IMG-LOGO
Opini

Jangan Meremehkan Madrasah

Rabu 16 Maret 2016 8:23 WIB
Bagikan:
Jangan Meremehkan Madrasah

Oleh Ruchman Basori 

Bertahun tahun posisi dan peran madrasah kerap di kesankan sebagai pencetak orang yang hanya bisa ngaji, memimpin doa, tahlilan atau atribut-atribut lain yang berkutat pada bidang keagamaan (tafaqquh fiddin). Madrasah ditahbiskan sebagai pencetak ahli agama, sebagai bengkel moral dan spiritual. Anak-anak yang sering bandel, terkena narkoba, sering tawuran dan berbuat onar itu dititipkan di madrasah untuk mendapatkan pembinaan dan pendidikan akhlak yang cukup.

Seiring dengan waktu dan penguatan regulasi pendidikan nasional, kini madrasah diposisikan sebagai “sekolah umum” berciri khas Islam. Artinya, apa yang dipelajari di SD, SMP dan SMA/SMK sama persis dengan yang dipelajari oleh anak-anak di bangku MI, MTs dan MA. Namun di madrasah mendapat tambahan mata pelajaran keislaman yaitu Aqidah Akhlak, Fiqih, Quran Hadits, Sejarah Kebudayaan Islam dan Bahasa Arab sebagai ciri khas keislaman sebagaimana amanat undang-undang.

Pada sisi lain dengan berubahnya status madrasah sebagai sekolah yang berciri khas Islam, kini telah mampu bersaing dengan sekolah umum. Madrasah tidak lagi dipandang sebelah mata sebagai pendidikan kelas dua. Banyak pakar dari pelbagai kalangan telah mengakui eksistensi madrasah. Bahkan kalangan kampus mulai terkagum-kagum terhadap kualitas mahasiswa yang berasal dari madrasah dan pondok pesantren. 

Dalam dua pekan terakhir ini saya mendapatkan kabar yang menggembirakan dari pelbagai media massa, juga jejaring sosial tentang capaian prestasi siswa dan siswi madrasah. Diantaranya keberhasilan siswa madrasah menjuarai kompetisi tingkat nasional, regional hingga internasional. Bidang yang dikompetisikan rata-rata adalah capaian sains dan teknologi, seperti penemuan-penemuan (riset) brillian, kompetisi robot, berbagai olimpiade, lomba debat dan lain sebagainya yang berfungsi menajamkan intelektualitas, bakat minat dan rekayasa sosial.

Para Juara Diciptakan

Kebijakan pendidikan Islam oleh Kementerian Agama RI melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Islam nampaknya telah membuahkan hasil. Siswa/i madrasah telah mampu berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan para siswa sekolah lainnya di tanah air. Hal itu melalui upaya serius kebijakan perluasan akses dan peningkatan mutu madrasah.

Dalam dekade terakhir ini, madrasah telah mengalami lompatan besar. Jika selama ini madrasah terkesan la yamutu wala yahya, kini telah lahir madrasah-madrasah bermutu dan berkualitas. Hal ini sebagai respon tuntutan masyarakat sebagai pengguna pendidikan (user). Menurut Juran, mutu adalah kecocokan penggunaan produk (fitness for use) untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan pelanggan. Sementara Crosby (1983) mendefinisikan mutu dengan conformannce to requirement, yaitu sesuai dengan yang isyaratkan atau distandarkan. Adapun Deming, mutu adalah kesesuaian dengan kebutuhan pasar atau konsumen. Ahli lain semacam Feigenbaum, menyebut mutu adalah kepuasan pelanggan sepenuhnya (full customers satisfaction) (Nasution, 2001: 15-16).

Madrasah yang bermutu dengan demikian adalah madrasah yang mampu memuaskan pelanggannya yaitu masyarakat. Masyarakat yang kompetitif sangat membutuhkan produk lulusan madrasah yang mampu bersaing secara kompetitif. Secara teknis dapat diterjemahkan bahwa madrasah dituntut untuk bisa bersaing dengan sekolah umum, baik dalam hal capaian nilai UN, memenangkan berbagai kompetsisi dan mempunyai keunggulan karakter. Dengan bahasa lain madrasah yang mampu mencetak para juara adalah madrasah yang dibutuhkan hari ini.

Syahrozad Zalfa Nadia siswi kelas 4 MI Madrasah Pembangunan UIN Jakarta dan Avicenna Roghid Putra Sidik, siswa TK A Madrasah Pembangunan telah mampu menorehkan prestasi di kancah Asia, yaitu menjuarai kategori Soccer Robotic Junior dan kategori Brick Speed pada ajang kompetisi Asian Youth Robot Olympiad (AYRO) 2016. Kedua siswa kakak beradik ini menyabet tiga medali emas, dua medali perak, dan satu medali perunggu. Siswa MP lainnya, Faiz yang mewakili katagori senior meraih medali emas dalam kategori Robot Kreatif. Faiz juga berhasil menyabet medali perak untuk kategori Robot Animasi.

Tak ketinggalan Abdillah Fatwa Sandy, siswa MTsN Malang, berhasil masuk final di ajang Singapura Mathematic Olimpiad (SMO) Tingkat Internasional di Singapura pada Mei mendatang. Sementara siswa/i MAN 1 Samarinda berhasil menjadi Juara I Lomba Debat Bahasa Inggris Tk se-Provinsi Kalimantan Timur. Dalam waktu yang hampir bersamaan, MAN Model Gorontalo juga meraih Juara I Debat Hukum jenjang SMA/SMK/MA Tingkat Provinsi Gorontalo. Para juara ini tentu tidak lahir ujug-ujug, namun melalui pendidikan dan latihan yang sistematis diberikan di madrasahnya oleh para guru yang hebat-hebat.

Dengan ragam capaian yang dihasilkan, madrasah kini telah bermetamorfosis menjadi madrasah pencetak para juara yang tidak dapat diremehkan oleh kalangan manapun. Jika kondisi pembelajaran kondusif, manajemen dan kepemimpinan di madrasah transformatif, kultur akademik dan tata nilai mendukung dan mampu bersaing dengan lembaga pendidikan lainnya, kedepan tidak mustahil akan mengantarkan sebagai madrasah sebagai pusat keunggulan (center of excellence) yang menjadi kebanggaan tidak hanya bagi Kementerian Agama namun juga masyarakat luas.

Madrasah pencetak para juara juga layak disematkan pada MAN Insan Cendekia Serpong dan MAN IC Gorontalo. Sebagaimana data yang dikumpulkan oleh Kementerian Agama melalui Direktorat Pendidikan Madrasah, setiap tahun sejak 2004, siswa dan siswi MAN Insan Cendekia Serpong memperoleh sejumlah medali di Olimpiade Sains Nasional (OSN) dan sering mewakili Indonesia pada Olimpiade Sains Internasional. Diantara prestasi internasional yang telah dicapai adalah medali perunggu di  International Olympiad in Informatics (IOI) ke-24 di Milan, Italia (2012); Medali perunggu di International Geography Olympiad di Krakow, Polandia (2014) dan terakhir medali perunggu pada kompetisi  International Biology Olympiad (IBO) di Aarthus, Denmark (2015). Di bidang sosial, tercatat di tahun 2013 siswa MAN IC Serpong meraih  prestasi sebagai peserta terbaik di 2nd Committee General Assembly pada Moscow International Model United Nations (MIMUN), di Institut Hubungan Internasional Moskow (MGIMO) Rusia. Selain itu, pada tahun 2014, tim cerdas cermat MAN Insan Cendekia Serpong menjuarai Olimpiade Indonesia Cerdas yang diselenggarakan oleh televisi swasta nasional Rajawali Televisi.

MAN IC Serpong juga menorehkan prestasi peringkat ke-2 tingkat nasional hasil Ujian Nasional tingkat SMA/MA (2013). Sukses tersebut disempurnakan dengan keberhasilan 97 persen lulusan MAN IC Serpong tahun 2013 yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) favorit.

Nan, jauh di sana MAN Insan Cendekia Gorontalo pada OSN tahun 2015, meraih satu emas, dua perak, dan empat perunggu. Pada ajang internasional, siswi MAN IC Gorontalo meraih medali  perunggu pada ajang IESO (International Earth Science Olympiad) di Taiwan(2009).

MAN Insan Cendekia Gorontalo, Serpong, dan Jambi setiap tahun meluluskan siswanya dalam Ujian Nasional (UN) dengan taraf A. Lebih dari 90 persen dari mereka yang melanjutkan pendidikan di PTN maupun Perguruan Tinggi Luar Negeri. Hingga saat ini mayoritas alumni di dalam negeri melanjutkan pendidikan di Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, Universitas Brawijaya, Institut Pertanian Bogor, dan beberapa universitas negeri lain. Untuk luar negeri, negara tujuan belajar dengan jumlah alumni paling banyak adalah Jepang.

Memang, keberhasilan madrasah tidak hanya ditentukan oleh nilai atau prestasi akademik. Namun tolak ukur ini bisa dijadikan pegangan sejauhmana alumninya mampu memasuki perguruan tinggi ternama. Dari data yang ada, 97 persen lulusan MAN IC Serpong (1998-2013) diterima di PTN, sebagian besar melalui jalur tes tulis SBMPTN. Mereka tersebar di PTN bergengsi di tanah air yaitu: ITB 33 persen, UGM 20 persen, UI 16 persen, UNPAD 8 persen, PTN lainnya 18 persen, dan PTS 5 persen. Sedangkan alumni di perguruan tinggi luar negeri antara lain: Jepang 42 persen, Jerman 14 persen, Malaysia 14 persen, Singapura 8 persen, Amerika 7 persen, Mesir 7 persen, Korea 5 persen, Australia 2 persen, Rusia 1 persen.

Tidak berbeda jauh dengan itu, alumni MAN Insan Cendekia Gorontalo mampu menembus 10 PTN papan atas yaitu Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Airlangga, Universitas Padjadjaran, Universitas Diponegoro, Universitas Brawijaya, Universitas Hasanudin, Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, dan Institut Sepuluh November.

Para juara juga lahir dari madrasah-madrasah berbasis pondok pesantren melalui Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) Kementerian Agama RI. Lulusan Madrasah yang mendapatkan beasiswa PBSB Kemenag RI yang menempuh studi pada ITS Surabaya, kini melanjutkan prestasinya melanjutkan studi S2 melalui Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan, diantaranya Mansur Maturidi pada Georgia Institute of Technology, Fia Mahanani dan Fadli Aziz, University of Manchester, Indra Lukmana, Belanda, M Faqih Hamami, UGM. Diantara yang mendapatkan beasiswa LPDP di ITB adalah Iqbal Ahmad Dahlan, Khoiron, Amelinda Pratiwi, Sitatun Zunaidah dan Nasrul Millah. Sedangkan Fadli Adhim, diterima di almamater yang sama yaitu ITS.

Berburu Sang Juara

Mencetak para juara yang lahir dari garba pendidikan madrasah harus dengan langkah-langkah afirmatif, sistemik, semangat, daya juang serta kebijakan dan program brilian. Hanya dengan mengandalkan madrasah tidaklah cukup apalagi hanya dengan mengandalkan anak-anak madrasah sebagai “pemain alam”.

Negara melalui Direktorat Pendidikan Madrasah Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama harus turun tangan, hadir dan menjadi bagian sistem mencetak para juara. Tidak hanya ikut bangga dan memberikan selamat kepada sang juara, namun harus disertai dengan kebijakan dan program yang memungkinkan lahirnya bibit-bibit unggul sebagai kader multitalenta. Salah satunya melalui program berburu calon-calon juara ke pelosok-pelosok negeri yang dilanjutkan dengan short course, pelatihan dan persiapan kompetisi sains, sosial, humaniora, riset, maupun pengembangan bakat minat seni dan keahlian.

Pada saat yang sama pemerintah harus memfasilitasi sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh madrasah agar pengembangan bakat dan minat tergali dengan baik. Tentu juga diikuti dengan pemberian fasilitas anggaran yang memadahi karena biaya yang cukup mahal mengikuti ajang kompetisi adalah pembiayaan. Langkah menggelar kompetisi sains madrasah, aksioma dan lomba robot, barulah bagian kecil ikhtiar Kementerian Agama memberikan kesempatan para siswa madrasah.

Sekali lagi para juara harus diciptakan dan dilahirkan, bukan dibiarkan begitu saja. Komitmen, kemauan dan sekaligus keberanian para pemimpin sangat dibutuhkan agar madrasah yang hari-hari ini sedang mekar bisa berkembang dengan baik. Apresiasi tidak cukup dengan pemberian selamat, namun perlu diikuti dengan komitmen kuat membuat terobosan agar calon-calon juara terdidik dan terlatih dengan baik mengembangkan talentanya.


Penulis adalah Sekretaris Jenderal PMU MAN Insan Cendekia dan Kandidat Doktor Manajemen Pendidikan di Universitas Negeri Jakarta 

Bagikan:
Rabu 16 Maret 2016 16:0 WIB
Narkoba di Pesantren? Upaya Membaca Ulang Peran Pesantren
Narkoba di Pesantren? Upaya Membaca Ulang Peran Pesantren
Oleh Asmawi Mahfudz
Menanggapi pernyataan Komjen Budi Waseso di beberapa media bahwa narkoba sudah masuk di Pesantren, penulis merasa tergugah untuk mengevaluasi diri dan menyatakan apakah sudah sedemikian parahnya narkoba di Indonesia, atau berita itu hanya sekadar isu yang perlu pembuktian dan pengumpulan barang bukti nyata? 

Sejauh pengalaman penulis selama menjadi santri, pengurus pesantren, pengajar sampai kepada sekarang mendapat amanat (ketiban sampur) untuk meneruskan pengelolaan Pondok Pesantren al-Kamal Blitar Jawa Timur. Mulai dari tahun 1990-an sampai sekarang penulis mulai masuk dalam dunia pendidikan Pesantren. Terdapat dinamika di dalamnya, keunikan institusi, sistem belajar mengajar, aktualisasi ilmu (dakwah bil hal) yang dilakukan oleh pesantren sampai relasi hubungan pesantren dengan masyarakat sekitarnya.      

Pesantren adalah institusi tertua, yang menjalankan fungsi dan peran sebagai lembaga persemaian ajaran Islam di Indonesia. Sejak pertama kali Islam menginjakkan kaki di Indonesia, nampaknya para muballigh (penyebar) Islam telah memilih pesantren untuk menyampaikan ajaran-ajarannya. Ini tidak terlepas dari strategi para mubaligh tersebut, yang memandang bahwa penyampaian ajaran Islam ala pesantren lebih efektif, diterima, efisien, dan mempunyai kelebihan-kelebihan lain dibanding sistem yang lain. Misalnya dakwah dengan retorika saja, dengan uswah (contoh) saja, atau dengan pengajian bandungan saja. Pesantren nampaknya mengakomodasi semuanya demi terwujudnya sebuah sistem pengajaran Islam yang dapat diterima karakter orang Indonesia dengan Islam berwatak rahmatan lil alamin (memberi kasih sayang pada semua makhluk).

Sejak Islam datang abad ke-7 M, pesantren juga memulai dakwahnya. Ini berarti sudah 14 abad pesantren memulai dakwahnya di Indonesia. Dengan perjalanan panjang itu tentunya ditemui hambatan, tantangan, dukungan dari berbagai elemen masyarakat di Indonesia. Mungkin tantangan dihadapi dari para penganut agama yang berbeda agama dan keyakinan, dari elemen tokoh masyarakat setempat, para penguasa tokoh politik yang berseberangan dan lain sebagainya. Dari berbagai tantangan yang berasal elemen masyarakat itu, nampaknya  pesantren dapat menyikapinya dan menyelesaikannya tanpa ada gejolak konflik yang berarti. maknanya pesantren dilihat dari satu sisi teruji dari berbagai tantangan dan tentangan yang dihadapinya. 

Wacana itu mungkin kacamata pesantren pada zaman awal Islam masuk di Indonesia, yang disampaikan oleh para mubaligh unggul yaitu para sunan yang berjumlah sembilan orang (Wali Songo), mulai dari Sunan Ampel Raden Rahmatullah sampai periode Sunan Muria. Sikap dan strategi seperti yang dilakukan Wali Songo inilah yang perlu dijadikan qudwah (contoh) oleh para pengelola pesantren di era-era selanjutnya. Mereka menyampaikan ajaran Islam dengan santun, kolaboratif dengan masyarakat, akomodatif, yang mencerminkan misi Rasulullah yang ketika menyampaikan ajaran Islam dengan berbekal akhlakul karimah.

Di lihat dari perspektif kekinian, permasalahan dunia tabligh sudah semakin komprehensif. Mulai dari masalah persatuan umat yang semakin mengkhawatirkan, munculnya aliran-aliran baru yang membuat dakwah tidak hanya keluar tetapi juga bisa ke dalam (internal) untuk meluruskan ajaran-ajaran yang sekira dapat membahayakan umat Islam. Juga masalah sekularisme, efek dari prinsip hidup materialisme dan kapitalisme yang akhirnya menimbulkan perilaku liberal dalam diri umat Islam. Masalah materialisme ini pun pada akhirnya juga membuat ghirah (semangat) para da’i semakin berkurang, dikarenakan segala sesuatu diberi perpektif materi dan duniawiyah. Masalah politik yang semakin hari juga terus mendominasi khazanah perdebatan umat Islam di Indonesia. Untuk itu tantangan dunia Islam Indonesia sekarang ini sudah sangat berat sekali. Membutuhkan etos dan strategi yang juga komprehensif dalam menghadapi serta menyelesaikan masalah-masalah umat itu.

Pesantren dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya dituntut untuk berperan lebih aktif dalam menyelesaikan problematika umat Islam khususnya di Indonesia. Mulai masalah politik, ekonomi, sosial, kemiskinan, ketidak adilan, seperti yang telah di praktikkan oleh para penyebar Islam di Indonesia ketika mengaktualisasikan ajaran Islam dalam bumi Nusantara. Ruh dan semangat perjuangan yang di praktikkan oleh Wali Songo sebagai model yang patut diteladani, di iringi dengan penyempurnaan-penyempurnaan disesuaikan dengan kondisi kekinian. Taruhlah dunia modern sekarang ini, pesantren dihadapkan dengan berbagai  tantangan terkait dengan materi pendidikan yang di sampaikan, perkembangan teknologi informasi dan ilmu pengetahuan yang semakin pesat, kebijakan-kebijakan politik pendidikan, juga masalah hubungan pesantren dengan masyarakat sekitarnya.

Dalam bidang materi ilmu yang disampaikan, kerapkali terjadi bias. Antara kandungan materi yang di sampaikan dengan kompetensi yang diharapkan oleh para pengasuh pesantren. Idealisme para pengasuh pesantren (kiai atau ustadz) santri diharapkan menjadi sosok pejuang (dai) yang serba bisa untuk terjun di masyarakatnya masing-masing. Mungkin ada yang menjadi praktisi pendidikan, politisi, ekonom, pengusaha, dokter, petani dan lain-lain. Tetapi kandungan materi kurikulum pesantren masih, terikat dengan madhab tertentu, ilmu-ilmu ubudiyah an sich, fiqih, nahwu. Yang itu semuanya sebenarnya hanya dapat menyelesaikan problematika umat yang berhubungan dengan sebagian dari ilmu Agama Islam saja, di luar masalah agama, para santri bisa jadi tidak mampu untuk menyelesaikannya atau menghindar untuk menyikapinya. Karena dalam masalah ke-Islaman saja, kadang juga harus melibatkan ilmu-ilmu lain di luar ilmu keIslaman, untuk menambah pendekatan atau perspektif sehingga masalah-masalah keIslaman lebih bisa diselesaikan dengan komprehensif. Contoh yang nyata mungkin  adalah untuk menemukan status hukum tentang dunia perbankan kita, tidak dapat hanya dengan perspektif fiqih saja, melainkan juga harus melibatkan ilmu-ilmu sosial, ekonomi, praktisi ekonomi, sehingga status hukum yang diambil dalam ajaran Islam lebih tepat sasaran dengan sesuai dengan nilai-nilai keadilan yang menjadi ruh (esensi) dari transaksi ekonomi Islam itu sendiri.

Berhubungan dengan ilmu manajemen tidak bisa pesantren hanya mengandalkan seorang figur kiai yang mempunyai banyak keterbatasan sebagai manusia biasa, juga harus melibatkan partisipasi elemen masyarakat di luar pesantren. Misalnya para stakeholder yang ada di sekitar pesantren, meliputi pengusaha, politisi atau pejabat setempat, masyarakat secara umum, praktisi-paktisi dalam berbagai bidang kehidupan.  Dengan adanya  hubungan yang nyata dari berbagai pihak, pesantren akan lebih mampu melibatkan diri dalam berbagai posisi-posisi strategis di masyarakat sehingga akan lebih berperan sesuai dengan fungsinya yang rahmatan lil alamin. Pesantren bisa memposisikan sebagai praktisi pendidikan, kekuatan politik di masyarakat, sebagai institusi atau simbol keagamaan yang selalu dinilai luhur oleh masyarakat sekitarnya, dan pesantren sebagai anggota masyarakat secara umum.

Untuk itu pengelolaan pesantren dalam perspektif kekinian membutuhkan inovasi, akselerasi, dan kreativitas oleh berbagai pihak dalam rangka memperbaiki peran-peran, strategi, muatan materi dan managemen yang diterapkan di Pesantren, untuk mewujudkan institusi pesantren yang menjalankan berbagai  fungsinya di tengah-tengah masyarakat global.

Apalagi kalau dihadapkan dengan dinamika perpolitikan di Indonesia akhir-akhir ini, kehidupan kebangsaan dan ketatanegaraan kita seolah-olah juga mengalami perubahan yang sampai ke sendi-sendinya. Sistem politik yang mengarah kepada demokrasi liberal memberikan ruang yang sangat lebar bagi warga Negara Indonesia untuk mengekspresikan aspirasi politiknya. Akhirnya elemen-elemen masyarakat Indonesia menyampaikan suara politiknya melalui jalur-jalur partai politik yang di prediksi dapat menerima dan melaksanakan unek-uneknya. Bagi umat nasara atau Kristen katolik menyampaikan aspirasinya kepada parpol yang sekeyakinan, bagi umat Islam menyampaikan kepada parpos yang mempunyai jargon Islam, bagi yang nasionalis, juga sama menyampaikan suara politiknya kepada parpos yang nasionalis. Tak ketinggalan adalah lembaga pesantren menyampaikannya kepada parpol yang notabene dapat mem-backup pendidikan pesantren. 

Untuk kasus yang terakhir pesantren dituntut untuk jeli dan hati-hati untuk menentukan sikap politiknya. Jangan sampai pesantren didekati oleh partai-partai politik hanya sekedar menjadikannya lumbung suara, tetapi tidak diimbangi dengan kebijakan-kebijakan politik yang berpihak kepada pesantren. Sikap politik yang ikhtiyath (hati-hati) dengan mengakomodasi semua partai politik yang ada, akan lebih bermanfaat dan dapat menanamkan sikap mengayomi semua golongan, disbanding dengan fanatik dengan partai politik tertentu, tetapi di belakang hari tidak memberikan kemaslahatan kepada umat Islam secara keseluruhan (kaffah).

Problematika Sikap politik pesantren akhir-akhir ini kadang menjadikan lembaga itu menjadi tujuan para pemimpin-pemimpin parpol mencari dukungan dan legitimasi politik untuk mencari simpati umat Islam secara keseluruhan. Semakin besar sebuah pesantren, dengan jumlah santri-alumni banyak, semakin sering pesantren dan pengasuhnya menerima tamu dari parpol-parpol. Tetapi di sisi lain juga akan menimbulkan mis persepsi dari umat Islam awam yang berada di akar rumput (grass root). Mereka akan bingung untuk menetapkan hati kepada panutan figur pesantren yang diikutinya. Kadang pesantren menerima tamu dari parpol nasionalis, kadang agamis atau malah kadang non muslim. Pemikiran orang awam semacam ini adalah wajar, hanya saja melakukan pendidikan politik umat dengan diimbangi dengan pencerahan sikap politik yang dibawa oleh pesantren, akan lebih memposisikan pesantren sebagai primadona bagi semua golongan yang ada di Indonesia.    

Akhirnya pesantren dalam konteks sekarang sebenarnya sudah menempatkan dirinya sebagai institusi yang multitalenta. Pesantren dapat memposisikan diri sebagai lembaga pendidikan, juga bisa masuk ranah politik, bidang ekonomi, sosial dan lain-lain. Pesantren yang semula hanya sebagai penyampai ajaran Islam secara formal ubudiyah, nampaknya dengan dinamika kehidupan pesantren dengan berbagai tantangannya, merubahnya menjadi sebuah lembaga yang melaksanakan program-program pemberdayaan umat dari berbagai bidang. Ini terbukti dengan adanya lembaga ekonomi di pesantren seperti koperasi, juga Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), politisi, advokat (praktisi hukum), dokter rumah sakit dalam keluarga pesantren, teknokrat dan lain sebagainya. Semoga dengan paradigma pesantren yang berubah ini juga diikuti oleh semua elemen masyarakat dalam memberikan perspektif tentang pesantren, baik oleh internal pesantren sendiri maupun orang-orang yang berada di luar (eksternal) pesantren. Sehingga pesantren yang umurnya sudah tua itu menemukan relevansinya dalam memberikan kontribusi kepada kehidupan umat Islam di Indonesia secara khusus, maupun umat Islam secara keseluruhan, atau bahkan memberikan manfaat bagi seluruh alam, rahmatan lil alamin. Wallahu a'lam bisshawab.

Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren Al-Kamal Kunir Blitar, Jawa Timur, Pengajar di IAIN Tulungagung, Email: asmawi_mahfudz@yahoo.com.

Sabtu 12 Maret 2016 11:19 WIB
Benarkah Narkoba Masuk Pesantren?
Benarkah Narkoba Masuk Pesantren?
KH. Ahmad Ishomuddin

Oleh KH Ahmad Ishomuddin

Miris rasanya mendengar berita TV dan media cetak bahwa Komjen Budi Waseso (Kepala BNN) berencana mengumpulkan kiai dari seluruh Indonesia sebagai tindak lanjut dari adanya penyalahgunaan narkoba di pesantren di Jawa Timur. Saya berharap, mudah mudahan ucapan baik itu bukan untuk motif-motif politik yang tersembunyi.

Kepala BNN tentu tidak asal terima berita dan tidak asal membuat statemen yang bisa meresahkan umat Islam Se-Indonesia, khususnya warga NU, kepada lembaga pendidikan mana lagi umat Islam menyerahkan pendidikan putra putrinya jika benteng moral pondok-pondok pesantren justru runtuh dan berhasil dimasuki oleh sindikat narkoba? 

Sungguh menyedihkan jika pernyataan itu terbukti benar adanya, mengingat bahwa seluruh santri dan para kiai adalah manusia yang paling menjauhi minuman keras (miras), apalagi sampai menyalahgunakan narkoba, rasa-rasanya sebuah tuduhan dan rasa kuatir berlebihan yang jauh panggang dari api. Pondok pesantren selama ini adalah lembaga pendidikan agama Islam yang sudah terbukti dan berhasil mencetak generasi bangsa yang religius, berakhlak mulia dan punya jiwa nasionalisme yang tinggi.

Komjen Budi Waseso selaku Kepala BNN harus bisa membuktikan siapa kiai, santri dan tunjukkan pesantren mana di Jawa Timur yang menyalahgunakan narkoba. Berita tersebut tidak perlu dibesar-besarkan sehingga seolah penyalahgunaan narkoba di dunia pesantren sudah demikian massif. Sebab, pasti tidak masuk akal jika main pukul rata bahwa semua pesantren "dicurigai" atau dikuatirkan akan menjadi pusat peredaran narkoba yang oleh karenanya para kiai dari seluruh Indonesia perlu dikumpulkan.

Justru seluruh jajaran pemerintah, seperti Polri, Dirjen Bea Cukai dan lain-lain termasuk BNN sebagai leading sector nasional harus lebih optimal dan serius bekerja untuk mencegah dan memberantas maraknya produksi dan peredaran narkoba di seluruh Indonesia. BNN bersama Polri seharusnya lebih fokus dan rutin menangani dengan lebih tegas dan keras sindikat-sindikat atau mafia besar narkoba yang kini sudah memasuki fase paling membahayakan seluruh anak bangsa. Penegakan hukum harus lebih serius dan hukuman yang berefek jera wajib dijatuhkan kepada siapa pun--tanpa pandang bulu dan tebang pilih--yang terbukti memproduksi, mengedarkan atau menyalahgunakan narkoba. 

Pasti kita semua sepakat bahwa penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba) adalah musuh bersama dan karenanya menjadi tanggungjawab bersama. Perlu komitmen bersama yang bersifat nasional untuk lebih serius bekerjasama untuk mengoptimalkan pemberantasan narkoba.

Saya, sebagai Rais Syuriah PBNU, masih yakin seyakin-yakinnya, bahwa para santri dan para kiai di seluruh Indonesia terus bersatu menjadi benteng keutuhan NKRI yang mampu melindungi diri sendiri keluarga dan masyarakatnya dari serangan bertubi sindikat dan mafia narkoba. Saya percaya, Komjen Budi Waseso akan bekerjasama dan akan terus berkoordinasi untuk memberantas narkoba berdasarkan skala prioritas, memberantas tuntas yang kelas kakap hingga yang kelas teri tanpa tebang pilih.

Kepala BNN boleh mencemaskan isu masuknya sindikat narkoba ke dunia pesantren, tetapi tidak boleh dengan kecemasan yang berlebihan.

Selamat bertugas berat Bapak Komjen Budi Waseso, semua kiai tahu bahwa tugas nahi anil munkar (mencegah kemungkaran) itu jauh lebih berat dan beresiko dibandingkan sekedar amru bil ma’ruf (memerintahkan kebajikan).


Penulis adalah Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)


Sabtu 12 Maret 2016 8:20 WIB
Kewajiban Ulama dan Fitnah Dunia Islam
Kewajiban Ulama dan Fitnah Dunia Islam
Syekh Taufiq Ramadhan al-Buthi
Oleh: Syekh Taufiq Ramadhan al-Buthi
Muncul pada hari-hari ini di Timur Tengah sejumlah gerakan berturut-turut dimulai dari Tunisia yang menyebabkan jatuhnya sang presiden, lalu di Mesir dan tumbangnya presiden, kemudian terjadi di Yaman yang memakan waktu lama sehingga menyebabkan intervensi negara-negara kerjasama teluk, dan kemudian disepakati pengunduran diri presiden dan kekuasaan dilanjutkan oleh Presiden al Hadi. 

Di Libya, yang kasusnya juga berlarut-larut, dan saat itu menjadi bahan ejekan dan hasutan dari Presiden Muammar Gaddafi serta intervensi dari Barat dan Qatar dan negara-negara lain, dan gerakan itu menjalar ke tempat lain sampai ke Syria apa yang mereka sebut dengan Musim Semi Arab (Arab Spring), lalu Gaddafi pun terbunuh. Namun hal ini tidaklah mengakhiri masalah bahkan menjadi lebih buruk dan terus memburuk meninggalkan banyak orang mati dan pengungsi, ditambah lagi kehancuran massal dan tersebarnya rasa kebencian.

Dari hal di atas kita mencatat dua hal: Hal pertama menyangkut peran media, terutama sekali stasiun televisi Al-Jazeera dan al Arabiyyah, di mana peran mereka tidak terbatas pada penyebaran fakta-fakta apa yang terjadi, bahkan beralih perannya untuk mengarahkan dan menciptakan peristiwa, dan mengharuskan stasiun televisi dan saluran-saluran yang mengikutinya untuk menguasai seni berbohong, berlebihan dalam menyampaikan serta fabrikasi berita. 

Dan peran dua saluran televisi berubah menjadi industri berita. Yang membuat orang Arab dan mereka yang mengikuti saluran ini terpengaruh terhadap apa yang disampaikan oleh saluran-saluran itu. Tampaknya pihak-pihak yang dimaksud telah mempercayakan kepada dua saluran ini untuk memimpin gerakan tersebut atas nama media tertentu.

Hal kedua adalah bahwa sebahagian tokoh-tokoh agama sebelumnya telah banyak disorot dan diberi posisi istimewa, ditambah pula orang-orang yang menempuh cara ini dari para sheikh/tetua (saya tidak mengatakan ilmuwan) berkontribusi dalam mempengaruhi publik dan mengarahkan peristiwa-peristiwa tersebut. Bahkan salah satu dari mereka meneriakkan hasutan untuk membunuhnya; dan mengeluarkan fatwa untuk membunuh orang lain. Apa yang terjadi sebagai akibat dari itu?

Para Pemberontak itu tidak mencapai tujuan mereka, akan tetapi mereka yang telah merancang hal tersebut telah mendapatkan sebagian target yang mereka tuju. Yaitu terjadinya kekacauan di wilayah ini dan menjadi rebutan dan santapan lezat mereka yang  rakus dan tamak.

Saya berdiri disini bukan untuk menceritakan tragedi yang menyedihkan/memilukan. Saya hanya ingin -melalui keterangan ini- menjelaskan tanggungjawab seorang ‘Aalim yang bertaqwa kepada Allah Ta’ala dan sikapnya terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi. Terutama sekali ketika ia melihat pertumpahan darah dan kerusakan yang luas, dan perpindahan jutaan orang dari rumah dan desa mereka, serta mereka kehilangan tempat tinggal, makanan, minuman dan pakaian. Lalu dirampas rasa aman dari mereka. Ditambah lagi penistaan kehormatan dan harga diri serta eksploitasi kebutuhan oleh orang-orang yang tidak bermoral dan tidak memeiliki hati nurani dan bersukacita dalam kubangan fitnah ini.

Sungguh, beberapa tokoh ilmu kebanggaan umat telah jatuh ke dalam fitnah ini, menjadi penyebab banyak masyarakat tersesat jalan. Dan mereka ikut menjadi sebab terjadinya kekacauan ini yang mereka sebut sebagai jihad, padahal mereka adalah korban yang disebabkan kesesatan dan ketertipuan mereka sendiri.

Agar mereka bisa menempuh cara tersebut, mereka melandaskannya kepada beberapa hal. Pertama, mengkafirkan orang-orang yang berbeda (pendapat) dengan mereka, sebagaimana kaum khawarij mengkafirkan orang banyak dan menghalalkan darah mereka.

Kedua, menghembuskan problem pemilahan sectarian, yang juga berakhir dengan pengkafiran sekte yang berbeda. Kemudian seruan untuk memerangi mereka yang akan mengakibatkan perang saudara yang memanas.

Ketiga, dalam rangka untuk mencari jalan pintas dan mencari sutradara pertikaian ini, mereka menuduh para ulama yang konsisten (istiqomah) dengan berbagai macam tuduhan keji agar umat hilang kepercayaan. Dan mereka tidak ragu-ragu untuk memfitnah mereka dengan banyak kebohongan, dan mengejek mereka sebagai bentuk penghancuran karakter dan figur yang bisa mengembalikan situasi kepada takarannya dan dapat mengklarifikasi fakta. 

Hal ini sengaja dibuat agar umat kehilangan kepercayaan terhadap ulamanya dan hilang pula sopan santun terhadap para pemimpin dan orang-orang sholeh. Menjadikan mereka semakin jauh dari sisi kebenaran ditengah-tengah badai perbedaan yang menghantam. Bahkan, mereka ikut menghasut untuk membunuh para ulama tersebut.

Peran institusi dan ilmuwan di tengah perselisihan

Jika sebahagian ilmuwan kebanggaan merupakan bagian dari provokator dan promotor yang telah menyesatkan banyak masyarakat, maka para ulama yang mukhlishin yang harus meluruskan, dan menjaga agar tidak terjadi pertumpahan darah, dan mengawal rambu-rambu kebenaran.

Saya ingin katakan: seluruh Ulama memiliki tanggung jawab menjelaskan dan memunculkan kebenaran, dan memberikan nasehat kepada umat serta menjelaskan hukum serta sikap yang benar terhadap setiap peristiwa dan kejadian. Dan jangan ragu untuk memikul tanggung jawab ini, karena ancaman terhadap kehancuran bangsa dan membuat agama yang benar ini menjadi jelek dan terdistorsi merupakan hal yang sudah dirancang oleh musuh-musuh Islam, dan mereka memperalat para ilmuwan untuk mencapai tujuannya.

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran: (Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul dan para pemimpin di antara kalian. Dan jika kalian berselisih paham akan suatu hal, maka kembalikanlah (merujuklah) kepada Allah dan Rasul-Nya, jika Anda beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu (adalah) lebih baik dan sebaik-baik tempat kembali) An-Nisa: 59 , yakni Allah Taala telah memerintahkan kita -ketika terjadi perbedaan- untuk kembali kepada apa yang telah dijelaskan di dalam Qur’an dan Nabi Muhammad SAW yang mulia dalam sunnahnya. Dan Dia Allah tidak pernah menyerahkan (penyelesaiannya) kepada hawa nafsu dan fanatisme buta.

Sesungguhnya Fenomena yang disebut (Arab Spring/Musim Semi Arab) tidak lain hanyalah membuka jalan bagi munculnya kelompok-kelompok radikal yang menebar teror pembunuhan dan perusakan atas nama Islam.

Oleh karena itu, pengakuan beberapa pihak yang mengatakan bahwa mereka berjuang memerangi kelompok-kelompok teroris, bagi saya merupakan sikap bersikeras untuk tetap pada kesalahan pertama, dengan cara menyulut api fitnah dan memancing kekacauan, sebagai bentuk pelaksanaan langkah-langkah Free Masonry Internasional/Global, yang disebut oleh Rice dengan ‘kekacauan kreatif’.

Situasi ini mengharuskan para ilmuwan untuk melakukan peran dan tanggungjawab yang telah dipercayakan Allah Taala kepada mereka, baik dari sisi amar ma’ruf nahyi munkar, atau dari sisi dakwah kepada Allah dengan cara yang bijaksana dan nasihat yang baik, atau dari sisi menjelaskan kebenaran dan menghapus kebingungan/kecauan pikiran yang menimpa pikiran orang-orang yang mengetahuinya.

Sungguh diamnya seorang ‘Aalim atas apa yang terjadi merupakan suatu kekurangan dan menyembunyikan kebenaran, dan merupakan salah satu sebab terus berlakunya kebathilan. Dan hal itu tidak pantas terjadi kecuali jika seseorang itu takut untuk melawan kebathilan. Atau barangkali dia termasuk orang-orang yang disifati oleh Allah SWT dalam firman-Nya: {dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; Maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam Keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. rugilah ia di dunia dan di akhirat. yang demikian itu adalah kerugian yang nyata} al-Hajj: 11. 

Dan selayaknyalah seorang ‘Aalim memiliki sifat sebagaimana firman-Nya: (... dan akan Allah datangkan kaum yang Dia cinta mereka dan mereka juga mencintai-NYA. Mereka lemah lembut terhadap orang mukmin dan keras terhadap orang kafir. Mereka berjuang di jalan Allah dan tidak takut siapa pun yang mencela mereka. Demikian itulah karunia Allah yang Dia berikan kepada siapa saja yang IA kehendaki. Dan Allah Maha Luas (pemberiannya) lagi Maha Mengetahui} al-Maaidah: 54.

Seorang ‘Aalim harus cemburu jika hilang rambu-rambu kebenaran dan khawatir jika umat tersesat. takut jika terjadi perselisihan dan konsekuensinya ... dari pertumpahan darah, kehancuran, dan perpindahan. Bukan ini yang telah terjadi??

Ini merupakan perbuatan dari sekelompok pemilik ilmu serta para ilmuwan yang rela menjadi alat menebar fitnah dan menjadi pengawalnya karena rakus dengan godaan keserakahan atau dengki pada orang-orang yang melihat mereka sebagai pesaing bagi mereka atau iri atas apa yang mereka dapatkan dari penerimaan di seluruh bumi.

Sesungguhnya hal yang lebih berbahaya dan lebih mengkhawatirkan lagi yaitu merajalelanya hawa nafsu pribadi di tengah-tengah masyarakat. Ini terkait dengan masa depan bangsa dan pernyataan kebenaran yang telah ternoda oleh gerakan-gerakan ini ...Ini juga terkait dengan kewajiban untuk menjelaskan dan tidak menyembunyikan kebenaran. 

Bukan kah Allah telah berfiman dalam kitab-Nya: dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): "Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya," lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruknya tukaran yang mereka terima) Ali Imran: 187. Dan bukan kah Allah telah mengingatkan para ulama tentang menyembunyikan kebenaran dengan firman-Nya: ((Sesungguhnya orang-orang yang Menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila'nati Allah dan dila'nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela'nati)) al-Baqarah: 159.

Penulis adalah Ketua Persatuan Ulama Suriah, Dekan Fakultas Syariah Universitas Damaskus, Putra Sayyid Muhammad Said Ramadhan al-Buthi.

*) Makalah ini disampaikan dalam Seminar Internasional ‘Peran Ulama dalam Meredam Krisis Politik dan Ideologi di Timur Tengah’ yang diselenggarakan oleh Ikatan Alumni Suriah Indonesia (Al-Syami), Kamis (10/3/2016) di Gedung Pascasarjana UI Salemba Jakarta.

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG