk mendapatkan tambahan iklan. "Seperti Ramadhan dan hari raya Idul Fitri, serta hari besar lain yang bisa dimaksimalkan untuk memperoleh iklan dari berbagai pihak," kata Afif Amrullah.

Bapak Arif Affandi juga mengingatkan bahwa bila terdapat iklan partai politik, hendaknya dapat dicarikan perimbangan dari partai berbeda. "Agar tidak ada kesan bahwa majalah kita hanya dikuasai partai politik tertentu," pesannya. Pak Arif kemudian menceritakan saat pelaksanaan Pemilihan Presiden RI, yang mana akhirnya media ini berhasil mendapat iklan dari masing-masing kontestan Pilpres.

Usai devisi iklan memberikan paparan, giliran berikutnya adalah pemasaran. Karena bagian ini sebagai ujung tombak distribusi media hingga ke pelanggan dan agen, maka diskusinya lumayan panjang karena banyak masukan demi perbaikan layanan.

Baik Ibu Riamah (AULEEA) maupun Iwan Setiono (AULA) memberikan  paparan seputar perkembangan media ini sejak tahun lalu dan perkiraan capaian untuk tahun berikutnya. Sejumlah ikhtiar disampaikan oleh keduanya dalam upaya meningkatkan image media di mata masyarakat. Dari mulai menyelenggarakan ivent yang bekerjasama dengan sponsor, bergabung dengan para loper koran, agen majalah hingga terobosan lain yang dapat saling menguntungkan.

"Meskipun secara usia, Aula telah berumur lumayan lanjut, namun untuk pasar di sejumlah kota ternyata masih kurangmenggembirakan," kata Iwan Setiono. Karenanya, sejumlah terobosan harus dilakukan dalam rangka membangun image sebagai majalah kebanggaan dari NU yang juga diakui berbagai kalangan.

Hal yang sama juga dilakukan AULEEA yang memasuki satu setengah tahun. "Perlu kerja keras agar majalah life style muslimah ini dapat diterima pasar dengan baik," kata Ibu Riamah. Dan sejumlah perusahaan tidak serta merta berkenan memberikan support terhadap media cetak ini. Ada juga beberapa perusahaan yang justru lebih tertarik menyelenggarakan kegiatan bersama karena pertimbangan produknya dapat langsung dikenal konsumen.

Banyak masukan yang disampaikan peserta terkait pengembangan majalah di masa depan, khususnya kerjasama dengan sejumlah lembaga atau kepengurusan struktural NU. Bahkan bila memang dibutuhkan, akan diupayakan terbitnya surat himbauan kepada kepengurusan NU di seluruh wilayah di tanah air. "Surat tersebut bisa diupayakan oleh PBNU," kata Muhammad Rofii Boenawi.

Keharmonisan kerja dan koordinasi turut mendapat sorotan dalam upaya mengembangkan majalah. "Keluhan dari pelanggan hendaknya dapat direspon dengan cepat, serta dicarikan solusinya," kata Yudi Arianto. Seperti keterlambatan majalah ke tangan agen dan pelanggan, adanya petugas pemasaran saat pagi serta hari Sabtu dan keluhan lain.

Yang tidak kalah menarik adalah ketika Riadi Ngasiran (AULA) dan Hikmah Bafaqih (AULEEA) memberikan laporan terkait perkembangan majalah di pasaran dari sisi muatan atau isi yang selama ini diangkat menjadi bahasan.

"Tema-tema yang diangkat di Majalah AULA cukup merespons kecenderungan pasar dengan tetap dalam bingkai Islam rahmatan lil'alamin," kata Riadi Ngasiran, yang juga pemimpin redaksi.

Dan yang cukup fenomenal adalah rencana majalah yang terbit sejak tahun 1978 ini untuk melakukan tour Sumatera dalam rangkaian menggali Islam Nusantara. "Itu merupakan obsesi redaksi dalam menyambut 40 tahun majalah kita," kata Riadi. Ia juga menandaskan bahwa rencana tersebut sebagai upaya mengenalkan dan mengembangkan media agar semakin dikenal masyarakat luar, khususnya di luar Jawa, lanjutnya.

Upaya untuk menggebrak pasar turut dilakukan Majalah AULEEA. Hikmah Bafaqih selaku pemimpin redaksi kemudian menyampaikan fakta bahwa media yang dipimpinnya harus bersaing dengan majalah serupa yang sudah menasional. "Fakta bahwa AULEEA harus bersaing dengan media yang lebih lama eksis tentu membutuhkan strategi khususnya dari sisi konten," kata Ketua PW Fatayat NU Jatim tersebut.

Sepakat menjawab tantangan

Beberapa masukan yang disampaikan peserta SWOT telah diinventarisir untuk menjadi program bersama di tahun 2016 ini. Upaya mengejar banyaknya pelanggan yang di dalamnya diisi dengan penguatan sumber daya manusia dan kelengkapan pendukung telah menjadi pekerjaan bersama.

"Saya senang karena seluruh peserta antusias mengikuti kegiatan ini," kata Arif Afandi. Ia juga optimis bahwa baik AULA maupun AULEEA akan menjadi salah satu media yang berkembang lebih pesat di masa mendatang. Apalagi jumah warga NU mencapai angka jutaan orang. "Ini pangsa potensial yang harus digarap serius," pesan Arif.

Hal yang sama juga disampaikan Direktur Utama PT AULA Media Nahdlatul Ulama, H Ichwan Siswadi. "Prinsipnya, kami akan memberikan support bagi kebutuhan operasional seluruh kru demi meingkatkan oplah dan pemasukan untuk majalah," kata Abah Ichwan, sapaan akrabnya. Demikian pula, Wakil Bendahara PWNU Jatim ini akan terus mengupayakan peningkatan kesejahteraan bagi karyawan. Karena pemilik saham dari media ini adalah para karyawan sendiri, lanjutnya.

Demikianlah komitmen seluruh pihak yang terhimpun dalam media kebangaan NU Jatim ini. Kebersamaan yang telah terjalin selama dua hari menjadi modal bagi kemajuan media di masa mendatang. Tantangan media cetak memang tidak ringan, seiring dengan penetrasi media online dan elektronik lainnya. Tidak sedikit media cetak baik Koran maupun majalah yang dulunya beroplah besar dan menjadi referensi sejumlah kalangan akhirnya tumbang lantaran tidak bisa bersaing dengan baik.

Caruk pembaca dan potensi iklan bagi Majalah AULA dan AULEEA sebenarnya masih sangat besar. Jutaan warga NU yang tersebar di sejulah kawasan yang ditopang dengan kian meningkatnya taraf hidup masyarakat serta kemunculan reading society, menjadi salah satu alasan optimisme menejemen media ini dalam menghadapi tantangan. Hal ini tentu saja harus dijawab dengan profesionalitas di semua lini baik redaksi, pemasaran, iklan serta perusahaan secara umum. Mampukah? Semoga. (Ibnu Nawawi/Fathoni) 

Rabu 27 Januari 2016 5:3 WIB
Dilantik, Pimpinan Pusat GP Ansor Siapkan Ragam Kegiatan
Dilantik, Pimpinan Pusat GP Ansor Siapkan Ragam Kegiatan
Jombang, NU Online
Panitia Pelantikan Pimpinan Pusat (PP) Gerakan Ansor yang akan digelar di Tamabakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur Februari mendatang, tengah menyiapkan sejumlah kegiatan di berbagai tempat yang berbeda. Di antara kegiatan tersebut adalah Pelatihan Kader Nasional (PKN) dan Reuni akbar dengan alumni PKN.

Hal ini dilakukan untuk menuntaskan program kaderisasi di organisasi kepemudaan Ansor, dan juga sebagai salah satu syarat mutlak menjadi PP GP Ansor.  “PKN juga akan mengawali pelantikan pengurus pusat,” ujar H Zulfikar Damam Ikhwanto, salah satu panitia penyelenggara, Selasa (26/1).

Apel akbar Barisan Ansor Serbaguna (Banser) di Area Stadiun Tambakberas, Jombang juga merupakan rangkaian kegiatan sebelum dilangsungkan prosesi pelantikan. Diperkirakan ratusan Banser akan turut serta memeriahkan apel tersebut. “Apel Banser  untuk menggiring pelantikan Pengurus Pusat Ansor di utara Stadiun Jombang,” katanya.

Pria yang juga sebagai Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jombang mengungkapkan, setidaknya setelah PP GP Ansor mengikuti beberapa rangkaian PKN dengan semaksimal mungkin, mereka sudah siap dikukuhkan dan tidak diragukan dalam mengemban mandat organisasi.

“Setelah itu Pengurus Pusat GP Ansor dilantik dan melangsungkan rapat kerja bertempat di Tambakberas,” ungkapnya.

Di samping itu, seusai merampungkan rapat kerja (raker) untuk merumuskan sejumlah program-program selama lima tahun ke depan, mereka dijadwalkan berziarah ke makam KH Abdurrahman Wahud (Gus Dur), Tebuireng dan pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asy’ari dengan bersama-sama.

Terkait kepastian waktu pelaksanaan dari sebagian kegiatan tersebut, panitia masih belum bisa memberikan informasi lebih lanjut, termasuk tanggal pelaksanaan pelantikan.

Sebelumnya pelantikan ini direncanakan pada akhir Januari ini. “Masih sedang memastikan terkait tanggal pelaksanaannya, namun yang pasti pada bulan Februari,” pungkasnya.  (Syamsul Arifin/Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG