IMG-LOGO
Taushiyah

Pidato Lengkap Grand Syekh Al-Azhar Ahmad Muhammad ath-Thayyib di Indonesia

Rabu 24 Februari 2016 11:0 WIB
Bagikan:
Pidato Lengkap Grand Syekh Al-Azhar Ahmad Muhammad ath-Thayyib di Indonesia
Grand Syekh Al-Azhar Ahmad Muhammad el-Thayeb (kanan) dalam Orasi Perdamaian dan Kemanusiaan di Auditorim Harun Nasution, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,
Yang terhormat
Yang terhormat, Rektor UIN Jakarta,
Hadirin sekalian
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,


Saya memulai ceramah saya dengan mengucapkan puji dan syukur kepada Allah yang telah memberikan kesempatan kepada saya serta rombongan, baik dari Al-Azhar maupun dari Majelis Al-Hukama Muslim, untuk mengunjungi Republik Indonesia dan bertemu dengan rakyatnya yang sangat baik, terutama dengan saudara-saudara kami seagama. Mereka adalah umat Islam yang sangat menghargai Mesir, hal itu tercermin dalam kuatnya hubungan antara kedua belah pihak sepanjang sejarah umat Islam dimana keduanya berpegang teguh pada aqidah dan akhlaq Islam yang mulia.

Mungkin saya tidak berlebihan jika saya memuji bangsa Indonesia dengan mengatakan bahwa Indonesia telah Allah pilih sebagai negeri tempat menyebarkan Islam sebagai agama yang menyerukan kepada kebahagiaan dunia dan akhirat serta menjaga orisinalitas dengan tetap menerima segala hal baru yang keduanya dipadukan secara baik dalam individu maupun masyarakat Indonesia.

Bangsa Indonesia juga telah mampu menyingkap khazanah keislaman yang suci serta nilai-nilai hukum Islam dan akhlaknya dengan mewujudkan nilai keadilan, persamaan, sikap terbuka pada orang lain serta memotivasi untuk memiliki sumber-sumber kekuatan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menyandarkan diri pada Allah semata, disertai usaha yang optimal sehingga kekuatan materi dan rohani tetap tercapai secara bersamaan.

Untuk itu, kemampuan bangsa Indonesia memadukan antara ilmu, iman dan amal telah menjadikan Indonesia mampu melakukan lompatan-lompatan sehingga menjadi salah satu negara termaju di kawasan Asia. Bahkan Indonesia telah menjadi macan Asia. Indonesia juga telah menjadikan Islam sebagai agama untuk membangun kehidupan dunia dan mencapai kebahagiaan ukhrawi, bahkan merupakan agama kemanusiaan secara universal.

Indonesia juga telah mampu membantah bohongnya tuduhan yang disampaikan oleh musuh-musuh Islam bahwa Islam adalah agama kemalasan dan tidak produktif sehingga masyarakatnya tidak maju bahkan Islam dianggap sebagai agama yang menghambat kemajuan ekonomi dan politik. Saat ini Indonesia telah menjadi model Negara Muslim yang dapat dibanggakan oleh umat Islam seluruh dunia, karena Indonesia telah mampu mencapai kemajuan ekonomi yang luar biasa terutama di Asia Tenggara.

Indonesia memeluk agama Islam melalui perantara para pedagang muslim. Kawasan Nusantara telah Allah jadikan berhati lembut dan sangat tertarik kepada Islam, karena ajaran dan akidah Islam yang sangat jelas toleran dan penuh keadilan. Selain itu kawasan Nusantara merupakan kawasan di Asia yang pertama kali menerima Islam yang dari waktu ke waktu Islam terus mengalami kemajuan di kawasan Nusantara sehingga Indonesia menjadi negara muslim terbesar dunia, dan mereka juga merupakan bangsa yang mencintai Allah dan Rasul-Nya serta al-Qur’an dan ajarannya.

Adapun terkait hubungan antara bangsa Indonesia dan Mesir seperti disampaikan para sejarawan bahwa hubungan tersebut telah dimulai beberapa abad yang lalu melalui hubungan dagang, pendidikan dan kebudayaan, dimana saat itu banyak para jamaah haji Indonesia yang sengaja datang ke Mesir untuk menuntut ilmu di Al-Azhar. Para sejarawan Eropa mencatat bahwa pada pertengahan abad ke 19 M telah dimulai kedatangan mahasiswa pelajar Indonesia di Al-Azhar yang menuntut ilmu dari para ulama Al-Azhar di Mesir.

Indonesia di Al-Azhar, tinggal di asrama-asrama yang di sebut dengan ruwak Jawa. Selain itu banyak penerbit Mesir yang menerbitkan berbagai karya ulama Indonesia. Pelajar Indonesia di Mesir juga banyak terpengaruh oleh gerakan-gerakan pembaharuan Mesir terutama yang dilkukn oleh Sheikh Mohammad Abduh dan para muridnya, ditambah dengan gerakan kebangsaan yang dipimpin oleh Mustafa Kamel serta para tokoh nasional Mesir lainnya saat itu.

Saat ini ada sekitar 5000 pelajar dan mahasiswa Indonesia yang belajar di Al-Azhar di antara mereka ada yang menapatkan beasiswa. Saat ini setiap tahun Al-Azhar memberikan 20 beasiswa kepada mahasiswa Indonesia selain itu setiap tahun Al-Azhar mengirim guru bahasa Arab ke sekolah sekolah di Indonesia dengan jumlah 31 orang.

Hadirin yang saya hormati,

Zaman kita sekarang ini menghadapi berbagai macam persoalan dan krisis yang sangat serius, terutama di bidang politik ekonomi dan lingkungan hidup. Persoalan seperti ini yang paling banyak terjadi terutama di dunia ketiga yang mengancam keamanan kesehatan, masyarakat serta Negara tersebut. Selain itu kita juga menghadapi ancaman hilangnya rasa perdamaian yang diikuti oleh menyebar luasnya kekacauan dan kegelisahan serta dominasi kekuatan pihak tertentu yang menguasai orang-orang lemah. Hal yang lebih buruk lagi hal seperti itu terwujud dengan banyaknya kejahatan dalam bentuk peperangan serta penumpahan darah mengatasnamakan agama, terutama dengan mengatasnamakan agama Islam dengan sengaja menyematkan sifat teroris pada Agama Islam, di mana pada saat yang bersamaan tidak ada satupun agama samawi yang disifati dengan sifat teroris. Tentu saja penyifatan ini merupakan sebuah kedzaliman dan menipu akal serta pemahaman yang benar serta tuduhan ini sangat bertentangan dengan realitas dan sejarah umat Islam. Sebab banyak pemeluk agama lain yang justru banyak menggunakan kekerasan dan tindakan kejahatan yang menggunakan atas nama agama mereka, hal ini sebagaimana diakui oleh mereka sendiri baik oleh para tokohnya ataupun oleh para pemeluk biasa. Jika tidak percaya silahkan jelaskan apa yang terjadi dengan perang salib di dunia timur Islam serta perang atas nama agama di Eropa, ditambah dengan pengadilan-pengadilan yang menjatuhkan vonis pada penganut agama Yahudi dan umat Islam. Tidakkah semua tindakan dan peperangan ini merupakan salah satu bentuk terorisme dan kejahatan yang merusak tata nilai kemanusiaan sepanjang sejarah?

Ada orang yang mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan tersebut merupakan kesalahan sejarah yang telah terjadi sudah sangat lama dan tidak ada pengaruh apapun pada kehidupan kita hari ini. Jika seperti itu silahkan anda dalami apa yang disebut dengan perang salib dua, di mana peperangan ini telah menjadi pintu masuk konflik panjang di dunia arab dan dunia Islam. Bahkan seorang penulis Amerika: John Fifer, menulis buku yang berjudul Perang salib II: perang barat dan penjajahan baru terhadap Islam. Tentu saja saya di sini tidak dapat menjelaskan secara detail apa yang dijelaskan oleh penulis tersebut tetapi saya ingin menekankan bahwa tindakan melanggar batas di luar ketentuan Islam yang dilakukan oleh sebagian kecil penganutnya di mana tindakan ini sangat ditentang oleh para ulama Islam serta para pemikirnya bahkan orang awam pun tidak dapat menerimanya, sikap melanggar batas tersebut juga ada pada pemeluk agama lain dimana para pelakunya dijanjikan akan mendapatkan surga.

Saya tegaskan bahwa dengan membaca kembali sejarah perbandingan terorisme, jelaslah bahwa umat Islam merupakan umat yang paling adil dan objektif di mana mereka dapat membedakan antara agama dan sikap sebagian pengikutnya. Umat Islam menilai peperangan yang dilakukan oleh orang barat terhadap Islam sebagian peperangan orang Eropa terhadap orang Islam dan tidak menuduh agama yang dianut oleh orang Eropa sebagai landasan ideologis tejadinya peperangan tersebut. Hal ini untuk membedakan antara nilai-nilai agama dengan perilaku para pemeluknya yang menjual belikan agamanya, dengan harga yang sangat murah. Hal ini merupakan salah satu wujud penghormatan umat Islam terhadap keyakinan agama lain mekipun umat Islam di seluruh penjuru dunia banyak ditindas dan selalu disingkirkan. Hanya saja kita tidak mungkin berdiam diri atas sikap yang menyududkan umat Islam, pembunuhan massal terhadap umat Islam seperti yang terjadi di Myanmar di tengah-tengah diamnya masyarakat dan media internasional, padahal mereka mengaku sebagai masyarakat yang sangat menghargai nilai-nilai kemanusiaan tanpa membedakan antara muslim dan non-muslim.

Kita juga tidak mungkin berdiam diri terhadap apa yang saat ini menimpa masjidil aqsa yang merupakan kiblat pertama umat Islam dan tempat isra’ mi’raj Rasulullah, dari penjajahan dan penghinaan yang dilakukan oleh Negara lain sehingga sangat menghinakan nilai-nilai dan peninggalan umat Islam. Jika seperti ini dunia barat banyak meneriakkan terhadap segala sesuatu sikap permusuhan yang menimpa orang Kristen di timur, padahal mereka di dunia timur bisa hidup dengan damai dan berdampingan dengan umat Islam, mereka juga berdiam diri terhadap setiap permusuhan yang menimpa umat Islam menghancurkan para wanita dan anak-anak mereka. Untuk itu saya katakan jika lembaga-lembaga keagamaan di barat yang sangat besar membolehkan dirinya untuk menyuruh umatnya dalam menyikapi peristiwa-peristiwa tersebut, maka saya juga harus memainkan peran saya untuk menyeru mereka yang memiliki akal dan perasaan di seluruh dunia untuk menyelesaikan problem serta sikap permusuhan umat non-muslim kepada umat Islam baik di timur maupun di barat. Hal ini saya lakukan demi mewujudkan perdamaian dan nilai-nilai kemanusiaan baik di timur maupun di barat.

Hadirin sekalian,

Sesungguhnya Allah SWT tidak pernah menurunkan agama untuk memecah belah umat manusia, tidak juga untuk memberikan kemadharatan dan rasa takut kepada umat manusia tetapi Dia menurunkan agama sebagai cahaya petunjuk dan rahmah serta kasih sayang. Dimana umat Islam merupakan makhluk yang sangat jauh dari berbagai tindakan yang berbau terorisme serta tindakan-tindakan kekerasan pertumpahan darah serta menyia-nyiakan manusia.

Saya secara pribadi tidak pernah menemukan satu buku pun dalam agama lain di dunia ini yang mengancam setiap pelaku kejahatan terorisme dan pertumpahan darah dengan hukuman yang sangat berat sebagaimana terdapat dalam kitab suci umat Islam. Dimana Islam mengancam pelaku kejahatan dengan siksaan yang sangat berat, baik di dunia maupun di akhirat. Dengan demikian, bagaimana mungkin Islam dijuluki sebagai agama teroris, padahal Islam adalah agama yang diproklamirkan oleh Rasulnya bahwa Islam adalah yang menjamin setiap manusia merasa aman dan selamat dari tindakan dan perkataan tetangganya. Rasulullah bersabda, Setiap muslim terhadap muslim lainnya haram meneteskan darah, merampas harta dan kehormatan. Islam juga tidak hanya melarang pembunuhan dan penetesan darah, bahkan Islam juga melarang sikap menakut-nakuti orang lain meskipun hanya bercanda. Oleh karena itu, saya tidak mungkin, dan tidak masuk akal, agama ini dituduh sebagai agama terorisme dan haus kekerasan padahal Rasulnya disebut sebagai pembawa kasih
sayang kepada seluruh umat manusia.

Al-Qur’an sendiri mengajarkan bahwa kata kasih sayang yang disebut berulang-ulang dalam al-Qur’an dan diikuti dengan kata-kata kejujuran, keadilan, amanah, memaafkan dan memenuhi janji berkali-kali bahkan kata kasih sayang yang diajarkan Islam disebut dalam Alquran, bukti lain adalah bahwa kasih sayang yang diajarkan oleh Islam tidak hanya untuk sesama muslim tetapi harus berlaku untuk seluruh umat di seluruh dunia, baik makhluk hidup maupun benda mati. Jika Anda memperhatikan sejarah nabi Muhammad maka Anda akan terkejut dengan perilaku beliau yang sangat penuh dengan nilai-nilai cinta kasih yang terwujud dalam perilakunya baik kepada manusia, hewan maupun makhluk lainnya.

Untuk itu saya berharap agar seluruh hadirin dapat memperbandingkan antara akhlak dan nilai luhur yang diajarkan oleh Islam bahkan pada saat terjadi peperangan dalam bentuk sikap adil kepada musuh, dilarang membunuh wanita, orang tua serta anak kecil. Sikap ini membuktikan bahwa Islam sangat menekankan nilai-nilai kasih sayang meskipun kepada musuh. Oleh sebab itu sangat tidak masuk akal jika saat ini dengan sangat serampangan Islam dihukumi sebagai agama penyebar kekerasan. Jika saat ini ajaran agama Islam dikotori dengan perilaku sebagian umatnya yang berani melakukan pembunuhan meneteskan darah umat Islam dan umat lainnya dengan menilai perbuatan ini sebagai jihad di jalan allah demi menegakkan Negara Islam, mengkafirkan orang-orang yang berseberangan dengan mereka, ini merupakan tindakan yang tidak diajarkan oleh Islam bahkan Islam sangat menentang perbuatan tersebut. Untuk itu Al-Azhar mengemban amanat yang sangat besar untuk menyapaikan pesan ini sebab kami akan ditanya dihadapan Allah di hari kiamat untuk selalu mengingatkan dan memperbaiki sikap serta pemikian sebagian kecil pemeluk agama islam yang menyimpang, bahwa sikap-sikap tersebut bukan bagian dari ajaran Islam, dimana ini sangat merusak citra Islam serta nilai-nilainya yang sangat suci, serta membuka pintu kepada para musuh Islam untuk menghina Islam dan merendahkannya. Untuk itu Al-Azhar menyeru para pemuda yang terpengaruh pemikiran-pemikiran yang menyimpang tersebut agar mereka segera sadar dan kembali kepada jalan yang benar serta mengingatkan bahwa perilaku mereka yang bersikap ekstrim merupakan perilaku yang sangat dilarang Islam. Untuk itu dalam rangka mengemban amanah mengingatkan umat Islam, terutama para pemuda tersebut, saya serukan kepada mereka yang mengotori agama ini agar segera kembali dan menyesali tindakan mereka, dan segera bertaubat kepada Allah SWT atas tindakan yang telah mengotori ajaran agama Islam. Di sini saya juga ingin mengingatkan diri saya dan para ulama umat di mana kita semua akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah pada hari kiamat untuk menghabiskan segala daya upaya untuk saling menasehati dalam rangka menjaga keutuhan umat serta kemurnian akidah mereka dari ajaran-ajaran yang ekstrim serta tindakan-tindakan bodoh sebagian kecil pelakunya. Kita juga perlu mengingat perlunya segera menanamkan fikih yang penuh kemudahan dalam rangka memerangi fikih ekstrim dengan terus berupaya mengantisipasi upaya westernisasi dan penghancuran identitas umat Islam serta ajaran agamanya, secara bersungguh-sungguh. Kita juga perlu untuk memperbaiki sitem pendidikan dalam menanamkan fikih penuh kemudahan menerima orang lain secara berdampingan berdasarkan al-Qur’an dan sunah dengan menghindarkan berbagai perbedaan kecil dalam hal-hal yang bersifat tidak prinsipil.

Saya juga menyeru agar umat ini banyak meminta fatwa kepada para ahli ilmu mendalam yang menganut paham sunni, serta dari mereka yang menguasai temuan-temuan moderan di abad ini. Mereka juga perlu segera sadar banyaknya tantangan yang dihadapi oleh umat Islam, di mana fanatisme terhadap golongan telah menjadi hal utama menjadi penyebab perpecahan umat, sehingga para musuhnya dengan mudah dapat memecah belah umat Islam dan menyebarkan kebencian kepada umat Islam.

Terakhir tidak ada yang dapat kita lakukan saat ini kecuali berpegang teguh pada al-Qur’an dan sunnah untuk menghindarkan perpecahan umat. Selain itu kita sekalian sebagai ulama umat ini perlu megingat kembali peringatan dari Rasulullah SAW yang menyerupakan umat akhir zaman ini sebagai menu makanan yang dapat disantap dengan mudah dan diperebutkan oleh para musuh Islam, untuk itu kita harus benar-benar sadar akan peringatan nabi ini untuk menghindarkan perpecahan yang menjadikan umat islam sebagai umat yang hanya menjadi objek umat lain dan tanpa daya upaya. Kita perlu memaksimalkan segala daya upaya yang kita miliki untuk memaksimalkan segala sumber daya yang kita miliki untuk memperbaiki kondisi umat agar lebih baik, sehingga jika ini benar-benar kita laksanakan maka umat Islam akan mendapatkan kejayaan sebagaimana kejayaaan yang pernah dialami masa lalu. Semoga ini menjadi pengingat bagi kita semua.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh


* Pidato disampaikan dalam Orasi Perdamaian dan Kemanusiaan di Auditorim Harun Nasution, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Selasa 23 Februari 2016; naskah transkripsi dan terjemahan ini dikirim ke NU Online oleh Zaenal Muttaqin

Tags:
Bagikan:
Sabtu 6 Februari 2016 8:34 WIB
Pemimpin Pemaaf
Pemimpin Pemaaf

Oleh Ahmad Mustofa Bisri

Ka’b Ibn Zuhair penyair Arab kenamaan adalah penyair dari keluarga penyair. Ayahnya, Zuhair; kakeknya, Abu Sulma; kedua bibinya Khansa dan Sulma; saudaranya, Bujair; kedua sepupunya Tamadhir dan Shakhr; keponakannya, ‘Uqbah Ibn Bujair; dan cucunya, ‘Awwam Ibn ‘Uqbah; kesemuanya adalah penyair terkenal di zaman Jahiliyah.

Ketika Nabi Muhammad SAW mendakwahkan keesaan Tuhan dan dimusuhi oleh kaumnya yang bertuhan banyak, Ka’b adalah salah seorang di antara sekian banyak penyair yang gigih melawan Nabi dengan syair-syairnya. Rasulullah SAW dan kaum muslimin menjadi bulan-bulanan puisi-puisi hijaa-nya.

Pada saat kaum muslimin menaklukkan Mekkah pada tahun 8 Hijriyah, Ka’b termasuk salah satu musuh kaum muslimin yang melarikan diri. Sampai saudaranya, Bujair, menyarankan kepadanya agar ia menemui Rasulullah SAW. Bujair meyakinkannya bahwa siapa yang datang kepada Rasulullah dan mengaku salah, pasti akan diampuni.

Begitu Ka’b datang menghadap Rasulullah SAW beberapa orang Ansor langsung berdiri ingin menghajarnya. Tapi seperti biasa, Rasulullah SAW dengan sareh mencegah mereka dan mendengarkan penyair itu menyatakan penyesalannya. Melihat ketulusan Ka’b dalam penyesalan dan tobatnya, Rasulullah SAW pun mengampuninya. Bahkan ketika Ka’b membacakan puisinya Banaat Su’aad, Rasullah SAW menghadiahinya burdah, semacam mantel bulu.

Sebagai pemimpin, Nabi Muhammad SAW memang dikurniai sifat penyayang dan pemaaf. Tuhannya memang merahmatinya untuk menjadi demikian. Dalam kitab suci Al-Qur’an, Allah berfirman kepada utusannya itu: “Fabimaa rahmatin minaLlaahi linta lahum…” (Q. 3: 159) “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah, kamu lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau kasar dan berhati kaku, tentulah mereka akan lari menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkan ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka tentang urusan (kalian). Kemudian bila kamu sudah membulatkan tekad, bertawakkallah kepada Allah. Sungguh Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal.”

Berapa banyak tokoh-tokoh kafir Mekkah yang sebelumnya begitu sengit memusuhi Rasulullah SAW, ketika beliau dan kaum muslimin menaklukkan Mekkah, diampuni oleh Rasulullah SAW.

Dulu waktu kejam-kejamnya orang Arab menyakiti Rasulullah SAW dan malaikat meminta beliau berdoa bagi kehancuran mereka, Rasulullah SAW malah berdoa penuh kasih sayang, “Ya Allah berilah kaumku petunjuk; mereka tidak mengerti.”

Secara lahiriah, seandainya sikap Rasulullah SAW tidak penyayang dan pemaaf, pastilah Abu Sufyan Ibn Harb pemimpin orang-orang kafir Mekkah; istrinya Hindun yang pernah mengunyah-ngunyah jantung sayyidina Hamzah; Khalid Ibn Walid; ‘Amr Ibn ‘Ash; ‘Ikrimah Ibn Abi Jahal; dan banyak lagi tokoh-tokoh kafir lainnya yang semula memusuhi Raasulullah, tidak akan menjadi muslim-muslim yang baik dan pahlawan-pahlawan Islam.

Dalam hadis-hadis sahih, banyak kita dapati kisah-kisah yang menunjukkan betapa Nabi Muhammad SAW dalam kesehariannya; baik dalam keluarga maupun dalam pergaulan kemasyarakatannya, sangat menonjol sifat-sifat kemanusiaannya. Beliau lemah-lembut kepada siapa saja, penyayang, pemaaf, dan murah hati kepada sesama. Beliau tidak menyukai kekasaran dan kekerasan.

Sebagi gambaran, pernah datang orang-orang Yahudi dan mengatakan “Assaam ‘alaikum” (Semoga kematian bagimu). Rasulullah SAW pun menjawab: “Wa’alaikum;” sementara sayyidatina ‘Aisyah r.a. isteri beliau yang mendengar ucapan Yahudi itu menjawab, “’Alaikumus saam wal la’nah!” (Semoga kematian dan laknat bagi kamu!”)

Rasulullah SAW pun menegur isterinya, “Tenanglah, ‘Aisyah; jangan kasar begitu!” Istrinya masih menjawab, “Apa Rasulullah tidak mendengar ucapan mereka?” Dengan lembut Rasulullah SAW bersabda, “Aku mendengar, dan aku sudah membalasnya dengan mengatakan ‘Wa’alikum’ (Dan juga kamu).”

Sumber: Facebook Ahmad Mustofa Bisri


Kamis 14 Januari 2016 21:30 WIB
Terorisme Harus Dilawan
Terorisme Harus Dilawan

Oleh Abdurrahman Wahid
--Tiga buah bom meledak dalam waktu yang hampir bersamaan di Denpasar, Bali lebih dari 180 orang menjadi korban termasuk sangat banyak orang yang mati seketika. Jelas ini adalah sebuah bagian mengerikan dari tindakan teror yang selama belasan bulan ini mengetarkan perasaan kita sebagai warga masyarakat. Penulis berkali-kali minta agar pihak keamanan mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna menghindarkan terjadinya hal itu. Termasuk mengambil langkah-langkah preventif, antara lain menahan orang-orang yang keluyuran di negeri kita membawa senjata tajam, membuat bom-bom rakitan, memproduksi senjata-senjata yang banyak ragamnya.<>

Namun pihak keamanan merasa tidak punya bukti-bukti legal yang cukup untuk mengambil tindakan hukum terhadap mereka. Mungkin di sinilah terletak pokok permasalahan yang kita hadapi. Kita masih menganut kebijakan-kebijakan "punitif" dan kurang memberikan perhatian pada tindakan-tindakan "preventif", kalau belum ada bukti legal yang cukup tidak di lakukan penangkapan, ini jelas keliru. Hal itu menyebabkan hilangnya rasa hormat pada aparat negara. Hal lainnya adalah, dalam kehidupan sehari-hari begitu banyak pelanggaran hukum dilakukan oleh aparat keamanan, sehingga mereka pun tidak dapat melakukan tindakan efektif untuk mencegah tindakan teror yang dilakukan orang.  Itupun tidak bisa dibenahi oleh sistem politik kita, karena banyak sekali pelanggaran politik dilakukan oleh oknum-oknum pemerintah.

Sikap menutup mata oleh aparat keamanan kita terhadap hal-hal yang tidak benar, juga terjadi dalam praktek kehidupan sehari-hari di masyarakat. Apabila tindakan hukum diambil oleh aparat, banyak pihak lalu melakukan sesuatu untuk "Menetralisir" tindakan itu. Kasus Batalyon Linud (Lintas Udara) angkatan Darat di Binjai, Sumatra Utara, dapat dijadikan contoh, mereka melakukan tindakan "netralisasi" terhadap langkah-langkah hukum, karena para anggota Batalyon itu menyaksikan sendiri bagaimana para perwira AD dan Polri melakukan dukungan (backing) bagi kelompok-kelompok pelaksana perjudian dan pengedar narkoba, tanpa ada tindakan hukum apapun terhadap orang-orang itu.

Masalah yang timbul kemudian, adalah bagaimana mencegah kelompok-kelompok lain untuk mempersiapkan tindakan teror terhadap masyarakat, termasuk warga Asing. Sikap tutup mata itu sudah menjadi demikian luas sehingga tidak ada pihak keamanan yang berani bertindak terhadap kelompok-kelompok seperti itu. Kalaupun ada aparat keamanan yang bersih, dapat dimengerti keengganan mereka melakukan tindakan preventif.  Karena itu akan berarti kemungkinan berhadapan dengan atasan atau teman sejawat sendiri. Dalam hal ini berlakulah pepatah "Guru kencing berdiri, murid kencing berlari". Inilah apa yang terjadi di pulau Bali itu, jadi tidak usah heran jika hal itu terjadi, bahkan yang harus diherankan, mengapakah hal ini baru terjadi sekarang.

Salah satu tanda dari "paralyse" (kelumpuhan) tadi, adalah hubungan sangat baik antara aparat keamanan dengan pihak-pihak teroris dan preman sendiri. Seolah-olah mereka mendapatkan kedudukan terhormat dalam masyarakat, karena kemanapun menutupi ke-premanan mereka. Bahkan ada benggol preman yang berpidato di depan agamawan, seolah-olah dia lepas dari hukum-hukum sebab-akibat. Herankah kita jika orang tidak merasa ada gunanya melakukan tindakan preventif ? Padahal hakikat tindakan moral adalah mencegah dilakukannya langkah-langkah melanggar hukum,  dengan terciptanya rasa malu pada diri calon-calon pelanggar kedaulatan hukum.

Kalau orang merasa terjerumus menjadi preman atau teroris, herankah kita jika ada pihak keamanan yang justru takut melawan mereka? bukanya melawan mereka? Apalagi kalau Wakil Presidennya menerima para teroris di kantor dan memperlakukan seolah-olah pahlawan? Bukan kah ini berarti pelecehan yang sangat serius dalam kehidupan bermasyarakat kita, kesalahan sikap ini ditutup-tutupi pula oleh anggapan bahwa Amarika Serikat-lah yang bersekongkol dengan TNI untuk menimbulkan hal-hal di atas guna melaksanakan"rencana jahat dari CIA (Central Inteligence Agency)? "Teori" ini harus diselidiki secara mendalam, namun masing-masing pihak tidak perlu menunggu.  Inilah prinsip yang harus dilakukan, tidak perlu harus menunggu hasil penelitian.

Memang harus setelah bertahun-tahun, hal semacam ini baru dapat diketahui sebagai kebijakan baru dibidang keamanan, guna memungkinkan tercapainya ketenangan yang benar-benar tangguh?. Sudah tentu, sebuah kebijakan harus benar-benar sesuai dengan kebutuhan yang ada, dalam hal ini keperluan akan tindakan-tindakan untuk mencegah terulangnya kejadian seperti di Bali itu.  Karenanya tindakan preventif  harus diutamakan, guna menghindarkan vakum kekuasaan keamanan terlalu lama. Kebutuhan itu megharuskan kita segera mencapai kesepakatan,  mengatasi kekosongan kekuasaan keamanan yang terlalu lama dapat berakibat semakin beraninya pihak-pihak yang melakukan destabilisasi di negeri kita.

Untuk itu di perlukan beberapa tindakan di lakukan secara simultan (bersama-sama). Pertama, harus dilakukan upaya nyata untuk menghentikan KKN oleh birokrasi negara dengan adanya KKN, birokrasi pemerintah tidak akan dapat menjalankan tugas secara adil, jujur dan sesuai dengan undang-undang yang ada begitu juga, persamaan perlakuan bagi semua warga negara di muka undang-undang tidak akan dapat terlaksana jika KKN masih ada. Dengan demikian, menciptakan kebersihan di lingkungan sipil dan militer merupakan persyaratan utama bagi penegak demokrasi di negeri kita.

Syarat ketiga yang tidak kalah penting adalah kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan dan kenyataan yang ada. Kita tidak dapat membuat istana di awang-awang, melainkan atas kenyataan yang ada di bumi Indoesia karena itulah, dalam sebuah surat kepada mantan Presiden HM. Soeharto penulis mengatakan bahwa kita harus siap untuk memanfatkan para konglomerat yang tidak mengembalikan pinjaman mereka Bank-bank pemerintah, dalam masalah perdata asalkan uang hasil pinjaman itu di konfrensikan menjadi kredit murah bagi usaha kecil dan menengah (UKM). Soal-soal pidana menjadi tanggung jawab aparat hukum yang ada, dan tidak pantas dicampuri baik oleh pihak eksekutif maupun legeslatif, resep ini memang terasa terlalu sumir dan elitis, tetapi memberikan harapan cukup untuk tetap menciptakan keamanan dan dalam menopang kebangkitan kembali ekonomi nasional kita. Sebagai usulan, ia merupakan sesuatu yang menarik, bukan?


Sumber: gusdur.net

Selasa 12 Januari 2016 8:0 WIB
Seruan Syekh Taufiq Ramadhan al-Buthi untuk Bangsa Indonesia
Seruan Syekh Taufiq Ramadhan al-Buthi untuk Bangsa Indonesia

Ketua Ikatan Ulama Suriah Dr Syekh Muhammad Taufiq Said Ramadhan al-Buthi mengeluarkan seruan khusus untuk bangsa Indonesia. Putra dari ulama terkemuka Suriah, almarhum Syekh Ramadhan al-Buthi yang wafat akibat bom bunuh diri anggota kelompok ekstrem, ini memuji sembari menaruh harapan kepada Muslim di Tanah Air. Berikut teks lengkap seruan tersebut yang dikirim ke redaksi NU Online:<>

 بِسمِ الله الرّحمنِ الرّحيم

نداء إلى الشعب الأندنوسي الطيب

Seruan untuk Bangsa Indonesia

 

الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين.

Segala puji bagi Allah Pencipta semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Sayyidina Muhammad, keluarga, sahabat, dan pengikut mereka dengan kebaikan hingga hari akhir.

أيها الإخوة الكرام يا أبناء أندنوسيا، تلك الأرض المباركة التي أحب أبناؤها الإسلام فدخلوا فيه حباً به، وإعجاباً بما وجدوه من الأخلاق الكريمة والصفات الحميدة فيمن تعاملوا معهم من المسلمين، فغدوا أكبر بلد مسلم بسكانه واتساع رقعته.

Wahai saudaraku yang mulia di Indonesia, negeri yang penuh dengan keberkahan, yang penduduknya mencintai Islam, lalu memeluk Islam juga karena cinta terhadap agama ini, karena mereka merasa kagum dengan akhlak mulia yang mereka temukan dalam Islam, serta sifat-sifat terpuji dari umat Islam yang bersosialisasi dengan mereka. Suatu fakta yang meniscayakan Indonesia menjadi negeri muslim terbesar, dengan penduduk dan luas teritorialnya.

لقد وجدت فيكم من صفاء الفطرة ودماثة الخلق ما جعلني أحب هذه البلاد وشعبها، وأشعر بأنهم يمثلون الصفاء الذي تفتقر إليه كثير من الشعوب المسلمة.

Saya temukan pada diri kalian, kemurnian fitrah dan akhlak yang baik, sesuatu yang menjadikan saya sangat cinta pada negeri ini dan penduduknya. Saya merasakan, penduduk Indonesia berhasil merepresentasikan kejernihan bersikap yang dibutuhkan oleh banyak bangsa-bangsa Muslim.

المسلمون اليوم بحاجة إلى صدق التمسك بالإسلام الحق، البعيد عما يشوهه، بحاجة إلى تطبيق إرشادات غابت عن عقولنا، هي من صلب شريعتنا، وأسس ديننا. وإلا فإن الخطر سيصيب الأمة ويودي بها إلى الهلاك.

Umat Islam saat ini membutuhkan keteguhan dalam berpegang diri pada Islam yang benar, yang jauh dari propaganda yang mereduksi (kebenaran ajarannya). Umat Islam butuh untuk mempraktikkan semua petuah, yang sementara ini hilang dari pikiran kita, (padahal) itu adalah inti syariat dan dasar agama kita. Jika tidak, maka bahaya mengancam umat dan akan menghancurkannya.

لا أدري لماذا التفرق والتمزق يسري في كيان أمتنا ونحن الذي قال فيهم الله تعالى: ﴿إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ} الأنبياء 92 وقال آمرا وموجهاً وممتناً أيضاً: {وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعاً وَلاَ تَفَرَّقُواْ وَاذْكُرُواْ نِعْمَتَ اللّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاء فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَاناً وَكُنتُمْ عَلَىَ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ } آل عمران 103

وقال لنا: {إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ} الحجرات 10

Saya tidak mengerti, mengapa perpecahan dan perselisihan menimpa umat ini, padahal kita adalah umat yang disebut oleh Allah dalam firman-Nya: “Sungguh agama tauhid inilah agama kamu, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya: 92)

Allah memerintahkan, sekaligus menguji kita dalam perintah-Nya, “Dan berpegang teguhlah kamu semua pada tali (agama) Allahdan janganlah kamu bercerai berai. Ingatlah nikmat Allah kepadamu, ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu kalian agar kamu mendapatkan petunjuk.” (QS. Ali Imran: 103)

Allah juga berfirman kepada kita: “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, karena itu damaikanlah di antara kedua saudaramu (yang berselisih). Bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapatkan rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10)

إن الطامعين بموارد أمتنا والحاقدين على هويتنا لا يسرهم ان نكون أمة واحدة، ولا يسرهم أن تجتمع كلمتنا فنصبح أقوياء في اقتصادنا، أقوياء في مؤسساتنا التعليمية وصناعاتنا، أقوياء نملك قرارنا وسيادة بلادنا. إن كثيراً من القوى الطاغية تريد أن تكون شعوبنا في خدمة مصالحها، فقيرة لا تملك من أمرها شيئاً، ضعيفة لا تستطيع الدفاع عن مصالحها، ولا النهوض بشأنها.

Sesungguhnya kaum yang tamak terhadap sumber daya bangsa kita, begitu benci terhadap persatuan kita, tidak suka kita menjadi umat yang satu. Mereka tidak suka, kita seiya sekata sehingga menjadi kuat dalam ekonomi, kuat dalam lembaga pendidikan dan perusahaan kita, kuat dalam independensi keputusan dan kedaulatan bangsa. Sungguh banyak kekuatan zhalim yang menginginkan bangsa kita bekerja untuk kepentingannya, (sehingga) bangsa ini menjadi miskin, tidak memiliki keputusan dan kekuatan, lemah, tidak mampu membela kepentingan dan tidak mampu bangkit.

نحن اليوم بحاجة إلى جمع كلمتنا وتوحيد صفوفنا، التزاماً بقوله تعالى: {وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعاً وَلاَ تَفَرَّقُواْ} التزاماً بأمر ربنا سبحانه وتعالى، وحرصاً على مستقبل أمتنا، فديننا يجمع ولا يفرق، ما بالنا نفترق ولا نجتمع؟! ديننا يدعونا إلى التحابب والتعاون، ما بالنا نتباغض ونتدابر؟! ألم يقل النبي ﷺ فيما صح عنه: " لا تحاسدوا ولا تناجشوا ولا تباغضوا، ولا تدابروا، ولا يبع بعضكم على بيع بعض، وكونوا عباد الله إخوانا المسلم أخو المسلم لا يظلمه ولا يخذله، ولا يحقره التقوى هاهنا " ويشير إلى صدره ثلاث مرات " بحسب امرئ من الشر أن يحقر أخاه المسلم، كل المسلم على المسلم حرام: دمه وماله وعرضه "

Saat ini kita butuh pada persatuan umat dan merapatkan barisan, melaksanakan perintah Allah agar kita berpegang taguh pada tali-Nya, demi menjaga masa depan umat. Agama kita mempersatukan, bukan memecah belah, lalu mengapa kita terpecah tidak mau bersatu? Agama Islam menyeru kita untuk saling mencintai dan bekerjasama, lalu mengapa kita saling membenci dan menjauh? Bukankah Nabi Muhammad SAW dalam hadits shahih mengingatkan, “Janganlah saling hasud, berseteru, saling membenci, saling menjauh. Sebagian kalian tidak boleh menjual atas jualan sebagian yang lain. Jadiah hamba Allah yang bersaudara. Muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Ia tidak boleh menganiaya, merendahkan, dan menghinanya. Ketakwaan itu ada di sini (Nabi menunjuk dada beliau sebanyak tiga kali). Cukuplah kejelekan seseorang, dengan dia merendahkan saudaranya yang muslim. Setiap muslim bagi muslim yang lain, haram darah, harta, dan kehormatannya.”

إن ما يجمع كلمتنا على تعدد آرائنا واختلاف اجتهاداتنا أكثر مما نختلف عليه. فلا ينبغي أن نمكن الشيطان من أن يفسد العلاقة الأخوية التي عقدها الله بيننا. ألم يقل لنا ربنا: {إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ} الحجرات 10. ألم يحذرنا ربنا ممن يفسد العلاقة بيننا وبيّن لنا أنه الشيطان فقال: {وَقُل لِّعِبَادِي يَقُولُواْ الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنزَغُ بَيْنَهُمْ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلإِنْسَانِ عَدُوّاً مُّبِيناً } الإسراء 53. والشيطان هنا قد يكون من الجن، وقد يكون من الإنس؛ فكل من يريد بث الفرقة والكراهية بيننا يمارس دور الشيطان.

Sesungguhnya faktor yang dapat menyatukan kita, meski dengan beragamnya pendapat dan perbedaan ijtihad, lebih besar daripada faktor yang dapat memisahkan kita. Tidak selayaknya kita memberi kesempatan pada setan untuk merusak hubungan persaudaraan yang telah diamanahkan Allah di antara kita. Bukankah Allah berfirman kepada kita: “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, karena itu damaikanlah di antara kedua saudaramu (yang berselisih). Bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapatkan rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10). Bukankah Allah mengingatkan kita, terhadap siapapun yang merusak hubungan di antara kita, dan Allah menjelaskan kepada kita bahwa dia adalah setan. Allah berfirman: “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sungguh, setan itu selalu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sungguh setan adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (QS. Al-Isra: 53). Setan pada ayat ini, terkadang berbentuk jin, terkadang pula berbentuk manusia. Siapapun yang berkeinginan menyebarkan perpecahan dan kebencian di antara kita, dia telah memerankan pekerjaan setan.

إخواني الكرام

تعالوا بنا إلى عقد ميثاق ننطلق فيه من ثوابت ديننا، ومما تتفق عليه النصوص الشرعية التي لا خلاف فيها تجتمع عليه كلمتنا وتتوحد عليه صفوفنا وننطلق به إلى غد يجمع ولا يفرق، وينشر بيننا المحبة لا الكراهية.

Saudaraku yang mulia. Marilah kita mengadakan perjanjian berdasarkan prinsip-prinsip agama kita, berpondasikan hal-hal yang telah disepakati oleh nash-nash syari’at, yang tidak ada perbedaan di dalamnya. Berdasarkan hal itu semua persatuan kita terjaga dan barisan kita menjadi kokoh.Berdasarkan hal itu kita bersatu, menebarkan cinta di antara kita, bukan kebencian.

-       كلنا نؤمن بالقرآن الكريم ,والسنة المطهرة مصدراً لشرعنا، عملاً بقوله تعالى: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ } محمد 33

Semua kita beriman kepada al-Qur’an dan Sunnah yang suci, sebagai sumber syariat, dalam rangka mengamalkan firman Allah, “Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, dan janganlah kamu merusakkan segala amalmu.” (QS. Muhammad: 33)

-       كلنا نحب أهل بيت النبوة الذين نعد محبتهم جزءاً من ديننا، وعترة النبي ﷺ قدوتنا، ومحبة الصحابة كلهم على نهج جمع كلمة الأمة كما أرادها أجلاء الصحابة أمر لا يجوز إنكاره. ألم يقل الله تعالى:{قُل لَّا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْراً إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى وَمَن يَقْتَرِفْ حَسَنَةً نَّزِدْ لَهُ فِيهَا حُسْناً إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ شَكُورٌ} الشورى 23، ولا ننسى حديث النبي ﷺ الذي رواه الترمذي والنسائي بلفظ قريب: عن جابر بن عبد الله قال: رأيت رسول الله ﷺ في حجته يوم عرفة وهو على ناقته القصواء يخطب، فسمعته يقول: " يا أيها الناس إني تركت فيكم ما إن أخذتم به لن تضلوا: كتاب الله، وعترتي أهل بيتي" . ولعلكم تعلمون أن أهل بيت النبوة ممن كانوا السبب في دخول الإسلام إلى بلادكم.

Kita semua cinta kepada keluarga Nabi, di mana kecintaan kepada mereka merupakan bagian dari ajaran agama kita. Keturunan Nabi Muhammad SAW adalah panutan kita. Cinta kepada semua sahabat, sesuai prinsip persatuan umat, seperti yang dimaksud oleh kebanyakan sahabat, adalah perkara yang tidak dapat dipungkiri. Bukankah Allah berfirman: “Katakanlah (Muhammad), ‘Aku tidak meminta kepadamu sesuatu impalan pun atas seruanku, kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan, dan barang siapa mengerjakan kebaikan akan kami tambahkan kebaikan baginya. Sungguh Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuri.” (QS . al-Syura: 23). Kita tidak lupa terhadap hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan al-Nasai, dengan redaksi yang mirip, dari Jabir bin Abdillah, ia berkata, Rasulullah SAW dalam hajinya, pada hari Arafah, berkhutbah - sedang beliau berada di atas unta beliau “Qashwa”. Aku mendengar beliau bersabda: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku meninggalkan untuk kalian sesuatu yang bila kalian berpegang teguh padanya, kalian tidak akan tersesat, yaitu Kitabullah dan Itrah, keluargaku.” Dan pastinya kalian tahu, bahwa keturunan Nabi Muhammad SAW adalah penyebab masuknya Islam di negara kalian, Indonesia.

-       كلنا متفقون على أن من واجبنا أن نتعلم الضروري من أمور عقيدتنا، والضروري من أحكام شريعتنا؛ مما نصحح به عبادتنا ومعاملتنا، وأن السبيل إلى ذلك إنما هو العودة إلى أهل العلم الذين وصفهم الله في كتابه بأنهم أهل الذكر فقال: {وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ إِلاَّ رِجَالاً نُّوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ}الأنبياء 7 .

Kita semua sepakat bahwa di antara tugas kita adalah mempelajari hal pokok dalam akidah kita, hal pokok dari hukum-hukum syariat. Hal itu dapat menjadikan sah ibadah dan muamalah kita. Jalan menuju ke sana adalah dengan cara kembali kepada ulama yang disebut sebagai “orang yang berilmu” oleh Allah dalam kitabsuci-Nya: “Dan Kami tidak mengutus (Rasul-Rasul) sebelum Engkau (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah kepada orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Anbiya: 7)

-       إذ ليس كل الناس قادراً على أخذ الحكم من كتاب الله وسنة نبيه، فكان لا بد من عودة العامة إلى العلماء المتخصصين، والعلماء المتخصصون ليسوا قادرين على تحقيق شروط الاجتهاد، فكان لا بد لهم من العودة إلى ما قاله المجتهدون، وقد جرت الأمة على اتباع أئمة المذاهب المجتهدين، لا بالنظر إلى أشخاصهم وما ذهبوا إليه في اجتهاداتهم هم، بل إلى ما وصل إليه مذهبهم من خلال مراحل تحقيق المذهب بطبقة الأصحاب، ثم المجتهدين في المذهب، ثم المرجحين، ثم طبقة المفتين وذلك عبر قرون من التحقيق والمناقشة حتى صار المذهب إلى ما صار إليه من التمحيص، مما لا يمكن للفرد منا أن يصل إلى تحقيقه.

Karena tidak semua orang mampu mengambil hukum dari al-Qur’an dan Sunnah, maka menjadi suatu keniscayaan orang awam kembali kepada ulama yang kompeten. Mereka tidak mampu mempraktikkan syarat ijtihad, maka mereka harus kembali kepada hasil ijtihad para ulama mujtahid. Umat Islam selalu konsisten dan terbukti selalu mengikuti imam-imam mujtahid madzhab. Mengikuti mereka bukan karena mereka atau hasil ijtihad mereka belaka, namun capaian madzhab mereka dalam dinamika perjalanan madzhab, mulai generasi ashhab, kemudian ulama mujtahid madzhab, lalu pen-tarjih, dan mufti. Hal itu terjadi berabad-abad, melalui proses penelitian mendalam (tahqiq) dan diskusi (munaqasyah) hingga madzhab mereka teruji, di mana salah seorang di antara kita tidak dapat melakukannya.

-       وليس من الحكمة أن نبدأ من حيث بدأ الأئمة الذين لا يفصل بينهم وبين النبي ﷺ سوى قرنين من الزمن، ونهمل تلك الجهود العظيمة والمكتبة الزاخرة من الفقه والعلم والبيان لنصوص الشريعة؛ بينما نحن في هذا العصر يفصلنا عن تاريخ النبوة أربعة عشر قرناً وقد غدت لغتنا أضعف عن فهم النص ومعرفتنا بكثير من شروط الاجتهاد وأدواته ضعيفة. إن تجاوز المذاهب الفقهية الشائعة إضاعة لتراث فقهي عظيم بذل فيه آلاف العلماء جهوداً عظيمة للتحقيق والتمحيص في اجتهادات أئمة الفقه وأصحابهم ومن بعدهم وإتمام عملهم في بناء فقه يعالج القضايا القائمة عند ورود النص او النوازل التي وقعت أو يتوقع وقوعها. ومناقشات العلماء لبعضهم تعتبر كنوزاً غنية في الحوار البديع ووجوه الاستدلال المذهلة في قوتها وجمالها.

Bukanlah suatu kebijaksanaan, kita memulai sesuatu yang telah dilakukan oleh para imam yang jeda masa mereka dengan Nabi Muhammad SAW hanya dua abad. Kita tidak dapat acuh terhadap usaha mereka, perpustakaan besar yang mengoleksi karya fiqih, dan segala apapun yang menjelaskan tentang syariat. Sedangkan kita di masa ini dipisahkan oleh 14 abad. Bahasa kita lebih lemah untuk memahami nash (dalil). Penguasaan kita terhadap syarat ijtihad dan pirantinya sangat lemah. Tidak mengindahkan madzhab-madzhab fiqih berarti memusnahkan khazanah keilmuan klasik, sesuatu yang telah dihasilkan oleh ribuan ulama. Mereka mengerahkan segenap usaha untuk meneliti produk-produk ijtihad para imam fiqih dan para pengikut mereka pada era berikutnya.

-       وإتمام عملهم في بناء فقه يعالج القضايا القائمة عند ورود النص او النوازل التي وقعت أو يتوقع وقوعها. ومناقشات العلماء لبعضهم تعتبر كنوزاً غنية في الحوار البديع ووجوه الاستدلال المذهلة في قوتها وجمالها.

Mereka juga menyempurnakan amal usaha dalam membangun keilmuan fiqih ini untuk menyelesaikan berbagai kasus yang terjadi saat sudah tersedia nash, atau hal-hal yang telah terjadi atau dipotensikan akan terjadi. Hasil diskusi antar ulama merupakan simpanan kekayaan besar, dalam pola diskusi yang baik, sisi pengambilan hukum dari dalil (idtidlal), dalam kekuatan dan keelokannya.

-       الأمة المسلمة مهما اختلفت أطيافها تجتمع على أصول الدين وثوابته، من حقائق الإيمان ومصادر الحكم الشرعي ونحو ذلك. وقد اختلف المسلمون في الماضي فعالجوا خلافاتهم بالحوار العلمي الذي عقدت حلقاته في المساجد أو أمام ولاة الأمر. ولم يلجأ إلى أسلوب العنف إلا من ضعفت حجته. لم يتعامل المسلمون من أهل السنة والجماعة مع المخالف بأسلوب القمع والإلغاء والإقصاء. ولا ينبغي ذلك. فإننا إذا كنا مكلفين بان لا نجادل أهل الكتاب وسائر المخالفين إلا بالتي هي أحسن، فلماذا نلجأ إلى أسلوب العنف والتكفير والقمع مع إخواننا الذين قد يخالفوننا في أمور تغلب عليها أنها اجتهادية أو محتملة.

Umat Islam meskipun berbeda, namun mereka bertemu dalam pokok dan prinsip agama yang sama, berupa hakikat keimanan, sumber hukum, dan lainnya. Umat Islam sebenarnya sejak dulu telah berbeda pendapat, namun mereka menyudahi perbedaan mereka dengan diskusi ilmiah, dilakukan di masjid-masjid, atau di depan pemerintah. Mereka tidak menyelesaikan perselisihan itu dengan kekerasan, kecuali yang memang hujjahnya lemah. Umat Islam dari kalangan Ahlussunnah Wal-Jama’ah tidak berinteraksi dengan kelompok yang berbeda dengan cara keras dan lalim. Hal itu memang tidak sepatutnya terjadi. Kita, jika diperintahkan untuk bedebat dengan ahli kitab atau kelompok yang berbeda lainnya, harus hanya dengan cara yang baik. Lalu, mengapa kita lebih memilih cara ekstrim, takfiri, dan keras terhadap saudara-saudara kita sendiri yang terkadang mereka berbeda dengan kita yang umumnya dalam masalah ijtihadiyah, atau yang kebenarannya relatif (tidak absolut).

-       إذا كان ربنا قد أمرنا أن نقول لأهل الكتاب: (قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْاْ إِلَى كَلَمَةٍ سَوَاء بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ)فمن باب أولى أن نبحث عن الوصف الجامع الذي يجمع بيننا لا أن نبحث ونتصيد الخلافات وما قد نراه خطأً عند إخواننا. إن إطلاق وصف الكفر والشرك ضد مخالفينا لا يخدم وحدة الأمة التي عقدها ربنا بيننا، ويتناقض مع قوله تعالى: (إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ)الحجرات 10 ويتعارض مع قوله تعالى: (وَأَطِيعُواْ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَلاَ تَنَازَعُواْ فَتَفْشَلُواْ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ) ويجعل أمتنا أشلاء ممزقة ضعيفة عن مواجهة عدوها، ضعيفة عن تحقيق مصالحها.

Allah telah memerintahkan kita untuk mengatakan kepada Ahli Kitab: “Katakanlah:"Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu.” (QS. Ali Imran: 64). Jika Allah memerintahkan kita sedemikian rupa dalam menyikapi non Muslim, maka lebih utama lagi bagi kita untuk mencari pola yang dapat menyatukan kita. Bukan dengan cara mencari dan memanfaatkan perselisihan, atau mencari-cari hal-hal yang kita anggap salah pada saudara kita. Penyematan kata kufur dan syirik terhadap kelompok berbeda tidak menguntungkan persatuan umat yang telah diperintahkan Allah. Hal itu bertentangan dengan firman Allah:

“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, karena itu damaikanlah di antara kedua saudaramu (yang berselisih). Bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapatkan rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10).

Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmt.” (QS. Al-Anfal: 46)

Semua perselisihan itu telah menjadikan umat Islam berkeping, tercerai-berai, lemah dalam menghadapi musuhnya, tidak mampu mewujudkan berbagai kemaslahatannya.

-       إن ربنا تبارك وتعلى وصف المسلمين بأنهم: (مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ)

Allah telah menyebut umat Islam bahwa mereka adalah “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka

-       وأخيراً أيها الإخوة الأحبة: إن بلادكم أمانة في أعناقكم فلا تضيعوها بإهمالكم وتنازعكم، وإن أمتكم أمانة في أعناقكم فلا تمزقوها بخلافاتكم ونزاعاتكم وأنتم الشعب المؤمن الطيب الذي حافظ على هويته الإسلامية على الرغم من تعرضها لغزوات معادية كثيرة عبر أكثر من ثلاثة قرون. وأخوتكم الإسلامية أمانة عهد الله إليكم بها فلا تضيعوها، وهو سوف يسألكم عنها: ألم يقل: إنما المؤمنون إخوة فأصلحوا بين أخويكم ...

Sebagai penutup, wahai saudara yang saya cintai, sesungguhnya negeri kalian adalah amanah di pundak. Karena itu jangan kalian rusak dengan keteledoran dan perselisihan. Umat kalian adalah amanah di pundak, jangan diceraiberaikan dengan polemik dan perseteruan. Kalian adalah bangsa yang beriman, yang baik, yang tetap menjaga persatuan umat meski pernah digampur oleh banyak serangan, selama lebih dari 3 abad. Persaudaraan Islam adalah amanah Allah, karena itu jangan dirusak. Allah akan menanyai kalian tentang hal ini.

حفظ الله أندنوسيا وشعب أندنوسيا ودين أندنوسيا وشباب أندنوسيا وفتيات اندنوسيا ومعاهد أندنوسيا وجامعاتها وجعلها في ظل عنايته. وفقكم الله لما فيه رضاه ويسر لكم ولبلادكم أسباب الخير والسعادة والازدهار

Semoga Allah menjaga Indonesia, bangsa, agama, pemuda, pemudi, pesantren, dan universitas negeri ini. Semoga Allah menjadikannya senantiasa berada dalam bimbingan-Nya. Semoga Allah memberipetunjuk terhadap hal yang Dia ridhai. Semoga kalian dan negeri kalian mendapatkan kebaikan, kebahagiaan, dan kemakmuran.

 

(Red: Mahbib Khoiron)

.
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG