IMG-LOGO
Fragmen

Ini Kitab Warisan Syekh Mahfudz Attarmasi kepada KH Hasyim Asy’ari

Selasa 16 Februari 2016 14:1 WIB
Bagikan:
Ini Kitab Warisan Syekh Mahfudz Attarmasi kepada KH Hasyim Asy’ari
Dokumentasi Pondok Tremas, Pacitan.
Syekh Mahfudz bin Abdullah Attarmasi siapa yang tidak mengenal beliau? Selain dikenal sebagai ahli hadits dan pengarang kitab yang produktif, Syekh Mahfudz diakui sebagai gurunya para ulama nusantara saat mereka belajar di tanah suci. 

Diantara muridnya, sebut saja KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama yang lama belajar dibawah bimbingan Syekh Mahfudz, hingga KH Hasyim Asy’ari mendapatkan ijazah langsung dari Syaikh Mafudz untuk mengajar Sahih Bukhari. 

Dalam sanad kelimuan kitab hadits ini, Syekh Mahfudz merupakan pewaris terakhir dari pertalian penerima (isnad) hadits dari 23 generasi penerima Sahih Bukhari.

Kedekatan Syekh Mahfudz sebagai guru dengan KH Hasyim Asy’ari sebagai seorang murid ternyata sangat unik. Sebagai ungkapan rasa sayang pada muridnya, Syekh Mahfudz lantas mewariskan kitab pribadinya sebagai kenang-kengan kepada KH Hasyim Asy’ari. 

Di antara pemberian Syekh Mahfudz kepada KH Hasyim Asy’ari yaitu berupa kitab berjudul Hasyiyah al-Futuhat al-Ilahiyah 'ala al-Jalalayn

Pada halaman akhir kitab itu terdapat goresan tangan indah dan ungkapan doa Syekh Mahfudz saat menghatamkan kitab tafsir tersebut dibawah bimbingan gurunya, Sayyid Abi Bakar Syatha Makkah, Pengarang Kitab I'anah Tholibin pada tahun 1306 H atau 1889 M.

Kitab tersebut ditemukan di antara koleksi kitab milik KH Hasyim Asy’ari  di Pesantren Tebuireng Jombang. Betapa memberi hadiah atau warisan berupa kitab atau buku (keilmuan), begitu bermanfaat. Bahkan masih awet meskipun beliau-beliau sudah wafat. (Zaenal Faizin)



Bagikan:
Senin 15 Februari 2016 12:0 WIB
Kediri dan Huru-haranya Menjelang G-30-S PKI
Kediri dan Huru-haranya Menjelang G-30-S PKI
Bila mengenang sejarah kota Kediri, umumnya orang selalu mengaitkannya dengan  sejarah raja-raja dan tokoh-tokoh Jawa khususnya dari kerajaan Kadiri seperti Joyoboyo, Dhaha (raja Panjalu), Empu Sendok, R Wijaya, dan Airlangga. Itu merupakah sejarah Kediri  jauh sebelum terbentuk  atau wujudnya bangsa dan negara Indonesia ini.

Sementara itu,  pasca Indonesia merdeka, daerah Kediri secara historis ternyata dikenal pula menjadi salah satu basis massa PKI dengan simpatisannya yang fanatik. Pada saat bersamaan Kediri merupakan basis kaum santri dan warga NU yang di sana terdapat banyak kiai dan berdiri banyak pondok pesantren. Beberapa literatur menyebutkan bahwa di daerah yang dilewati sungai Brantas ini memang pernah terjadi konflik hebat antara pendukung komunis dan antikomunis khususnya saat-saat meletusnya peristiwa G-30-S tahun 1965.

Akhir-akhir ini tidak sedikit pihak seperti LSM acap menyalahkan dan menyudutkan secara berlebihan tidak hanya kepada golongan pemuda NU waktu itu, tapi juga PNI, Kristen, Katolik dan lain-lain dari kelompok yang ketika itu merasa terancam dengan adanya PKI, dan selanjutnya mereka melakukan aksi balas dendam setelah adanya kabar "peristiwa Gestapu" bahwa sejumlah perwira TNI diculik dan dibunuh gerakan tentara yang diatur PKI. Bahkan ada yang menuduh orang NU lah baru kemudian kalangan marhaenis yang mengambil inisiatif pembalasan dendam yang kali ini posisi PKI menjadi korban dan musuh pelbagai golongan tadi.

Maka agar berita seputar ini ada perimbangan, di bawah  ini penulis sajikan kembali catatan naratif Abdul Wahid Asa, mantan pemimpin umum majalah Aula, yang menyaksikan sendiri bagaimana situasi kota Kediri tempo itu jelang meletusnya peristiwa G-30-S PKI. Berikut kesaksian Abdul Wahid Asa:

"Tahun 1964-1965 di Kediri PKI sedang mengalami masa moncernya. Setiap hari mereka pamer kekuatan di jalan-jalan kota sampai pelosok desa.

Mereka berbondong-bondong berkumpul di alun-alun. Yang laki-laki rata-rata berpakaian serba hitam. Perempuannya berkebaya warna-warni. Kebanyakan mereka mengenakan capil, yaitu topi bambu berbentuk kerucut yang biasa dipakai para petani waktu ke sawah. Capil tersebut bertuliskan BTI (Barisan Tani indonesia) atau Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia). keduanya adalah anggota mantel PKI. Di sela-sela lautan manusia itu, puluhan kelompok seniman jaranan (kuda lumping) sedang unjuk kebolehan. Terompetnya mendendangkan lagu genjer-genjer.

Di sisi utara alun-alun didirikan tribun dan sebuah panggung, tempat para pimpinan memberikan arahan. Rupanya mereka sedang mengadakan kampanye pengganyangan tujuh setan kota dan tujuh setan desa yang mereka sebut sebagai para setan ini adalah musuh rakyat.

Satu di antara setan itu adalah tuan tanah. Yang mendapat julukan begitu ialah petani yang memiliki tanah lebih dari dua hektar. Sehingga dengan propaganda ini, setiap orang Islam yang kaya adalah musuh rakyat yang harus dilenyapkan.

Setelah beberapa orang manggung, barisan rakyat ini bergerak keliling sambil memekikkan yel ganyang setan kota, ganyang setan desa.  Orang-orang yang ikut menyaksikan di sepanjang jalan juga harus ikut menyahut teriakan mereka dengan kata ganyaaang! Bila tidak  mereka akan dituduh sebagai kontra revolusi dan itu berarti sebagai sasaran ganyang.

Aksi semacam itu terus menerus diadakan. Dalihnya ada saja: memperingati hari besar ini-itu, hari ulang tahun organisasi ini-itu, dan segala macam.

Maka untuk melaksanakan hal itu, setelah kembali ke desa, mereka mengadakan aksi sepihak. Wujudnya berupa menyerobot tanah-tanah pak haji untuk dibagi-bagikan kepada rakyat (anggota PKI). Bila pemiliknya menunjukkan keberatan, langsung diganyang dengan dianiaya, seringkali sampai tewas.

Akibat hal ini, setiap hari ada berita kekisruhan di berbagai desa. Di Desa Jengkol, Adan-adan, Tiru, Satak, dan lain-lain terjadi bentrok antara BTI yang mengadakan aksi sepihak dari pemuda Ansor yang membela pak haji. Di Kanigoro Kecamatan Kras terjadi penyerbuan terhadap PII (Pelajar Islam Indonesia) yang sedang mengadakan training.

Dengan ulah PKI ini suhu politik jadi memanas. Antar warga masyarakat terjadi saling curiga, yang satu merasa terancam oleh lainnya. Hal ini mendorong para kiai mengadakan penggemblengan  kepada para santri dan keluarganya. Mereka diberi wirid dan azimat yang bisa menumbuhkan keberanian, kekuatan dan kekebalan. Suasana siaga dan waspada tercipta dengan sendirinya.

Betul juga. Tak lama sesudah itu  RII menyiarkan pengumuman dewan revolusi adanya gerakan 30 September, orang segera menafsirkan: inilah wujud dari gerakan PKI. Mereka membunuhi dengan kejam beberapa jendral yang dituduh antek Nekolim dan memasukkannya ke dalam sumur di lubang buaya. Memang betul ketua CC PKI DN Aidit dan koleganya terlibat langsung peristiwa itu." Demikian catatan naratif Abdul Wahid Asa dalam kolom pembuka majalah Aula edisi Mei 2007.   (M. Haromain)
Kamis 11 Februari 2016 15:0 WIB
Kiai Abbas Buntet: Kiai Sufi Pejuang Negeri
Kiai Abbas Buntet: Kiai Sufi Pejuang Negeri
Kiai Abbas Buntet, Cirebon.
Salah satu kiai yang menjadi pejuang pada masa revolusi ialah Kiai Abbas bin Abdul Jamil, Buntet Cirebon. Kiai Abbas merupakan kiai kharismatik, yang dikenal karena pengetahuan keislaman, keteduhan spiritual dan kekuatan ilmu kanuragan yang menjadikan beliau sebagai rujukan dalam perang kemerdekaan. Kiai Abbas, dikenal sebagai Angkatan Udara Nahdlatul Ulama, yang menghancurkan beberapa pesawat tempur tentara NICA, dalam perang kemerdekaan di Surabaya, November 1945. Uniknya, Kiai Abbas menggunakan bakiak, tasbih dan butiran pasir sebagai senjata untuk merontokkan pesawat tempur musuh. Bagaimana kisahnya?

Kiai Abbas merupakan putra sulung dari Kiai Abdul Jamil, pengasuh pesantren Buntet, Cirebon. Beliau lahir pada 24 Dzulhijjah 1300 H/1879 M, di Cirebon, Jawa Barat. Pada masa kecilnya, Kiai Abbas belajar mengaji dengan Kiai Nasuha Plered Cirebon dan Kiai Hasan, Jatisari. Setelah itu, Abbas kecil berkelana untuk mengaji ke Tegal, di bawah asuhan Kiai Ubaedah. Setelah itu, menuju Jombang, Jawa Timur untuk mengaji kepada Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari.

Pada kisaran tahun 1900an, Kiai Abbas datang untuk belajar ke pesantren Tebu Ireng, Jombang. Beliau datang bersama saudaranya, yakni Kiai Sholeh Zamzam, Kiai Abdullah Pengurangan, dan Kiai Syamsuri Wanatar. Pada waktu itu, pesantren Tebu Ireng masih sering diganggu oleh musuh, yakni berandal-berandal lokal di sekitar Pabrik Gula Cukir. Bersama santri-santri lainnya, Kiai Abbas membantu Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari melawan bandit lokal yang mengganggu pesantren. Akhirnya, para berandal lokal dan bandit-bandit kecil kalah dalam adu ilmu kanuragan (Masyamul Huda, 2014). PesantrenTebu Ireng menjadi aman, serta jadi rujukan santri untuk mengaji.

Ketika belajar di pesantren, bakat sebagai pemimpin, ahli ilmu, ahli strategi dan watak periang sudah terlihat dalam diri Kiai Abbas. Beliau berkawan karib dengan Kiai Wahab Chasbullah, putra Kiai Chasbullah Said, Tambakberas, Jombang. Setelah melalang buana di pesantren Jawa, Kiai Abbas kemudian menikah dan berangkat haji ke tanah suci. Di tanah Arab, Kiai Abbas bertemu dengan banyak kawan asal Nusantara yang belajar di Hijaz. Ia banyak diskusi dengan mereka, untuk memperdalam pengetahuan agama dan wawasan global.

Kemudian, Kiai Abbas pulang sebentar ke tanah air, dan kembali lagi ke tanah suci untuk belajar. Di Makkah, Kiai Abbas menjadi santri Syekh Ahmad Zubaidi. Kiai Abbas juga belajar kepada Syekh Mahfudh at-Termasi dan Syaikh Chatib al-Minangkabawi. Di tanah suci, Kiai Abbas dengan tekun belajar, diskusi dan menggelar pelbagai majlis ilmu bersama kawan-kawannya. Pada usia 40 tahun, Kiai Abbas mendapatkan tugas sebagai pengajar.

Mengembangkan Pesantren Buntet

Sekembali ke tanah air, Kiai Abbas kemudian mengembangkan pesantren Buntet, yang menjadi peninggalan ayahandanya. Di bawah asuhan Kiain Abbas, pesantren Buntet menjadi ramai oleh santri dan terkenal sebagai salah satu rujukan dalam mengaji serta memperdalam ilmu Islam. Bagi Kiai Abbas, siapa saja boleh datang untuk mengaji di pesantren, untuk belajar berbagai macam ilmu. Pengetahuan dan wawasan yang diperoleh Kiai Abbas ketika belajar di pesantren dan mengaji di tanah suci, digunakan untuk menguatkan model pendidikan pesantren Buntet. Di pesantren ini, pada masa Kiai Abbas, bermacam ilmu diajarkan, dari ilmu al-Qur’an, ilmu Qiroat, Hadist, Tauhid hingga kanuragan menjadi bagian dari tradisi pembelajaran santri.

Kiai Abbas, selain mengasuh santri, juga menjadi _mursyid_ tarekat Syattariyah dan _muqoddam_ tarekat Tijaniyyah. Dalam catatan Muhaimin AG, Kiai Abbas termasuk sosok kiai dengan pikiran yang terbuka. Ketika beberapa Kiai menolak tarekat Tijaniyyah, Kiai Abbas menerima sebagai salah satu alternatif dalam laku batin. Di Cirebon, dalam perkembangannya, tarekat Tijaniyah berkembang, dengan Kiai Abbas dan Kiai Annas sebagai muqoddamnya. Kiai Annas kemudian melahirkan beberapa kiai yang menjadi penerus muqoddam dalam praktik tarekat Tijaniyyah: Kiai Muhammad (Brebes), Kiai Bakri (Kasepuhan, Cirebon), Kiai Muhammad Rais (Cirebon), Kiai Murtadho (Buntet), Kiai Abdul Khair, Kiai Hawi (Buntet), serta Kiai Soleh (Pesawahan). Sedangkan, Kiai Abbas mencetak beberapa penerus dalam tarekat ini, yakni: Kiai Badruzzaman (Garut), Kiai Ustman Dlomiri (Cimahi, Bandung), serta Kiai Saleh dan Kiai Hawi (Buntet) (Muhaimin, 2006: 264).

Kiai Abbas menjadikan pesantren Buntet sebagai rujukan santri. Beliau menambah staf pengajar untuk mengakomodasi kebutuhan santri-santri dalam belajar berbagai macam ilmu. Kiai Abbas juga mendirikan madrasah yang dipadukan dengan pendidikan sekolah. Madrasah inilah yang dinamakan Abna’oel Wathan, yang menegaskan visi perjuangan Kiai Abbas dalam membangun fondasi negara.

Pejuang Revolusi

Kiai Abbas Buntet merupakan murid dari ulama Nusantara yang menjadi penyambung sanad para kiai: Kiai Nawawi al Bantani dan Syech Mahfudh at-Tirmasi. Selain Kiai Nawawi, ada beberapa murid lain yang juga menjadi kiai-kiai penting di Jawa, sebagai jaringan penggerak Nahdlatul Ulama. Di antaranya: Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Muhammad Bakri bin Nur, Kiai Asnawi Kudus, Kiai Muammar bin Baidlawi Lasem, Kiai Ma’shum bin Muhammad Lasem, Haji Ilyas (Serang), Tubagus Muhammad Asnawi dan Abdul Ghaffar dari Caringin (Burhanuddin, 116).

Kiai Abbas, adalah sosok pejuang yang mencintai tanah air, Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beliau menggembleng santri agar semangat memperjuangkan agama dan negara. Bahkan, pesantren Buntet juga menjadi markas latihan laskar Hizbullah, Sabilillah, dan pasukan PETA. Kiai Abbas juga membentuk dua regu laskar santri, yang dinamakan Asybal dan Athfal.

Dikisahkan, dalam pertempuran 10 November 1945, Kiai Abbas menggenggam pasir yang ditaburkan ke arah musuh. Aksi ini membuat musuh kocar-kacir, karena seakan-akan pasir yang ditaburkan menjadi meriam dan bom yang menghancurkan.

Sebelum pertempuran ini, Kiai Abbas juga ikut andil dalam keputusan Resolusi Jihad, yang merupakan keputusan para Kiai dalam rapat Nahdlatul Ulama di Bubutan, Surabaya, pada 21-22 Oktober 1945. Beberapa kiai, di antaranya Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Bisri Syansuri, Kiai Abbas Buntet, Kiai Wahid Hasyim, dan beberapa kiai lainnya berkumpul dalam sebuah majlis untuk membahas penyerbuan tentara NICA (_Netherlands Indies Civil Administration_). Fatwa Jihad yang digelorakan Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari akhirnya menjadi catatan sejarah, sebagi pengobar semangat kaum santri untuk berjuang mempetahankan negeri.

Pada pertempuran 10 November 1945, Kiai Abbas ikut membaur dengan pejuang dari kalangan Kiai yang berpusat di Markas Ulama, di rumah Kiai Yasin Blauran Surabaya. Di rumah ini, para kiai berkumpul untuk merancang strategi, menyusun komando serta memberikan suwuk/doa kepada para santri pejuang yang bertempur melawan penjajah (Amin, 2008: 72)

Setelah masa perjuangan kemerdekaan, Kiai Abbas mendapat amanah sebagai anggota KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat)—yang kedudukannya sebagai DPR sementara. Kiai Abbas mewakili area Jawa Barat, dalam kedudukannya sebagai anggota KNIP.

Kiai Abbas dikenal sebagai kiai yang memiliki ilmu kedigdayaan yang tinggi pada masa hidupnya. Beliau tak hanya berilmu agama mendalam, namun juga dikenal digdaya dan ampuh. Kemampuan Kiai Abbas dalam bidang _psychokinesys_—yang berangkat dari Cirebon menuju Surabaya dalam sekejap hentakan kaki, merupakan karomah yang diberikan Allah kepada beliau (Amin, 2008: 72). Inilah potret Kiai Abbas yang berjuang dengan ikhlas dan rela untuk menjaga negeri dari tangan penjajah. Sudah selayaknya, perjuangan Kiai Abbas menjadi referensi pewaris negeri, sebagai pahlawan dari kaum santri.

Munawir Aziz, Koordinator Teraju Indonesia, Wakil Sekretaris LTN PBNU, (@MunawirAziz)


Referensi:
Abdul Ghoffir Muhaimin, The Islamic Tradition of Cirebon: Ibadat and Adat among Javanese Muslim, Canberra: ANU Press, 2006.

_____________________________. Pesantren and Tarekat in the Modern Era: An Account of the Transmission of Traditional Islam in Java, Jakarta, Studia Islamika, 1997.

Abdul Wahid, Peranan Pondok Pesantren Buntet Cirebon bagi Kemajuan Lingkungan Pendidikan di Lingkungan Sekitar 1958-2009, Universitas Negeri Semarang, 2012.

Hasan AZ, Perlawanan dari Tanah Pengasingan: Kiai Abbas, Pesantren Buntet dan Bela Negara, Yogyakarta: LKIS. 2014.

Jajat Burhanuddin, Ulama dan Kekuasaan: Pergumulan Elite Muslim dalam Sejarah Indonesia, Jakarta: Mizan, 2012.

Samsul Munir Amin, Karomah Para Kiai, Yogyakarta: LKIS. 2008.

Sabtu 6 Februari 2016 13:1 WIB
Sanad KH Hasyim Asy'ari terhadap Kitab Nihayah Imam Ar-Ramli
Sanad KH Hasyim Asy'ari terhadap Kitab Nihayah Imam Ar-Ramli
Foto: ilustrasi
Nahdlatul Ulama sebagai organisasi sosial keagamaan dalam cara memahami hukum agama (fiqih) memilih pendekatan bermadzhab. Di antara banyak madzhab yang pernah ada (bahkan mencapai 13 mazhab) hanya empat saja yang dipilih sebagai acuan bermazhab. 

Hal ini karena keempatnya dinilai lebih muktabar, terkodifikasikan dengan lengkap dan bertahan dari waktu ke waktu. Keempat madzhab tersebut adalah: mazhab Hanafi, mazhab Maliki, mazhab Syafii, dan mazhab Hambali.

Adapun madzhab yang mayoritas dianut warga Negara Indonesia pada umumnya dan warga Nahdliyyin khususnya adalah mazhab Syafi’i yang dibangun oleh Imam Muhammad bin Idris As-Syafii. Salah satu kitab induk yang menjadi rujukan dalam fiqih mazhab syafii adalah Kitab Nihayah yang ditulis oleh Imam Ar-Ramli. 

Berikut ini disajikan silsilah sanad kitab Nihayah milik Imam Ramli dari Hadlratussyaikh Muhammad Hasyim Asy’ari melalui jalur gurunya Syaikh Mahfudh Termas. Sanad ini bukan hanya sanad Kitab Nihayah saja, namun juga kitab-kitab lainnya yang ditulis Imam Ramli.

Sanad dari KH M Hasyim Asy’ari:
1. Hadlratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari
2. Dari Syaikh Mahfudh Termas
3. Dari Syaikh Sayyid Muhammad Amin Al-Madani
4. Dari Muhammad Abi Khadlir
5. Dari Shalih Al-Bukhari
6. Dari Rafi’ al-Qandahari
7. Dari Muhammad bin Abdullah Al-Maghribi
8. Dari Abdillah bin Salim Al-Bashri
9. Dari Ali bin Al-Jamal
10. Dari Sayyid Umar bin Abdir Rahim Al-Bashri
11. Dari As-Syams Muhammad bin Ahmad Ar-Ramli

Jalur cabang:
1. Abdullah bin Salim Al-Bashri (sanad nomor 8), juga mengambil (belajar) kitab Nihayah ini dari:
2. Ali Syabramalisi
3. Dari Az-Zayyadi dan Al-Halabi
4. Dari Imam As-Syams Muhammad bin Ahmad Ar-Ramli

Dengan demikian maka jika dihitung semua sanad tersebut beserta cabangnya, maka jumlahnya semua ada 14 sanad. Dalam 12 tingkatan.

Sumber: 
1. Kitab Kifayatul Mustafid karya Syaikh Mahfudh Termas
2. Buku Khittah Nahdliyah karya KH Achmad Shiddiq
3. Buku Ahlussunnah wal Jamaah dalam Tradisi dan Persepsi NU

(Ahmad NurKholis)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG