IMG-LOGO
Fragmen

Kisah di Balik Proses Kreatif Terciptanya Lambang NU

Senin 11 April 2016 17:0 WIB
Bagikan:
Kisah di Balik Proses Kreatif Terciptanya Lambang NU
KH Ridlwan Abdullah, pencipta lambang NU
Di balik citra dan kewibawaan lambang NU karya KH Ridlwan Abdullah (1884-1962) yang dapat kita lihat sekarang, ternyata sejarah pembuatannya menyimpan pula kisah dan makna yang sangat dalam dan menarik untuk kita ketahui. Tidak seperti proses kreatif lahirnya karya seni pada umumnya yang kebanyakan sekedar mengandalkan daya imajinasi dan kecerdasan kognitif belaka, namun tidak hanya atas dasar dua daya itu lambang NU berhasil diciptakan. Di samping mengerahkan daya imajinasinya, KH Ridlwan Abdullah juga menggerakkan kekuatan spiritualnya. Bahkan aspek yang terakhir ini yang memegang peranan terpenting di balik terciptanya lambang NU.     

Bermula dari persiapan penyelenggaraan Muktamar ke-2 NU di Surabaya, Kiai Ridlwan Abdullah ditugasi oleh KH Wahab Chasbullah selaku ketua panitia waktu itu untuk membuat lambang NU. Penunjukan Kiai Ridlwan  dalam pembuatan lambang NU ini mengingat Kiai Ridlwan memang sudah dikenal pandai menggambar dan melukis. Namun terhitung sejak penugasan itu hingga satu setengah bulan Kiai Ridlwan mencoba membuat sketsa lambang NU bahkan sampai berkali-kali belum berhasil juga, padahal muktamar sudah diambang pintu sehingga sampai sempat mendapat "teguran" KH Wahab Chasbullah.

Akhirnya, pada suatu malam dengan harapan muncul inspirasi atau ilham pada saat-saat orang lelap tidur, Kiai Ridlwan mengambil air wudzu kemudian melaksanakan shalat istikharah. Setelah itu beliau tidur sejenak. Dalam nyenyaknya tidur Kiai Ridlwan Abdullah bermimpi melihat sebuah gambar di langit yang biru dan jernih. Nampak seperti bola dunia dikelilingi bintang dan tali penyambung dan pengait.

Atas mimpinya itu, KH Ridlwan Abdullah tersentak bangun dari tidurnya dan spontan langsung mengambil kertas dan pena untuk membuat sketsa gambar sesuai dengan apa yang tertayang dalam mimpinya tersebut. Saat itu jam dindingnya menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Karena kecakapannya dalam melukis, pada keesokan harinya gambar tersebut bisa diselesaikan lengkap dengan tulisan NU memakai huruf arab dan tahunnya.

Adapun secara singkat deskriptif makna dari gambar atau lambang NU dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Tambang melambangkan agama (Berpegang teguhlah kamu sekalian pada tali Allah dan jangan bercerai berai).
2. Posisi tambang melingkari bumi melambangkan persaudaraan kaum muslimin seluruh dunia.
3. Untaian tambang berjumlah 99 buah melambangkan asma'ul husna.
4. Bintang sembilan melambangkan jumlah Wali Songo.
5. Bintang besar yang berada di tengah bagian atas melambangkan Nabi Muhammad SAW.
6. Empat bintang kecil di samping kiri dan kanan melambangkan khulafaur rasyidin, dan empat bintang kecil dibagian bawah melambangkan madzhab empat.

Setelah hasil lambang tersebut dihadapkan kepda KH Hasyim Asy'ari, beliau merasa puas dengan gambar, makna dan riwayat terciptanya lambang NU karaya Kiai Ridlawn itu. Beliau kemudian mengangkat kedua tangannya berdoa cukup panjang. Kemudian beliau berbicara penuh harap: "Mudah-mudahan Allah mengabulkan harapan yang dimaksud di dalam simbol Nahdlatul Ulama.” (M Haromain)

Disarikan dari Ahmad Zaini Hasan, Perlawanan dari Tanah Pengasingan: Kiai Abbas, Pesantren Buntet dan Bela Negara, LKiS: 2014  

Bagikan:
Selasa 5 April 2016 5:30 WIB
Dari Ulama Kharismatik Ini, Seperdua Penduduk Sulsel Berdarah NU
Dari Ulama Kharismatik Ini, Seperdua Penduduk Sulsel Berdarah NU
Nahdlatul Ulama (NU) sebagai jam’iyah sekaligus gerakan diniyah islamiyah dan ijtimā’iyah (keagamaan dan sosial kemasyarakatan), telah ada jauh sebelum negara ini merdeka. Bahkan dari segi ajarannya, benih-benih kelahiran NU muncul bersamaan dengan didakwahkan Islam oleh Nabi SAW, para sahabat tabiin yang dengan sendirinya terbentuk komunitas Ahlus Sunnah Wal Jamaah (Aswaja) 

Ajaran Aswaja masuk ke wilayah Nusantara sejak abad 7 M, dan berkembang abad ke 13 melalui dakwah para Walisongo. Termasuk Islam di Sulawesi Selatan pada abad itu didakwahkan oleh ulama Aswaja, Sayyid Jamaluddin al-Akbar di Tosora, wilayah Bugis Wajo, dan Tiga Datuk Aswaja di Wilayah Makassar pada abad 16.

Pada tahun 1930, KH Ahmad Bone bersama Andi Mappanyukki dan ulama sejawatnya, pertama kali membentuk organisasi Rabitatul Ulama (RU). Organisasi ini sejalan dengan paham NU. Kemudian atas prakarasa kedua ulama tersebut bersama KH Muhammad Ramli, KH Sayyid Jamaluddin Assegaf Puang Ramma, KH Saifuddin, Mansyur Daeng Limpo dan beberapa ulama selainnya, menjadikan RU sebagai Nahdlatul Ulama pada tanggal 8 April 1950, atas restu KH Wahid Hasyim yang saat itu sebagai Ketua PBNU. 

KH Ahmad Bone (wafat 12 pebruari 1972 dalam usia 102 tahun), terpilih sebagai Ketua NU pertama di Sulawesi Selatan. Beliau pada masanya memusatkan pengajian Aswaja dan merekrut jamaah NU di daerah Bugis bersama Andi Mappayukki. KH Muhammad Ramli bersama Andi Jemma memusatkan dakwah Aswaja di daerah Luwu. Puang Ramma sebagai wakil Ketua NU di zaman itu, memusatkan dakwah di Kabupaten Gowa dan Makassar.

Puang Ramma sejak tahun 1961 sebagai Qadhi Gowa, yang sebelumnya yakni 1956-1959 bersama K Muh Ramli mewakili NU sebagai Dewan Konstituante di Bandung. Saat menjalankan tugasnya sebagai anggota dewan, KH Muh Ramli wafat pada 3 Februari 1958 di Bandung, dan dimakamkan di Pemakaman Arab, Bontoala, Makassar. Sepeninggal ulama NU ini, Puang Ramma tetap di dewan dan menjalankan tugas sampai akhir periode, selanjutnya Puang Ramma mewakili NU di DPRD Sulawesi Selatan.

Sejak Muktamar NU ke-27 Situbondo, yang menetapkan bahwa NU kembali ke khittah 1926, Puang Ramma, tidak lagi menjadi anggota dewan, namun tetap berkonsentrasi pada pengkhidmatan NU, sampai akhirnya Puang Ramma dipercaya menjadi Wakil Ketua NU Sulsel tahun 1977-1982, selanjutnya menjabat mustasyar PWNU Sulawesi Selatan sampai akhir hayatnya.

Memasuki tahun 1982, AGH Sanusi Baco sebagai Rais Syuriah NU Sulawesi Selatan, lebih aktif mengembangkan sayap NU di daerah ini, di dampingi Ketua Tanfizdiyah, KH Abddurrahman B (1982-1987), KH Abd Rahman K (1987-2002), H Harifuddin Cawidu (2002-2005), KH Zein Irwanto (2006-2013) dan Prof. Dr. H.Iskandar Idy (2013-sekarang).

Struktur kepengurusan NU di Sulawesi Selatan, pada awal terbentuknya sampai sekarang mencerminkan konfigurasi sosial masyarakat Bugis-Makasar, dengan empat pilarnya, yakni to panrita (ulama), to sugi (pengusaha), to acca (cendekiawan), to warani (kaum bangsawan dan anak muda). Keempat pilar ini dihimpun dalam jajaran pengurus dan karena kekuataan massa yang dimilikinya. 

Database PCNU yang tersebar di Sulawesi Selatan dalam struktur kepengurusan mulai dari Mustasyar, Syuriyah, A’wan dan Tanfidziyah rata-rata 50 orang dikali 24 Kabupaten/Kota sebanyak 1.200, ditambah perangkat banom, dan lembaga sampai ke tingkat Kecamatan (MWC) dan desa/kelurahan (Ranting) yang aktif berkisar 3.600 orang diakumulasi dengan jamaah Nahdliyyin di akar rumput dua kali lipat, yakni 7.200 orang kali 24 kabupaten/Kota sebanyak 288.000. Ini belum termasuk pengurus di tingkat wilayah PWNU Sulawesi Selatan lengkap dengan perangkatnya sebanyak 552, sehingga secara totalitas tercatat 288.552 orang.

Database perguruan tinggi NU di bawah naungan Yayasan Al-Gazali, civitas UIM dan mahasiswanya 12.015.  STAI al-Gazali Watampone, 414. STAI Al-Gazali Soppeng, 331. STAI Al-Gazali Barru, 299. STAI Al-Gazali Bulukumba, 382, semuanya berjumlah 13.441.  Jumlah sekolah/madrasah/pesantren Maarif NU di Sulawesi Selatan dengan jumlah 102 unit, lengkap dengan data guru dan peserta didik mencapai angka 899.000. Ini belum dihitung jumlah alumninya dan termasuk alumni Perguruan Tinggi NU 13.441 dengan taksiran rendah dua kali lipat, mencapai 1.824.882.

Database GP Ansor tahun 2016 mencapai angka 1.600-an termasuk anggota Banser. Data tersebut jika digabungkan dengan jumlah pemuda NU yang beraktivitas di IPNU/IPNNU, Fatayat, PMII, LSM GMNU dan NGO NU tercatat 1.115.788.
Dengan demikian, kisaran jumlah jamaah Nahdliyin di Sulawesi Selatan saat ini, berada pada angka 3.339.222, atau hampir mencapai seperdua dari jumlah penduduk Sulawesi Selatan.

Mahmud Suyuti, Sekretaris LP Ma’arif Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan
Senin 4 April 2016 17:2 WIB
Keakraban KH Wahid Hasyim dengan Tan Malaka
Keakraban KH Wahid Hasyim dengan Tan Malaka
Kedangkalan wawasan, minimnya ilmu serta fanatisme ekstrem terhadap agama, ideologi, madzhab dan paham tertentu acap menyebabkan seseorang bersikap eksklusif. Bahkan ketika bergaul atau bersosialisasi pun orang tersebut tidak mau bertoleransi dengan orang atau kalangan yang berbeda dengan dirinya dalam segi agama, ideologi, madzhab dan perbedaan primordial lainnya. Ironisnya sikap dan pendirian eksklusif seperti itu ternyata juga masih menghinggapi tidak sedikit para tokoh dan pemuka agama.

Tapi tidak demikian dengan sikap KH. Wahid Hasyim. Bagi putra pendiri NU KH Hasyim Asy’ari ini baik perbedaan agama,ideologi maupun perbedaan haluan politik tidak menghalanginya untuk tetap menjalin persahabatan. Terbukti ayah Gus Dur, ini dalam sejarah hidupnya tidak hanya berkawan dengan orang yang berbeda agama. Melainkan beliau juga bersedia berteman dengan Tan Malaka, seorang tokoh pejuang bangsa yang berhaluan komunis. Bahkan Tan Malaka merupakan anggota komintern (jaringan komunis) internasional.        

Kisah pertemanan KH. Wahid Hasyim dengan Tan Malaka ini sudah kerap disampaikan Gus Dur dalam berbagai kesempatan. Salah satunya adalah sebagaimana pernah diberitakan oleh koran Duta Masyarakat edisi 28 Januari 2000.  Berdasarkan informasi media tersebut, Gus Dur selaku Presiden RI tahun 2000 menyampaikan cerita tentang persahabatan antara ayahandanya itu dengan Tan Malaka dihadapan  umat Hindu saat mereka merayakan pringatan Nyepi di Candi Prambanan.     

Waktu itu Gus Dur bercerita, "Ayah saya yang kebetulan seorang kiai sering didatangi orang di waktu sore. Saya ingat betul, saat saya masih kecil, sekitar pukul 7 ada orang mengetuk pintu. Ketika pintu saya buka, saya tanya cari siapa pak?

Tamu yang mengaku bernama Husein tersebut kemudian menjawab bahwa dia mencari ayahnya. Tamu tersebut menurut Gus Dur seperti orang Indonesia lainnya, yaitu juga pakai peci. Kemudian Gus Dur yang masih anak-anak, itu memberitahukan kepada ayahnya yang sedang di dalam bahwa beliau dicari Pak Husein.

Begitu mendengar nama Husein, kata Gus Dur, ayahnya langsung bangun dan menemui tamunya sambil berpelukan mesra. Dan selanjutnya memerintahkan Gus Dur yang waktu itu masih berumur sekitar 4-5 tahun agar meminta ibunya menata hidangan.

Baru belakangan setelah Gus Dur berumur 50 tahun lebih, ibunya mengatakan kepadanya, "Kamu tahu siapa itu pak Husain, yang datang pada malam-malam dahulu, itu Tan Malaka".

Dari pengalaman di atas, menurut Gus Dur, memberikan bekas yang sangat dalam kepada dirinya. Hal itu menambah kuatnya keyakinannya bahwa sudah dari dulu pun nenek moyang kita (bangsa indonesia) sudah demikian saling menghargai.

Gus dur mengajukan alasan, bagaimana tidak saling menghargai. "Banyangkan, Tan Malaka, anggota komintern yang dianggap tidak bertuhan itu datang berpeluk-pelukan dengan seorang kiai. Inilah Indonesia," ungkap Gus Dur dengan nada serius.

Lewat riwayat singkat di atas juga secara implisit memberi pesan bahwa semua komponen dan elemen bangsa ini seharusnya dapat menerima kehadiran yang lain. Bahwa semua golongan dan semua agama juga ikut mendirikan Republik Indonesia atas dasar saling menghargai. Layaknya kemajemukan masyarakat dan pluralisme beragama tetap dihargai.

M Haromain, pengajar di pesantren Nurun ala Nur Wonosobo, bergiat di Forum Santri Temanggung, Jawa Tengah.

Selasa 29 Maret 2016 18:1 WIB
Gus Dur dan Banyolannya Sehari setelah Lengser
Gus Dur dan Banyolannya Sehari setelah Lengser
KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Di antara sikap dan karakter Gus Dur yang mengagumkan adalah kesabaran dan ketabahannya saat ditimpa musibah dan menghadapi suatu cobaan. Tentu bukan sabar dan tabah dalam arti negatif berupa pasrah absolut atau lemahnya kemauan untuk bangkit, melainkan sabar dan pasrah (nrimo) dalam konotasi yang positif. Selain itu yang tak kalah mengagumkannya lagi dari tabiat Gus Dur ialah kemampuannya dalam mempertahankan sikap humorisnya dalam berbagai situasi dan keadaan, tak kecuali  dalam situasi genting sekalipun Gus Dur senantiasa bisa mengeluarkan joke segar yang menghibur khalayak.

Hal itu salah satunya terungkap dan tampak terutama ketika detik-detik dan hari-hari pasca beliau dilengserkan dari jabatan Presiden RI oleh MPR dalam Sidang Istimewa (SI) akhir bulan Juli 2001. Beberapa kesaksian dari para tokoh maupun pemberitaan media masa menyatakan bahwa meski mandatnya sebagai presiden telah dicabut MPR dalam SI MPR Juli 2001, namun hal itu tidak membuat Gus Dur bersedih. Apalagi meratapi atas hilangnya jabatan itu. Gus Dur masih tetap seperti dulu, baik sebelum atau pun waktu menjadi presiden, yaitu suka guyon dan mbanyol.

Dan itu pula yang dia tunjukkan ketika para kiai khos NU dari berbagai daerah dan pengurus DPP PKB (kala itu) menemui Gus Dur di istana negara, sehari setelah dia dilengserkan. Para Kiai itu, antara lain, Rais Syuriah PBNU, KH Muchit Muzadi, Mustasyar PBNU KH Ahmad Idris Marzuki (alm) dan KH Cholil Bisri (alm),  Ketua FKB MPR KH Yusuf Muhammad dan beberapa kiai dan tokoh lainnya.

Dalam pertemuan tersebut para Kiai maupun Gus Dur sama-sama menghindari membicarakan masalah politik. Melainkan Gus Dur justru bercerita yang membuat ger-geran semua yang hadir.  

Dalam kesempatan kunjungannya, para kiai dan tokoh-tokoh yang dekat dengan Gus Dur tersebut, dia bercerita, "Bahwa dulu ada seorang kiai di Denanyar Jombang yang pandai mengobati orang sakit. Tapi cara dan doa yang digunakan cukup unik."

"Suatu hari", kata Gus Dur, "Kiai itu mengobati orang sakit gigi. Dia mengambil paku, kemudian dimasukkan ke dalam mulut, persis di tempat gigi yang sakit. Setelah itu sang kiai membaca surat an-Nas. Ketika sampai ayat terakhir bunyinya bukan minal jinnati wan naas, tapi minal jinnati waras (sehat)."

Sudah barang tentu sikap yang ditunjukkan Gus Dur yang tetap sabar dan tidak kehilangan sence of humor-nya ini di luar dugaan semua yang hadir termasuk para kiai. Pasalnya, pada waktu yang sama umumnya tokoh NU maupun PKB sedang dalam puncang emosi lantaran tidak terima Gus Dur dilengserkan MPR melalui SI. Begitu pula warga nahdliyyin yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia waktu itu sedang dirundung kesedihan yang cukup mendalam menyaksikan pemimpin dan panutannya dilengserkan di tengah-tengah periode masa khidmahnya sebagai Presiden RI keempat.

Maksud kehadiran para kiai yang datang menemui Gus Dur pun sebenarnya dalam rangka menunjukkan solidaritas dan rasa simpati kalangan Kiai serta upaya untuk membesarkan hati (menghibur) Gus Dur setelah sebelumnya berbagai usaha telah ditempuh para kiai agar MPR tidak sampai menggelar SI yang berujung dengan dicabutnya mandat Gus Dur sebagai presiden. Diantara upaya itu adalah pada 19 Juli 2001 para kiai Jawa Timur yang di prakarsai PWNU Jawa Timur mennggelar pertemuan di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Pertemuan tersebut di hadiri pula oleh Presiden KH Abdurrahman Wahid. Kemudian pada 22 Juli 2001 juga diselenggarakan pertemuan yang sama dengan skala yang lebih besar di Pesantren As Sidiqiyyah Jakarta asuhan KH Nur Muhammad Iskandar. Kali ini melibatkan seluruh Kiai NU se Indonesia.

Pertemuan-pertemuan para kiai di atas dimaksudkan menghasilkan keputusan yang bisa menyejukkan bagi kondisi negeri tempo itu dan tidak sebaliknya membuat negeri ini kian memanas.

KH Ali Maschan Musa, Ketua PWNU Jawa Timur waktu itu, menyatakan bahwa dengan adanya forum pertemuan para kiai tersebut pada intinya para kiai menginginkan persatuan bangsa Indonesia tidak pecah. Dan salah satu syarat agar Indonesia tidak pecah adalah Gus Dur tidak dijatuhkan. Pertemuan semacam ini, menurut Kiai Ali, pernah dilakukan ketika presiden Soekarno mendapat banyak masalah. Ketika itu para kiai membahas apakah Soekarno presiden yang sah apa tidak. Ketika diputuskan bahwa Soekarno presiden yang sah, para kiai meminta jabatan itu diteruskan dan rakyat Indonesia diserukan untuk mendukungnya.   

M Haromain, Pengajar di pesantren Nurun Ala Nur, Bogangan Wonosobo.

Disarikan dari berbagai sumber, di antaranya:   
1. Harian Surya, Senin (30/7/2001)
2. Jawa Pos, Senin (16/7/2001)
3. M Rofiq Madji, Jurus Dewa Mabuk ala Gus Dur, Pustaka Tebu Ireng, 2012.

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG