IMG-LOGO
Pesantren

Ulama Lebanon Ijazahi Santri Sanad Kitab Imam Abu Hanifah

Senin 11 April 2016 9:14 WIB
Bagikan:
Ulama Lebanon Ijazahi Santri Sanad Kitab Imam Abu Hanifah
Depok, NU Online
Ulama asal Lebanon, Syekh Ahmad bin Abdur Razzaq Al-Khusaini hadir dalam Majlis Talaqqi yang digelar Pesantren Al-Hikam Depok, Jawa Barat, di Auditorium Sekolah Tinggi Kulliyatul Qur'an (STKQ) Al-Hikam Depok, di dalam kompleks pesantren setempat, Ahad (10/4).

Talaqqi merupakan di antara tradisi keilmuan dalam pesantren yang mensyaratkan adanya tatap muka langsung antara murid dan guru atau santri dan kiai. Di hadapan ratusan santri dan masyarakat umum ini, Syekh Ahmad memberikan ijazah (sambungan silsilah keilmuan) kitab Al-Fiqh al-Akbar.

Kitab ini merupakan karya Imam Abi Hanifah An-Nu’man, pendiri madzhab Hanafi yang wafat pada 150 hijriah. Al-Fiqhul Akbar termasuk satu dari lima risalah karangan Abu Hanifah yang menjelaskan tentang akidah Ahlussunnah wal Jama’ah. Meski menggunakan kata “fiqih”, kandungan isinya justru fokus pada wacana seputar ilmu tauhid, keimanan, asma’ dan sifat-sifat Allah, serta sejenisnya.

Dalam kesempatan tersebut, Grand Syekh Global University, Beirut, Lebanon itu menekankan pentingnya amal yang dilandasi dengan ilmu yang mendalam. Menurutnya, ilmu yang tersambung (bersanad) dan dalam akan memberikan keyakinan kepada kita untuk menjalankan syariat Islam dengan baik dan benar.

Di majelis itu, panitia membagikan kitab Al-Fiqh al-Akbar beserta dengan penjelasan kitab tersebut. Menurut salah satu peserta, Majelis Talaqqi ini memberikan manfaat yag besar bagi masyarakat, karena bisa langsung belajar kepada guru yang mempunyai sanad kepada Imam Hanafi. "Saya berharap Majelis Talaqqi akan rutin diadakan oleh Pesantren Al-Hikam," ungkapnya. (Zaki Muttaqien/Mahbib)

Bagikan:
Senin 11 April 2016 13:7 WIB
HARLAH KE-93 NU
Dimulai Wirid, Santri-santri Ini Adu Sepakbola Api
Dimulai Wirid, Santri-santri Ini Adu Sepakbola Api
Magetan, NU Online
Warga NU Magetan, Jawa Timur, memperingati hari lahir (harlah) NU ke-93 dengan mengadakan kompetisi sepakbola api antarpondok pesantren. Kompetisi tersebut digawangi Rabhitah Ma'ahid Islamiyah (RMI) NU bersama Ikatan Pelajar Putra Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama.

Kompetisi tersebut berlangsung sejak tanggal 4 sampai dengan 9 April. Meski tanpa dipungut biaya, panitia memberikan hadiah berupa piala bergilir serta uang pembinaan bagi juara.

Sebelum memulai pertandingan, para pemain melakukan wirid khusus di bawah bimbingan Pengasuh Pondok Pesantren Subulus Safi’in KH Suprianto Ubaidillah. Hal tersebut dimaksudkan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

“Dengan wasilah (perantara) wirid ini agar memperoleh keselamatan dan diberi kelancaran oleh Allah SWT,” ujar kiai asal Pojok Kawedanan ini.

Menurut ketua panitia kegiatan tersebut Ahmad Choiruddin, pondok pesantren sangat luar biasa menyambut kegiatan tersebut. Target panitia, semula hanya 16 pesantren yang turut serta. Kuota langsung penuh hanya dalam waktu 2 minggu. “Bahkan ada beberapa pesantren terpaksa tidak panitia akomodir,” katanya.

Kegiatan tersebut diharapkan jadi pengikat silaturahim antarpesantren. “Kompetisi ini khas santri-santri salaf atau kaum sarungan. Semoga ini juga menjadi media silaturahim santri se-Kabupaten Magetan,” imbuh Ahmad.

Panitia, lanjut dia, bertekad akan jadikan kompetisi sepakbola api jadi program khas tahunan bagi para santri se-Magetan dalam naungan NU.

Pada kesemptan pembukaan, Selasa malam 4 April 2016 di halaman kantor NU Magetan dipimpin langsung Ketua PCNU Magetan KH Mansur didampingi sekretaris Ahmad Sudarto. Turut hadir pula, Rais Suriah KH Supriyanto, Ketua RMINU Ubaidillah dan jajaran pimpinan banom. (Dewi/Ali Makhrus/Abdullah Alawi)

Jumat 8 April 2016 4:1 WIB
Tanggulangi Radikalisme Agama, Ngajilah ke Pesantren NU
Tanggulangi Radikalisme Agama, Ngajilah ke Pesantren NU
Cirebon, NU Online
Di antara rangkaian haul almarhumin sesepuh dan warga Pondok Buntet Pesantren, panitia menyoroti masalah radikalisme dan terorisme yang dikemas dalam 'Halaqah Deradikalisasi' yang digelar di Aula YLPI Buntet Pesantren Cirebon, Rabu (6/4).

KH Tubagus Ahmad Rifqi Chowas, salah seorang pembicara, mengungkapkan bahwa paham radikalisme dipelopori oleh Abdurrahman bin Muljam yang kemudian melahirkan kelompok Khawarij.

"Radikalisme merupakan perpanjangan dari paham Khowarij dimana Abdurrahman bin Muljam cs yang membantai Sayyidina Utsman dan Sayyidina Ali. Padahal Abdurrahman bin Muljam ini seorang ahli ibadah berjidat hitam dan hafal Al-Qur'an," papar pengasuh Asrama Darussalam itu.

Namun, lanjut dia, Abdurrahman bin Muljam tidak mendahulukan adab dan akhlaq di atas yang lain sehingga menghilangkan sikap toleransi kepada pendapat lain, bahkan yang lebih dominan.

Ia menambahkan, kelompok radikal tidak mempunyai kesadaran berpikir dan menghayati Al-Qur'an dan hadits dengan hati nuraninya sehingga kedua sumber ajaran Islam tersebut hadir hanya sebatas tenggorokan saja.

"Ngaji itu bukan sekedar fiqh dan tafsir atau ilmu alat saja, tapi juga harus memperdalam tashawuf dan berthariqah mu'tabaroh. Ini yang tidak ada dalam kelompok radikal," tegasnya.

Padahal menurut kiai yang akrab disapa Kang Entus ini, ada sebuah hadits shahih yang menyatakan bahwa dzikrullah dan bergaul dengan para auliya dan ulama itu jauh lebih afdlal dibanding angkat senjata ketika terjadi peperangan melawan musuh atau dalam kondisi darul harbi, apalagi zaman sekarang yang damai.

Ia pun menyarankan kepada para santri untuk terus memperdalam ilmu agama Islam karena untuk menanggulangi radikalisme yang paling urgen adalah thalabul ilmi (mengaji) di pesantren NU agar memperoleh ajaran Islam secara utuh.

Selain Kang Entus, dalam kegiatan yang bertema 'Kontekstualisasi Konsep Jihad Dalam Bingkai Keindonesiaan' tersebut diisi Direktur Fahmina Institute, KH Marzuki Wahid, Serikat Jurnalis Untuk Keberagaman (Sejuk) Ahmad Junaidi serta Kapolsek Astanajapura AKP. Abdul Kholik. (Aiz Luthfi/Abdullah Alawi)

Kamis 7 April 2016 2:2 WIB
Ingin Mondok Berasa Piknik? Datang ke Pesantren Daarul ‘Uluum Bogor
Ingin Mondok Berasa Piknik? Datang ke Pesantren Daarul ‘Uluum Bogor
Bogor, NU Online
Pondok Pesantren (PP) Daarul ‘Uluum Lido terletak di Desa Ciburuy Cigombong Bogor, atau perbatasan antara Kabupaten Bogor dan Sukabumi, Jawa Barat. Pondok pesantren ini berada di area tanah 9,75 hektar, terletak di daerah perbukitan yang sejuk dan berudara segar. Di Pesantren ini terdapat kolam pemancingan dengan pemandangan menawan.

Sistem pendidikan di PP Daarul ‘Uluum Lido dikelola dengan menggabungkan antara pendidikan kurikulum Kementerian Pendidikan Nasional, kurikulum Kementerian Agama, dan pesantren berbasis modern melalui penyelenggaraan pola pendidikan Mu’allimin atau TMI (Tarbiyah al Mua’llimiin al-Islamiyyah).

Hingga tahun 2016 ini, PP Daarul ‘Uluum memiliki lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), serta Madrasah Aliyah (MA), dengan jumlah santri mencapai hampir 2000 orang. Santri-santri yang belajar di PP Daarul ‘Uluum Lido tidak hanya berasal dari Kabupaten Bogor dan Sukabumi, tetapi juga dari daerah lain seperti Jakarta, Bekasi, Banten, Jawa Tengah, Madura dan Bali.

Banyaknya jumlah santri, fasilitas yang lengkap, dan berbagai kegiatan yang ada, menjadikan PP Daarul ‘Uluum Lido berkembang pesat. Kemajuan dan perkembangan tersebut bukan karena upaya yang dilakukan hanya satu dua hari. Jauh sebelumnya, pendiri Pondok Pesantren Daarul `Uluum, KH Ahmad Dimyati berjuang mendirikan dan menegakkan lembaga pendidikan tersebut.

Bahkan hingga sekarang, pesantren ini masih menghadapi berbagai tantangan. M Affan  Afifi SHI, salah satu putra KH Ahmad Dimyati menuturkan, masyarakat asli sekitar pondok masih ada saja yang menganggap keluarga pendiri pesantren sebagai warga pendatang, walaupun sudah hampir 20 tahun mereka tinggal dan menetap di Ciburuy. 

Selain itu, karena di sekitar Ciawi dan Sukabumi banyak pabrik, masyarakat memandang pondok pesantren ini sama dengan perusahaan-perusahaan yang hanya berorientasi bisnis. Akibatnya, pihak pesantren harus memberikan bantuan setiap ada kegiatan. 

Pria yang kini menjabat sebagai Ketua Badan Pengurus Yayasan Salsabila, yayasan yang menaungi Pondok Pesantren Daarul ‘Uluum Lido itu juga mengatakan, sebagai upaya untuk mendekatkan antara pesantren dengan warga sekitar, sejak awal pendiriannya, warga sekitar digratiskan untuk mengikuti pendidikan di PP Daarul ‘Uluum, tentu saja dengan mengikuti aturan yang berlaku.

“Sayangnya hanya ada dua santri yang masuk pesantren dan bisa betul-betul jadi kader,” kata pria yang juga Bendahara GP Ansor Kabupaten Bogor itu.

Untuk biaya operasional pesantren, Daarul ‘Uluum Lido memiliki sejumlah unit usaha, antara lain bergerak dalam bidang agrowisata dan percetakan.

Para pengurus PP Daarul ‘Uluum menyadari bahwa masyarakat sekitar kurang tertarik dengan pendidikan Islam. Oleh karena itu, selain ingin melahirkan generasi yang ahli dzikir dan ahli pikir,  PP Daarul ‘Uluum terus berupaya untuk bisa masuk ke dalam masyarakat sekitar. (Kendi Setiawan/Zunus)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG