IMG-LOGO
Nasional

Gus Mus: Tuhan, Islamkah Aku?

Sabtu 30 Januari 2016 15:1 WIB
Bagikan:
Gus Mus: Tuhan, Islamkah Aku?
Jaya Suprana dan Gus Mus.
Jakarta, NU Online
Kamis malam (28/1) bertempat di Gedung kesenian Jakarta, KH Mustofa Bisri menerima tantangan dari pianis senior Jaya Suprana. Pengasuh Pesantren Raudlatuth Thalibin Rembang itupun tak mengelak. Tantangan pendiri Musium Rekor Indonesia (MURI) itu dibalas oleh kiai yang biasa disapa Gus Mus. "Lu Semau Lu, Gue Semau Gue," katanya.

Malam itu Gus Mus kembali ke medan sastra dengan membaca beberapa bait puisi. Menurut alumni Universitas Al Azhar Mesir ini, puisi yang ia baca terbagi dalam tiga kategori, yakni sebagai warga dunia, sebagai muslim, juga sebagai warga Indonesia.

Berikut ini salah satu bait puisi berjudul "Puisi Islam" :

Islam agamaku nomor satu di dunia
Islam benderaku berkibar di mana-mana
Islam tempat ibadahku mewah bagai istana
Islam tempat sekolahku tak kalah dengan yang lainnya

Islam sorbanku
Islam sajadahku
Islam kitabku

Islam podiumku kelas exclussive yang mengubah cara dunia memandangku
Tempat aku menusuk kanan kiri

Islam media massaku
Gaya komunikasi islami masa kini
Tempat aku menikam sana sini

Islam organisasiku
Islam perusahaanku
Islam yayasanku

Islam istansiku , menara dengan seribu pengeras suara
Islam muktamarku, forum hiruk pikuk tiada tara

Islam bursaku
Islam warungku hanya menjual makanan sorgawi
Islam supermarketku melayani segala keperluan manusiawi

Islam makananku

Islam teaterku menampilkan karakter-karakter suci
Islam festifalku memeriahkan hari-hari mati

Islam kaosku
Islam pentasku

Islam seminarku, membahas semua
Islam upacaraku, menyambut segala
Islam puisiku, menyanyikan apa saja

Tuhan Islamkah aku?

(Red: Zunus)

Foto: Page Facebook 'Ahmad Mustofa Bisri'.


Bagikan:
Sabtu 30 Januari 2016 22:21 WIB
Harlah Ke-90, NU Komitmen Jaga Keutuhan Bangsa dan Negara
Harlah Ke-90, NU Komitmen Jaga Keutuhan Bangsa dan Negara
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj saat memberi sambutan Harlah Ke-90 NU di halaman Gedung PBNU Jakarta, Sabtu (30/1/2016).
Jakarta, NU Online
Hari lahir Ke-90 Nahdlatul Ulama diselenggarakan bersamaan dengan Harlah Ke-30 Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa, Sabtu (30/1/2016) malam di halaman Gedung PBNU Jl Kramat Raya Jakarta. Mengusung tema ‘Islam Nusantara Menjaga Aset Bangsa’, NU berkomitmen untuk senantiasa menjaga perdamaian dan keutuhan bangsa dan negara Indonesia.

Komitmen ini terus digelorakan, karena NU melihat banyak gerakan dan paham yang cenderung mencerai-berai keutuhan bangsa yang sejak dahulu hingga kini terus dibangun oleh para ulama, khususnya ulama pesantren.

“Sinergi dan keselarasan antara agama nasionalisme hingga kini terjaga karena jasa dan perjuangan para ulama yang dicetuskan oleh KH Hasyim Asy’ari,” ujar Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dalam sambutannya.

Mbah Hasyim, lanjut Kang Said, beserta para ulama lain tidak mempunyai ambisi mendirikan khilafah seperti yang dilakukan oleh ulama-ulama Timur Tengah hingga kini. Karena menurutnya, agama dan nasionalisme sangat bisa berjalan beriringan membangun bangsa yang satu.

“Tugas kita saat ini meneruskan perjuangan ulama-ulama NU dari rongrongan paham radikal berbaju agama yang justru ingin membuat Indonesia porak poranda seperti yang terjadi di negara-negara Timur Tengah karena mengusung khilafah,” tegasnya.

Senada dengan Kang Said, Ketua PP PSNU Pagar Nusa KH Mimih Haeruman juga menegaskan, Pagar Nusa sebagai pagarnya ulama dan negara akan terus mengawal dan menjaga bangsa Indonesia dari berbagai ancaman. Ancaman yang dimaksud Ajengan Mimih, sapaan akrabnya, yakni dari tindakan terorisme dan paham radikal yang hingga kini terus membuat bangsa dunia menjadi resah.

“Pagar Nusa yang berisi para pendekar berkomitmen selalu setia menjaga perdamaian bangsa Indonesia. Sebab itu, Pagar Nusa akan terus menerus bersinergi dengan pemerintah untuk melakukan pengaderan para pendekar karena kami juga bagian dari NU,” tegasnya.

Peringatan harlah ini dimeriahkan oleh pagelaran wayang yang didalangi oleh Ki Enthus Susmono. Hadir dalam acara ini Kemendes PDTT Marwan Jafar, para pengurus PBNU, Marsudi Syuhud, Maksoem Mahfoedz, Ketua PP Fatayat NU Anggia Ermarini, Ketua LKKNU Idza Fauziyah, dan warga NU yang memadati halaman Gedung PBNU. (Fathoni) 

Sabtu 30 Januari 2016 19:2 WIB
Atasi Dampak Perubahan Iklim, LPBINU Perkuat Kapasitas Masyarakat Lokal
Atasi Dampak Perubahan Iklim, LPBINU Perkuat Kapasitas Masyarakat Lokal
Jakarta, NU Online
Pemanasan global (global warming) menjadi isu lingkungan yang paling penting saat ini mengingat besarnya dampak yang ditimbulkan di bumi. Pemanasan global inilah yang mengakibatkan perubahan iklim. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa Indonesia sudah mengalami kenaikan suhu berkisar 0,16-1,44 derajat celsius sebagai salah satu dampak langsung dari perubahan iklim itu sendiri. 

Dampak lain yang sudah banyak terjadi adalah kekeringan di beberapa tempat yang mengakibatkan ketidakpastian musim tanam pertanian, dan ketidakteraturannya pola iklim di tanah air yang tentu berdampak tidak hanya bagi petani tetapi juga nelayan dan masyarakat lainnya.  Menurut Johan Kief dari Green Economy United Nation Office for REDD+ Coordination in Indonesia (UNORCID), akselerasi atau percepatan perubahan iklim 99,9 % terjadi karena ulah manusia. 

Perubahan iklim bukan hanya kerja dan tanggung jawab negara melalui kebijakan yang berbasis lingkungan dan perusahaan atau industri yang ramah lingkungan dalam kegiatan bisnisnya. Tetapi yang paling penting adalah perilaku masyarakat dalam kehidupan sehari-hari yang peduli terhadap lingkungannya. 

Perilaku ramah lingkungan dapat direfleksikan melalui pengendalian penggunaan sumber bumi (air, hutan, dan energi bumi lainnya), pengelolaan sampah, serta penanaman pohon untuk mengimbangi menyempitnya area hijau.

Untuk meningkatkan kapasitas masyarakat lokal dalam mengurangi dampak perubahan iklim Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) mengadakan workshop pengendalian perubahan iklim berbasis masyarakat. Kegiatan yang berlangsung di Pesantren Qathratul Falah Lebak, Banten, Jumat (29/1/2026) ini diikuti oleh 30 orang dari santri dan masyarakat sekitar.

“Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada stakeholder pesantren terkait pengelolaan lingkungan dan pengendalian perubahan iklim, membangkitkan kesadaran mengelola lingkungan yang baik kepada stakeholder pesantren, serta menumbuhkan inisiatif stakeholder pesantren untuk pengelolaan lingkungan dan pengendalian perubahan iklim” ujar Hijroatul Maghfiroh, Program Manajer Lingkungan Hidup PP LPBINU.

Penguatan kapasitas masyarakat lokal ini diharapkan melahirkan kader-kader di pesantren dan masyarakat sekitar yang siap dalam mengatasi dampak perubahan iklim, di antaranya melalui serangkaian kegiatan dan program pengelolaan sampah dan air di lingkungannya. 

Lukman, Divisi Tata Kelola Lingkungan dan Pemanfaatan Energi Inovatif PP LPBINU dalam kegiatan tersebut menyampaikan materi manajemen bank sampah, pengelolaan sampah dengan pendekatan 3R dan komposting, pengelolaan air bekas pakai (water waste management), dan penghijauan dengan pemanfaatan lahan sempit atau hidroponik. (Red: Fathoni)

Sabtu 30 Januari 2016 13:5 WIB
Pemerintah dan Warga Mesti Bersikap Proporsional Terhadap Gafatar
Pemerintah dan Warga Mesti Bersikap Proporsional Terhadap Gafatar
Jakarta, NU Online
Wakil Sekretaris Jenderal PBNU H Ulil Abshar Hadrawi memberikan tanggapan terkait kelompok Gafatar. Ia mengharapkan negara hadir dalam menjamin kebebasan rakyatnya dalam berorganisasi. Kendati demikian, pemerintah juga memanajemen kebebasan itu agar tidak bertabrakan dengan norma-norma di masyarakat.

Demikian disampaikan H Ulil terkait sikap-sikap reaktif sejumlah warga terhadap kelompok Gafatar, di gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (21/1).

Menurutnya, Gafatar sebagai sebuah fenomena sosial harus dilihat secara rinci, apakah masuk ke dalam fenomena keorganisasian atau masuk ke dalam isu-isu keagamaan. Sebagai sebuah organisasi, kelompok ini tidak bisa dihukumi dengan kacamata agama tapi harus dilihat dari Undang-undang keorganisasian.

Pemerintah, menurutnya, harus melihat dengan jelas apakah organisasi ini melakukan pelanggaran dalam aktivitasnya. Jika terbukti ada pelanggaran, pemerintah berhak memberikan tindakan. Selain itu pemerintah diimbau untuk melindungi anggota Gafatar dari tindakan-tindakan anarkis.

“Sebagai warga NU, jika melihat orang melakukan kesalahan, jangan lah mendahulukan tindakan kekerasan melainkan harus melakukan pendekatan yang baik, misal dengan menunjukan ke jalan yang baik,” tukasnya. (Adi Sucipto/Alhafiz K)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG