IMG-LOGO
Nasional

Kesaktian Aswaja an-Nahdliyah Sudah Teruji


Jumat 12 Februari 2016 07:00 WIB
Bagikan:
Kesaktian Aswaja an-Nahdliyah Sudah Teruji
Wonosobo, NU Online
Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah Abu Hapsin Umar mengimbau kepada segenap warga NU agar tiap kali menyebut atau menulis kalimat Ahlussunnah wal Jama'ah, juga menambahkan kata "an-Nahdliyah".

Hal itu, katanya, lantaran saat ini banyak sekali golongan dan kelompok mengklaim dirinya Ahlussunnah wal Jama'ah namun menyimpang dari sikap dasar NU. Ia mencontohkan laskar jihad yang tiap saat membawa pedang tapi mengatasnamakan juga sebagai laskar Ahlussunnah wal Jama'ah. Penambahan kata "an-Nahdliyah" ini menurutnya penting untuk membedakan Ahlussunnah wal Jama’ah yang dianut NU dengan yang bukan.

Pesan tersebut disampaikan Abu Hapsin Umar saat memberikan pidato sambutan atas nama ketua PWNU Jawa Tengah dalam prosesi wisuda sarjana kampus STAINU Temanggung di Pendopo Pengayoman Temanggung, Selasa (9/2) lalu.

"Alangkah baiknya kalau ikrar ataupun mars STAINU Temanggung itu yang terselip kata-kata Ahlussunnah wal Jama’ah, syukur-syukur kalau ada kata-kata ‘an-Nahdhiyah’. Dan ini yang harus menjadi ikrar kita bersama. Karena apa? Karena Ahlussunnah wal Jama’ah an nahdhiyah yang selama ini dipraktikkan di kalangan nahdhiyyiin bukan saja diakui oleh orang-orang NU saja manfaatnya," ujar Abu Hapsin.

Mujarab

Presiden Soeharto, lanjut Abu Hapsin, pada Muktamar 1994 di Cipasung mengatakan sumbangan terbesar NU terhadap bangsa dan negara Republik Indonesia ini bukan terletak pada kekuatan ekonominya tetapi pada pemahaman agamanya yang mampu membuat Indonesia jadi stabil. Pernyataan tersebut tetap diungkapkan Presiden Soeharto kendati tempo itu hubungan antara Soeharto dan Gus Dur selaku ketua PBNU sedang kurang baik.

Menurut Abu Hapsin, kesaktian paham Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdhiyah telah terbukti mujarab, yaitu sudah teruji berhasil mempersatukan bangsa ini. Paham ini pula yang mampu mengompromikan antara konsep nasionalisme di satu sisi dan sikap religius di sisi lain. Padahal di luar, ada fakta sikap agamis harus melepaskan rasa nasionalismenya, juga sebaliknya nasionalisme harus menanggalkan semangat keagamaannya.

"Oleh karenanya, Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdhiyah ini harus kita syukuri. Karena pemahaman inilah yang mampu memadukan, mengombinasikan antara konsep nasionalisme dan agamisme. Hanya pola paham keagamaan Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdhiyah yang mampu mengantarkan bangsa Indonesia agamis di satu sisi dan nasionalis tulen di sisi lain, ya paham NU," tandas alumni Lirboyo yang masih sempat menjumpai generasi KH. Marzuki Dahlan dan KH. Mahrus Ali tersebut. (M. Haromain/Mahbib)

Bagikan:
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Maulid Akbar dan Doa untuk Keselamatan Bangsa
Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
IMG
IMG